SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
48. Saling membutuhkan (Author POV)


__ADS_3

Untuk membekali Elin dengan ilmu bela diri, Javier meminta Carla untuk menjadi personal trainer dan melatih gadis itu.


Tentu saja Carla tidak keberatan. Disamping ia memang bekerja untuk Javier, ia juga sudah mengenal Elin dengan cukup baik.


Tidak menunggu lama, keesokan harinya Elin dan Carla sudah dapat berlatih di ruang khusus yang ada di Apartmen Javier. Segala yang dibutuhkan ada disana karena kebetulan Javier juga sering melatih diri disaat ia tidak sibuk.


Ruangan itu menyatu dengan ruang gym dan olahraga. Carla dengan kemampuan bela dirinya mulai melatih Elin dengan gerakan yang paling dasar. Mulai dari kuda-kuda, pola langkah, pukulan, tangkisan sampai kuncian dan guntingan.


Elin juga mencoba gerakan meninju juga menendang. Meski beberapa kali ia terlihat kaku dan jelas tidak lihai, tapi lama kelamaan ia mampu memahami dasarnya dan mulai mempraktekkan.


"Salah satu yang juga tidak boleh dilupakan adalah fokus pada sasaran."


Beberapa kali Carla juga memberi petunjuk dan peringatan pada Elin. Hingga akhirnya gadis itu terbiasa.


"Saya pikir hari ini sudah cukup, Ms."


Elin mengangguki perkataan Carla, bersamaan dengan itu Javier juga baru kembali dari perusahaan.


Melihat itu, Carla langsung pamit untuk pulang sementara Elin mengulas senyum pada Javier yang memasuki ruang berlatihnya.


"Bagaimana latihannya hari ini?" tanya Javier pada Elin yang tampak menyeka keringat menggunakan sebuah handuk kecil yang digantungkan di lehernya.


"Itu tidak buruk." Elin mengangguk-anggukkan kepala. "Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk belajar bela diri seperti ini," tuturnya.


"Kau menyukai hal ini?"


"Yah, aku senang melakukannya, ini bekal untuk diriku juga nantinya."


"Baguslah." Javier mengacak rambut Elin sampai tampak kusut dan gadis itu langsung mencebikkan bibir, namun tak memprotes. "Kapan-kapan aku akan menguji kemampuanmu," lanjutnya.


"A-apa?" Elin menatap Javier dengan tampang melongo dan tak percaya.


Javier tertawa pelan. "Yah, aku mau melihat kau melawanku," ucapnya.


"Oh, tidak. Aku bahkan baru berlatih hari ini."


"Dan aku bukan mau mengetes hari ini juga, My Dear. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."


Elin berdecak, kemudian dia bangkit dari posisinya dan bersiap untuk mandi.


"Ah, iya satu lagi." Javier kembali bersuara.


Elin menoleh pada Javier.


"... ibuku bilang, kita sudah bisa melakukan fitting baju pengantin besok."


"Ah, itu ..." Elin memasang cengiran. "Kenapa cepat sekali, hehehehe ..." Gadis itu cengengesan.


"Lebih cepat lebih baik, bukan?"

__ADS_1


Elin menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Entah kenapa ia menjadi semakin gugup jika mengingat hari pernikahan mereka yang semakin dekat.


"Yah. yah, itu lebih baik," jawab Elin pasrah.


...***...


"Kau tau, ada banyak hal yang ku syukuri setelah bertemu denganmu."


"Apa?" Elin mengadah pada Javier yang saat ini memeluknya erat di tempat tidur.


"Salah satunya adalah aku bisa kembali merasakan ketenangan saat tidur."


Elin mengangguk. "Kalau itu aku sudah tau," katanya.


"Yah, dan yang lainnya adalah karena kau belum dimiliki oleh orang lain."


"Kalau seandainya kita bertemu disaat aku sudah menikah dengan pria lain, bagaimana?" canda Elin.


"Itu tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin, semua bisa saja terjadi, Kak."


Javier tertawa pelan. Yang dikatakan Elin memang benar, bisa saja waktu itu ia tidak bertemu Elin dalam keadaan dimana Elin masih berstatus gadis. Tapi ternyata semesta begitu baik dan mempertemukan mereka diwaktu yang sangat tepat yaitu dimalam pertama Elin bekerja di Kasino, bahkan Javier adalah tamu pertamanya.


"Meskipun waktu itu kau sudah pernah melayani tamu disana sebelum aku, aku akan tetap menyeretmu pulang ke Apartmenku. Aku tidak peduli bagaimana keadaanmu. Sekalipun kau bukan perempuan yang suci, aku tetap membutuhkanmu."


"Yah, berawal dari kebutuhan itulah yang membuatmu mau menebusku dari tempat itu, Kak. Andai saja kau tidak membutuhkan aku, aku yakin kau akan berpikir sepuluh kali untuk membawaku keluar dari sana."


"Tidak juga. Kau yang membutuhkan aku, Kak!" ujar Elin yang sangat percaya diri sekali.


Javier tertawa pelan dan menghidu aroma rambut Elin berkali-kali.


"Yah, aku yang membutuhkanmu dan sekarang aku sedang berusaha agar kau juga berpikir bahwa kau membutuhkan aku."


Elin menangkup kedua pipi Javier sambil menggeleng pelan. "Kau salah, Kak. Kau tidak perlu berusaha lagi karena sekarang aku juga membutuhkanmu, sangat."


"Benarkah? Kau membutuhkanku dalam hal apa?" Javier menatap kedua bola mata Elin bergantian.


Elin pun membalas tatap yang Javier berikan kepadanya. "Segalanya. Aku membutuhkanmu dalam segala aspek hidupku," paparnya.


"Baiklah, berarti sekarang kita saling membutuhkan, right?"


"Humm ..." Elin mulai memejamkan matanya dan mencari tempat ternyaman dalam dekapan Javier.


...***...


Karena Elin dan Javier sudah membuat janji untuk melakukan fitting busana pengantin, hari ini mereka berjanji untuk bertemu di Bridal yang sudah disepakati. Mereka memang tidak datang bersama karena Javier berangkat dari kantor, sementara Elin pergi dari Apartmen Javier.


Elin dijemput oleh Carla yang sekarang ditugaskan untuk menjaganya kemanapun.

__ADS_1


Sesampainya di Bridal, mereka akhirnya bertemu satu sama lain. Elin sempat melihat Javier yang mengetes jas pernikahannya tapi Javier tidak sempat melihat Elin mengenakan gaun pengantin karena pria itu terlanjur ditelpon oleh Jack karena adanya keadaan darurat.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menunggumu disini. Aku akan pergi karena ada keadaan mendesak," kata Javier pada Elin dengan wajah yang tampak panik.


"Memangnya ada apa?"


"Salah satu ruang penyimpanan berkas mengalami kebakaran. Semua memang sudah ditangani tapi aku ingin memastikan bagaimana keadaannya dan separah apa."


"Baiklah, hati-hati, Kak."


"Hmm." Javier mengecup dahi Elin singkat, sampai akhirnya pria itu benar-benar pergi dengan tergesa.


Elin menatap Carla dan wanita tomboi itu seolah meyakinkan lewat sorot matanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Akhirnya, hari itu Elin melakukan fitting busana sendirian. Ia tampak sangat cantik meski ada beberapa bagian gaun pengantinnya yang harus diperbaiki karena ternyata berat badan Elin agak naik.


"Apakah aku gendut, Carla?"


"Tidak juga, Ms. Kau tidak terlihat berbeda dari pertemuan pertama kita."


"Tapi berat badanku naik," keluh Elin.


"Mungkin karena sekarang kau jauh lebih tenang dan bahagia."


Elin mengulas senyum tipis. Carla benar, sekarang dia memang tidak banyak memikirkan apapun. Dan lagi, dulu dia memang sangat kurus. Jadi kenaikan berat badannya sekarang justru bagus untuk menambah nilai plus dalam penampilannya.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Elin pada petugas yang membantunya membuka kembali gaun pengantin yang sudah dia kenakan tadi.


"Sudah, Ms."


"Baiklah. Aku akan kembali kesini lagi jika nanti ukurannya sudah diperbaiki."


"Yes, Ms."


Elin dan Carla akhirnya keluar dari gedung Bridal tersebut dan akan segera pulang ke Apartmen.


Tidak ada firasat buruk dalam diri Elin, ia hanya mengkhawatirkan Javier yang belum memberikan kabar sejak kepergiannya tadi.


"Apakah semuanya akan baik-baik saja, Carla?"


"Semuanya pasti aman. Ada banyak pihak yang akan membereskan hal ini, Ms."


Elin bisa bernafas lega karena jawaban yang Carla berikan namun dia tersentak kaget saat tiba di koridor penghubung yang menjadi aksesnya menuju unit Apartmen Javier.


Disana, ia melihat sosok yang tidak mungkin salah ia kenali. Pria itu menyeringai ke arah Elin dengan tampangnya yang selalu Elin benci sejak dulu.


"Hai, Adikku ... ku pikir hidupmu sudah sangat enak sekarang. apa kau tidak berniat mengajakku keluar dari kemiskinan juga?"


Ada Liam disana yang memasang mimik wajah tak bersalah sama sekali.

__ADS_1


Elin mundur beberapa langkah, meski begitu ia cukup tenang karena Carla masih berada disisinya.


...Bersambung ......


__ADS_2