
Dengan langkah gontai, Javier kembali ke ruangan perawatan Elin.
Sesampainya disana, pria itu memandangi wajah pucat Elin yang masih tertidur karena efek obat yang diberikan dokter sesaat sebelum Javier meninggalkannya tadi.
Helaan nafas Javier terasa berat, mengusap kasar wajahnya sendiri, kemudian meraih jari-jemari Elin untuk ia genggam.
"Aku tau, tidak seharusnya kau kembali ke dalam kehidupanku dengan jalan seperti ini. Sesuai janjiku, aku akan membebaskan mu meski itu akan menyakitimu karena itulah kesepakatan awal kita," ujarnya dengan berat hati.
Javier tidak tau kenapa semuanya terasa berat, ia juga mengingat jika disatu sisi ia memiliki janji pada mendiang ibu Elin untuk menjaga gadis itu.
"Tapi aku akan memastikan bahwa, setelah kita berpisah kau akan tetap dalam penjagaan ku," gumamnya pelan.
Javier menguap, rasa kantuk mulai menyerangnya dan cukup tertidur dibibir tempat tidur--dimana Elin berbaring--sudah cukup baginya untuk mendapatkan ketenangan dalam tidur.
...****...
Javier merasakan pergerakan dan seketika itu juga Javier terbangun dengan tubuh yang menegak untuk menyadari keadaan.
"Elin, are you oke?" tanya Javier pada Elin karena gadis itu kembali terlihat menangis dengan tubuh yang bergetar.
"Jangan menangis lagi. Sudah ku katakan ada aku disini," ujarnya kemudian.
Elin tak menjawab, gadis itu memang tampak banyak diam sejak kematian ibunya kemarin. Elin hanya terlihat menangis sesekali juga melamun dengan tatapan kosong.
"Kau mau disini terus? Kau harus kembali sehat karena aku tidak mau kita terus menginap di rumah sakit," kata Javier lagi.
Elin menghapus kasar airmatanya sendiri. "Kita?" tanyanya merujuk pada perkataan Javier. Itu adalah kata pertama Elin yang menanggapi ujaran Javier.
"Iya. Kita. Ada yang salah dengan itu?"
"Kau tidak perlu repot-repot menemaniku disini, Kak."
"Kenapa?" lirih Javier.
"Aku bisa sendiri," jawab Elin sembari membuang tatapannya ke luar jendela.
Javier menghela nafas pendek. "Aku yang tidak bisa, Elin," akuinya.
Elin tertawa pelan, terdengar sumbang dan miris. "Kau harus bisa, Kak!" tekannya.
__ADS_1
"Ya. Tapi saat ini aku belum bisa."
"Jadi, mau sampai kapan?" tanya Elin yang kini menghadap Javier dengan sorot tajamnya.
"Sampai aku sembuh," kata Javier mantap.
"Kapan kau sembuh? Sebulan? Dua bulan lagi? Atau satu tahun?"
"Aku tidak tau, Elin. Kita jalani saja seperti ini."
"Aku ingin kejelasan, Kak. Agar aku bisa menyiapkan diri kapan kiranya aku bisa pergi dari hidupmu!" tukas Elin dengan suara bergetar.
Sebenarnya, ucapan Elin ini sangat menampar diri Javier. Ini terasa menyakitkan. Dimana Elin tampak bersikukuh untuk segera pergi dari hidupnya. Tampak sangat mendesak agar Javier segera sembuh dan tidak membutuhkannya lagi.
"Boleh aku tau kenapa kau sangat bersikukuh seperti ini. Apa kau benar-benar sangat menginginkan pergi dariku?"
Elin tak menjawab, ia tau jika hatinya sebenarnya bertentangan dengan keinginannya itu tapi ia juga harus bisa hidup tanpa Javier karena cepat atau lambat Javier akan membebaskannya. Meski hati Elin sangat ingin Javier terus bersamanya tapi kenyataannya mereka harus mengikuti kesepakatan awal yang sudah terlanjur mereka sepakati.
"Jawab aku, Elin! Bukankah kau mengatakan bahwa sekarang kau tidak punya siapapun lagi didunia ini?"
"Itu Menag kenyataannya," lirih Elin.
"Untuk apa aku berharap memilikimu jika suatu saat nanti kau akan pergi meninggalkanku, Kak!" Mata Elin tampak berkaca-kaca lagi saat mengeluarkan kalimat itu.
Javier terdiam. Ucapan Elin memang benar. Untuk apa dia menanamkan rasa memiliki pada gadis itu kalau pada akhirnya mereka harus berpisah. Bukan hanya karena kesepakatan tapi juga karena Javier yang sudah memberi keputusan serupa pada Ayahnya. Akan meninggalkan Elin tanpa menyakitinya.
Jadi, harus bagaimanakah ia saat ini? Haruskah ia melanggar semua kesepakatan itu juga menarik kata-katanya lagi pada sang Ayah?
Tapi, untuk apa? Untuk apa Javier melakukan semua itu? Apakah hanya demi Elin? Tapi kenapa?
"Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku menyukaimu, Kak. Jadi, semakin lama kebersamaan kita aku takut perasaanku itu semakin membesar, Kak. Untuk itulah, aku ingin segera menyudahi ini agar perasaanku tidak semakin berlarut-larut kepadamu."
Elin menatap Javier dengan tatapannya yang tulus, untuk itulah Javier tidak tahan untuk tidak membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku tidak mau bergantung lagi padamu, Kak. Aku tidak mau!" keluh Elin sambil terisak.
Javier menggeleng dalam pelukannya. Ia tidak mau Elin melakukan itu, ia mau Elin tetap bergantung padanya, ia mau Elin terus merasa memilikinya. Ia tidak siap jika Elin segera menyudahi ini secepatnya. Entah karena rasa ketergantungannya atau karena rasa lain yang tumbuh dihatinya.
"Jangan. Jangan sudahi semuanya," ucap Javier akhirnya.
__ADS_1
"Kau mengatakan ini karena kau masih membutuhkan aku kan kak?" tanya Elin masih dalam dekapan pria itu.
"Entahlah, lupakan soal kebutuhanku tapi untuk sekarang jangan berpikir untuk menyudahinya." Pelukan Javier semakin mengerat, bahkan Elin merasa sangat sesak sekarang.
"Lepaskan aku, Kak. Kau memelukku terlalu erat," protes Elin akhirnya.
Javier tersadar dan spontan melerai pelukannya pada tubuh Elin.
Mereka saling menatap satu sama lain. Ada pancaran rasa takut kehilangan satu sama lain.
"Elin?"
"Hmm?"
"Jika tiba-tiba aku mengajakmu untuk menikah, apa kau mau menerimanya?"
Kelopak mata Elin langsung terbuka lebar mendengar pernyataan Javier itu. Ia bahkan tidak mau berkedip karena takut kalau-kalau ini hanya halusinasi nya saja. Demi apapun, ia tidak pernah menyangka Javier akan berkata demikian.
"Kenapa tiba-tiba ucapanmu aneh, Kak?" Itulah yang Elin katakan sebagai respon atas ujaran Javier sebelumnya.
"Aku tidak tau," akui Javier. "Tapi aku pikir ini adalah jalan keluar."
"Jalan keluar, maksudnya?" Elin tampak bingung.
"Daddy dan ibuku memintaku untuk menikahimu, dan---"
"Ah, jadi ini karena permintaan kedua orangtuamu?" tanya Elin dengan senyuman getir.
"Setengahnya karena itu, dan setengahnya lagi karena aku masih membutuhkanmu. Aku tidak tau sampai kapan aku terus begini, aku juga tidak bisa memastikan kapan aku sembuh."
Elin menahan airmatanya sekarang.
"... kau juga tidak memiliki siapapun, aku mau kau bergantung padaku. Bukankah menikah adalah jalan keluarnya?"
Elin menggeleng samar. Ia tidak menyangka Javier mengajaknya menikah tapi ia lebih tak menyangka lagi jika alasan Javier karena orangtua dan kebutuhannya saja. Apa Javier tidak memikirkan perasaan Elin yang jelas-jelas mengatakan telah menyukainya?
"Jika nanti aku sembuh, dan kau mau bebas dariku, itu tak masalah Elin. Kita bisa menyepakatinya lagi nanti. Tapi yang terpenting sekarang adalah kita tetap bersama karena jika aku tidak menikah denganmu, Daddy akan memintaku untuk melepaskanmu sesegera mungkin dan aku tidak bisa melakukan itu dalam waktu dekat."
...Bersambung ......
__ADS_1
...Jangan lupa dukung karya ini dengan vote, gift, like dan tinggalkan komentarnya guys ❤️💚...