
Hari pernikahan Javier dan Elin sudah didepan mata. Semuanya tampak sibuk untuk mengurus perhelatan itu termasuk Elin yang kembali mengunjungi Bridal demi melakukan fitting akhir baju pengantinnya yang sudah selesai diperbaiki.
Hari ini, Elin tidak hanya bersama Carla untuk datang ke Bridal, karena Elara juga turut menemani calon menantunya tersebut.
"Bibi senang akhirnya kalian memutuskan untuk menikah."
"Ini semua juga berkat dukungan Bibi." Elin mengulas senyuman.
"Ah iya, nanti Cassie juga akan kesini. Dia mau mengambil gaunnya juga," kata Elara.
"Benarkah? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya Bibi."
"Ya, kemarin Cassie jalan-jalan ke Paris bersama Uncle Sakha."
Elin tidak mengenal siapa Uncle Sakha yang dimaksud oleh Elara, hingga wajah gadis itu memperlihatkan jika dia tampak kebingungan.
"Uncle Sakha itu adalah adik bungsu Bibi. Bibi tiga bersaudara. Bibi anak pertama. Yang kedua adalah Aunty Liora ... dia adalah ibu dari Cassie, dan adik Bibi yang terakhir adalah Uncle Sakha." Elara menjelaskan seolah memahami isi pikiran Elin yang tidak mengetahui hal itu.
"Wah, pasti menyenangkan punya banyak saudara," kata Elin yang membayangkan hal itu.
"Tidak juga, kau akan sering bertengkar dengan mereka," kelakar Elara sambil terkekeh.
"Benarkah?"
"Mungkin." Elara menyengir. "Tapi Bibi dan kedua saudara Bibi tidak begitu. Meskipun kadang ada keributan kecil yang wajar, tapi kami menghabiskan masa kecil dengan cukup hangat. Kemudian, Bibi kuliah di Jerman dan itu membuat kami harus tinggal terpisah dan berjauhan," jelasnya kemudian.
"Itu sangat seru," ujar Elin exited. "Apa Kak Javier hanya memiliki Cassie sebagai sepupu?" Elin bertanya lebih jauh karena ia memang tidak mengingat dengan jelas silsilah keluarga calon suaminya itu.
"Javier memiliki dua sepupu laki-laki yang lain. Adik kandung Cassie, namanya Diego. Dan putra dari Uncle Sakha, bernama Martin."
"Kalau dari pihak Uncle Shane?" tanya Elin merujuk pada pihak Ayah Javier.
Elara menggeleng. "Daddy nya Javier memiliki saudara kembar, dia adalah Uncle Shawn. Tapi Uncle Shawn mempunyai pilihan hidup sendiri dan memilih untuk childfree, dia tidak memiliki anak."
Elin tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa kau tertarik untuk memiliki banyak anak nanti?" tanya Elara kemudian.
"Apa bibi akan marah jika aku memutuskan untuk childfree juga?" canda Elin.
Elara mengendikkan bahu. "Itu adalah hakmu dan Javier, Elin. Bibi akan menghargainya. Sekalipun kau memutuskan untuk punya anak banyak, Bibi akan tetap mensyukurinya."
Dalam hati, Elin bersyukur jika calon mertuanya ini bisa menghargai apapun prinsipnya.
"Aku hanya bercanda, Bibi. Aku juga menginginkan untuk memiliki keturunan," akui Elin akhirnya. Ia senang karena bisa menganggap Elara layaknya teman dekatnya sendiri karena penerimaan wanita itu.
"Yah, kalau begitu kau akan sefrekuensi dengan Javier. Dia menginginkan untuk punya banyak anak."
"Benarkah?"
"Ya. Dia selalu mengatakan bahwa menjadi anak tunggal identik dengan kesepian. Dia juga cukup terbebani karena ekpektasi Daddy-nya sangat tinggi dan itu hanya ditujukan untuknya sendiri."
Elin paham kenapa Javier merasakan hal itu. Ia juga mengakui itu dalam dirinya. Meski sejatinya Elin memiliki saudara yaitu Liam, tapi sejatinya Elin merasa seperti hidup tanpa saudara. Bagaimana tidak, Liam selalu menganggapnya orang lain kendati Ayah biologis mereka adalah pria yang sama.
"Tapi jujur saja, aku belum siap jika harus memiliki anak diumurku yang sekarang, Bibi," akui Elin tampak ragu-ragu.
"Yah, bibi memahami hal itu. Mengenai ini, kau bisa mendiskusikannya lagi dengan Javier. Bukankah hubungan itu akan awet jika memiliki komunikasi yang baik?"
__ADS_1
Elin mengangguk setuju. Ia tau jika ucapan bijak Elara merupakan petuah untuk masa depan rumah tangganya.
Tak berapa lama, orang yang sejak tadi mereka bicarakan hadir ditengah-tengah mereka. Cassie dengan suaranya yang ceria.
"Apakah aku membuat kalian menunggu lama?"
"Tidak juga, kami mengobrol santai dan tidak terasa kau sudah tiba," kata Elin pada Cassie.
Mereka memutuskan untuk menunggu Cassie mengambil gaunnya di bridal tersebut. Lalu pulang bersama-sama.
"Elin, apa setelah menikah nanti kau dan Javier akan tetap menetap di Apartemen?" tanya Cassie saat mereka melangkah keluar dari Bridal.
"Aku tidak tau. Semua keputusan ada padanya dan aku akan mengikuti kemanapun suamiku pergi," jawab Elin.
"Bagus. Ikutlah dengannya sekalipun dia ke ujung dunia," kelakar Cassie namun diangguki pula oleh Elara.
"Ayo Aunty, mobilku ada disana," kata Cassie merujuk pada mobilnya.
Mereka semua berpisah didepan Bridal itu karena Elin juga akan menaiki mobil yang disopiri oleh Carla sebagai bodyguardnya.
"Bye Elin, sampai bertemu dihari pernikahanmu," kata Cassie sambil melambaikan tangan pada Elin.
"Bye Cassie, Bye Bibi Elara," balas Elin.
Elin menaiki mobilnya dan duduk disebelah Carla di kabin depan.
"Kita langsung pulang saja ya," kata Elin pada Carla yang diiyakan oleh wanita tomboi itu.
Beberapa saat berkendara, Carla tampak panik karena menyadari ada yang tidak beres dengan mobilnya.
"Ada apa Carla?"
"Apa ada masalah? Kenapa kau tidak memelankan sedikit kecepatan mobilnya? Kita sudah memasuki kawasan yang cukup padat," protes Elin pada gaya berkendara Carla yang biasanya tak begini.
"Maaf, Ms. Ku rasa rem nya blong."
"Apa?"
Didetik yang sama, Carla tidak bisa menghentikan mobilnya ketika sebuah truk dari arah berlawanan yang mengarah pada mereka.
Brkkkkkk !!!
Kecelakaan itu tidak dapat dihindari. Carla membanting setir ke arah samping disisa-sisa kesadaran yang ia miliki, bersamaan dengan suara jeritan Elin yang histeris karena insiden tersebut.
...***...
Kebakaran yang terjadi di perusahaan Javier beberapa hari lalu, sudah diselidiki pihak yang berwajib. Meski awalnya Javier mengira ada yang ingin menyabotase ruang penyimpanan berkas-berkas penting tersebut, tapi semua terbantahkan setelah hasil penyelidikan keluar. Itu terjadi akibat korsleting listrik yang memicu terjadinya kebakaran.
Karena hal ini pula, pekerjaan Javier dan divisinya menjadi menumpuk. Mereka harus kembali mencetak ulang berkas baru yang terbakar, pun harus mendapat persetujuan dengan tanda tangan ulang dari Javier.
Dan tentu saja Javier harus mengecek ulang semua berkasnya karena ia tidak mungkin membubuhkan tandatangan nya begitu saja. Ini sama seperti pekerjaan yang diulangi dua kali.
"Jack, tolong beritahu divisi keuangan untuk mengadakan meeting dan membahas budget yang tidak balance. Bukankah semuanya sudah clear? Kenapa setelah kejadian ini dan berkasnya diperiksa ulang justru jadi berantakan?"
Javier cukup kesal karena cara kerja berbagai divisi yang tidak sesuai dengan harapannya. Harusnya ini sudah selesai, tapi karena kebakaran terjadi dan membuatnya memeriksa ulang data, ternyata banyak borok yang seperti sengaja ditutupi.
"Selidiki bagian ini, Jack. Apa mereka mencoba korupsi?" Javier merasa jengah, harusnya pekerjaannya tidak mencakup hal ini tapi semua menjadi tanggung jawabnya sekarang.
__ADS_1
Jack mengangguk sampai akhirnya ponsel pria itu berdering dan itu adalah panggilan dari nomor Carla.
Carla memang menempatkan nomor Jack menjadi salah satu kontak dalam panggilan cepat di menu ponselnya. Sehingga hanya menekan lama di tombol angka 1 saja, panggilannya bisa langsung tersambung pada Jack.
"Ada apa, Carla?"
Dan Jack tercenung cukup lama mendengar sahutan Carla dari seberang sana. Suara itu terdengar tersendat-sendat seolah berada diambang kesadarannya.
Jack memutus panggilan itu dan menatap Javier yang tampak frustrasi karena pekerjaan.
"Tuan ..." Jack mencoba memanggil Javier yang bersandar di kursi kebesarannya disana.
Javier tak menoleh, hanya menyahut Jack dengan gumaman pelan.
Jack menelan ludahnya dengan susah payah, entah kenapa sekarang lidahnya terasa kelu untuk berkata-kata.
"Nona Elin ... k-kecelaka-an," ujar Jack dengan nada paling rendah.
Sontak saja ucapan Jack membuat Javier tersentak.
"Apa? Kau bilang apa barusan?"
"Carla mengatakan ... mereka---mereka kecelakaan."
Detik itu juga, Javier bangkit dari kursinya dan meminta Jack untuk mengkonfirmasi berita tersebut dan dalam hitungan menit, berita kecelakaan nahas itu langsung menjadi portal berita di surat kabar eletronik yang di-posting beberapa menit yang lalu.
Jantung Javier terpompa cepat, ia hampir limbung saat melihat gambar yang diunggah seseakun di portal berita tersebut. Mobil yang dikendarai Carla tampak rusak parah bahkan nyaris hancur.
"Saya akan mengecek keadaannya, Tuan." Jack berderap dan pergi saat itu juga, ia tak mau kehilangan satu detik pun dan akan menyesali keterlambatannya.
Javier sendiri, tak mampu berkata-kata lagi, ia memikirkan keadaan Elin dan nasib pernikahan mereka yang akan terjadi dalam dua hari kedepan.
...***...
Dengan langkah tergesa-gesa, Javier memasuki rumah sakit yang diberitahukan oleh Jack lewat sambungan seluler beberapa saat lalu. Wajahnya tampak suram dengan rahang yang mengeras.
"Carla kritis, dia harus menjalani proses operasi untuk memulihkan keadaannya, Tuan. Kita tidak dapat menanyainya mengenai Nona Elin."
Saat itu juga, Javier ingin mengumpat. Namun sebisa mungkin ia menahannya hanya karena menyadari dimana posisinya berada.
"Apa kau sudah mengecek cctv di jalanan itu?"
Jack mengangguk. "Semuanya sedang diselidiki, Tuan."
Bagaimana Javier tak emosi sekarang, saat proses penyelamatan Carla di lokasi kejadian, Jack mengatakan bahwa disana dia tidak melihat adanya Elin. Padahal, sebelum Carla hilang kesadaran, wanita itu jelas-jelas menelepon Jack dan melaporkan bahwa dia mengalami kecelakaan itu bersama dengan Elin. Lalu, dimana Elin sekarang?
Melihat dari keadaan mobil yang ringsek parah, akan sangat tidak mungkin jika Elin pergi begitu saja, jikapun Elin masih bernyawa, Elin pasti ikut tidak sadarkan diri disana. Tapi, kenapa Elin justru tidak ada?
Semua ini semakin terasa janggal karena Javier tau bagaimana sikap Elin terhadap Carla, Elin tak mungkin membiarkan Carla begitu saja dan pergi menyelamatkan diri sendiri. Sangat tidak mungkin.
"Aku yakin jika semua ini telah direncanakan," gumam Javier.
Jack mengangguk setuju atas ujaran atasannya itu.
"Selidiki dari mulai cctv di parkiran Bridal, karena sebelumnya mereka dari sana, kan?"
"Baik, Tuan."
__ADS_1
"Kabari aku apapun perkembangannya. Aku akan menelepon ibuku lebih dulu, untuk memastikan jika Elin benar-benar menaiki mobil bersama Carla atau tidak."
...Bersambung ......