SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
23. Jerat aku! (Author POV)


__ADS_3

"Kita tidur di Hotel terdekat saja. Bagaimana?"


Elin mengerjap beberapa kali atas pernyataan Javier barusan, ia memang tidak paham apa yang sebenarnya ada di pikiran pria ini tapi secara tak langsung Elin sudah terikat padanya sehingga tidak bisa untuk menolak.


"Besok, pagi-pagi sekali kau bisa kembali kesini untuk menjaga ibumu. Kita tidak mungkin tidur disini dalam keadaan berbagi ruangan dengan keluarga pasien lain. Aku tidak bisa, Elin."


Elin mengembuskan nafas pelan. "Baiklah, kak. Ku pikir aku tidak punya pilihan lain, kan?" ujarnya.


"Good girl," kekeh Javier singkat.


Pria itu menarik pelan tangan Elin agar keduanya bisa keluar dari ruangan tersebut sesegera mungkin karena Javier sangat menjaga privasinya dan tak suka harus ditatap oleh banyak mata yang membuatnya kurang nyaman.


Elin menatap pergelangan tangannya sendiri yang mana ada jari jemari Javier yang menggandengnya sekarang. Demi apapun, Elin harus berusaha kuat untuk menahan diri agar tidak menjerit kegirangan hanya karena sentuhan kecil yang Javier lakukan kepadanya.


Beberapa saat larut dalam keadaan dimana Javier menggandengnya keluar dari ruangan tersebut, di menit berikutnya Elin tersadar akan keadaan. Tidak seharusnya ia menikmati ini karena ini akan membuatnya semakin berharap pada Javier. Mungkin suatu hari ia akan merasakan sakit hati lebih dahsyat karena pada akhirnya Javier akan membebaskannya dan kembali menganggapnya hanya sebatas gadis yang dia beli atau bahkan yang lebih parah adalah Javier berlagak tak mengenalnya lagi di kemudian hari. Entahlah.


Untuk itu, Elin perlu membentengi diri agar dia tidak semakin menyukai Javier. Dengan cara menolak sikap hangat pria itu secara pelan-pelan agar Javier tidak tersinggung atas penolakannya.


"Ehm, Kak?" cicit Elin disaat Javier masih saja menggandengnya dan membawanya menuju area luar Rumah Sakit.


Disaat itulah Elin berusaha melepaskan jemari tangan Javier yang masih melingkari pergelangan tangannya.


"Kenapa?" tanya Javier menatap Elin.


"Bisa tidak, nanti pilih kamar yang twin bed?"


Mata Javier membola mendengar permintaan Elin.


"Kenapa?" tanyanya lagi dengan kata yang sama.


Elin menggaruk tengkuknya sekilas. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ini adalah bentuk perbentengan diri yang ia buat agar tidak terlalu dekat dengan Javier. Mumpung mereka akan menginap di Hotel karena kalau di Apartmen tempat tidurnya tetap satu dan tak punya pilihan lain.


"Ehm, kita tetap bisa tidur di kamar yang sama tapi di ranjang yang berbeda. Anggap saja ini sebagai latihan awal agar kau bisa belajar tidur tanpa aku, Kak."

__ADS_1


Javier tampak diam, dia pikir ada benarnya juga ucapan Elin. Dia juga harus belajar secara perlahan. Yang terpenting ada Elin di ruang yang sama dengannya mungkin dia tidak akan was-was lagi.


"Baiklah, kita coba caramu."


"Hum." Elin mengangguk. "Pelan-pelan kau akan bisa tanpa aku, Kak," lanjutnya.


"Ya, kita coba saja."


Sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari Rumah sakit menjadi pilihan untuk Javier. Mereka hanya butuh berjalan selama kurang dari 10 menit saja untuk mencapai bangunan itu. Bahkan mobil Javier masih terparkir di pelataran parkir Rumah Sakit tanpa perlu ia bawa ke basement Hotel.


Sesuai saran dan keinginan Elin, Javier memesan kamar yang memiliki 2 tempat tidur didalamnya.


"Hah, ngantuknya," celetuk Javier ketika memasuki kamar tersebut. Ia menghempaskan tubuh ke atas ranjang empuk yang ukurannya tidak sebesar tempat tidur pribadinya di Mansion ataupun di Apartmennya.


Dari posisinya itu, Javier menatap Elin yang berjalan menuju ke toilet. Dalam hati Javier mengira Elin akan membersihkan diri sebelum tidur.


Elin keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian. Dia tidak mengganti pakaiannya karena sejak awal tak tau akan bermalam diluar Apartmen milik Javier sehingga ia tak membawa baju ganti.


Javier juga demikian, tapi dengan seenaknya saja pria itu membuka pakaian yang sejak tadi membalut tubuhnya. Ia tidak nyaman jika harus tidur dengan setelan kerja dan ia lupa meminta Jack untuk membawakan baju gantinya maupun baju ganti Elin. Javier sampai melupakan hal penting itu hanya karena ia tidak mau jika Jack sampai menampakkan diri didepan Elin.


Javier mulai ingin memejamkan mata, tapi sesekali ia melirik pada Elin yang tampak sudah nyaman di tempat tidur yang satunya.


Javier mengulas senyum, tak lama ia benar-benar berniat untuk tidur. Javier berharap dia bisa nyenyak meski tidak berada dalam satu ranjang yang sama dengan Elin. Setidaknya, Javier tau Elin masihlah dalam satu ruang yang sama dengannya sehingga ia pikir ia akan tetap merasa tenang.


Lambat laun, Javier memang mengantuk hingga kemudian jatuh tertidur.


...***...


Elin terkesiap kaget saat menyadari jika ada sesuatu yang sangat memepet tubuhnya di tempat tidur yang ia tempati.


Tipe kamar twin bed seringkali memfasilitasi dua ranjang yang ukurannya tidak besar sehingga untuk ditempati dua orang akan terasa sempit meski sebenarnya memang masih mampu untuk menampung satu orang lagi diatasnya.


"Kak Javier ..." Elin tau yang saat ini tidur disisinya pastilah pria itu.

__ADS_1


Elin berusaha membalik tubuh, dia ingin membangunkan Javier yang membuat posisi tidurnya tidak nyaman. Sayangnya, saat menatap wajah pulas pria yang tertidur itu Elin jadi tak tega.


"Kenapa dia sempurna sekali?" batin Elin memuja ketampanan Javier yang masih terlelap.


Dalam jarak sedekat ini, Elin bahkan bisa mendengar deru nafas Javier, bahkan ia bisa melihat dengan jelas kulit wajah pria itu yang sama sekali tidak nampak pori-porinya.


"Siapapun pasti akan jatuh hati padamu, Kak. Kau dikaruniai wajah dan finansial yang berlebih. Belum lagi kebaikanmu itu," puji Elin. Meski Javier menolak perasaannya mentah-mentah tapi bagi Ekin pria ini tetaplah orang yang sudah menjadi pahlawan baginya. Javier baik dimatanya karena ia menerima sendiri kebaikan pria itu setiap hari meski terkadang Javier juga menyebalkan.


"Bolehkah aku meminta satu permintaan, kak? Aku mau, kau tidak pernah membebaskan aku. Jerat aku seperti ini terus dan aku menyumpahi agar kau selalu ketergantungan denganku," kata Elin dalam hatinya. Tak lama, ia terkikik karena kalimatnya sendiri.


Begitulah dirinya, kadang ia ingin membentengi diri dari Javier, tapi terkadang tanpa sadar ia juga begitu senang jika dekat dengan pria ini. Mungkin karena naluri kegadisannya yang sering membuatnya lupa diri akan kenyataan yang ada.


Hal itu membuat Javier mengucek matanya, karena ia mendengar cekikikan Elin yang entah disebabkan karena apa.


"Kau menertawaiku, ya?" tanya Javier menatap Elin dengan keheranannya.


Elin masih saja terkekeh dalam posisinya yang berbaring sangat dekat dengan Javier.


"Ya, ya, ternyata aku belum bisa jika harus tidur sendirian di tempat tidur yang berbeda denganmu. Itulah kenapa aku berpindah posisi ke tempat tidurmu."


Elin mengangguk sambil mengulumm senyum dan Javier memperhatikan tindakan Elin yang justru sangat manis dipandangan matanya.


Seakan terhipnotis oleh keadaan, tanpa sadar tangan Javier terulur ke sisi wajah Elin, jemari itu membenahi anak-anak rambut yang menutupi sebagian pipi chubby sang gadis.


Elin sendiri terdiam karena tindakan yang Javier lakukan, ia cukup syok sebenarnya. Namun, Elin juga tak mau menepisnya. Ia menikmati momen ini dimana wajah Javier begitu dekat dengan wajahnya.


Hingga akhirnya, Elin merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh ujung bibirnya. Elin membuka matanya yang sempat memejam karena tak tahan dengan sikap Javier yang sulit diprediksi.


Saat mata Elin benar-benar terbuka, ia menyaksikan sendiri bagaimana saat Javier yang ada didepannya terpejam lalu terlihat menikmati penyatuan bibir mereka yang dimulai oleh pria itu sendiri.


Sisi yang ada dalam diri Elin seakan merasa histeris, Javier tengah menciumnya. Atau lebih tepatnya hanya mengecup bibirnya saja. Tapi, ini berdampak pada ritme jantung Elin yang tiba-tiba bertalu kencang.


...Bersambung ......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak guys🙏 mohon dukungannya ya dengan cara vote, gift dan kirimkan komentar✅


__ADS_2