Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
SEMUA SERASA SIA-SIA


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Walau hatinya tidak tenang. Selena masih bisa tersenyum. Ia bernapas lega karena Samuel tidak terlambat. Selena mengedarkan pandangannya, menatap sekolah yang terkenal sangat disiplin. Setelah itu, Selena kembali membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, Ia benar-benar penasaran apa yang terjadi di kantornya.


Setelah perjalanan dua puluh menit di tempuhnya. Selena tiba di kantor tempatnya bekerja. Ia memarkir mobilnya dengan baik. Masih ada waktunya sepuluh menit untuk melakukan absensi sidik jari.


"Fiiuuuuhhhh..." Napas hangat keluar dari mulut Selena. Ia memiringkan kaca spion tengah mobil ke arah wajahnya. Selena merapikan rambutnya dan melihat ke arah wajahnya lagi. Ia mengeluarkan lip gloss dari tas kecilnya dan menambah lip gloss itu ke bibirnya. Setelah itu, ia turun dari mobil. Seperti biasa Selena selalu mampir ke Cafe terdekat untuk membelikan coffee untuk satu timnya. Ia tersenyum ramah kepada security yang berjaga di pos.


"Selamat pagi pak...!" Selena menyapa dua orang security yang sedang berjaga dan memberikan dua coffee yang ia beli dari cafe seberang di depan kantor.


"Terima kasih nona cantik." ucap mereka serentak dan melemparkan senyuman ramah.


"Sama-sama pak," Sahut Selena melambaikan tangannya tanpa melihat ke belakang. Ia hanya terus melangkah menuju pintu masuk, sambil tersenyum dengan semangat.


Selena memang gadis periang dan di kenal sangat ramah. Ia bukan typical yang suka memilih-milih teman, bisa berteman dengan siapa saja termaksud dua security yang ada di pos tadi. Hehehehe.... Selena tersenyum. Ia juga cantik dan berpenampilan sederhana. Karena kesederhanaannya itu, semua orang mengaguminya. Apalagi jika ia tersenyum, menarik bibir manisnya untuk membuat semua orang disekitarnya merasa kagum. Selena juga memiliki aura positif, sehingga semua orang merasa nyaman berada di dekatnya.


"Bukan memuji diri ya, hahahaha..." Selena tertawa dalam hati. Ia kembali melemparkan senyumnya ketika ia bertemu karyawan di koridor kantor. Selena memang bisa menghidupkan suasana. Ia bisa membuat bad mood seseorang bisa kembali seperti semula. Ckckck... itu pendapat orang yang menilai dirinya ya, bukan pendapat selana.


Selena sudah tujuh tahun bekerja di perusahaan ini. Selena bekerja di bagian supervisor penempatan personalia. Tugasnya untuk pengelolaan SDM yang terkait administratif guna mengatur hubungan kerja antara perusahaan dan karyawan, misalnya penggajian, dokumen pendukung karyawan seperti paklaring juga. Selena juga dipakai sebagai penerjemah atau interpreter bahasa asing. Dengan pekerjaan inilah Selena bisa lebih mandiri secara finansial dan juga lebih tertantang karena setiap hari merupakan medan perang yang harus Ia ikuti, apalagi jika ada rapat dengan tamu penting.


Selena terus melangkah di koridor dengan tubuh tegap seperti karyawan sudah dilatih untuk bertempur menghadapi permasalahan yang ada di kantor. Orang yang pertama yang harus ditemuinya hari ini adalah Chesa. Ia masih penasaran dengan ucapan sahabatnya tadi. Selena tiba di depan ruangannya. Ia melakukan ritualnya. Huffft... Selena menghembuskan napasnya. Permasalahan di perusahaan ini tidak ada habisnya. Itu yang menuntut nya harus tetap energik. Hari ini Ia mempersiapkan diri untuk mengetahui apa yang terjadi di kantor ini.


Tap... tap.. tap..!


Selena memasuki ruangan kantor khusus untuk tim mereka, menyapa semua karyawan yang bekerja satu tim dengannya. Setelah memberikan coffee kepada teman kantornya, ia langsung duduk di depan Chesa yang tengah sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.


"Kau benar-benar membuatku penasaran. Sekarang ceritakan kepadaku, apa yang terjadi?" Ucap Selena mengetuk meja Chesa beberapa kali.


"Sssstttttt...." Chesa menempelkan jari telunjuknya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. "Dilarang merumpi di kantor. Kita bisa di tegur."


Selena mengembuskan napasnya sampai anak rambutnya berantakan. "Jadi kenapa kau menghubungiku dan membuat jantungku getar-getir."


"Tapi waktunya kurang tepat."


"Jadi waktunya kapan, aku harus menunggu besok?"


Chesa mencondongkan badannya dan berbisik lagi. "Ini mengenai pengurangan karyawan di kantor kita."


"Heuh, kau serius?"


"Hmm." Chesa mengangguk cepat. "Terhitung bulan depan."


"Astaga.. bulan depan itu tinggal hitungan hari Chesa, Jadi siapa saja karyawan itu?" Tanya Selena mengangkat alisnya antusias.


Chesa terdiam beberapa detik. Ia mengalihkan pandangannya saat tatapannya bertemu dengan Selena.

__ADS_1


"Siapa Chesa?" Tanya Selena lagi.


Lagi Chesa meringis, seakan tak sanggup menyelesaikan kalimat yang harus dikatakannya.


Saat melihat wajah Chesa berubah, hatinya kembali tidak tenang. Jantungnya terpukul kencang. Matanya memicing, menatap ke arah Chesa. "Apa maksudmu saya termaksud karyawan itu?" tanya Selena dengan suara terendahnya.


Chesa tersenyum getir sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan. Wajahnya mengerut seperti ingin menangis.


GLEK!


Selena menelan salivanya berulang kali. "Gak mungkin Chesa. Aku gak pernah buat masalah, Kenapa aku termaksud pengurangan karyawan itu?" Ucap Selena meninggikan suaranya. Selena seperti tertampar mendengar kabar ini.


"Sumpah, aku juga gak tahu." Chesa mengibas-ngibaskan tangannya gugup. Ia menunduk penuh penyesalan. "Maafkan aku Selena."


"Bagaimana denganmu, apa kau juga termaksud Chesa?"


Chesa menggeleng lemah. "Maafkan aku Selena, aku juga tidak tahu kenapa kau bisa termaksud dari karyawan itu."


"Heeeehhh..." Selena membuang napasnya sambil menutup matanya. Ia masih belum bisa terima. Selama ini Selena selalu memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Ini benar-benar sakit. Ia terluka tapi tidak berdarah. "Apa tidak ada pertimbangan atas semua kerja kerasnya? Jadi itukah alasannya, mereka mendesakku menyelesaikan semua pekerjaan itu?"


Selena tak habis pikir. Ia tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Matanya berkaca-kaca tapi tidak menangis. Ia mencoba bernapas dengan mulut terbuka. Hanya kesal, sangat kesal! Selena tidak pernah menyalahi peraturan perusahaan. Hasil kerja kerasnya serasa sia-sia. Kesetiaannya selama ini sebagai karyawan terbaik hanya dipandang sebelah mata. Ia selalu menekuni pekerjaannya. Kejujurannya, kedisiplinannya, kerjasamanya dengan team, jiwa kepemimpinannya, tanggung jawabnya, inisiatif tolong menolongnya, kreativitas dan kecakapannya. Benar-benar tak berarti sama sekali. Selena seakan masih mencerna semuanya. Menahan sesak yang teramat sangat. Emosi Selena benar-benar tersulut. Ia tidak bisa terima diperlakukan seperti ini.


Selena bangun dari duduknya dan menggebrak meja cukup kuat. "Ini tidak adil!" Rahang Selena mengencang kuat. Tangannya mengepal erat sampai buku-buku tangannya memutih.


Chesa terjengkit kaget dan ikut bangun dari duduknya, saat melihat Selena begitu marah. "Apa yang kau lakukan Selena?"


"Aku mau bertemu direktur." Sama sekali Selena tidak memandang Chesa.


"Ha?" Mata Chesa mendelik. "Bertemu direktur?" wajahnya berubah panik saat melihat Selena melangkah cepat menuju ruangan CEO.


"Selena tunggu!" Teriak Chesa, ia langsung menyusulnya dan menarik lengannya dari belakang. "Please, jangan lakukan itu Selena. Aku mohon!" pintanya dengan wajah memelas sendu.


"Lepaskan tanganku Chesa!" ucap Selena dengan tegas.


Chesa menggeleng dan tetap memegang tangan Selena. "Jangan mempersulit keadaan,"


"Aku bilang lepaskan," Selena dengan cepat menarik tangannya. Pegangan Chesa terlepas.


Selena melangkah lagi. "Perusahaan apa ini, itu sama artinya saya di PHK. Apa perusahaan ini mau bangkrut? Bukankah perusahaan ini dikenal kuat." Napasnya tersengal menahan amarah.


"Selena dengarkan aku, kau harus tahu kenapa pihak perusahaan melakukan ini."


"Jangan mencoba menghalangiku, jika kau masih melakukan itu, persahabatan kita selesai." Ancam Selena tidak takut. Ia terus berjalan dan sudah sampai di depan ruangan yang bertuliskan CEO itu.


Chesa dengan cepat berlari dan menghalangi Selena agar tidak masuk. Ia bersandar di pintu itu dan merentangkan kedua tangannya.


"Chesa ayolah, aku hanya ingin bertemu pak direktur dan meminta penjelasan saja."


"Tidak, aku tidak akan memberimu jalan." Ucap Chesa dengan tegas. "Aku tahu siapa kau Selena. Masalah ini bisa tambah rumit nantinya. Jadi lebih baik kita pergi dari sini." Chesa menatap sambil melengkungkan alisnya ke tengah. Tatapannya penuh permohonan.


"Aku bilang minggir!"


Chesa menjepit bibirnya erat dan menggeleng cepat. Ia masih bersih keras, tak sedikit pun ia berpindah dari posisinya. "Aku tidak mau,"

__ADS_1


"Jangan kekanakan seperti ini Chesa. Aku tidak akan membuat kekacauan."


"Sekarang kita pergi dari sini ya, hmmm..." Pinta Chesa lagi.


Selena mengembuskan napasnya dengan kesal. Ia mengusap wajahnya dan berjalan mendekat ke arah Chesa.


"Aku ingin masuk, tolong kasih jalan!" Selena hampir memegang kenop pintu. Namun seseorang telah membukanya terlebih dahulu.


CEKLEK!


Seorang lelaki paruh baya keluar dari ruangan itu. Dahinya mengerut menatap Selena dan Chesa bergantian.


"Kalian tidak bekerja? Kenapa berdiri di depan pintu saya." Tanya Pak Elfrad dengan sorot mata tajam.


Chesa dengan membungkukkan badannya. "Selamat pagi pak, maaf jika mengganggu bapak. Kami akan melanjutkan peker..."


Belum lagi Chesa menyelesaikan kalimatnya. Selena dengan cepat memotongnya. "Saya ingin bicara pak."


"Ah...tidak apa-apa pak," Chesa dengan cepat menutup mulut Selena.


"Hmmmmpppp..."


Chesa langsung memberi isyarat kepada Selena, memberikan gestur tubuhnya. Namun Selena sama sekali tidak memandang sahabatnya.


"Apa yang kalian lakukan?" Elfrad sudah tampak kesal melihat tingkah Selena dah Chesa.


Reflek Chesa melepaskan tangannya. "Maafkan saya pak." Ucapnya menunduk penuh penyesalan.


Elfrad memandang ke arah Selena lagi. "Kau ingin bicara denganku?" Alis Elfrad menukik tajam. "Apa karena masalah pemberhentianmu Selena?"


DEG!


Darah Selena berdesir, peredaran darahnya seakan berhenti mengalir. Jantungnya terpukul kencang. Bahkan untuk menjawab pun ia tak bisa.


"Kenapa diam saja, bukankah kau ingin bertemu denganku?" Tanya Elfrad lagi.


"Betul pak, saya ingin bicara dengan bapak.."


"Baiklah. Saya akan memberimu waktu 10 menit. Silakan masuk!" Elfrad membuka daun pintu lebih lebar lagi dan membiarkan Selena masuk. "Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." ucapnya kepada Chesa.


"B-Baik pak." Jawab Chesa terbata, ia pun menundukkan kepalanya dan pamit undur diri.


Ceklek!


Pintu itu tertutup lagi. Chesa membuang napas sampai bahunya ikut turun. Ia kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2