
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Suara mobil ambulance masih terdengar sepanjang jalan. Membelah jalan untuk mengejar waktu agar cepat tiba di rumah sakit. Tenaga medis melakukan pertolongan pertama. Memasang jarum infus ke tangan Selena. Cairan yang berfungsi sebagai asupan tambahan bagi tubuh Selena yang lemah.
Di dalam mobil Zionathan terus menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat khawatir dan sangat ketakutan. Zionathan menempelkan keningnya ke pelipis Selena. Berdoa dalam hatinya untuk keselamatan wanita yang dicintainya itu. Jantungnya terus berdetak dengan tempo yang cepat dan kuat.
Dddrrrttt Drrrttttt....!
Ponsel Zionathan bergetar. Ia melihat nama ibunya dilayar depan handphonenya. Zionathan mengangkatnya sebelum panggilan itu mati.
"Halo ibu," Sapa Zionathan mengusap sisa air mata yang belum terjatuh di pipinya.
"Kamu sudah dimana sayang?"
"Sekitar dua puluh menit lagi kami akan sampai di rumah sakit bu." sahut Zionathan menarik napasnya yang sesak. Ia berulang kali mencium tangan istrinya.
Suara tangisan Joanna terdengar di ujung telepon. Zionathan bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sekarang kami ada di apartemen diamond. Ibu membawa perlengkapan Selena." tangan Davina bergerak cepat memasukkan pakaian Selena ke dalam tas. Kepalanya dimiringkan menahan handphone di telinganya. "Ibu mertuamu sejak tadi pingsan. Saat sadar, Joana kembali menangis. Ibu tidak tahu lagi bagaimana caranya menenangkan ibu mertuamu, nak."
Zionathan mengembuskan napas berat, ia mengerti bagaimana perasaan ibu mertuanya saat ini. Ia sendiri saja melihat keadaan Selena, hatinya begitu sakit. Ketakutan semua keluarga sama seperti ketakutannya.
"Bagaimana keadaan Selena nak?"
Zionathan menatap sendu ke arah istrinya yang masih berbaring. "Selena ditemukan dalam keadaan pingsan bu. Kita akan cek semua, setiba di rumah sakit nanti."
"Baiklah sayang. Kita bertemu di rumah sakit. Ayahmu sudah menunggu."
"Baik Bu,"
TIT
Panggilan terputus.
Zionathan kembali menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Selena sayang, aku di sini. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Jadi aku mohon bertahanlah demi aku." Zionathan menangis lagi. "Kau harus bertahan sayang." ucap Zionathan berkali-kali sambil menangkup tangan Selena dengan kedua tangannya. Ia melonggarkan dan mengeratkan lagi secara terus menerus. Zionathan terus memohon kepada Selena untuk tetap kuat. Dan ia terus berdoa untuk keselamatan istrinya.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Suara sirene terus terdengar begitu nyaring membelah jalan. Terus menyusuri jalan perkotaan. hingga akhirnya mobil ambulance tiba di depan unit gawat darurat, rumah sakit terbesar di kota ini. Para tenaga medis sudah menunggu kedatangan pasien.
Setelah mengetahui kabar menantunya, Alberto langsung menghubungi direktur utama rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik kepada Selena.
Para tenaga medis dengan sigap membawa ranjang rumah sakit. Mereka mendorongnya merapat ke pintu mobil ambulance dan tubuh Selena cepat di pindahkan. Zionathan langsung mengikuti ranjang rumah sakit itu. Zionathan ingin menerobos masuk saat perawat membawa tubuh Selena masuk ke dalam UGD. Namun petugas langsung menghalangi Zionathan.
"Maaf pak, anda tidak bisa masuk."
"Tapi saya ingin memastikan keadaan istriku. Saya mohon biarkan saya masuk untuk melihatnya."
"Maaf pak, ini sesuai prosedur rumah sakit. Tolong serahkan kepada kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menolong pasien." ucap salah satu perawat masih tetap berdiri di depan pintu UGD.
__ADS_1
"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya. Aku mohon." Kata Zionathan dengan wajah memelas sendu.
"Baik pak." ucap perawat memberikan senyum terbaiknya.
Tiba-tiba ruangan itu tertutup. Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia begitu frustasi. Ia berjalan menuju kursi yang ada di dekat pintu itu. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Alex pun melangkah mendekat ke arah bosnya itu.
"Selamat pagi tuan," sapa Alex menunduk hormat.
Zionathan tidak menjawabnya. Ia hanya membuang napas sambil menutup matanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Zionathan mencengkram kepalanya sambil menunduk.
"Tadi kepala kepolisian menghubungi saya pak. Ternyata ada korban lain selain ibu Selena." ucap Alex sedikit takut.
Zionathan mengangkat wajahnya, menatap Alex dengan dahi mengerut. "Korban lain, apa maksudmu?"
"Maafkan saya pak." Alex membungkukkan badannya dan menahan posisinya cukup lama. Lalu Ia menegakkan badannya lagi. "Identitas korban sudah diketahui dan...." Alex menangguhkan kalimatnya.
"Dan apa Alex?" kejar Zionathan dengan wajah tegang. "Siapa dia? apa aku mengenalnya?"
Alex mulai merasakan ketakutan saat melihat ekspresi wajah dari bosnya itu. Ia tahu bagaimana perasaan tuannya saat ini. Rasa sakitnya berkali-kali lipat karena ia sangat membenci nama ini. Orang yang telah menghilangkan nyawa wanita yang pernah hadir dalam hidupnya, yang telah melukai hatinya. Jika ia mengatakan nama itu dalam situasi seperti ini. Alex seperti masuk ke dalam kuburnya sendiri.
"Siapa dia?" tanya Zionathan menekan perkataannya. Tangannya mengepal kuat, ia begitu marah ternyata ada korban lain selain Selena.
"Ma-maafkan saya pak. Beliau adalah tuan Ferdinand."
"Apa?" Ekspresi wajah Zionathan berubah.
"Ma-maaf pak, saya tidak bermaksud menyebut nama itu di depan anda." Alex merasa bersalah. "Tadi kepala kepolisian mengatakan bahwa tuan Ferdinand ditemukan tidak sadarkan diri."
Hening. Zionathan tidak menjawab. Tak juga berekspresi apa-apa. Zionathan menarik napasnya yang terasa sesak, Ia hanya tetap diam tanpa ekspresi. Matanya saja tak mengedip sama sekali. Hanya diam dan tak kunjung memandang Alex sama sekali.
Setelah lama terdiam, Zionathan kembali menghela napas singkat, menatap Alex tanpa ekspresi. "Sekarang, cari tahu kenapa Ferdinad ada bersama Selena. Cari sedetail mungkin, aku ingin tahu apakah Ferdinand sengaja mengajak istriku untuk bertemu Chesa."
Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. Tatapannya berubah kosong. Ia tidak ingin memikirkan hal lain. Sekarang ia hanya ingin fokus kepada istrinya saja. Zionathan berulang kali membuang napasnya dari mulutnya. Ia kembali larut dalam pikirannya.
Setelah beberapa saat muncul lagi Alex di sana.
"Pak?" Panggilannya dengan pelan. Ia datang membawa dua kopi di tangannya.
Zionathan mengangkat wajahnya. "Bukankah kamu sudah pergi?" Tanya Zionathan menautkan kedua alisnya.
"Saya tidak tega melihat anda seperti ini pak. Saya bawakan kopi untuk bapak, setidaknya kopi ini mengurangi rasa lelah anda." Alex mengulurkan tangannya dan menyerahkan kopi itu.
"Terima kasih." ucap Zionathan tersenyum tipis. Benar kata Alex kopi ini bisa membantunya saat ini. Bisa menghilangkan rasa lelah dan kantuknya.
Tidak beberapa lama Joanna, Davina dan Alberto pun datang. Mereka berjalan setengah berlari di koridor dengan wajah yang panik. Joanna dan Davina sudah menangis saat melihat Zionathan sudah duduk di sana.
"Zionathan," panggil Joanna dengan suara gemetar. Ia melangkah cepat agar tiba di depan ruang UGD.
Reflek Zionathan dan Alex bangun dari duduknya dan melihat ke arah sumber suara. "Ibu?" Zionathan langsung membuka tangannya dan memeluk ibu mertuanya dengan erat.
Alberto menjabat tangan Alex dan Davina hanya memberikan senyuman singkat kepada Alex. Posisi Davina berdiri di belakang Joanna. Menjaga sewaktu-waktu Joanna jatuh pingsan lagi.
"Bagaimana keadaan menantuku, sayang? Ibu sangat takut sampai tidak bisa bernapas dengan baik, kami terus memikirkan Selena." bahu Davina bergetar dan menangis melihat ke anaknya itu.
"Kita berdoa saja bu, semoga Selena dalam keadaan baik-baik saja. Dokter sekarang sedang menanganinya."
"Tapi Kenapa Selena belum keluar juga nak. Ibu sangat takut." ucap Joanna menangis lagi.
Mata Zionathan berkaca-kaca saat melihat ibu mertuanya menangis tersedu-sedu. Dia juga berharap Selena secepatnya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Ibu, semaunya akan baik-baik saja. Kita percaya Selena adalah seorang wanita yang kuat. Kita hanya tinggal menunggu dan bersabar." Zionathan menyentuh lengan Joanna dan mengajaknya duduk di kursi.
"Tapi ibu gak sabar nak." Joanna menangis menutup mulutnya.
"Kita serahkan ke dokter, kita tidak perlu khawatir lagi. Mereka bisa menanganinya." kata Davina menimpali dan duduk bersama Joanna di sana.
Alberto kembali menghela napas berat. Ia juga ikut sedih melihat situasi seperti ini. Menantunya dua hari tidak bisa ditemukan. Tentu membuat semua keluarga begitu panik dan takut. Alberto mendekat ke arah Zionathan dan memeluknya dengan singkat, memberikan semangat untuk anaknya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang ayah lihat. Kabarku baik ayah." Zionathan memberikan senyum terbaiknya.
Alberto tersenyum sambil menepuk bahu Zionathan. "Kau ingat Ferdinad?"
Zionathan mengerti maksud ucapan ayahnya. "Hmmm."
"Aku baru tahu ternyata Selena begitu dekat dengan Ferdinad. Ia ikut disekap oleh komplotan mafia dan dikurung terpisah dari Selena."
"Bagaimana ayah bisa tahu?"
"Axton Rey menceritakan semuanya, ia juga dilarikan ke rumah sakit. Tapi ayah tidak tahu rumah sakit mana."
Zionathan menatap lurus ke depan. Menarik napas singkat, lalu berbicara. "Nanti aku cari tahu, ayah. Aku juga penasaran, kenapa Ferdinand bisa bersama Selena. Apakah Chesa memang sengaja mempertemukan mereka."
Alberto menganggukkan kepalanya. "Itu lebih baik. Ayah yakin kau bisa berdamai dengan masa lalumu."
Setelah mengatakan itu, Alberto segera menyusul istrinya dan duduk bersama di depan ruangan UGD.
Sementara Zionathan masih menunggu di kursi tunggu. Tepat di depan ruang UGD. Pikirannya kalut. Matanya terus memandang kosong. Sesekali ia menatap pintu. Menunggu seseorang memberikan kabar untuknya.
Beberapa menit kemudian, setelah menunggu dengan perasaan cemas. Pintu ruangan itu terbuka. Para tenaga medis keluar dari sana bersama dengan Dokter yang menangani Selena. Ia tersenyum hangat saat keluarga pasien menyambutnya.
"Suami pasien?"
"Ya. Saya suaminya, dok!" Zionathan dengan cepat maju. "Bagaimana keadaan istri saya dok?"
Dokter tersenyum sambil menarik napasnya dalam-dalam. Menatap Zionathan dengan sejuta makna.
"Bagaimana keadaan anak saya dok, saya ibunya." tanya Joanna lagi. Ia dengan cepat mengusap air matanya, menatap Dokter itu dengan penuh harap, sambil mengunci tangannya di depan dada. Alberto bangkit dari duduknya, langsung ikut berdiri menyusul istrinya dari belakang. Sementara Alex ikut berdiri dan menunggu keterangan dari Dokter mengenai Selena.
"Saya rasa lebih baik kita bicara di ruanganku saja. Biarkan pasien di pindahkan ke ruang rawat untuk melakukan perawatan selanjutnya."
"Baik dokter, silakan!" kata Alberto mengangguk setuju. Mereka memberikan jalan untuk dokter yang menangani Selena.
"Sekarang antar pasien ke ruang recovery." perintah dokter itu kepada perawatnya. "Dan suami pasien bisa ikut dengan saya."
"Baik, dokter...." Jawab Zionathan mengangguk.
Para tenaga medis dengan sigap mendorong hospital bad menuju ruangan recovery. Sementara Alberto, Joanna dan Davina dengan cepat mengikuti perawat itu.
BERSAMBUNG
^_^
Hmmm 🤔 kira-kira apa yang akan dikatakan dokter ya? penasaran? ikuti terus ya 😘😘
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1