
Makan malam kali ini terasa berbeda dari biasanya hanya karena kehadiran Elin di Mansion mereka.
Biasanya, Javier jarang kesana dan jikapun Javier menghabiskan waktu makan malam bersama keluarganya, dia tetap merasa ada yang kurang setelah Elin dinyatakan meninggal 2 tahun yang lalu.
"Makanlah yang banyak, Sayang. Bibi mau kau kembali memperhatikan porsi makanmu," kata Elara pada Elin. Gadis itu hanya mengangguk segan atas kebaikan Elara yang tidak dapat dibalasnya.
"Jangan merasa sungkan. Kau sudah seperti putri kami sendiri," ujar Shane yang dapat membaca gelagat Elin disana.
"Terima kasih Bibi, Uncle. Aku tidak tau harus membalas kebaikan kalian dengan apa dan bagaimana."
"Kau hanya perlu membalasnya dengan menyayangiku sepenuh hatimu," timpal Javier sambil mengedipkan sebelah matanya pada Elin.
Elin dan semua yang ada dimeja makan itu terkekeh pelan sambil geleng-geleng kepala karena perkataan Javier yang terkesan menggombal.
"Sore tadi, aku pikir aku bermimpi saat melihat Elin," kata Javier mengakui apa yang dirasakannya.
Elara tertawa, bahkan Shane pun demikian. Sementara Elin mengulas senyuman tipis.
"Yang penting kau tidak menganggapku hantu kan, Kak?"
"Hampir," sahut Javier.
Suasana malam itu terasa hangat karena mereka semua saling melempar guyonan. Padahal, biasanya mereka terbiasa makan dengan khidmat tanpa suara. Semua itu sengaja dilakukan agar membuat Elin merasa diterima, juga merasakan lengkapnya sebuah keluarga.
Setelah makan malam, Javier mengajak Elin untuk duduk di pinggiran kolam renang yang berada di samping rumah.
"Kau tau, aku sangat bahagia bisa kembali melihatmu secara nyata. Selama ini, aku hanya bisa menemukanmu didalam mimpiku."
Sekarang Elin paham kenapa sore tadi Javier mengira semua ini hanyalah mimpi. Pria itu sudah cukup sering mengalami mimpi yang sama. Mimpi bertemu Elin dan bercengkrama dengannya di alam bawah sadarnya.
"Mungkin karena aku juga terlalu merindukanmu, Kak. Sehingga aku muncul di mimpimu," jawab Elin.
"Bisakah kau katakan padaku, kenapa Ibu dan Daddy ku bisa menemukanmu?"
Javier hanya mendengar cerita Elin mengenai keadaanya serta siapa orang yang menjebaknya. Javier belum sempat membahas mengenai hal yang saat ini ingin diketahuinya yaitu mengenai pertemuan Elin dengan kedua orangtuanya hingga membawa Elin bisa kembali ke kediaman mereka.
Elin sendiri bingung untuk menjelaskannya pada Javier. Ia tentu tak mau membawa nama Nathan ditengah-tengah kebersamaan mereka saat ini, tapi mau bagaimanapun Nathan memang berperan penting dalam proses pertemuan Elin dengan kedua orangtua Javier hingga mampu membuat Elin kembali pada Javier seperti saat ini.
"Apa kau tidak ingin memberitahuku? Atau aku akan menanyakannya pada ibu saja?" ujar Javier memberikan opsi.
Elin menaikkan pandangan hingga tatapan mereka bersirobok satu sama lain. Javier dapat membaca bahwa ada keraguan dimata gadisnya untuk berterus-terang mengenai hal ini padanya.
"Ada seseorang yang membantuku," cicit Elin akhirnya.
"Seseorang?"
"Ya, dia dan neneknya yang menebusku dari tempat penjualan budak. Meski di kediaman mereka aku tetap menjadi budak juga, tapi orang itu membantuku cukup banyak hingga akhirnya aku bisa terbebas dari kediaman neneknya sendiri."
__ADS_1
"Dan aku ingin tau siapa orang itu," sergah Javier.
Elin menggigitt bibirnya sekilas. "Dia ... Nathan," jawabnya pelan.
"Namanya Nathan? Oh, kebetulan sekali ya ... sepertinya kau selalu bertemu dan berkaitan dengan orang bernama Nathan."
Javier malah terkekeh. Ia tak mungkin melupakan nama itu. Nathan, pemuda yang sempat mendekati Elin beberapa tahun silam, pemuda itu bahkan tampak akrab bersama Elin saat Elin pergi dari Apartmen Javier--dulu.
Namun, tentu Javier tidak pernah menyangka jika Nathan yang kali ini membantu Elin adalah Nathan yang sama dengan pemuda pada waktu itu.
"Yah ..." Elin memaksakan untuk mengulas senyum. "Sebuah kebetulan," katanya.
"Apakah dia masih sekolah? Atau pria yang sudah tua?"
"Kenapa kita harus membahasnya, Kak?" Kentara sekali jika Elin mau menghindar dari pembahasan ini. Tapi gelagatnya itu justru membuat Javier penasaran.
Alih-alih menjawab perkataan Elin dengan pembahasan lain, Javier justru melayangkan sebuah pertanyaan yang terdengar seperti sindiran.
"Kenapa kau tidak mau menceritakannya kepadaku?" tukasnya.
"Aku hanya tidak mau kau marah," akui Elin takut-takut.
"Kenapa aku harus marah? Jika semuanya lurus-lurus saja, maka akan sangat kecil kemungkinan untuk aku marah padamu, My Dear."
"Berjanjilah untuk tidak marah jika aku menceritakannya padamu."
"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang tidak jelas," sahut Javier dengan mode cueknya.
"Jangan menutupi apapun dariku. Kau tau kita tidak memiliki privasi untuk pembicaraan seperti ini," kata Javier mengingatkan.
"Baiklah," kata Elin pasrah. Gadis itu menarik nafas sepenuh dada sebelum akhirnya menceritakan semuanya. Mengenai pertolongan Nathan padanya, juga jujur soal Nathan yang kali ini adalah Nathan yang sama dengan pemuda yang sempat Javier lihat bersamanya tempo hari.
"Jadi dia---" Javier terkejut seolah kehabisan kata. Beberapa kali mulutnya sudah terbuka untuk menyambung pembicaraannya, namun didetik berikutnya bibir Javier kembali terkatup rapat. Ia bingung kenapa Elin harus bertemu dengan pemuda itu lagi. Kadang takdir memang selucu itu, pikir Javier.
"Kau sudah berjanji untuk tidak marah, Kak." Elin seakan mengingatkan Javier.
"Sudah ku bilang aku tidak akan menjanjikan sesuatu yang tidak jelas," kata Javier dengan wajah yang berubah masam. Dia seorang laki-laki yang bisa menilai jika apa yang Nathan lakukan untuk Elin adalah pertanda bahwa pemuda itu tertarik pada gadisnya.
"Lagipula, aku tidak bisa merencanakan apa dan dengan siapa aku bisa bertemu, Kak. Pertemuan kembali antara aku dan Nathan di Berlin tidak disengaja dan terjadi begitu saja. Dia menjagaku dari kekerasan Neneknya dan dia yang sering membelaku disana. Jika tidak ada Nathan, mungkin penderitaan ku lebih menyakitkan dan apa yang aku terima akan jauh lebih parah," tutur Elin panjang lebar berharap Javier memahami posisinya.
"Yeah... terus saja memujinya," respons Javier. Padahal, Elin pikir Javier akan mengerti, nyatanya pria itu masih sama posesifnya seperti dulu.
"Aku bukan memujinya, Kak. Ah, sudahlah!" Elin berdiri, bersiap untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri karena ia tak mau bertengkar dengan Javier karena masalah ini.
"Mau kemana?" Buru-buru Javier menghadang langkah Elin agar gadis itu tidak pergi begitu saja.
"Aku menghindari pertengkaran diantara kita karena pembahasan ini."
__ADS_1
Javier menggeleng keras sebagai isyarat melarang Elin untuk pergi dari sana.
"Aku tidak mengajakmu bertengkar," ujar Javier santai.
"Inilah sebabnya aku malas menceritakannya kepadamu, Kak!" Elin melipat kedua tangannya di dada sembari berdiri malas dihadapan Javier yang tak membiarkan dia lewat.
"Apa kau mengatakan padanya bahwa kau milikku? Setidaknya agar dia tau jika kau tidak boleh didekati."
"Aku tidak mengatakan hal itu."
Javier melotot mendengar pengakuan Elin. "Kenapa? Harusnya kau mengatakannya."
"Sudahlah Kak. Aku sudah cukup merepotkan Nathan selama berada disana. Apalagi aku berpura-pura lumpuh saat menjadi budak dikediaman neneknya."
"Kau khawatir padanya?" sarkas Javier.
"Haruskah kita terus membahasnya dan bertengkar dihari pertama pertemuan kita?" Elin balik bertanya.
"Aku tidak bilang ini sebuah pertengkaran. Aku hanya ingin membuatmu terbuka padaku."
"Sudahlah Kak, kau tidak akan pernah paham dengan keadaanku saat itu."
Javier menghela nafas pendek dan mengulanginya hingga beberapa kali.
"Baiklah. Maafkan sikapku yang kekanakan. Aku akan berterima kasih secara pribadi pada dia yang sudah banyak menolongmu," putus Javier akhirnya.
Elin tampak semringah seketika itu juga. Ia tak menyangka Javier akan memberikan jawaban seperti ini. Merendahkan diri, serta menyampingkan ego bukanlah diri Javier, tapi dia seakan rela melakukan itu untuk menunjukkan betapa bersyukurnya dia mengenai Elin yang sudah kembali.
Dalam hati Javier, ia juga memang sangat berterima kasih pada Nathan yang mau mengembalikan Elin pada kehidupan yang semestinya. Padahal, bisa saja pemuda itu memanfaatkan keberadaan Elin saat tinggal dikediaman neneknya. Nyatanya, Nathan tak mengambil kesempatan itu. Dia justru membantu Elin agar terbebas dari belenggu bernama perbudakan yang diterima Elin.
"Kau serius mau berterimakasih pada Nathan, Kak?"
Javier mengangguk. "Yah, berkatnya kau kembali padaku. Ku pikir dia tulus menyukaimu dan berharap kau mendapat hidup yang lebih baik lagi," kata Javier mengakui perasaan Nathan yang dapat dia simpulkan sebagai seorang laki-laki.
"Aku tidak mau membahas soal perasaan pemuda lain, Kak." Elin tersenyum lembut. "... tapi aku sangat bersyukur jika kau benar-benar mau berterimakasih pada Nathan atas kebaikan yang dia lakukan terhadapku," tandasnya.
"Tentu saja, anggaplah ini sebagai bentuk rasa syukurku juga, karena kau sudah kembali ke sisiku. Aku akan menemuinya secara langsung nanti."
"Denganku?" tanya Elin dengan sorot kebahagiaan yang terpancar.
Javier menyentil pelan kening Elin. "Tentu saja tidak, Sayang. Aku akan menemuinya sendiri. Tanpamu," katanya menekankan agar Elin tau bahwa dia tak mengizinkan adanya pertemuan kembali antara Elin dengan pemuda bernama Nathan tersebut.
"Whatever," kata Elin cuek, gadis itu sedikit mendorong tubuh Javier yang sejak tadi menghalangi langkahnya dan tindakan itu berhasil membuat Elin bisa beranjak dari hadapan Javier.
"Jangan coba-coba menemuinya di belakangku, My Dear," pekik Javier.
Elin hanya mengibaskan tangan tinggi-tinggi sebagai respon atas perkataan Javier. Ia tidak menoleh lagi pada Javier yang kini berada di belakangnya itu.
__ADS_1
...Bersambung.......
KEMANA YA VOTE SENIN NYA? Padahal othor udah up banyak lho hari Senin iniπππ