SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
62. Hukuman (Author POV)


__ADS_3

Liam tersadar dari mabuknya setelah diguyur air secara terus menerus. Ia terbangun dalam keadaan tubuhnya yang sudah terikat dengan posisi terbalik. Kepala dibawah dan kaki yang digantung di langit-langit ruangan.


"Breng sek!" umpat Liam saat sadar akan keadaannya saat ini. Ia berpikir keras, siapa yang mampu membuatnya menjadi seperti ini. Ia melupakan pertemuannya dengan Javier tadi malam karena saat mereka bertemu dia dalam kondisi mabuk.


Nama Irina terlintas dalam kepala Liam. Apa ini ulah perempuan itu? Yang tidak senang karena kemarin Liam menghajar kekasihnya yang bernama Jonas. Atau mungkin ini justru ulah Jonas yang tak terima karena ia pukuli.


Pikiran-pikiran semacam itu muncul dalam tebakan-tebakan Liam. Namun pemikirannya yang sudah tertuju pada Irina justru tertepiskan ketika melihat seseorang yang berdiri tegak dibawah sana sambil mengadah kearahnya.


"Ja--Javier ..." gumam Liam dengan suara bergetar. Entah kenapa sekarang rasa takut menggelayut dihatinya, membayangkan kemurkaan Javier atas semua perbuatannya membuat dirinya menciut.


Disaat yang sama, Liam seakan terngiang-ngiang dengan suara pria itu yang memenuhi rongga kepalanya. Ya, mendadak ia mengingat ucapan Javier semalam.


"Aku memberimu opsi, yang pertama kau ingin ku tembak tepat di kepala atau yang kedua aku memutuskan urat lehermu."


Javier terkekeh pelan, terdengar mengintimidasi sekali. Gelagatnya sangat santai dan seringaiannya itu justru menunjukkan kekejaman terpendam yang ada di dalam dirinya.


"Kau tau kan, kenapa kau harus berurusan denganku?" Suara Javier menggema, memenuhi ruang gelap yang hanya diterangi sebuah lampu pijar berwarna kemerahan.


"Jav ... k-kau pa-pasti keliru membawaku k-ketempat ini." Liam gelagapan. Didalam dirinya, dia tentu sadar bahwa kesalahannya pada Javier bukan hal yang main-main dan sangat fatal.


"Kau pikir, dengan aku mengubur orang lain atas nama Elin, maka semua kejahatanmu juga akan terkubur begitu saja?"


Sekarang Liam benar-benar sadar bahwa Javier sudah mengetahui segala perbuatannya. Apakah Javier juga sudah menemukan Elin? Mungkin saja. Mendadak Liam menyesal kenapa dia tidak melarikan diri dan pergi jauh dari negara ini demi menghindari kemurkaan Javier.


"Semua ini karena Irina. Ya, ya, dia yang merencanakan segalanya, Jav." Liam pikir, tak ada gunanya untuk melindungi perempuan itu lagi, toh Irina pun tega mengkhianatinya. Dia tak mau dihukum sendiri, setidaknya Irina juga harus merasakan penyiksaan Javier.


Javier merespon ucapan Liam dengan senyuman miring, membuat Liam semakin ngeri melihat aura hitam yang terpancar dari wajah pria itu.


"J-jav, ampuni aku. Ka-kau bisa memintaku melakukan apapun tapi ku mohon ... ku mohon, ringankan hukumanku," ujar Liam memelas dengan suara yang mengiba.


Tentu saja Javier terkekeh mendengarnya. Tapi kemudian pria itu pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Sesuai ucapannya, dia akan mengeksekusi Liam setelah dia dan Elin menikah.


Untuk sekarang, Javier membiarkan Liam menikmati saat-saat terakhirnya di dunia dengan penyiksaan yang akan diberikan padanya.


"Will, jangan biarkan dia lolos. Siksa dia, tapi jangan membu-nuhnya." Javier berpesan pada Willy yang berjaga ditempat penyekapan Liam.


"Yes, Sir."


Javier hendak beranjak, namun ia mengurungkan niat itu sejenak dan kembali bertanya pada Willy tanpa menoleh pada pemuda itu.


"Bagaimana dengan Irina?"


"Carla yang akan menemukannya," jawab Willy tenang.


Sudut bibir Javier terangkat, dia tau jika ada baiknya memang Carla yang mengurus soal Irina. Selain Javier tak mau mengotori tangannya untuk menghukum seorang perempuan, dia juga memberi kesempatan pada Carla untuk membalas dendam pada Irina yang ikut merencanakan kecelakaan 2 tahun yang lalu.


Javier percaya, dendam Carla yang besar mampu menghukum Irina, karena akibat kecelakaan itu, Carla didiagnosa akan sulit memiliki keturunan karena dia sempat mengalami kerusakan panggul yang menyebabkan tuba falopi nya tersumbat.


Setelah Carla puas menghukum Irina, Javier akan dengan senang hati merealisasikan ucapannya dan menjadikan perempuan itu panganan harimau peliharaan Ayahnya.


...****...


"Sebenarnya kita mau kemana, Kak?" Elin bertanya pada Javier dengan wajah ingin taunya. Tiba-tiba saja Javier datang ke Mansion dan meminta Elin untuk segera bersiap karena mereka akan segera pergi.

__ADS_1


"Kau akan tau nanti," jawab Javier misterius.


Jujur, Elin semakin penasaran, tapi akhirnya ia mengikuti juga kemanapun pria itu mengajaknya.


"Kau yang menyetir, Kak?"


"Ya."


Elin mengangguk, tak biasanya Javier mengajaknya pergi berdua tanpa sopir. Mungkin dulu memang pernah, tapi hanya sesekali. Kebanyakan mereka selalu diikuti oleh pengawal Elin atau Jack yang selalu menyertai kemanapun Javier pergi.


Kali ini mereka benar-benar hanya pergi berdua saja dan tentu itu membuat Elin bertanya-tanya kemana kiranya Javier akan membawanya.


Elin tampak cantik dengan dress floral bermotif bunga-bunga kecil yang dikenakannya. Membuat Javier senyum-senyum dibalik kemudi saat sesekali memperhatikan Elin disisinya.


"Apa ada yang salah?" tanya Elin melihat gelagat Javier.


"Tidak ..."


"Lalu kenapa kau tampak seperti ingin tertawa begitu?"


"Tidak ada. Aku hanya senang dapat pergi berdua denganmu."


Tentu Javier melakukan ini setelah merasa jika Elin aman. Liam sudah berada ditangannya, pun Irina yang kabarnya sudah ditangani oleh Carla, semalam.


"Bukankah kita juga pernah berkencan berdua dulu. Kau ingat, kan?" tanya Javier. Bedanya, dulu mereka menaiki motor Ducati Javier.


"Yah, itu sudah lama sekali."


"Hmm, seharusnya saat ini kita juga sudah menikah."


"Jadi ... kemana kita hari ini? Apa akan mengulangi kencan lagi?" tanya Elin kemudian.


"No."


"Lalu?"


"Kau lihat saja nanti."


Perjalanan itu tidak memakan waktu yang terlalu lama. Elin mengernyit saat menyadari kemana Javier membawanya. Ini adalah gedung perusahaan milik keluarga Javier. Memang Elin tak pernah kesana, tapi untuk apa juga dia diajak kesana? Elin tidak tertarik berkunjung ke tempat semacam ini. Pasti membosankan. Begitulah pemikiran Elin.


"Kau mengajakku ke kantormu?"


Javier hanya menipiskan bibir tanpa menjawab. Dia memarkirkan mobil di slot khusus kemudian membukakan pintu untuk gadisnya.


"Ayo!"


Meski Elin masih kebingungan, tapi ia mengikuti juga keinginan Javier. Tangannya meraih jemari Javier yang diulurkan kearahnya, kemudian mereka berjalan dengan serasi memasuki lobby perusahaan.


Beberapa pekerja yang masih ada disana menyapa kehadiran Javier dengan ramah. Mereka juga tersenyum pada Elin yang datang dengan digandeng oleh Javier.


"Sebenarnya untuk apa kita kesini, Kak?"


Javier membawa Elin masuk ke Lift khusus yang hanya berisikan mereka berdua. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir Javier meski untuk menjawab rasa penasaran sang gadis.

__ADS_1


Lift itu mengantarkan mereka pada lantai teratas, kemudian Javier mengajak Elin menaiki tangga terakhir yang menghubungkan pada rooftop gedung besar tersebut.


Tibalah mereka di atas atap bangunan itu. Tampak sangat luas sekali seperti lapangan yang tidak memiliki batas. Elin sampai merasa gamang saat berada disana saat menyadari betapa tingginya posisinya saat ini.


Tapi, yang menarik perhatian Elin bukanlah pemandangan sekitar yang menampilkan langit luas dan bangunan-bangunan lain yang tampak kecil dari atas sana, melainkan sebuah helikopter yang terdengar berisik karena baling-balingnya sudah berputar-putar tampak siap untuk terbang.


"Ayo!"


"Hah?" Elin pikir tujuan mereka hanya sampai disini, ternyata Javier masih mengajaknya ke tempat lain yang sepertinya akan dituju menggunakan helikopter itu.


"K-kak? Kemana?"


"Percayalah padaku."


Tangan Javier terulur dan sekali lagi Elin meraih jemari itu.


Rambut dan dress yang Elin kenakan berkibar-kibar seraya angin dari baling-baling helikopter yang seakan mengipasi mereka.


Sampai akhirnya Javier membantu Elin menaiki helikopter tersebut, lalu dia menyusul untuk duduk disebelah Elin.


Dengan bantuan Javier pula, Elin berhasil memasang alat-alat yang harus ia gunakan saat berada diatas helikopter.


Sudah ada dua orang yang bertugas mengemudikan dan mengendalikan helikopter disana, sementara Javier dan Elin sebagai penumpangnya.


Demi apapun, Elin tidak menyangka jika dia dapat merasakan hal seperti ini. Dan sampai detik ini Elin tidak tau kemana Javier akan membawanya.


Helikopter itu perlahan bergerak, mulai terbang meninggalkan gedung perusahaan dan membawa mereka entah menuju kemana.


Elin melihat pemandangan dibawahnya yang adalah lautan luas dengan pasir berwarna putih. Disisi lain dia juga melihat pemandangan hijau yang adalah hutan lindung. Semua itu seperti memanjakan mata Elin dengan udara yang juga terasa segar menerpa kulitnya.


"Bagaimana? Kau suka?" Akhirnya Javier mulai ke mode biasa, tidak semisterius tadi yang selalu diam saat Elin tanyai.


Elin tersenyum. "Ya, aku menyukainya, Kak," jawabnya.


"Kau akan lebih menyukai tempat tujuan kita nanti," ujar Javier kemudian.


Elin memutuskan tak bertanya lagi kemana sebenarnya tujuan mereka. Ia memilih diam dan mengikuti saja kemana Javier akan membawanya.


Sampai akhirnya helikopter itu mendarat disebuah pulau yang tampak terpencil. Terletak ditengah-tengah lautan luas yang pantainya terlihat sangat indah.


Javier membantu Elin turun dan mereka berjalan bergandengan sampai mata Elin tidak sengaja menatap pada susunan mawar merah yang sangat banyak ditata disatu sisi pantai.


Elin menutup mulutnya yang menganga, kemudian lebih terkejut lagi saat Javier berlutut dihadapannya.


"Untuk yang kedua kalinya. Aku kembali melamarmu dengan cara yang lebih baik."


Mata Elin memanas sekarang. Sekali berkedip maka ia akan mengeluarkan airmata.


"Aku tidak menyukai basa-basi. Tapi jika itu denganmu, aku akan berusaha menyukainya."


Elin kehabisan kata, dia sangat terharu melihat sikap Javier yang seperti ini kepadanya.


"Medeline Arcela Forza, will you marry me?" tanya Javier sambil menyodorkan cincin dan mengadah pada Elin yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2