
...2 Tahun Kemudian ......
"Sherin! Apa yang kau lakukan!" Seorang wanita tua membentak gadis muda yang menyenggol Gucci antik kesayangannya hingga benda itu pecah berantakan.
"Ma--maafkan aku, Nyonya. Aku tidak sengaja melakukannya." Wajah wanita muda itu tampak pias dan gemetar ketakutan.
"Tidak sengaja katamu? Kau pikir Gucci itu ku beli dengan harga murah? Bahkan harganya lebih berharga ketimbang nyawamu!"
"Sekali lagi maafkan aku," kata sang gadis yang kemudian tertunduk tak berani menatap pada sang wanita tua dihadapannya.
Mendengar suara berisik dan ribut, seorang pria muda menghampiri tempat yang menjadi sumber keributan itu, ia cukup terkejut melihat Gucci kesayangan neneknya sudah pecah berhamburan disudut ruangan.
"Ada apa ini, Nek?"
"Syukurlah kau datang, lihat apa yang dilakukan oleh Sherin! Dia memecahkan guci antik nenek."
"Sherin tidak sengaja melakukannya, Nek," jawab pemuda itu.
Wanita tua itu menggeleng kesal. "Dari awal, dia memang tidak berguna dirumah ini. Aku masih tidak habis pikir, untuk apa kau menghabiskan banyak uang demi menebusnya ditempat penjualan budak! Dia bahkan tidak berguna sama sekali" ketus sang Nenek.
"Cukup, Nek! Jangan mengungkit hal itu lagi."
"Atau jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padanya, Nathan?"
Pemuda bernama Nathan itu membuang pandangan dari sorot mata sang Nenek yang terasa menikam.
"Sampai kapanpun dia hanya akan menjadi budak! Ingatlah janji yang kau katakan pada Nenek bahwa kau akan tetap menjadikannya budak, jika nenek mau membantumu menebusnya. Maka, tepatilah janjimu itu!"
Sang Nenek pergi dengan wajah yang memerah karena amarah. Nathan hanya bisa mengembuskan nafasnya dengan panjang.
"Kau tidak apa-apa?" Nathan menghampiri gadis yang ia sebut dengan nama Sherin.
Gadis itu mendongak, dari posisinya yang terduduk di kursi roda ia menatap ke dalam netra pemuda yang sudah menolongnya 1 tahun belakangan, Nathan.
"Kau tidak perlu membelaku. Memang aku yang salah."
"Sudahlah. Jangan diperbesar lagi. Aku akan memanggil pelayan untuk membersihkan semua kekacauan ini."
"Tidak, biar aku yang membereskannya. Ini akibat dari kecerobohan ku."
Nathan mengepalkan tangannya, kesal pada diri sendiri yang tidak bisa berbuat banyak akibat bayang-bayang neneknya yang diktator.
Sekitar 1 tahun yang lalu, Nathan tak sengaja menemukan Sherin dirumah penjualan budak. Ia bersedia menebus gadis itu karena wajah Sherin mengingatkannya pada gadis yang sempat ia sukai, Elin.
Tentu awalnya Nathan mengira jika Sherin adalah Elin, tapi gadis itu bersikeras mengatakan bahwa dia bernama Sherin. Tidak ada yang mau menebusnya di rumah perbudakan karena kondisinya yang lumpuh.
Namun, Nathan bersikukuh menebus gadis itu meski ditentang oleh Neneknya.
Masih teringat dalam kepala Nathan janji yang dia ucapkan pada neneknya kala itu.
__ADS_1
"Bantu aku menebusnya, Nek. Aku tidak memiliki uang sebanyak itu."
Waktu itu, Nathan juga baru bertemu dengan nenek kandungnya yang ternyata cukup terpandang di kota Berlin. Mereka sudah terpisah cukup lama.
"Kenapa permintaanmu sangat aneh. Kau tau dia itu budak dan lumpuh. Untuk apa mengeluarkan uang banyak hanya demi gadis seperti itu," tukas sang Nenek.
"Aku mengingat mendiang ibuku ketika melihat wajahnya," jawab Nathan memberi alasan. Sebenarnya ia tak berbohong, karena wajah itu mengingatkannya dengan ibunya saat masih muda, dan itulah yang membuat Nathan tertarik padanya sejak awal.
"Baiklah, jika begitu. Tapi jangan pernah tertarik padanya lebih dari ini. Ingatlah bahwa selamanya dia akan tetap menjadi budak, jika kau setuju dengan hal itu maka nenek akan menebusnya hari ini juga."
Nathan tampak bimbang, namun tekadnya untuk menebus sang gadis lebih kuat, ia tak mau gadis itu lebih lama ditempat perbudakan dan justru menjadi budak di rumah orang lain. Hingga akhirnya, ia menyetujui dan berjanji pada neneknya bahwa selamanya dia akan menganggap jika gadis itu adalah budak di kediaman mereka.
Meski nantinya tetap akan menjadi budak dirumah neneknya, tapi itu lebih baik karena dengan begitu sesekali Nathan masih bisa menjenguk dan melihat keadaannya.
...****...
Sherin memanglah Elin. Jika ada yang menganggapnya amnesia, itu tidak salah, karena Elin selalu bersikap seolah tidak mengingat apapun termasuk dirinya sendiri dihadapan orang lain. Tapi didepan Nathan, ia mengatakan bahwa dia bernama Sherin.
Lumpuh? Tentu saja dia tidak benar-benar lumpuh. Ia mendapatkan perawatan yang cukup baik hingga tubuhnya kembali sehat setelah kecelakaan 2 tahun yang lalu.
Dan soal Nathan yang menolongnya dari tempat perbudakan. Elin jelas mengenal pria muda itu. Pemuda yang sama yang pernah mendekatinya saat dia masih mengontrak di perumahan kumuh.
Bisa dibilang, Elin membohongi semua pihak mengenai keadaannya. Termasuk Nathan, bahkan Liam dan Irina yang sudah menjebaknya lalu mencampakkannya lagi dalam situasi tersulit dalam hidupnya.
Elin terpaksa berbohong untuk keselamatan dirinya sendiri dan hingga saat ini ia tak bisa membuka jati dirinya yang sebenarnya meski didepan Nathan yang notabenenya tidak akan menyakitinya.
Flashback on ...
Awalnya, Elin tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, tapi lambat laun ia mulai bisa menyimpulkan keadaan karena mendengar percakapan Liam dengan Irina. Ternyata mereka berkomplot untuk menghancurkan Javier dengan adanya kecelakaan yang menimpa Elin.
Lalu, Elin juga tidak tau kenapa Irina dan Liam masih membiarkan dia hidup dan malah menyediakan tenaga kesehatan untuknya. Namun akhirnya, Elin menyadari jika ternyata Liam berencana untuk menjualnya lagi. Kali ini bahkan lebih parah, disebuah tempat pelacuran.
Karena Liam dan Irina sering bersenang-senang bersama akhir-akhir itu, mereka memang jarang melihat keadaan Elin dan menganggap jika Elin masih sekarat. Mereka menyerahkan semuanya pada tenaga kesehatan yang juga jarang mereka tanyai mengenai perkembangan kesehatan Elin.
Hingga tanpa curiga, mereka sering membicarakan hal-hal rahasia didepan Elin yang mereka kira tidak akan mendengarnya. Hal itu pula yang membuat Elin tau semuanya, termasuk rencana mereka.
Elin dalam keadaannya yang masih lemah, mulai ikut merencanakan sesuatu untuk keselamatannya. Ia tau bahwa dunia hiburan seperti pelacuran akan menuntut kesempurnaan dalam fisiknya, sehingga Elin berniat untuk berpura-pura lumpuh agar nilai jualnya ditempat itu akan diperhitungkan kembali.
"Dia sudah sadar?" tanya Liam yang menyadari pergerakan Elin waktu itu.
"Yah, sepertinya dia sudah sadar." Irina tampak semringah. Ia sudah menunggu ini cukup lama. Elin sudah di ranjang pesakitan nyaris 6 bulan lamanya.
Mereka berdua sudah tidak sabar untuk memanfaatkan Elin dan menjalankan rencana agar segera bisa menyiksa Elin dengan menjualnya di tempat pelacuran. Tapi mereka tidak tau bahwa Elin juga sudah menjalankan strategi untuk terbebas dari tempat semacam itu.
Beberapa hari berlalu, Elin menunjukkan jika dia benar-benar sudah sadar dan pulih sepenuhnya, namun setiap Liam mengajaknya berbicara Elin menunjukkan sikap lain yang membuat Liam penasaran.
"Kau ingat siapa aku, kan?"
Elin menggeleng takut-takut, ia tau jika disini ia akan bermain peran.
__ADS_1
Tentu Liam tidak percaya begitu saja dengan keadaan Elin yang tidak mengingat dirinya. Hingga ia menanyakan hal itu pada dokter yang menangani gadis itu.
"Kecelakaan itu bisa saja membuatnya kehilangan ingatan. Apalagi menurut keterangan anda Nona Elin pernah mengalami hal serupa saat dia kecil. Jika dulu dia mengalami amnesia temporer, besar kemungkinan jika sekarang dia juga mengalami hal yang sama atau justru lebih parah karena benturan di kepalanya. Dia bisa hilang ingatan selamanya."
Penjelasan dokter itu justru membuat Elin merasa bahwa rencananya akan berjalan dengan lancar. Setelah ini, ia akan berusaha untuk kabur dan keluar dari tempat yang bahkan Elin tidak tau dimana posisinya saat ini.
"Seharusnya dia bisa memulai hidup baru dengan ingatan yang baru, tapi sayangnya, dia lumpuh dan nilai jualnya akan menurun meski kita menjualnya dimanapun!" berang Liam.
"Aku tidak peduli soal uangnya, yang terpenting dia segera kau jual dan dia segera menderita," jawab Irina.
Tanpa mereka berdua tau, Elin mendengar percakapan itu.
"Jual dimana saja yang mau menerimanya. Kalau perlu campakkan dia ke tempat perbudakan meski itu tidak memberimu cukup banyak uang." Irina kembali memberikan usulnya.
"Yeah, mau bagaimana lagi. Dia lumpuh dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk kesembuhannya. Kita jual dia secepatnya agar segera melihatnya menderita," sahut Liam menyetujui.
Saat itu, Elin berniat kabur, tapi ia tidak sempat melakukannya karena Liam sudah lebih dulu bertindak untuk menjualnya ditempat perbudakan.
"Selamat tinggal, Elin. Jika kita tidak sengaja bertemu kembali, mungkin kau tidak akan pernah mengingatku lagi."
Itulah ucapan terakhir Liam saat berhasil menempatkan Elin di tempat perbudakan.
Ditempat perbudakan pun, Elin tetap menjalankan perannya sebagai gadis lumpuh dan lupa ingatan. Itu agar tidak ada orang yang mau menebusnya dan benar-benar akan menjadikannya budak di kediaman mereka. Namun ternyata, berselang beberapa bulan dari saat terakhir Liam meninggalkannya disana, Elin justru bertemu dengan Nathan yang akhirnya membawa Elin pada kediaman sang Nenek yang diktator.
Awalnya, Elin tidak tau apakah ia harus langsung mengenali Nathan atau tidak, tapi akhirnya ia memilih untuk tetap berpura-pura tidak mengingat apapun agar Nathan menganggapnya orang lain dan bukan Elin.
Sejak itulah, nama Elin berubah menjadi Sherin yang itu adalah nama pemberian dari tempat dimana dia dijual. Mereka tidak mengatakan pada Nathan bahwa Elin adalah gadis yang amnesia dan Elin bersyukur atas hal itu karena dengan begitu Nathan akan menganggapnya gadis yang berbeda dan hanya memiliki wajah yang serupa dengan Elin.
Flashback Off ...
...***...
Sekarang, Elin sedang mencari cara agar ia bisa keluar dari kediaman Nathan karena ia sudah terlalu lama berada ditempat ini.
Bukannya Elin tidak berusaha, ia sudah berkali-kali mencoba kabur dari tempat itu tapi selalu gagal karena ia benar-benar dibuat selayaknya budak disana. Hanya saat-saat Nathan ada di rumah itu, barulah Elin bisa sedikit bernafas.
Jika Nathan pergi untuk melakukan aktivitasnya yang lain, maka Elin akan disiksa, dikurung dan sering tidak diberi makan. Bukan hanya Nenek Nathan yang melakukannya, tapi para pelayan dirumah itu juga menyiksanya.
Kadang, Elin ingin mengatakan yang sebenarnya pada Nathan mengenai siapa dia yang sebenarnya, tapi Elin takut jika Nathan kembali berharap dan menaruh hati padanya.
Sementara, jika Nathan tau bahwa dia bukan Elin, maka Nathan akan tetap menganggapnya budak seperti janji pemuda itu pada sang Nenek.
Nathan memang sering memperlakukannya secara spesial, dan bukannya Elin tak tau, semua itu Nathan lakukan karena ada hati padanya, tapi entah kenapa Elin tetap tidak bisa membalas perasaan pemuda itu begitu saja.
Elin merasa bimbang dengan keputusan yang akan diambilnya di kedepan hari, apakah ia benar-benar harus membuka jati dirinya didepan Nathan? Apakah dengan begitu Nathan akan melepaskannya? Atau justru malah tetap menahannya disini setelah tau jika dia benar-benar Elin?
Belum lagi saat Elin memikirkan hal lain. Hatinya selalu terasa sakit ketika dia mengingat Javier.
Ah, apa kabarnya pria itu? Semoga Javier tetap hidup dengan baik tanpa dirinya selama 2 tahun belakangan ini.
__ADS_1
...Bersambung ......