Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KAU TIDAK BISA MENOLAK


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


DI DALAM RUANGAN VIP.


Tidak beberapa lama. Pelayan langsung membawa makanan pembuka. Mereka menunduk hormat sebelum menyajikannya.


"Makanan pembuka akan segera di sajikan tuan." Ucap pelayan dengan sopan.


"Silakan!" Ucap Davina mengangguk.


"Restoran kami juga menyimpan wine terbaik nyonya."


Zionathan langsung menjawabnya. "Bawa saja, tidak apa-apa."


"Baik tuan." Jawab pelayan mengangguk dengan senyuman.


Zionathan membalas senyuman itu. Ia melirik sekilas ke arah Selena.


Selena dapat merasakannya saat menangkap tatapan Zionathan. Ia bernapas gugup di tempat duduknya. Huuuh... kembali Selena melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya dan juga menenangkan diri.


Makanan khas Eropa sudah tersaji di atas meja. Para pelayan mengatur makanan itu sesuai urutannya. Makanan berkelas para kalangan atas tentunya. Wine yang harganya selangit juga sudah tersaji di sana. Pelayan pun membuka botol wine dan menuang ke gelas mereka masing-masing.


"Sayang, minumnya jangan banyak-banyak ya." ucap Davina mengingatkan Alberto.


Alberto tersenyum sambil menganggukkan kepala. Pelayan tetap stand by di sana. Berdiri di belakang mereka dan siap menunggu instruksi jika di minta.


"Sepertinya kita bersulang untuk anak-anak kita. Semoga rencana pernikahan mereka berjalan dengan baik." Kata Alberto mengangkat gelasnya.


Mendengar itu, Selena meremas tangkai gelasnya. Ia menahan napasnya sesaat, lalu ikut mengangkat gelasnya.


TING !


Permukaan gelas mereka bertemu, berdenting menghasilkan suara yang merdu.


"Terima kasih juga atas jamuan ini, " Kata Berto mengangkat gelasnya lagi. Ia menyesap minuman anggur itu secara perlahan.


"Kami juga mengucapkan terima kasih atas kedatangan kalian, undangan keluarga untuk menjalin kedekatan diantara kita." Alberto menimpali dan mengarahkan gelasnya kembali kepada sahabatnya itu.


"Sama-sama. Saya sangat bersyukur anak-anak kita bisa bertemu kembali. Semoga ini akhir kebahagiaan buat mereka." ucap Joanna tersenyum sambil menatap putrinya yang duduk elegan di samping Zionathan.


Kehangatan pun tercipta di sana. Mereka saling melempar senyum bahagia sambil menikmati makanan sesuai urutannya.


Selena hanya tersenyum tipis. Ia mengambil lipatan serbet yang ada dihadapannya dan membentangkannya dalam pangkuan. Davina dan Joanna kembali berbicara elegan dan terlihat seperti berbisik-bisik. Menunjukkan bahwa mereka wanita berkelas di sana.


Sementara Zionathan tersenyum seadanya. Ia tetap diam menikmati setiap menu yang ada. Sesungguhnya Zionathan tidak nyaman, ia berusaha menutupi rasa kecewanya. Setelah menangkap semua pembicaraan ayahnya. Ternyata semua ini memang sudah direncanakan dari awal. Termaksud Selena masuk ke perusahaan Lucius.


"Bagaimana pekerjaanmu nak Zio?" tanya Berto menatap ke arah Zionathan yang hanya diam di sana.


Zionathan mengangkat wajahnya melihat ke arah Berto. Ia langsung menghentikan aktifitas makannya. "Semuanya berjalan baik Uncle." sahut Zionathan mengambil gelas yang berisi wine lalu menyesapnya secara perlahan.

__ADS_1


"Mohon bimbingannya nak Zio, Selena baru bekerja di perusahaan Lucius." Kata Joanna membuka suara.


"Pasti aunty." Suara itu begitu datar dan kaku.


Selena menarik napas singkat. Ia bergeming memasukkan makanannya dengan tenang tanpa memberi komentar.


Davina memotong daging miliknya dan memberikannya kepada Selena. "Makan yang banyak sayang. Kata Joanna kamu suka makan ini." Bisik Davina dengan lembut sambil menepuk tangan Selena.


"Terima kasih aunty." Selena mengangguk dan tersenyum. Ia merasa canggung saat wanita itu memperlakukannya dengan istimewa. Apalagi saat melihat reaksi Zionathan ia hanya bisa menahan napas. Situasi ini membuatnya tersiksa.


Mereka kembali menikmati makanannya dengan tenang dan melanjutkan pembicaraan disertai dengan candaan ringan. Zionathan kembali diam tanpa ekspresi di sana. Masih mencoba memahami. Mencoba mengerti dengan semua ini. Otaknya masih belum bisa menyimpulkan apakah ini mimpi atau nyata.


"Kenapa bisa seperti ini?" Itulah yang ada di dalam pikiran Zionathan saat ini. Ia seperti orang bodoh yang terjerat dengan situasi ini. Heeeehhh... Zionathan membuang napas singkat. Tak ingin lama-lama terperangkap dengan situasi ini, Zionathan pun berbicara kepada Selena.


"Dari tadi kau diam dan tak berkutik sedikitpun di sampingku. Bukankah banyak yang ingin kau katakan kepadaku Selena?" Tanya Zionathan datar tanpa memandang ke arah Selena.


Selena meremas tangkai gelasnya sambil menjepit bibirnya. Ia memilih tak menjawab. Pikirannya kalut dan masih bingung dengan semua ini.


"Bagaimana mungkin aku tidak mengenal Nathan? Astaga bodohnya aku."


"Foto yang selama ini menemaniku tidur adalah pak direktur?"


Selena reflek menutup matanya, ia merutuki kebodohannya.


"Jadi cinta pertamaku yang aku rindukan itu adalah dia, lelaki yang sekaligus aku benci? Oh ya Tuhan, Ini tidak mungkin."


Selena melirik sekilas. Senyum pak direktur mengandung sejuta makna. Antara menyindir atau bagaimana. Selena juga tidak tahu.


Sementara Zionathan tersenyum samar sambil mengangkat alisnya menunggu jawaban dari Selena. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Selena, lalu berbisik di telinganya.


DEG!


Selena terdiam kaget, jantungnya berdegup kencang. Kalimat itu seperti terhantam di dadanya. Ditambah hembusan napas pak direktur semakin membuatnya takut. Selena memalingkan wajahnya perlahan ke arah Zionathan, namun ia segera menariknya kembali. Mata pak direktur begitu tajam mendominasi. Seakan memenjarakannya dengan situasi ini.


"Kau harus menjelaskan semua ini kepadaku. Apa ini bagian dari rencanamu?" Zionathan menekan setiap perkataannya.


Selena tidak tahan lagi. Ia tidak bisa meneruskan ini. Tiba-tiba Selena bangun dari duduknya. Menatap ayah dan ibunya dan termaksud orang tua Nathan.


Davina tersenyum saat melihat Selena tak juga bicara. "Ada yang ingin kau sampaikan sayang?"


Selena menguatkan hatinya lalu bicara. "Maaf aunty sepertinya..."


Belum lagi Selena menyelesaikan kalimatnya. Zionathan segera bangun dari duduknya dan memegang tangan Selena. Cengkraman tangan Zionathan membuat Selena terkejut.


"Maaf Uncle, aunty, sepertinya kami harus bicara." Ucap Zionathan cepat.


"Ah... silakan sayang," Joanna tersenyum mengiakan. "Mungkin banyak yang ingin kamu bicarakan. Cara anak muda, mereka pasti malu di depan kita."


"Betul sekali, tapi jangan lama-lama ya. Kita masih membicarakan rencana pernikahan kalian." ucap Davina tersenyum menimpali.


Sementara Alberto dan Berto masih tampak serius bicara. Mereka hanya melirik sekilas lalu kembali berbincang-bincang lagi.


Zionathan mengancingkan jasnya. "Sekarang kau ikut denganku,"


Setelah menyelesaikan kalimatnya. Zionathan melangkah meninggalkan ruangan itu. Selena tersenyum sambil menundukkan kepalanya sedikit, lalu pamit menyusul pak direktur. Ia menarik napas menatap punggung Zio yang melangkah cepat menuju bagian atas rooftop.


Selena sudah melihat posisi Zionathan sedang menatap ke arah jalanan sambil memasukkan tangan ke kantong. Suasana seperti ini membuat Selena semakin tidak nyaman. Ia hanya berdiri tepat di belakang Zionathan.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau sampaikan tadi?" Tanya Zionathan tanpa membalikkan badannya.


Mendengar itu, Selena membuang napasnya dengan kasar. "SAYA TIDAK BISA MELANJUTKAN PERJODOHAN INI."


Saat mendengar itu, Zionathan berbalik dan menatap Selena dengan tajam. "Apa??" rahang Zio mengecang kuat. "Bukankah kau menginginkan pernikahan ini?"


"Benar, aku menginginkan pernikahan ini, tapi sekarang hatiku berubah. Nathan yang dulu baik dan pengertian. Dia bukan seperti anda angkuh, sombong dan tidak punya hati."


Zionathan tersenyum sinis. "Kau memang luar biasa. Setelah merencanakan ini semua. Sekarang kau berubah pikiran?"


Selena mengerutkan keningnya. "Merencanakan apa maksud anda?"


"Kau masuk ke perusahaan Lucius tanpa melalui tahapan." Zionathan tersenyum kecil lalu menatap Selena dengan tajam. "Dan kau berhasil."


"Saya tidak tahu bahwa uncle adalah pemilik perusahaan Lucius dan saya juga tidak tahu kenapa uncle bisa menerimaku." Selena berusaha membela diri.


"Cih..kau pintar mencari alasan dan aku sudah menduga itu. Wanita rendahan sepertimu bisa melakukan apa saja agar bisa masuk keluarga Lucius."


Hati Selena tercabik-cabik mendengarnya. Layaknya tangan besar yang meremas hancur hatinya dengan sengaja. Selena diam membatu di sana. Meremas tangannya begitu kuat karena menahan amarah.


"Kau begitu bersemangat untuk menerima perjodohan ini dengan alasan karena kita teman masa kecil. Sementara bagiku kau sama sekali tidak ada artinya."


DEG!


Jantung Selena semakin terpukul kencang. Wajahnya menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar di sana. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. ia terdiam dan terus menatap Zionathan yang begitu angkuh. Tangannya terlihat gemetar karena menahan emosi.


"Maka dari itu, aku tidak mau melanjutkan perjodohan ini. Aku juga tidak mau menikah dengan lelaki sepertimu. Ingat! aku bukan wanita rendahan yang mengemis cinta kepada lelaki yang sama sekali tidak punya hati seperti anda." Sorot mata Selena begitu tajam, menyatu di antara ke dua hidungnya. Menikam Zionathan dengan perkataannya. Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan ingin meninggalkan rooftop itu.


Namun beberapa detik kemudian. Sebelum Selena melangkah, seperti gerakan slow motion. Zionathan meraih tangan Selena. Ia menarik tangan itu agar Selena menghadap ke arahnya dan mendorong tubuh Selena ke pagar stainless yang ada di sana. Selena membelalakkan matanya saat melihat tangannya dicengkram kuat oleh Zionathan. Kedekatan ini membuatnya tidak nyaman. Tatapan Zionathan begitu mengintimidasi. Menembus relung hati yang siap membuatnya kejang-kejang.


Zionathan mengangkat alisnya, menatap Selena dengan tajam. Raut wajah begitu dingin mendominasi, ia memiringkan tubuhnya, mendekat ke arah Selena. Zionathan meremas tangan Selena yang terdiam di posisinya.


"Kau tidak bisa mengakhiri ini." sengit Zio menatap tajam ke arah Selena. "Kau harus bertanggung jawab. Jika terjadi sesuatu kepada ayahku karena penolakanmu. Aku pasti bisa mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun. Aku akan membuatmu menderita di sisa hidupmu. Dan aku pastikan dunia menolakmu. Kau akan menjadi sampah masyarakat. Wanita pengganguran yang tidak punya masa depan. Bahkan aku mampu membuatmu menjadi wanita gila." Desis Zionathan dengan mata menyalang tajam. Ia menekan setiap perkataannya. Jarak tubuh mereka cukup dekat. Tangan Zionathan mengunci tubuh Selena.


Badan Selena seketika kaku dan tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa panas dan gemetar. "A-apa maksudmu?" Ucap Selena dengan napas tersengal karena emosi.


"Semua sudah jelas, kau tidak bisa menolak perjodohan ini. Kau sudah masuk perangkapmu sendiri dan aku pastikan kau tidak bisa keluar lagi."


Selena lagi-lagi terdiam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Lidahnya keluh bak dipatuk ular, ia terdiam seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya.


"Kenapa, kau terkejut? Itu konsekuensinya dan kau harus terima."


Jantungnya seakan terpompa lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Selena masih tidak percaya dengan semua ini. Tubuhnya gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara. Mata mereka saling mengunci satu sama lain. Sorot mata mereka sama-sama menunjukkan kebencian.


"BENARKAH INI NATHAN? TEMAN MASA KECILKU?"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2