
Saat jendela kamar itu benar-benar sudah terbuka, aku pikir aku bisa melarikan diri begitu saja, tapi nyatanya aku lupa bahwa posisiku sekarang berada dilantai 5 sebuah bangunan. Bagaimana mungkin aku bisa keluar dari sini?
Glek ... aku menelan ludah dengan susah payah, nyatanya saat aku melihat ke bawah sana, rasa takutku pada ketinggian menjadi lebih dominan sekarang.
"Ya Tuhan, aku harus apa sekarang?"
Aku bingung dengan cara apalagi aku bisa bebas? Apa aku coba meminta bantuan Sharen, Ghania dan Kayra. Tapi, apa mereka bisa menolongku?
Mungkin mereka tidak bisa, tapi bisa saja mereka bertiga memiliki ide agar aku bisa kabur dan keluar dari tempat ini.
Saat aku turun ke lantai 4, aku langsung menghampiri kamar Ghania yang berhadap-hadapan dengan pintu kamarku.
Aku mengetuknya pelan, syukurnya Ghania segera merespon.
"Ada apa, Elin?" Wanita itu keluar dengan wajah yang masih sembab, mungkin baru bangun tidur atau justru belum tidur sama sekali.
"Maaf kalau aku mengganggu waktu istirahatmu. Ada hal yang mau ku tanyakan padamu."
"Hal apa? Masuklah," ajaknya. Ghania menarik tanganku untuk segera masuk ke kamarnya.
"Kalau kau bicara diluar, aku takut ada pihak lain yang mendengar. Dinding disini bisa menguping jadi aku harus segera mengajakmu masuk," jelas Ghania membuatku manggut-manggut.
"Kau ada perlu apa?" Ghania bertanya dengan menguap diakhir kalimatnya.
"Aku mau kau memberiku ide."
"Ide?"
Aku mengangguk. "Aku mau kabur dari sini. Aku percaya kau pasti mau membantuku."
Ghania menepuk punggung tanganku. "Elin, aku mau membantumu. Tapi kabur dari sini tidak mudah. Apalagi kau belum punya akses untuk keluar masuk gedung ini," terangnya.
"Kau sendiri? Sudah bisa keluar dari sini?"
"Ya, baru beberapa bulan terakhir. Itupun mereka memasang alat pelacak di handphoneku," katanya.
"Kenapa kau tidak kabur? Kau bisa membuang handphone itu, kan? Apa kau tidak pernah berniat untuk kabur juga?" tanyaku memastikan.
"Tentu saja pernah. Tapi aku akan dipastikan hidup susah setelah itu, karena jalinan Kasino ini cukup besar, Elin."
"Apa tidak ada pihak luar yang mau membantumu? Kau punya alat komunikasi untuk meminta bantuan?"
"Sudahlah, Elin. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Nyatanya kehidupanku memang sudah ditetapkan disini, jadi aku bisa apa?"
Aku terdiam dengan ujaran Ghania. Pasti dia juga pernah mencoba untuk kabur tapi tidak membuahkan hasil. Jadi, aku tidak akan membahas soalnya lagi.
"Baiklah, lalu bagaimana denganku? Aku mau tetap usaha untuk keluar dari tempat ini. Sebelum mereka memasang alat pelacak. Sebelum aku terjerumus semakin jauh disini. Kau tau kan, sudah dua malam ini aku bukan bekerja mendampingi para penjudi itu, tapi aku malah di booking untuk menemani Tuan Gladwin tidur."
"Dan kau sudah terjerumus saat kau tidur dengan Tuan Gladwin, Elin." Ghania mengingatkanku.
__ADS_1
Aku menggigitt bibir. "Sebenarnya ... sebenarnya aku dan Tuan Gladwin hanya tidur dan tidak lebih dari itu," ujarku terus terang.
"Hanya tidur? Maksudmu?"
"Ya, tidur. Hanya tidur tanpa aktivitas apapun."
Ghania malah tergelak sekarang. "Oh, Elin... come on! Jangan suka bergurau dan membuat lelucon. Berita mengenai kau yang menemani Tuan Gladwin itu sudah diketahui seluruh penghuni gedung ini. Dan lagi, membuat Gwen iri. Jadi ... jangan bercanda dengan mengatakan hal tidak masuk akal begitu. Itu ... mustahil."
"Memang terdengar tidak mungkin, tapi kenyataannya memang begitu. Aku dan Tuan Gladwin tidak melakukan apapun selain tidur dalam ranjang yang sama." Aku membuat tanda kutip dengan jari saat menyebutkan kata 'tidur'.
"Whoa, sepertinya ada kesalahan disini."
"Entahlah, Whatever. Yang jelas, sebelum aku semakin jauh melangkah, kau harus membantuku keluar dari sini. Minimal punya ide untuk memberiku acuan."
Ghania mengangguk, lalu tampak berpikir, sepertinya dia sedang memikirkan keinginanku dan sebuah rencana yang ku pinta.
"Apa Tuan Gladwin memperlakukanmu dengan baik?" tanyanya kemudian.
Aku mengangguk. "Ya, meski sikapnya sangat dingin," tuturku.
Ghania diam, kemudian tampak mengetuk-ngetukkan jari didepan dagunya sendiri.
"Kalau begitu, cobalah meminta bantuan Tuan Gladwin."
Aku terperanjat. "Maksudnya?" tanyaku tak paham.
"Mungkin, dia mau membantumu keluar. Ceritakan padanya mengenai masalahmu. Bagaimana kau bisa ada disini. Minta bantuannya, karena dia dekat dengan Tuan Aro. Mungkin dia memiliki solusi."
"Apa tidak ada ide lain? Aku takut Tuan Gladwin justru memberitahu Tuan Aro mengenai keinginanku untuk kabur dari sini," ujarku pada Ghania.
"Kau harus mencobanya dulu, Elin."
"Aku tidak yakin akan berhasil, mengingat Tuan Gladwin sangat dingin. Jangankan mau menolongku, mendengar ceritaku saja mungkin dia tidak mau."
"Itu terserah padamu. Aku hanya memiliki ide itu. Minta bantuan padanya, mumpung dia baik padamu. Dan lagi ... mencoba tidak ada salahnya."
"Baiklah, aku akan mencobanya. Terima kasih kau sudah memberiku saran dan ide."
...***...
Meski aku tau ide yang diberikan Ghania sangat tidak masuk akal. Tapi aku harus mencobanya. Tidak malam ini karena Tuan Gladwin berpesan bahwa dia tak akan datang hari ini.
Dan ya, dia memintaku untuk cuti. Apa Tuan Gladwin sudah memberitahukan hal ini pada Tuan Aro dan pria itu menyetujui cutiku?
Nyatanya itu tidak berlaku, buktinya Gwen mengetuk pintu kamarku tepat jam 7 malam.
"Mulai besok, keluarlah sebelum ku jemput. Kau bukan anak baru lagi. Seharusnya kau sudah mengerti jam kerja disini," ketus Gwen didepan wajahku.
Wanita itu tidak pernah menunjukkan wajah bersahabat sejak pertama kali aku menginjakkan kaki ke tempat ini. Ditambah lagi, dua kali aku menggantikan tempatnya yang biasanya selalu menemani Tuan Gladwin.
__ADS_1
Ketidakhadiran Tuan Gladwin malam ini, membuatku harus bekerja di dekat para penjudi, menemani mereka seperti yang lainnya.
Aku kira aku akan kembali ditempatkan di lantai dasar, nyatanya aku dibawa oleh Gwen ke lantai 3.
Tidak seperti di lantai 1 yang dikhususkan untuk penjudi kelas bawah, kabarnya di lantai ini para penjudi kelas kakap tengah berkumpul.
Biasanya disini adalah kalangan para pejabat, pengusaha dan ada juga para aktor yang memiliki hobi menghamburkan uang dalam jumlah banyak untuk kepuasan mereka dalam berjudi.
Aku dituntun Gwen sampai ke meja yang dipenuhi para pria bertubuh tambun. Tidak semuanya, tapi dari keenam orang yang berkumpul dalam satu meja itu, empat diantaranya memiliki perut buncit. Umur mereka mungkin setara dengan mendiang Ayah tiriku, tapi tatapan mereka sangat membuatku jijik. Mereka memandangku dengan seringaian nakal yang sarat akan rasa lapar.
"Hai, Gwen ..." Salah seorang pria yang agaknya sudah mengenali Gwen, turut menyapa wanita itu.
"Hai, Tuan Joan."
"Kau makin cantik, Gwen," timpal pria tua yang satunya. Tampangnya sangat genit, dia mengerlingkan matanya ke arah Gwen.
"Thank you, Mr. Donald."
"Siapa dia, Gwen?"
Mereka mulai menanyakan kehadiranku disana. Aku hanya bisa menundukkan wajah dalam-dalam.
"Dia orang baru. Masih fresh. Namanya Medeline."
"Hallo, Medeline?" Pria yang bertampang paling genit itu yang paling dulu menyapaku.
Aku tak menyahut, aku justru merasa gemetar takut.
"Baiklah, aku tinggal kau disini Elin. Bekerjalah dengan baik." Gwen tersenyum miring sambil menepuk pundak ku.
Aku ingin menyuarakan protes, tapi aku tidak bisa mengeluarkan suaraku. Aku mau menjerit sekarang, apalagi Gwen sempat berbisik sebelum benar-benar pergi.
"Dengar, mereka bukan penjudi seperti dilantai dasar. Mereka berkelas, bisa masuk kesini dengan uang yang tidak sedikit jadi mereka bebas menggerayangimu, Elin."
Mataku sontak membulat mendengar bisikan dari Gwen. Naluriku sudah meronta-ronta ingin sekali melawan, hingga tanpa sadar kakiku sudah bergerak untuk segera menghindar dan pergi dari sana.
"Medeline, kau mau kemana?" Suara berat milik pria yang disapa Gwen dengan nama Joan, terdengar memanggilku.
"Ehm, maaf, Aku---"
"Tidak perlu malu, kemarilah!" Pria yang lain, yang belum ku ketahui namanya langsung menyela sebelum aku selesai dengan kalimatku.
Tuan Joan menghampiriku, dia memaksaku untuk kembali mendekat pada meja mereka.
"Kalian berani bayar berapa untuknya? Siapa yang paling tinggi membayar, maka dia yang berhak ditemani Medeline berjudi."
Suara gelak tawa mereka memenuhi gendang telingaku, ternyata sebelum berjudi mereka mau menjadikanku semacam barang lelang yang akan ditawar dengan harga setinggi-tingginya.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Tolong aku, Tuhan ...
__ADS_1
...Bersambung ......