
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
BANDAR UDARA INTERNASIONAL.
Mereka sudah tiba di bandara, Alex langsung mengeluarkan koper yang ada di bagasi dan menariknya berada di dekat Selena.
"Terima kasih pak Alex." Selena tersenyum. Ia memegang ujung koper itu.
"Sampai bertemu kembali Sekertaris Selena. Sampaikan salamku kepada pak direktur, semoga beliau cepat sembuh dan kembali dalam keadaan sehat." Kata Alex mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Selena.
Selena dengan cepat menyambutnya. "Nanti saya akan sampaikan pesan anda. Terima kasih sudah mau direpotkan." Kata Selena tersenyum kepada pak Alex.
Kembali Bunyi pembuka terdengar bergema di bandar udara. Selena berjalan menuju pintu gerbang keberangkatan. Ia mendorong kopernya. Langkah Selena begitu pelan, sampai di depan pintu gerbang. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat pak Alex masih berdiri di sana. Selena tersenyum dan melambaikan tangannya kembali. Ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Lalu ia memberikan tiketnya pada petugas pemeriksa melakukan check in. Selena berdiri mengantri di pemeriksaan pintu keberangkatan sambil memasang syal yang diberikan ibu mertuanya tadi. Bibirnya mengulas senyum manis.
"Seandainya pak direktur baiknya seperti ayah Alberto, mungkin aku menjadi wanita beruntung di dunia ini. Dia akan menghargaiku sebagai wanita. Tapi kenyataannya tidak seperti itu." Selena mendesah di ujung kalimatnya.
Setelah melalui tahap itu, Ia tidak memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Selena akan memasukkannya ke dalam kabin pesawat. Karena, Ia tidak mau menunggu lama jika sudah mendarat di London.
Selena melangkahkan kakinya masuk menuju pesawat. Ia duduk di kelas bisnis. Selena langsung menggunakan sabuk pengaman tanpa menunggu instruksi dari pramugari. Setelah semuanya aman, Selena menarik napasnya dalam-dalam. Baru kali ini ia melakukan penerbangan jauh. Benar-benar deg-degan sekali. Semoga penerbangannya lancar dan tidak kekurangan apapun. Zionathan pun bisa menerimanya, karena tujuan datang ke sini bukan untuk liburan. Tapi merawat pak direktur yang sedang sakit. Setidaknya Selena tidak ingin mengecewakan ibu mertuanya.
Selena melayangkan tatapannya ke arah luar. Sepertinya bintang-bintang akan menemani perjalanannya malam ini. Tepat pukul delapan Pesawat mulai bergerak, dan beberapa menit kemudian benda baja itu sudah terangkat dan berada di atas jalur. Selena memejamkan matanya ketika pesawat sudah terbang ke udara.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐
“Ladies and gentlemen, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja anda berada dalam posisi tegak. Dan pastikan juga sabuk pengaman anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan anda, atau di penyimpanan atas. Terima kasih.”
Pengumuman itu terdengar begitu merdu di telinga Selena. Ia perlahan-lahan membuka matanya sambil melihat jam. Ahhhh ..ternyata sudah pagi. Selena menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali. Setelah penerbangan cukup panjang, bahkan hari sudah berganti pagi.
"Untuk keselamatan dan kenyamanan Anda, mohon tetap duduk dengan memakai sabuk pengaman Anda."
Kata-kata yang biasa diucapkan oleh salah satu pramugari jika pesawat akan landing. Semua hening menunggu saat pesawat mendarat dengan sempurna. Dengung pesawat mulai terdengar jelas. Lampu-lampu di kabin mulai dipadamkan sebagian, sebagai prosedur standar keselamatan untuk membuat mata para penumpangnya menyesuaikannya dengan keadaan dan para awak kabin dapat lebih jelas memantau keadaan di luar pesawat.
Setelah penerbangan yang cukup panjang, Pesawat Boeing xx melakukan pendaratan di Bandar Udara Heathrow London. Selena menghembuskan napas lega. Penerbangannya aman dan tidak kurang suatu apapun.
"Atas nama seluruh kru, kami ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!”
Selena berjalan ke depan pintu, terdengar sapaan ramah 'Terima kasih dan sampai jumpa' dari dua orang pramugari yang berdiri di dekat pintu keluar. Selena terus berjalan di ujung pintu pesawat yang terhubung dengan pintu terowongan menuju airport. Ia berjalan santai dan mengedarkan pandangannya. Udara dingin langsung menembus kulitnya. Salju langsung turun menyambutnya. Selena tersenyum, ia melangkah dengan semangat.
Perlahan-lahan mulut dan mata Selena terbuka lebar. "Haaa....Hujan salju?"
Baru kali ini ia melihat salju. Mata Selena berbinar bahagia. Ia sampai menyentuh kaca dan melompat kecil-kecil di sana. Ia menatap butiran-butiran salju bergulir dari langit, jatuh perlahan memutihkan jalanan di sekitar bandara.
Cahaya yang terpantul di permukaan salju membuat warnanya terlihat putih dan sudut salju memantulkan cahaya ke berbagai arah sehingga menyebarkan seluruh spektrum warna. "Benar-benar indah."
__ADS_1
Karena penerbangan luar negeri. Ia harus melalui proses pemeriksaan imigrasi. Setelah memberikan pasport dan dari form imigrasi yang di isinya dari pesawat tadi. Selena langsung keluar dari pintu kedatangan dan mendorong kopernya.
"Permisi nona!" Sapa seorang lelaki dari arah belakangnya.
Selena berpaling ke arah orang yang memanggilnya. "Hmmmm, ya?" Dan beberapa detik kemudian tangan Selena mengacung ke atas. Ia mengingat pesan dari ayah mertuanya. "Anda orang Lucius, kan?!"
"Ya betul. Saya utusan dari tuan Alberto. Apakah anda istri dari pak Zionathan?"tanya pria itu dengan sopan.
Mata Selena terbelalak dan reflek mengarahkan jari telunjuknya ke mulut. "Sssstttttt... pelan-pelan pak." bisik Selena sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
"Heuh?" pria itu sontak ikut menoleh ke kiri dan ke kanan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Suaranya jangan keras-keras pak nanti ada dengar."
"Ma-maksudnya?" Pria itu mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tak mengerti maksud Selena.
Sepersekian detik Selena sadar, "Ahhhhh....." Ia kemudian tertawa. "Maaf pak, saya pikir ini negara saya." Ucapnya Selena tersenyum. Namun dalam hati ia menggeram sambil memalingkan wajahnya. "Astaga, bagaimana bisa kamu sebodoh ini Selena. Kamu terlalu dihantui pak direktur sih. Bodoh...bodoh....!" Selena mengumpat dirinya.
"Perkenalkan nama saya Steven." Pria itu mengulurkan tangannya menjabat tangan Selena. "Selama anda disini, saya yang membantu anda." Kata Steven tersenyum ramah dan melepaskan jabatan tangannya.
"Saya Selena Gwyneth pak. Terima kasih sudah bersedia direpotkan pak." jawab Selena membalas senyuman itu.
"Silakan ikut saya nona, saya akan mengantar anda langsung ke rumah sakit."
"Baik pak."
Selena berjalan mengikuti pria itu dan mereka melangkah menuju mobil dan meninggalkan bandara. Steven langsung menuju rumah sakit St Thomas.
"Apa anda baru pertama kali ke London nona? " Tanya Steven lewat kaca spion dari tengah mobil.
"Tuan Zionathan orangnya baik nona. Ia sering membantu keluarga saya jika dia berkunjung ke sini."
"Baik dari mananya? Anda salah pak, dia bukan baik, dia itu monster."
"Jadi jangan sungkan-sungkan menghubungi saya, jika ingin memerlukan bantuan dari saya nona." Steven mengingatkan.
Selena hanya tersenyum menganggukkan kepalanya. "Terima kasih pak." jawabnya kemudian.
Tidak ada pembicaraan lagi, Selena hanya bisa diam menikmati perjalanannya. Terlihat jembatan bentuknya melengkung dengan latar belakang bangunan tinggi khas London. Selena juga dapat melihat sungai Thames yang menarik. Pagi hari yang begitu dingin membuat pejalan kaki memeluk dirinya, namun mereka tetap semangat menjalankan aktifitasnya.
Selena menikmati suasana pagi yang berbeda di sambut dengan hujan salju. Ia menarik napasnya dalam-dalam, hatinya rada-rada cemas mengingat bagaimana pertemuannya nanti dengan suaminya. Selena melemparkan tatapannya ke arah luar. Menikmati hujan salju dari dalam mobil. Meski belum lebat, salju tipis telah menyapa kota ini.
Huffft Selena berulang kali mengembuskan napasnya. Tapi debaran jantungnya masih berdegup kencang.
"Huffft...."
"Tenang Selena... tenang..." Selena mengembuskan napasnya lagi. "Seperti apapun sikapnya nanti. Kau harus tetap bersikap baik." Selena terus meyakinkan dirinya.
Mobil berwarna hitam memasuki parkiran rumah sakit St.Thomas yang terletak di seberang sungai Thames yang berlawanan dari gedung parlemen di Inggris.
Steven dan Selena langsung turun dan berjalan cepat menuju resepsionis.
__ADS_1
"Pasien Zionathan Lucius ada di ruangan berapa suter?" Tanya Steven.
"Ohhh...tunggu sebentar ya pak." Perawat langsung melihat daftar nama pasien.
"Pasien ada di lantai sembilan, nomor 19. Paling ujung." Jelas satu perawat yang berjaga di sana
"Terimakasih suster." Sahut Steven beranjak meninggalkan loby rumah sakit. Mereka langsung berjalan menuju pintu lift dan langsung ke lantai sembilan seperti yang dijelaskan perawat tadi. Selena mengikuti langkah pria itu.
Jantungnya berdetak semakin kencang, terpicu sangat cepat. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi. Saat ini perasannya campur aduk. Selena takut ditolak dan diusir pria arogan itu. Sementara ia tidak tahu London. Tiba-tiba Steven menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan kelas VIP dimana Zionathan di rawat.
"Karena anda sudah di sini, sepertinya saya harus kembali nona. Jika anda perlu bantuan, bisa langsung menghubungi saya." Steven menyerahkan tas Selena dan kemudian memberikan kartu namanya kepada Selena.
Selena mengambil kartu nama itu. "Terima kasih pak."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
Selena mengangguk dan membiarkan pria meninggalkannya. Selena kembali menghadap pintu kamar itu. Ia menahan sekejap tangannya di kenop pintu. Selena hanya diam sambil meremas kenop pintu, namun tak kunjung membukanya. Ia kembali melakukan ritualnya, menarik napas, lalu menghembuskannya.
CEKLEK!
Pintu itu terbuka.
Selena melangkah dengan perlahan. Semaksimal mungkin meminimalisasi suara dari derap langkah kakinya. Zionathan nampak tertidur di sana. Selena meletakkan tas yang dibawanya tadi. Lalu melangkah mendekat ke arah ranjang rumah sakit dan menatap Zionathan. Tangannya tertancap jarum infus. Dan selang oksigen masih berdiam di hidung pria yang kini sudah menjadi suaminya.
"Baru dua hari sakit, badannya sudah terlihat kurus, wajahnya juga terlihat tirus." ucap Selena menatap Zionathan dengan perihatin.
Rambut Zionathan terangkat ke atas pada bantal. Napasnya berembus stabil, lembut tanpa dengkuran. Ia benar-benar tertidur nyenyak hingga tidak menyadari kehadirannya. Tanpa sadar Selena tersenyum.
"Sebelum monster bangun, lebih baik aku membersihkan tubuhku dulu."
Langkah Selena tiba-tiba berhenti. "Astaga aku lupa, aku belum menghubungi ibu Davina."
Selena langsung mengambil handphonenya dan mengatakan bahwa dia sudah tiba di London. Karena tidak ingin menganggu pak direktur, akhirnya Selena mengambil beberapa foto dan mengirimkannya ke ibu Davina.
Selena memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Ia sudah selesai melakukannya. Dokter yang berjaga juga sudah datang untuk memeriksa Zionathan. Dokter tersebut menjelaskannya beberapa hal kepada Selena. Setelah itu Dokter meninggalkan ruangan.
Selena mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang rumah sakit. Ia merapikan selimut Zionathan agar menutupi seluruh tubuhnya dengan baik. Selena mulai bosan, rasa ngantuk menguasainya. Ia membuang rasa bosannya. Selena membaca novel yang ada di aplikasi handphonenya. Tidak juga membantu. Akhirnya Selena tertidur dengan posisi duduk dan menelungkup di samping ranjang Zionathan.
Tak beberapa lama, Zionathan perlahan-lahan membuka matanya, pertama kali yang dilihatnya adalah dinding kamar rumah sakit. Dan kemudian dahinya mengernyit saat melihat seorang wanita tertidur di samping ranjangnya. Wanita itu berbantal pada lengannya dengan wajah menyamping.
DEG!
"OLIVIA?"
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^