
"Elin tidak pulang bersama Ibu, Jav. Dia kembali bersama Carla dan Ibu bersama Cassie," jelas Elara begitu Javier menelepon wanita itu.
"Sial!" umpat Javier tertahan.
"Sebenarnya ada apa, Jav? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Mobil yang dikendarai Carla kecelakaan, Bu." Javier mengakui semuanya dengan suara lirih. Kejadian ini benar-benar mengejutkannya, ia bahkan meninggalkan pekerjaannya---yang padahal sedikit lagi---ia akan tau siapa yang sedang bermain-main di perusahaan itu dan mengkorupsi uang dengan jumlah yang cukup banyak.
"Apa? Lalu bagaimana keadaan mereka? Elin bagaimana Javier? Dia baik-baik saja, kan?" Suara Elara terdengar sangat panik dan khawatir.
"Aku tidak tau bagaimana keadaan Elin, Bu," tutur Javier lemah.
"Apa maksudmu, Jav? Tunggu ..." Elara menjeda kalimatnya seolah memikirkan sesuatu. "Kenapa kau malah menelepon ibu dan menanyakan keberadaan Elin?" tanyanya tak paham.
"Karena aku masih berharap bahwa Elin pulang bersama ibu, sebab---sebab saat Carla diselamatkan dari dalam mobil yang rusak parah itu, Elin tidak ada disana."
"Ya, Tuhan ..." kaget Elara.
Dalam posisinya, Javier mengusap wajahnya sendiri sambil menutup panggilan selulernya. Ia tampak sangat lelah dan berantakan, belum lagi hatinya yang seakan gamang karena keadaan ini. Javier frustrasi karena belum ada kabar mengenai keberadaan Elin.
Pikiran Javier semrawut, dia memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada Elin. Apa mungkin Elin diselamatkan oleh orang lain?
"Saya sudah mengecek semua rumah sakit yang ada di kota Hamburg, tapi tidak ada pasien kecelakaan atas nama Nona Medeline Forza," kata Jack yang menghampiri Javier di kursi tunggu rumah sakit.
"Kalau begitu, cari pasien yang tidak memiliki identitas dan memiliki kesamaan dengan Elin."
"Baik, Tuan."
Javier tidak tau harus melakukan apapun lagi, otaknya terasa buntu dan tidak bisa berpikir. Ia hanya bisa menunggu laporan-laporan yang diberikan Jack dan orang-orangnya yang tengah menyelidiki kasus ini lebih lanjut.
Javier memang tidak mau menunggu penyelidikan kepolisian karena hasil pemeriksaannya baru akan keluar besok, sementara Javier butuh info akurat saat ini juga.
"Willy melapor bahwa sebagian cctv disana rusak, Tuan."
Javier mendengkus. Sudah jelas jika kecelakaan ini direncanakan.
"Bagaimana dengan cctv di bridal? Apa ada yang terlihat mencurigakan?"
Jack sudah membuka mulut untuk bicara, tapi Javier lebih dulu meraih ponsel pria itu. Ia tidak sabar mendengar penjelasan Jack, ia ingin tau lebih cepat.
"Apalagi yang kau temukan di lokasi itu, Will? Berikan semua info padaku dan satu lagi, cari tau isi black box mobil."
"Maaf, Tuan. Black box mobil sudah diambil oleh pihak kepolisian untuk penyelidikan dan barang bukti."
"Breng sek!" umpat Javier entah pada siapa. "Baiklah, aku tidak butuh semua itu, tapi apapun caranya, cari keberadaan Elin! Dimanapun dan secepatnya!" titahnya keras.
...****...
"Bagaimana, apa kau menemukannya?" tanya Jack pada Willy saat malam sudah sangat larut. Mereka tak boleh berhenti mencari sebelum menemukan sesuatu yang bisa menenangkan Javier.
"Yah, mereka merusak rem mobil yang digunakan Carla."
"Astaga." Jack sudah menduga hal ini dan segera melaporkan info tersebut pada Javier.
Javier menerima laporan Jack dan meminta untuk kembali mencari tau ciri-ciri orang yang melakukan semua itu dari cctv Bridal yang mereka dapatkan.
Menurut Javier, jika dia menemukan satu orang saja yang berniat mencelakai Elin, maka dia akan dapat menemukan keberadaan gadisnya tersebut.
"Cari orang itu, apapun caranya!" titah Javier saat Willy mengatakan bahwa tidak ada jejak yang tersisa, bahkan mobil yang mereka gunakan untuk datang ke Bridal saja tidak memiliki plat yang resmi.
Disaat keadaan memaksa Javier untuk menemukan Elin, disitu pula ia menerima laporan lain terkait perusahaannya. Ada beberapa pihak yang terlibat dalam kasus korupsi dan Javier takkan mentolerir hal ini.
Javier meminta bantuan sang Ayah untuk menangani kasus di perusahaan dan Shane langsung mengurusnya saat itu juga.
__ADS_1
"Jav, apa sudah ada perkembangan?" tanya Cassie yang baru saja datang ke Rumah Sakit untuk menemui Javier disana.
"Belum."
"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Cassie kemudian.
"Entahlah. Aku tidak bisa berpikir sekarang."
"Kalau begitu, kita hanya bisa menunggu Carla sadar dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Itu terlalu lama, Cassie. Yang jelas, aku sudah mengetahui bahwa rem mobilnya disabotase."
Cassie turut prihatin dengan keadaan ini, ia menyarankan agar Javier tetap sabar menunggu proses pencarian Elin karena Cassie pun takut jika seseorang yang mencelakai Elin juga mengincar Javier.
"Bagaimana dengan Liam?" Javier tiba-tiba teringat mengenai kakak tiri Elin tersebut.
Jack menoleh. "Pantauan terakhir, dia pergi meninggalkan kota Hamburg setelah mendapatkan uang dari Nona Elin beberapa hari lalu," jelasnya.
"Siapa Liam?" tanya Cassie.
"Dia kakak tiri Elin. Hanya dia yang mungkin berniat mencelakai Elin, tapi kau dengar sendiri kan jika dia sudah pergi."
Javier memijat pelipisnya, jika mengingat Liam, dia akan teringat pada permusuhan mereka yang terjadi karena Irina.
Irina? Yah, apa mungkin ini ada kaitannya dengan gadis itu?
"Jack?" panggil Javier.
"Ya, Tuan?" Jack menoleh.
"Selidiki dimana keberadaan Irina. Seminggu yang lalu, aku dan Elin bertemu dengannya di Restoran Cina yang ada di pusat perbelanjaan itu."
Jack mau melakukan perintah Javier saat Willy tiba-tiba kembali memberitahukannya sebuah info.
"Ada korban kecelakaan yang masuk ke Rumah Sakit N hari ini, dia diselamatkan oleh orang yang kebetulan melintas. Korban itu tidak memiliki identitas dan ciri-cirinya mirip seperti nona Elin," kata Jack membuat Javier fokus pada info tersebut dan melupakan soal penyelidikannya mengenai Irina.
"Kritis."
Dan Javier mengesah panjang.
"Aku akan melihatnya untuk memastikannya," putus Javier akhirnya.
...***...
"Bagaimana? Apa kau puas?" Liam dengan senyum miringnya, menatap Irina yang juga menyeringai saat menyaksikan keadaan gadis yang terbujur lemah didepannya.
"Yah, kau memang bisa diandalkan, Liam."
"Apa kau mau aku membu nuhnya?" tanya Liam kemudian.
Irina menggeleng. "Kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan membu nuh adikmu sendiri, Liam," katanya mencoba pengertian.
"Jika itu yang kau inginkan, maka aku akan melakukannya," jawab Liam.
"Aku belum mau dia mati. Lagipula, kau masih mau memanfaatkannya, kan?"
Liam mengangguk. "Kau memang sangat pengertian. Aku akan menjualnya lagi setelah dia sembuh," katanya.
Irina tersenyum miring mendengar ujaran Liam. "Aku memang mau dia tersiksa, karena berani menjalin hubungan dengan Javier. Aku juga tidak sabar melihat wajah hancur Javier ketika dia melihat jasad gadis yang sudah kau bawa ke Rumah Sakit itu," katanya kemudian.
"Yah, dan itu juga yang aku tunggu. Aku sangat yakin, Javier pasti akan mengira bahwa itu adalah benar-benar jasad Elin, dan mengira jika Elin sudah pergi untuk selamanya," timpal Liam.
"Hahaha ..." Irina tertawa sumbang.
__ADS_1
"Apa kau sudah menghapus semua bukti yang akan menjebloskanku ke penjara?" tanya Liam lagi.
"Sudah, tapi ku pikir akan lebih baik jika kau dipenjara, ketimbang menerima kemurkaan Javier jika dia tau bahwa ini adalah ulahmu," paparnya.
"Dan ulahmu juga," tambah Liam.
Mereka sama-sama senang dengan keberhasilan rencana mereka hari ini.
"Mari kita bersulang, Irina." Liam menyerahkan satu gelas yang sudah berisi minuman pada Irina.
"Yeah, mari bersulang," sambut Irina dan membuat kedua gelas mereka beradu lalu berdenting bersamaan.
Liam meneguk minumannya sembari melirik Irina yang juga menyesapp minuman yang terlihat sama.
"Bagaimana dengan hadiahku, Sayang?" goda Liam.
Irina tersenyum tipis. "Kau akan mendapatkannya, tapi tidak sekarang," tuturnya.
Liam menatap Irina dengan seringaian. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku belum siap melakukannya denganmu," jawab Irina to the point.
"Lalu kapan?" Sebenarnya Liam tidak mau memaksa Irina, tapi dia paling tau karakter gadis yang selalu menolaknya ini.
"Entahlah," jawab Irina enteng. "Aku hanya belum bisa melakukannya denganmu," katanya jujur.
"Kau tau kan, jika ditolak berkali-kali itu rasanya sakit? Kau sudah merasakan hal itu karena Javier juga selalu menolakmu."
"Yah, kau benar."
"Lalu kenapa kau juga melakukannya padaku? Kau terus saja menolakku. Bahkan ketika aku sudah melakukan semuanya untukmu." Liam menatap kedua bola mata Irina bergantian dan memahami jika gadis itu tidak serius dengan hadiah yang sempat Irina janjikan kepadanya.
"Sudah ku bilang, aku hanya belum siap jika harus menyerahkan tubuhku kepadamu."
"Kau mempermainkanku?" Suara Liam sedikit meninggi.
"Bisa dibilang begitu," kata Irina sembari menandaskan seluruh minuman di gelasnya.
Tiba-tiba saja suara tawa sumbang Liam terdengar memenuhi tempat pertemuan mereka itu. Itu adalah sebuah ruangan khusus yang disediakan Irina untuk merawat Elin yang mengalami cedera parah karena kecelakaan. Dia bahkan membayar beberapa tenaga kesehatan, juga dokter untuk merawat Elin disana, karena ia tak mau melibatkan Rumah Sakit sebab ia yakin jika Javier akan melacak keberadaan Elin di semua tempat semacam itu.
Mereka hanya meletakkan satu jasad gadis yang mirip seperti Elin di Rumah Sakit berbeda. Jasad itu mereka beli dari kamar Jenazah Rumah Sakit yang juga sudah Irina bayar. Meletakkan semua perhiasan Elin pada jasad tersebut, juga mengenakan pakaian Elin pada tubuh yang sudah kehilangan nyawa.
"Aku sudah tau jika kau pasti akan tetap menolakku meski aku sudah melakukan semuanya untukmu, Irina," kata Liam masih dengan tawa renyahnya.
"Yah, kau memahamiku dengan baik," jawab Irina yang tiba-tiba merasa agak janggal dengan dirinya sendiri.
Liam melihat perubahan pada raut wajah Irina dan senyum miringnya kembali terbit disudut bibir. "Apa kau mulai merasakannya?" tanyanya dengan suara berbisik yang penuh arti.
Disitulah Irina menyadari sesuatu, Irina langsung menatap sengit pada Liam, lalu melihat pada gelas kosong yang berada ditangannya. "Kau menjebakku?" tanya gadis itu.
Liam tak menyahut, ia hanya merespon ucapan Irina dengan menyentuh pipi gadis itu, lalu membelainya dengan lembut.
"Ah ..." Irina mendesaahh hanya karena sentuhan ringan yang Liam berikan dikulitnya.
"Kau tau, perlu cara licik untuk mendapatkanmu yang juga licik, Sayang." Liam berbisik tepat ditelinga Irina.
Irina merasa semakin geram dengan Liam, karena kini ia merasakan jika inti tubuhnya terasa sangat gatal dan lembab. Liam pasti sudah mencampur minumannya dengan obat pe rang sang.
"Kau selalu menolakku, bahkan saat aku sudah mempertaruhkan nyawa Adikku sendiri."
"Tapi dia hanya adik tirimu Liam," kata Irina masih mencoba memperingatkan Liam dan merasakan jika tangan pria itu mulai menjalari pinggangnya.
"Kami memang punya ibu yang berbeda, tapi dia adalah adik kandungku karena ayahnya adalah ayahku juga," kata Liam masih dengan seringainya.
__ADS_1
Saat itu juga, Liam mengungkung tubuh Irina dan gadis itu harus pasrah karena sudah terpengaruh oleh obat yang Liam berikan di minumannya. Hatinya memang menolak Liam, tapi tubuhnya tak bisa berbohong bahwa dia sangat butuh sentuhan pria itu untuk menyalurkan has ratnya akibat obat yang mer ang sangnya.
...Bersambung ......