
Elin tak menjawab perkataan Javier, dan secara perlahan wajah pria itu semakin mendekat lagi kepadanya, tapi didetik berikutnya Elin justru membuang pandangannya ke samping–sebagai bentuk penolakannya pada Javier.
Hal itu sungguh diluar pemikiran Javier. ia tidak menyangka Elin akan menolak perlakuannya dan ini sungguh membuat Javier kecewa. Kenapa? Javier sendiri tak tau kenapa ia harus kecewa atas apa yang Elin lakukan. Atau ini bukan kecewa? Melainkan karena merasa harga dirinya telah terlukai? Entahlah.
"Aku mau beristirahat sekarang, ku pikir aku terlalu lelah menangis," kata Elin.
Javier memperhatikan gelagat gadis itu, Elin jelas tengah menghindar darinya. Lagi-lagi Javier hanya bisa bertanya dalam hatinya akan tingkah Elin yang terlihat sangat sengaja menjauhinya.
Elin bangkit, berdiri dari duduknya dan melewati tubuh Javier. ia hendak segera berlalu, setidaknya ia ingin pergi sejenak mumpung kesadarannya telah pulih.
Elin tidak mau terhipnotis lagi pada sosok Javier, ia mau kuat menghadapi segala godaan ini. Elin tau ia bisa saja lemah dan berakhir menyerahkan diri pada pria itu. Tapi, disaat dalam mode kesadaran penuh seperti ini, Elin selalu memikirkan dampak terburuk dari suatu tindakan yang diambilnya. Ia tidak mau setelah semuanya terjadi, Javier akan meninggalkannya karena sejatinya mereka tidak punya ikatan rasa yang kuat.
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak mau kita melewati batas yang tidak seharusnya," batin Elin. Karena sekali saja ia terjerumus maka ia akan jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria itu.
Jadi, sebelum Elin kalah pada pesona Javier lagi, ada baiknya ia menjauh dikala pikiran dan hatinya masih sinkron dan bisa saling memahami. Elin tak mau logikanya dikalahkan oleh perasaannya sendiri. Paling tidak, untuk saat ini. Esok hari, ia tidak tau.
"Elin …" panggil Javier, namun Elin tetap melangkah.
"Medeline!" Suara Javier berubah tegas, bersamaan dengan tangannya yang mencekal pergelangan lengan Elin.
Sontak saja Elin berhenti, ia menatap Javier dari ujung mata tanpa menoleh pada pria itu.
"Ku pikir … kau sendiri yang memintaku melupakan apa yang hampir terjadi pagi tadi, Kak. Tapi kenapa sekarang kau malah menginginkan untuk melanjutkannya lagi?"
Javier diam, benar yang Elin katakan. Ia tak mampu menampik tuduhan Elin. Elin jelas menuduhnya. Bukankah ia yang sempat meminta Elin agar tidak memikirkan hal itu lagi? Tapi kenapa sekarang ia yang mengingatkan dan mau melanjutkannya saat merasa ada kesempatan?
"Elin, aku–"
"Jangan plin-plan, Kak. Ku rasa kau adalah pria yang paling tau mengenai sebuah komitmen. Jangan tarik ucapanmu lagi. Jadi, biarkan hubungan kita hanya sebatas kesepakatan saja, tidak lebih."
Javier ikut berdiri sekarang, ia memutar tubuh Elin demi bisa saling bertatapan dengan gadis itu. Kenapa sekarang Elin yang memperingatkannya? Bukankah dulu ia yang selalu mengingatkan gadis itu ketika Elin menyatakan rasa suka kepadanya?
Sepertinya ada yang salah pada otak Javier akhir-akhir ini.
"Uhm, kau benar, mungkin aku yang tidak memegang kata-kataku sendiri."
Elin diam dalam posisi yang sama.
"Sekarang, tidurlah," kata Javier akhirnya dengan nada rendah.
Elin pun berlalu setelah melerai tangan Javier yang masih melingkari pergelangannya.
Elin memasuki kamar mereka kemudian membersihkan diri. Tak lama, ia keluar dari kamar mandi dan syukurnya Javier belum berada disana.
"Aku akan tidur lebih dulu, sebelum Kak Javier kembali ke kamar," bisik hati Elin.
Elin pun berbaring di ranjang dan menyelimuti separuh tubuhnya dengan selimut. Posisinya membelakangi pintu masuk. Ia menguap sekali, sampai akhirnya merasa nyaman dan jatuh tertidur.
Javier masuk ke kamarnya setengah jam kemudian, sebelumnya ia memilih mandi di kamar mandi yang berada di luar kamar.
Javier melihat ke arah tempat tidur dan tampaklah Elin yang sudah terlelap disana.
Javier sadar ada beberapa hal yang berubah dari dirinya setelah membawa Elin masuk ke dalam kehidupannya. Salah satunya adalah hal yang tadi membuat dia dan Elin sedikit berdebat.
Javier tau bahwa secara tak sadar, kini pandangannya terhadap Elin sudah berubah. Ia mulai menganggap Elin sebagai seorang gadis, bukan lagi bocah kecil yang selalu ia sebutkan selama ini.
Javier duduk disisi tempat tidur, ia memandang punggung Elin yang membelakanginya.
__ADS_1
"Kau tau, biasanya aku tidak pernah plin-plan seperti perkataanmu. Tapi, entah kenapa aku bisa melanggar kebiasaanku sendiri. Lain kali, aku tidak tau hal apa lagi yang akan ku langgar karena aku merasa ada yang berbeda dari diriku belakangan ini."
Javier tau Elin takkan mendengarnya, kini ia turut masuk ke dalam pembaringan yang sama dan mengenakan selimutnya juga.
"Good nite, Elin. Semoga rasa nyamanku saat tidur bersamamu turut membuatmu merasakan hal yang sama," kata Javier pelan.
...****...
Seorang perempuan muda, dengan rambut bergelombang kecoklatan datang ke kantor Javier siang ini. Ia berjalan dengan gayanya yang anggun lalu menghampiri meja resepsionis.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?"
"Aku mau bertemu dengan Javier. Apa dia ada?"
"Tuan Gladwin sedang ada rapat penting. Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"
"Belum, tapi bisa katakan padanya bahwa aku datang kesini, karena ada hal penting yang ingin ku kabarkan kepadanya."
Resepsionis itu mengangguk. "Saya akan memberitahu beliau setelah rapat selesai," katanya sopan.
"Okey, katakan padanya, Cassandra Logan ingin bertemu dengannya."
"Baik. Silahkan menunggu."
Perempuan bernama Cassandra itu duduk disebuah sofa yang ada dalam ruang tunggu khusus tamu perusahaan. Ia mengambil cermin kecil yang ia bawa didalam tasnya, kemudian melihat pantulan dirinya sendiri.
"Sudah cantik," gumamnya dengan senyum ceria.
Ia menunggu nyaris setengah jam, sampai akhirnya resepsionis yang menyambutnya tadi mengatakan bahwa pesannya telah disampaikan.
"Saya sudah mengatakan pada Tuan Gladwin bahwa anda menunggu disini, Nona."
"Yah."
"Baiklah, tunjukkan aku ruangannya, aku akan menghampirinya."
"Tuan Gladwin yang akan turun kesini, Nona."
Cassandra berdecak, tapi kemudian kembali mendudukkan diri.
"CK, baiklah," katanya pasrah.
Mau tak mau Cassandra kembali menunggu sampai akhirnya ruang tunggu tersebut dimasuki oleh seorang pria yang ingin ia temui.
"Jav!!" pekik Cassandra saat melihat pria tinggi itu datang.
"Jangan berlebihan, Cassie, ini masih di area perusahaan."
Cassandra terkekeh. "Memangnya kenapa? Kau takut dirumorkan dan digosipkan oleh para pekerjamu, ya?"
Javier memutar bola matanya.
"Bagaimana penampilanku? Sudah cantik, kan?" Cassandra berputar-putar dihadapan Javier.
"Yeah..." tanggap Javier malas."Kapan kau sampai?" tanyanya pada perempuan yang riang dan selalu tampak ceria itu.
"Baru satu jam yang lalu. Dan aku langsung memutuskan kesini demi bertemu denganmu."
__ADS_1
"Sudah ku bilang jangan berlebihan atau banyak orang yang akan salah mengartikan," peringat Javier pada Cassie.
"Kau ini!" Cassie memukul dada Javier sekilas. "Apa yang sebenarnya kau takutkan? Apa kau sudah punya kekasih?" tanyanya.
"Tidak juga," jawab Javier ambigu dan Cassie terkekeh-kekeh mendengarnya.
"Ya, ya. Kau tidak mungkin tidak memiliki kekasih."
"Apa yang kau butuhkan? Aku akan membantumu." Javier memulai obrolan yang lebih serius karena ia tau apa maksud dan tujuan Cassie datang jauh-jauh menemuinya di negara ini.
"Ku pikir kau sudah mendengar sekilas mengenai ...."
Siang itu, Javier disibukkan oleh kedatangan Cassandra dan mereka membahas banyak hal. Javier mengiyakan ajakan Cassie untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang tak terlalu jauh dari kantornya.
Vibrasi ponsel membuat Javier mengambil benda pipih itu dari saku celana bahan yang ia kenakan. Itu jelas pesan yang dikirimkan Carla mengenai Elin yang kembali ke Rumah Sakit untuk menjaga sang ibu. Javier memang meminta Carla untuk tetap menjaga mereka disana.
[Nona Elin tidak memakan makan siangnya, Tuan.]
Bahkan hal sekecil itu harus Carla laporkan kepada Javier. Namun itu bukan hal sepele untuknya, karena ia menginginkan Elin makan dengan teratur apapun keadaannya saat ini.
"Ada apa?" tanya Cassandra pada Javier yang sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Tak apa," kata Javier. Ia tidak menceritakan soal Elin pada perempuan dihadapannya ini.
"Semuanya baik-baik saja, kan?"
"Yah. All is well," kata Javier. "Ayo, lanjutkan makan siang kita," ajaknya.
...***...
Elin tidak menyentuh makan siang yang dibelikan Carla. Ia tidak berselera. Kondisi ibunya kembali drop hari ini dan ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap kuat.
"Ibu, ku mohon sehatlah demi aku juga demi dirimu sendiri," kata Elin pada sang ibu yang tertidur karena efek obat.
Elin mengusap airmatanya. Sebisa mungkin ia tidak mau menangis lagi, ia harus kuat meski ia tak memiliki siapapun lagi didunia ini kecuali ibunya sendiri.
Elin keluar dari ruang perawatan sang ibu dan bertemu dengan Carla yang setia menunggu. Sebenarnya, Elin bersyukur karena ada Carla yang menemaninya, ia masih takut dan was-was kalau-kalau Liam kembali berkunjung ke Rumah Sakit.
"Nona, Tuan Gladwin berpesan agar Nona makan."
"Aku kehilangan selera."
"Tapi saya akan dimarahi jika anda tidak makan sama sekali."
Elin tau jika dia bersikukuh tidak makan, maka Carla yang akan menerima dampaknya.
"Baiklah, aku akan makan. Tolong jaga ibuku disini. Aku akan mencari makanan yang membuatku berselera."
Carla menggeleng, ia ragu membiarkan Elin pergi sendirian.
"Aku tidak akan kabur, sekalipun aku kabur Kak Javier pasti akan menemukanku dengan kekuasaannya. Yang terpenting sekarang adalah tolong kau jaga saja ibuku, karena aku takut kakak tiriku kembali datang dan membahayakannya."
"Tapi saya juga takut anda akan bertemu dengannya dan dia kembali menyerang anda, Nona."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula ini tempat umum. Liam tidak akan melakukan hal diluar batas."
Dengan berat hati, Carla membiarkan Elin pergi. Namun, ia juga tak mau disalahkan sehingga ia segera menelpon Jack untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
"Nona Elin pergi tanpa pengawalan, bisakah kau membantuku?" adunya pada Jack melalui sambungan seluler.
...Bersambung ......