SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
44. Ke Pesta (Author POV)


__ADS_3

Sore itu akhirnya Javier membawa Elin ke pemakaman dimana Arbei dimakamkan. Ia sempat melihat raut wajah Elin yang tampak kembali bersedih, mungkin gadis itu mengingat masa lalunya bersama sang ibu. Javier pun berusaha untuk menghibur dan mengalihkan pikiran Elin dengan mengajaknya bercengkrama membahas hal-hal konyol.


"Bu, ini aku Elin. Aku merindukanmu, Bu." Elin mengelus batu nisan yang mencetak nama Arbei disertai sebuah foto wanita itu semasa hidup.


"... aku datang kesini bersama Kak Javier," kata Elin yang mendongak pada Javier sekilas. "Ibu pasti mengenal Kak Javier dengan baik, kan? Aku dengar ibu yang dulu menjaganya sejak kecil," lanjutnya.


Elin meletakkan buket bunga yang ia bawa di pusara sang ibu. "Aku juga membawakan bunga kesukaan ibu, ini adalah lavender dan Lily. Ibu suka, kan?"


Elin menghapus airmatanya sendiri, ia mendadak teringat jika ibunya senang menanam bunga lavender diatas rooftop rumah mereka dulu. Seketika bayangan dan kenangan masa lalu bersama ibunya terlintas dalam ingatan Elin.


Javier menepuk-nepuk pundak Elin, berusaha menenangkannya.


"Boleh aku yang melanjutkan?" tanya Javier pada Elin dan gadis itu pun mengangguk.


Javier ikut berjongkok disisi makam sekarang. Ia tersenyum lembut seolah dapat membayangkan wajah damai Arbei yang dulu selalu sabar menghadapi segala tingkahnya dikala ia kecil.


"Bibi, aku turut datang kesini untuk sekalian meminta restu agar bibi bisa merestui pernikahanku dengan Elin." Javier menjeda ucapannya, tidak dipungkiri jika ia juga merasa kehilangan sosok Arbei yang pernah hadir dalam hidupnya juga. "Aku ... Javier, bocah yang pernah kau asuh, Bi. Semoga bibi merestui jika aku menikahi Elin. Aku akan menepati janjiku untuk menjaga Elin dengan mempertaruhkan hidupku sendiri agar dia bisa bahagia," tuturnya sungguh-sungguh.


Elin kembali menangis saat menyadari keseriusan Javier, ia tak menyangka jika Javier akan berjanji seperti itu pada ibunya. Mempertaruhkan hidup untuk kebahagiaannya, bukanlah hal yang main-main, pikir Elin.


Cukup lama mereka dalam keheningan dan doa dalam hati masing-masing. Selepasnya, keduanya pergi meninggalkan area pemakaman.


Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menyorot kehadiran mereka disana. Tentu ia mendengar dengan jelas bahwa Elin dan Javier akan segera menikah dan itu justru membuatnya tertarik untuk menjadikan ini sebuah permainan yang seru.


"Sudah ku katakan bahwa aku tetap akan mencarimu, Elin. Meski kini kau bersama dengan Javier tapi itu tidak akan menghentikan langkah dan tekadku," ujar Liam disertai senyum liciknya.


...****...


"Apakah kau mau ke pesta?" Javier melihat Elin terus murung sejak kembali dari makam ibunya, ia berniat menghibur Elin dengan mengajaknya ke pesta.


"Pesta apa?" jawab Elin acuh tak acuh.


"Ulang tahun salah satu relasi ku, awalnya aku tidak berniat kesana dan mau mengutus Jack atau Carla saja. Tapi melihatmu terus murung ada baiknya kita ke pesta."


"Apa itu pesta untuk orang-orang kaya?"


Javier terkekeh mendengar pertanyaan gadis itu.


"Jawab, kak! Ah, pasti jawabannya adalah iya. Mana mungkin kau menghadiri pesta kalangan menengah kebawah," sarkas Elin.


Javier kembali tertawa yang kali ini bahkan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayolah," ajak Javier.


"Aku tidak terbiasa hadir ditempat seperti itu. Aku akan sangat canggung dan bisa mempermalukanmu."


Javier mengelus pipi Elin. "Kau akan segera menjadi istriku. Menjadi Mrs. Gladwin dan kau harus mulai membiasakan diri untuk hal ini. Bagaimana? Kau mau mencobanya?"


"Kalau ternyata aku benar-benar mempermalukanmu bagaimana, kak?"


"Tidak akan. Kau justru akan menarik banyak perhatian disana karena kau sangat cantik."


"Darimana kau belajar merayu seperti ini, kak?" cemooh Elin.


Javier kembali tertawa pelan. "Ibuku sering mengatakan bahwa Daddy-ku adalah perayu ulung, mungkin bakatku ini menurun darinya," jawabnya sambil mengendikkan bahu cuek.


Elin ikut terkekeh sekarang. "Baiklah, aku akan bersiap dan jangan salahkan aku jika nanti membuatmu malu."


"Tidak akan," kata Javier yakin.


Setengah jam kemudian Elin sudah siap dengan penampilannya. Pakaiannya sangat elegan. Sebuah gaun hitam panjang dengan belahan yang tinggi. Bagian depannya tertutup namun bagian belakang gaun itu menampakkan punggung mulus Elin sepenuhnya. Rambut Elin digelung ke atas menambah aura kecantikannya.


"You're so beautiful, my dear," puji Javier ketika melihat gadis pujaannya.


Elin tersenyum malu. "Ini ku dapatkan di lemari pakaian, jadi aku mengenakannya."


Javier ingat jika semua pakaian di lemari itu baru dibeli oleh Carla untuk menggantikan baju-baju Elin yang tertinggal di rumah yang sempat Elin sewa waktu itu.


"Bagus. Kau terlihat sangat memukau. Apa kita berangkat sekarang?"

__ADS_1


Elin mengangguk dan segera menggandeng lengan Javier yang juga tampak sangat rapi dan tampan malam ini.


"Kau juga sangat tampan dan gagah, Kak," bisik Elin.


"Jangan merayuku atau aku akan merusak lipstik mu," kekeh Javier.


Elin memutar bola matanya. "Aku bukan merayumu, Kak. Aku hanya memujimu," ujarnya.


"Sama saja. Semua ucapanmu padaku terdengar sangat menguji dan menggodaku," katanya dengan senyum yang dikulumm.


"Haiss... ayo cepat berangkat!" gerutu Elin kemudian.


Javier merapatkan pelukannya di pinggang Elin ketika mereka sudah tiba di hotel tempat pestanya berlangsung.


Kedatangan mereka disambut sopan oleh sang empunya acara.


"Hallo Mr. Gladwin... terima kasih sudah datang. Saya merasa terhormat karena anda mau menghadiri pesta sederhana ini." Pria itu terdengar merendah, padahal pestanya sangat mewah.


Javier hanya merespon ucapan pria didepannya dengan senyuman cerah, kemudian berkata singkat.


"Tentu, Mr. Scoot."


Pria yang dipanggil Javier dengan nama Mr. Scoot itu melirik Elin dan mematut senyum merekah.


"Apakah ini kekasih anda, Tuan?" tanyanya kemudian.


"Ya, dia calon istriku," jawab Javier percaya diri.


"Wah kalian pasangan yang sangat cocok dan serasi."


Javier mengulas senyum tipis, kemudian Mr. Scoot meminta mereka untuk menikmati susunan acara, berikut semua panganan yang ada disana.


"Ini, minumlah ..." Javier memberikan minuman pada Elin yang diambilnya dari nampan para pelayan yang lewat untuk melayani tamu.


"Thank you," kata Elin mengambil gelas bertangkai tersebut.


"Apa ini alkohol?"


Javier terkekeh. "Itu wine. Kadar alkoholnya hanya 12 sampai 15%, Elin," terangnya.


"Tapi tetap saja ini alkohol, kan?"


Javier mengangguk.


"Aku tidak mau meminumnya."


"Kau tidak akan mabuk jika hanya meminumnya segelas. Percaya padaku," kata Javier meyakinkan.


Akhirnya Elin mencoba meneguknya dan ternyata ia menyukai rasa minuman tersebut.


"Ternyata ini enak."


Javier tertawa pelan. "Kau suka?"


"Yah, aku akan meminumnya lagi."


"Tadi kau tidak mau," sarkas Javier menunjuk gelasnya ke arah Elin.


"Apa kau malu karena aku terlihat kampungan?"


Javier selalu merasa lucu dengan ujaran yang dikatakan Elin, gadis ini selalu tak terduga.


"Tentu saja tidak. Aku bangga memilikimu, Sayang."


Elin menunduk malu-malu hanya karena Javier memanggilnya 'Sayang'.


"Elin?" Seseorang yang ada disana menyapa Elin. Elin sampai tidak percaya ada orang yang mengenalinya dalam pesta mewah seperti ini.


"Kau Elin, kan?"

__ADS_1


Elin menatap lamat-lamat pada gadis yang menyapanya disana dan saat itu juga ia mengenali perempuan itu.


"Gladys?"


"Yah. Tentu saja kau masih mengingatku," kata Gladys dengan senyum yang terkesan sombong. "Sedang apa kau disini, Elin? Apa kau bekerja paruh waktu menjadi pelayan di pesta ini?" lanjutnya.


Elin tertawa pelan, ia menggandeng Javier saat itu juga. Gladys adalah teman sekolahnya, sebenarnya hubungan mereka tidak cukup baik karena selalu terjadi persaingan diantara mereka. Sebenarnya Elin tak pernah menganggap Gladys saingannya, hanya saja Gladys lah yang selalu mau menyetarai kepintaran Elin. Meski pada akhirnya Elin yang selalu menduduki peringkat pertama dan Gladys selalu dibawahnya.


"Aku kesini bersama kekasihku, kenalkan, dia Javier."


Elin pikir, sekarang adalah saatnya dia berlagak didepan Gladys, karena biasanya gadis itulah yang selalu meremehkan dan mencemoohnya.


"Wah, benarkah?" Gladys menatap Javier kagum, mengakui ketampanan pria itu dalam hatinya. Tapi ia masih saja meremehkan Elin, ia menganggap Javier hanyalah pria yang membayar Elin. Yah, mungkin saja Elin sudah bekerja menjadi gadis bayaran sekarang, pikirnya.


Gladys mengulurkan tangan ke arah Javier yang ternyata tidak disambut oleh Javier, pria itu hanya menatap tangan Gladys saja lalu berkata pelan.


"Kau teman Elin? Aku Javier, calon suaminya."


Gladys menarik kembali tangannya dengan raut kesal, dalam hati ia ingin sekali tau apa jabatan pria didepannya ini. Kenapa bersikap sombong padanya hanya karena Elin?


"Hallo ... Mr. Gladwin?" Seorang pria yang baru datang dan mengambil posisi dibelakang tubuh Gladys--menyapa Javier disana. Wajahnya tampak dibuat seramah mungkin.


"Sayang, kau mengenal Mr. Gladwin?" pria itu bicara pada Gladys sekarang.


"Aku baru mengenalnya. Dia kekasih Elin, teman sekolahku dulu," kata Gladys dengan senyum yang dipaksakan.


Elin pun langsung menyimpulkan jika pria itu adalah pacar Gladys.


"Kenalkan, Aku Frederick, kekasih Gladys."


Elin mau menyambut tangan Frederick, tapi tentu dicegah oleh Javier sesegera mungkin, karena dia tidak mau lelaki itu menyentuh Elin sedikitpun meski itu hanya sekedar berjabat tangan saja.


Akhirnya Elin hanya memasang senyum keki karena Javier mencegah uluran tangannya.


"Oh tak apa. Apakah kita bisa membicarakan bisnis, Mr. Gladwin?" Frederick kembali menatap Javier. Ia tau jika ia menjalin bisnis dengan perusahaan Gladwin maka tangkapannya bukan lagi teri, melainkan ikan paus.


Gladys menatap kekasihnya dengan penuh tanya, seolah ingin tau kenapa Frederick harus menjalin kerjasama dengan kekasih Elin? Apakah dia orang yang sepenting itu?


"Kau bisa membicarakan hal itu dengan asistenku nanti. Permisi." Javier segera undur diri, ia semakin memeluk pinggang Elin dengan erat karena takut jika gadis itu pergi dari sisinya.


"Apakah kau harus menjalin kerja sama dengannya? Kekasih Elin itu?" tanya Gladys pada kekasihnya, begitu Elin dan Javier sudah menjauh.


"Ya. Perusahaannya adalah salah satu yang terbaik di negara ini."


"Benarkah? Apa Elin mengencani pria seperti itu? Sangat mustahil," gerutu Gladys yang kembali iri pada Elin.


"Bisakah kau meminta bantuan pada temanmu yang bernama Elin itu, agar Mr. Gladwin mau menerima ajakan kerja sama ku?"


"Kau bercanda? Aku tidak sedekat itu padanya!" sungut Gladys.


Sementara disisi lain, Javier menatap Elin dengan senyum yang dikulumm.


"Aku tau hubunganmu dengan gadis tadi tidak begitu baik, kan?"


"Darimana kakak mengetahuinya?" tanya Elin.


"Dari caramu menatapnya. Kentara sekali kau tidak menyukainya dan dia juga terlihat sangat sombong didepanmu."


"Begitulah," jawab Elin sekenanya.


"Why?"


"Dia selalu iri pada kemampuanku yang selalu diatasnya. Padahal aku tidak pernah menganggapnya musuh."


"Ya, ya, akan selalu ada orang yang tidak menyukai kita meski kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya tersentuh. Apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata orang yang tidak menyukaimu," kata Javier dengan bijak.


...Bersambung ......


VOTE NYA MANA? UDAH LEWAT HARI SENIN, YANG MASIH ADA VOTE, KIRIMIN KE ELIN DAN JAVIER YAAπŸ™πŸ™β€οΈβ€οΈβ€οΈ LOVE SEKEBON BUAT READERS SETIA NOVEL INIπŸ’šπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š

__ADS_1


__ADS_2