
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Zionathan sudah berada di depan pintu ruangan yang bertuliskan VIP itu. Tangannya memegang kenop pintu dan perlahan-lahan membukanya. Daun pintu sudah terbuka, Zionathan pun mendorongnya ke arah dalam. Ia melihat ayah dan ibunya sedang berbincang-bincang di sana. Matanya langsung tertuju pada kursi yang masih kosong. Zionathan mengerutkan keningnya. Jelas-jelas pihak restoran menyiapkan kursi untuk tamu enam orang.
"Apa jangan-jangan...?" Sudut bibir Zio langsung melengkung ke atas. "Akhirnya wanita itu sadar juga. Tidak baik memaksakan diri jika memang tidak mencintai. Ini adalah akhir yang baik dan perjodohan ini tidak bisa dilanjutkan." Zionathan semakin menyempurnakan lengkung bibirnya. Ada rasa bahagia menggelitik hatinya. Zionathan menarik napasnya dalam-dalam.
"Sayang," Davina melambaikan tangannya saat melihat Zionathan sudah datang.
"Apa dia Nathan?" tanya Joanna bangun dari duduknya, lalu berjalan menemui Zionathan yang baru masuk ke ruangan itu. Ia menyambutnya dengan senyuman lembut.
CEKLEK!
Zionathan menutup kembali pintu itu dan segera membalikkan badannya saat nama kecilnya disebut. Ia pun membalas senyuman Joanna.
"Selamat malam aunty." Sapa Zionathan dengan senyum sopan saat melihat wanita itu datang mendekat dengan dress polos kombinasi floral, yang tetap membuatnya elegan sekaligus keibuan.
"Astaga.... benarkah ini Nathan? anak kecil yang suka usil dan membuat Selena menangis itu?" Joanna menangkup ke dua pipi Zionathan, menatapnya dengan senyum haru.
"Benar aunty, saya adalah Zionathan." Jawab Zio tersenyum. Ia sedikit kikuk dengan situasi seperti ini.
"Ya.. Tuhan, kau tampan sekali nak. Apa dia benar-benar anakmu Davina?" ucap Joanna tersenyum dengan ekspresi bahagia. Perasannya saat ini seperti bertemu dengan artis idola. Zionathan hanya tersenyum saat mendengar itu.
"Aunty terlalu memujiku."
"Tidak nak, ini kenyataan." Joanna mengambil tangan Zionathan lalu mengusapnya dengan lembut, ia tersenyum menatap ke arah Zio lagi. "Kamu masih ingat aunty, kan?"
"Ehm...??" Zionathan menunjukkan gestur berpikir. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Maaf aunty, aku tidak ingat. Mungkin aunty bisa menceritakannya lagi." Kata Zio dengan sopan.
"Joanna adalah ibu Selena, teman kecilmu dulu yang pernah ibu ceritakan sayang." kata Davina.
"Bagaimana dengan Selena, kau masih mengingatnya?" Tanya Berto menimpali, ia tersenyum sambil melipat tangannya di atas meja.
"Benar kata ibumu, Selena adalah teman bermainmu waktu kalian tinggal Di kota A. Kamu tinggal di rumah aunty saat Alberto pergi perjalanan dinas keluar kota dan ibumu selalu ikut menemaninya." Joanna tersenyum saat mengingat itu.
Sementara Zionathan hanya diam tanpa ekspresi. Ia berusaha mengingatnya tapi potong-potongan memori itu seakan terhapus tanpa sisa.
Davina mengusap tangan Zio lagi. "Kau tahu? Kamu dan Selena bahkan tidak bisa terpisahkan. Kemana-mana selalu bersama. Bahkan banyak orang bilang kalau kamu itu kakak-adik." Joanna kembali bernostalgia mengingat masa kecil anaknya dulu.
"Kau juga begitu dekat dengan aunty. Sampai Selena cemburu saat itu."
Zionathan lagi-lagi hanya bisa tersenyum hambar. Ia bahkan tidak ingat bagaimana wajah Selena.
"Dan sekarang kau sukses dan bahkan melebihi Alberto. Kau tampan seperti seorang pangeran." puji Joanna tersenyum lagi. Kebahagiaan benar-benar terlukis di wajahnya.
"Sudah Joanna, kau terlalu memujinya." Kata Davina tersenyum. Alberto terkekeh saat mendengar ucapan Joanna.
"Ini kenyataan lho, Nathan memang tampan sekali." Puji Joanna mengusap lembut pundak Nathan. "Pantas saja Selena begitu gugup hari ini. Bagaimana jika Selena melihat teman kecilnya setampan ini." Joanna terus memberikan pujian untuk calon menantunya itu.
__ADS_1
"Heuh? bukankah dia tidak ada sini?" Batin Zio.
"Bukankah begitu Zio?"
"Aunty bisa saja." Zionathan tersenyum lagi. "Lama tidak bertemu, apa kabar aunty?" tanya Zionathan didahului dengan menundukkan kepala. Lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Joanna tersenyum tipis sambil melihat ke arah tangan Nathan. "Seperti yang kau lihat, kabar aunty baik. Apalagi saat melihatmu sukses seperti ini. Aunty ikut bahagia." Ucap Joanna lalu memeluk singkat Zionathan. Ia melepaskan pelukan dan memegang lembut tangan Zionathan.
Zionathan hanya tersenyum, hatinya menghangat saat melihat senyuman dari wanita itu.
"Selena sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Ia benar-benar merindukanmu Nathan."
"Ehemm....ehemm...Kau melupakan Uncle." Kata Berto bangun dari duduknya. Ia tersenyum di sana.
"Maaf Uncle," Kata Zionathan mendekat ke arah Berto.
Mereka saling berjabat tangan, saling menatap dan tersenyum.
"Senang bertemu denganmu Nathan." Berto mempererat jabatan tangannya. "Benar, kau jauh lebih tampan dari Nathan kecil." Goda Berto.
Seketika tawa mereka pecah.
"Terima kasih atas pujiannya uncle." kata Zionathan tersenyum.
⭐⭐⭐⭐⭐
SEMENTARA ITU.
Selena mengintip dari balik dinding tempat persembunyiannya. Ekor matanya bergerak cepat mencari sosok yang menurutnya seperti hantu itu.
"Huffft...." Selena akhirnya bernapas lega.
Pak direktur sudah tidak ada. Selena menyandarkan kepalanya ke dinding. Mencoba menenangkan hatinya kembali. Setelah tenang Selena pun melangkah menuju ruangan VIP. Ia mengendap-endap, menoleh ke kiri dan ke kanan. Takut jika pak direktur tiba-tiba keluar dari ruangan itu dan ujung-ujungnya memaki Selena.
Jantungnya berdetak semakin kencang, terpicu sangat cepat. Membuat Selena terlihat sangat gugup. Pasokan oksigen di dalam paru-parunya sudah menipis sehingga membuat ia menjadi sulit untuk bernapas. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi. Saat ini perasannya campur aduk. Antara takut kepergok sama pak direktur. Dan gugup saat bertemu dengan cinta pertamanya. Selena tidak bisa membedakannya lagi. Darahnya seperti mengalir cepat hingga membuatnya panas dingin.
Selena berhenti tepat di ruangan VIP itu. Ia menahan sekejap tangannya di kenop pintu. Melihat ke arah tangannya yang meremas kenop pintu, namun tak kunjung membukanya. Ia tersenyum singkat lalu melakukan ritualnya, menarik napasnya dalam-dalam. Hal yang sering ia lakukan di saat sedang nervous.
CEKLEK!
Pintu itu terbuka.
Tatapan Selena yang awalnya turun tiba-tiba terangkat dan menangkap suara yang begitu familiar. Suara itu sangat di bencinya, bahkan Selena bersumpah tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi.
DEG
DEG
Jantung Selena langsung terpicu cepat saat melihat sosok lelaki yang tampak serius berbicara dengan ayahnya. Tidak salah lagi. Dia adalah pak direktur. Lelaki dingin dan angkuh. Posisinya sedang membelakanginya. Selena terdiam. Ia masih terkejut dan sangat terkejut. Langkahnya pelan dan berhenti di sana. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selena berusaha menstabilkan napasnya. Rasanya ingin pingsan.
"Tidak mungkin...ini tidak mungkin. Bagaimana pak direktur ada di sini?" Selena menggeleng tak percaya.
"Dan pria itu?" Selena reflek menutup mulutnya. "Bukankah pria itu yang melakukan wawancara kepadaku?" Mata Selena membulat sempurna. "Apa ini, kenapa bisa seperti ini?" Selena mematung dengan mulut terbuka.
Bukannya tenang, Selena semakin gugup, jantungnya berdebar tak beraturan di dalam rongga dadanya. Napasnya berhembus cepat dari mulutnya. Ia berusaha untuk menarik napas dalam-dalam agar bisa memenuhi paru-parunya. Namun tidak berhasil. Ia semakin sulit bernapas. Selena lalu mencengkram tangannya sendiri karena masih bingung dengan situasi ini.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan pak direktur itu adalah Nathan?" Selena menggeleng pelan. Ia menatap dengan pandangan nanar. Mereka belum menyadari keberadaan Selena.
"Selena, kau sudah datang? Kenapa lama sekali sayang. Kemarilah! Nathan sudah ada di sini." ucap Joanna antusias.
Zionathan dengan cepat memutar badannya. Matanya terbelalak dan begitu terkejut saat melihat sekretarisnya berdiri di sana. Spontan ia berdiri. Mereka saling menatap. Ia diam dan tidak bicara. Ekspresi wajahnya sudah berubah. Dahinya mengerut.
"Selena? Kamu Selena?" Davina bangun dari duduknya dan menghampiri Selena.
"Kenapa diam sayang, bukankah kau merindukan Nathan." Joanna tersenyum saat melihat ekspresi terkejut dari putrinya.
"Apa kabar sayang, kamu cantik sekali..." Davina membuka tangannya memeluk Selena dengan dekapan hangat.
Selena masih bergeming bahkan tangannya tak membalas pelukan itu. Tatapannya dengan Zionathan masih saling mengunci satu sama lain.
"Kita duduk!" Davina membawa tangan Selena untuk duduk bersama mereka.
Sementara napas Zio berembus pelan dari mulut, namun tidak mengubah posisinya. Mengunci pandangannya ke arah Selena.
"Apa ini bagian dari rencanamu sekertaris Selena?" Rahangnya mengencang. Ia meremas tangannya dengan pandangan nanar.
Davina mengarahkan Selena duduk tepat di samping Zio. "Kau duduk di sini. Mungkin banyak yang ingin kalian bicarakan." Kata Davina menepuk pundak Selena dengan lembut.
Selena tidak menjawab, entah mengapa tatapan pak direktur membuatnya seperti kehilangan kesadaran. Tatapan mendominasi membuatnya tak bisa bergerak dari tempatnya.
Jantungnya masih terpukul sangat kencang.
"Jadi tatapan yang selama ini membuatku penasaran adalah tatapan Nathan yang selama ini dia rindukan."
Selena berulang kali menghembuskan napasnya lewat mulut. Debaran-debaran itu semakin sulit didiamkan. Terpukul seperti genderang yang membuat keributan di dalam rongga dadanya. Mampu melumpuhkan benteng pertahanannya. Selena lagi-lagi hanya bisa mengepalkan tangannya yang terasa dingin. Pertemuan ini membuatnya benar-benar tersiksa.
Wajah Zio terlihat tenang dan tetap berwibawa. Ia tetap bersikap profesional dan gentleman. Zionathan berusaha mengembalikan pikiran rasional di atas perasaannya. Ia tidak akan merusak suasana ini dan membuat ayahnya terkena serangan jantung lagi. Sebisa mungkin Zionathan mengikuti permainan Selena. Rencananya berjalan dengan baik. Bahkan seratus persen mendekati sempurna. Dia harus bisa bersikap biasa saja dan mencoba menganggap bahwa tidak ada yang terjadi. Zionathan menatap Selena tanpa ekspresi, wajahnya yang datar dan dingin membuat Selena meremas tangannya erat-erat.
"Apa kabar, Selena?" Tanya Zionathan pelan hampir tidak terdengar Selena.
GLEK!
Selena menelan salivanya berulang kali. Ia menatap ke samping. Saat tatapan mereka bertemu lagi, perasaannya menjadi tidak tenang, ia gelisah dan tersiksa.
"Bukankah kau merindukan aku?" Tanya Zionathan tersenyum smrik.
Selena tidak tahan lagi. Ia tidak bisa meneruskan ini. Tiba-tiba Selena bangun dari duduknya. Menatap ayah dan ibunya dan termaksud orang tua Nathan. Ia menarik napasnya yang terbata-bata. Lalu berucap dengan tegas di sana.
"MAAF! SAYA TIDAK BISA MELANJUTKAN PERJODOHAN INI."
DEG!
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^