Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MENYELESAIKAN PEKERJAAN.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Begitu di luar pintu Selena menegakkan badannya. Ia menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Selena kembali melangkah menuju pantry. Membuatkan teh hangat untuk tamu pak direktur.


DI DALAM PANTRY.


Hati Selena tidak bisa tenang saat mengingat perkataan Zionathan. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar, tangannya mengepal kuat. Selena mencondongkan tubuhnya dan memegang sisi meja. Lagi-lagi ia menghembuskan napas sampai anak-anak rambutnya berterbangan.


"Dia bilang apa?" Selena kembali menegakkan badannya. Ia berkacak pinggang sambil mengeluarkan suara decakan.


"Aku sekertaris tidak tahu apa-apa? Jadi selama ini dia menganggapku bodoh." Dadanya terlihat naik turun, karena napas yang tidak beraturan.


"Ohhhh...begitu ya, pantas saja lelaki itu selalu merendahkanku. Seenak jidatnya berbicara tanpa memikirkan perasaan orang." Selena menggeram, menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka.


"Dasar tak punya hati. Seharusnya kau tidak menghinaku di depan wanita itu." Napas Selena semakin memburu. Ia mencoba menarik satu-satu napasnya, menjepit bibirnya.


"Aaaarrrggh..." Selena menggeram.


Perkataan Zionathan menghunus tajam ke dadanya dan parahnya lagi kata-kata itu terus terngiang.


Huftt... Selena membuang napas frustrasi. Mencoba menenangkan dirinya kembali.


"Lihat saja, aku akan membalasnya tanpa ampun. Jangan katakan aku Selena pengecut ya." Ucapnya terus berbicara.


Bunyi gelas dan sendok terdengar ribut, bunyinya menggema di dalam pantry. Seakan mewakili perasaan Selena yang tersakiti. Selena menarik napasnya dan menghembuskan-nya lagi. Berusaha menenangkan dirinya yang terlihat kacau. Ia pun menyelesaikan membuat dua cangkir minuman hangat.


Setelah puas mengumpat Zionathan, Ia berjalan membawa baki dan dua kelas di atasnya yang berisikan teh hangat.


TOK TOK TOK


"Permisi, pak." Selena mengintip di ujung pintu dan kembali bersikap biasa saja.


"Hmm. Masuk! " kata Zionathan dari dalam, ia masih terlihat serius berbicara dengan wanita cantik itu.


Selena harus tetap bersikap profesional. Bahkan dari senyum ramahnya mencerminkan kepribadiannya. Selena berusaha mengembalikan pikiran rasional di atas perasaannya. Ia tidak akan membiarkan hal-hal pribadi mencampuri urusan pekerjaannya.


"Saya sudah buatkan minumannya pak." Kata Selena dengan ramah.


"Taruh saja di sini," jawab Zionathan datar.


"Ehmm, terima kasih ya." Kata Felicia memandang sekilas, kemudian menatap ke arah Zionathan lagi. "Please Zio, bantu aku kali ini aja, hmm..."


"Aku tidak bisa, Feli." Zionathan tetap dengan pendiriannya.


"Apa yang kau takutkan. Bukankah kau belum menikah? Oh tidak, jangankan menikah, pacar aja tidak punya. Aku rasa ini kesempatanmu. Jadi bantu aku dong, please!" Wajah Felicia memelas sendu.


Selena berulang kali menelan salivanya saat mendengar pembicaraan mereka. Sepanjang Felicia berbicara, Zionathan tidak melepaskan tatapannya kepada Selena.


"Baiklah. Nanti aku pikirkan lagi."


Wajah Felicia berbinar bahagia. "Kamu serius?"


"Hmm. Tapi aku tidak janji."


"Kabari aku kalau kau berubah pikiran." Kata Felicia lagi.


"Silakan di minum, saya buatkan teh sesuai pesanan anda."


Saat mencium aroma teh yang menusuk hidungnya. Raut wajah Felicia langsung berubah. "Aduh maaf ya, saya tidak suka minum teh melati. Mencium aromanya saja buat saya pusing. Tolong singkirkan."


Selena mengerutkan dahinya. "Oh, begitu ya." Kata Selena memaksa bibirnya untuk tersenyum. Namun ia tak juga beranjak dari tempatnya untuk menyikirkan minuman itu. Konsentrasinya seakan pecah. Tidak tahu apa yang dipikirkannya.


"Kenapa diam saja, apa kamu gak dengar. Tolong singkirkan teh ini." Felicia menutup hidungnya.


Zionathan mengangkat wajahnya menatap Selena terdiam terpaku di sana. Ia menaikkan sedikit sudut bibirnya melihat ekspresi Selena.

__ADS_1


"Tolong bawa ini..." Felicia menggeser minumannya dengan kasar "Mencium nya saja, saya tambah pusing." protesnya sambil mengeluarkan decakan.


"Tadi dia bilang terserah, giliran saya buat teh. Banyak banget alasannya." Selena memutar bola matanya.


"Apa yang kau tunggu sekretaris Selena. Jangan pasang tampang bodohmu di sini. Kau hanya tinggal bawa teh ini saja." Kata Zionathan.


"Baik pak." Kata Selena mencengkram baki yang ada di tangannya. Ia mengambil minuman itu kembali.


"Sekretarismu tidak cekatan ya. Kenapa perusahaan bisa menjadikannya sekretaris. Apa tidak ada kandidat lain?" Kata Felicia menatap Selena sekilas.


Selena menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia menutup matanya sekejap dan melangkah meninggalkan ruangan pak direktur. Selena langsung menuju mejanya. Ia menatap lesu mi instan yang diseduhnya tadi. Selena tak berselera lagi. Ia memilih melanjutkan pekerjaannya.


TIGA PULUH MENIT TELAH BERLALU.


Felicia bangun dari duduknya dan tersenyum kepada Zionathan.


"Terima kasih atas pertemuan ini. Senang rasanya berkunjung ke perusahaan Lucius." Ucap Felicia dengan nada manja.


Zionathan ikut bangun dari duduknya dan membalas senyuman itu. "Sama-sama Felicia."


"Jangan lupa untuk menelponku, ya?"


"Hmm." Zionathan hanya mengangguk dan membiarkan Felicia meninggalkan ruangannya.


Tak beberapa lama, Alex mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Itu.


"Permisi pak," Sapa Alex dengan sopan.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Zionathan sudah duduk di kursi kekuasaannya. Ia kini tengah serius membaca dokumen sebelum pergi meninjau lokasi proyek baru.


"Sudah pak," jawab Alex cepat. "Sebelumnya anda harus menandatangani beberapa berkas untuk kita bawa, pak."


"Oke, saya tunggu sekarang berkasnya." Ucap Zionathan tanpa memandang ke arah Alex.


"Baik pak."


Alex keluar dan meminta Selena untuk mempersiapkan berkas yang mau di tandatangani pak direktur. Alex kembali keruangan itu lagi.


Alex mengetuk pintu besar berbahan kayu jati di depannya, kemudian perlahan mendorong pintu lalu melangkahkan kakinya untuk masuk mendekati meja Zionathan.


"Ini berkasnya sudah lengkap semua, bapak bisa langsung menandatanganinya." tutur Alex sambil merapikan berkas yang baru saja diperiksanya dan melekatkan di atas meja.


"Baik Alex terimakasih. Tunggu tiga puluh menit lagi." Ucap Zionathan.


"Baik pak."


Alex langsung pamit undur diri. Ia langsung menuju meja Selena sembari menunggu pak direktur selesai menandatangani berkas yang dibawanya tadi dan menunggu perintah selanjutnya.


10 menit...


20 menit...


Alex masih duduk menunggu dan menyelesaikan sisa tugasnya di meja Selena.


"Kenapa pak direktur belum keluar ya?" tanya Alex menatap sekilas ke arah Selena.


"Jangan-jangan pak direktur sudah pingsan lagi."


"Pak direktur itu tidak pernah sakit hanya karena lelah bekerja." Ucap Alex tersenyum.


"Buktinya dia pernah sakit pak."


"Itu karena pak direktur salah makan."


"Tetap saja, masa tubuhnya gak bisa melawan racun." Kata Selena tanpa beban.


Alex terkekeh. "Kamu sepertinya kesal Selena. Apa terjadi sesuatu?"


"Bukan terjadi sesuatu lagi pak, aku bahkan kesal saat melihat wajah pak direktur."


"Apa kamu cemburu?"


Raut wajah Selena berubah, "Cemburu apanya pak, jangan sembarangan."

__ADS_1


"Kalau saja, tidak salah kan? Soalnya kalian sudah menjadi pasangan suami-istri."


Selena tersenyum malas, ia memilih tidak menjawab. Ia hanya tetap fokus menatap laptopnya.


Sesekali Alex mencuri pandang ke arah pintu. Tapi pak direktur belum ada tanda keluar dari sana.


Mata mereka mengerjap beberapa kali. Tiba-tiba suara pintu terbuka dan pak direktur sudah siap meninjau lokasi.


"Saya akan meninjau lokasi. Kau tetap menjaga mejamu. Ini tugasmu dan ini juga. Kau harus menyelesaikan secepatnya." Kata Zionathan penuh perintah.


"Baik pak." jawab Selena dengan wajah datar.


"Itu salah satu hukumanmu. Semakin cepat kau menyelesaikannya. Semakin cepat kau bisa pulang dan menyelesaikan hukumanmu selanjutnya."


Alex mengerutkan keningnya. Menatap Selena seakan mencari jawaban.


"Baik pak." Jawab Selena pasrah. Toh yang berkuasa adalah dia. Selena tidak bisa membantah.


Zionathan pun melangkahkan yang diikuti Alex. Sementara Selena mengembuskan napas panjang saat melihat tumpukan pekerjaan yang diberikan pak direktur kepadanya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Beberapa tim bergerak cepat meninjau langsung ke lokasi bangunan yang baru di mulai. Bangunan yang ada dipinggir kota agak jauh dari perkotaan. Butuh tiga jam waktu ke sana. Survey lapangan ini meliputi semua jenis item kontrak yang berkaitan dengan uraian jenis pekerjaan, volume kebutuhan lapangan, maupun semua data-data yang menyangkut lokasi. Beberapa tim ikut terlibat dalam mengurus proyek ini. Survey kondisi awal semua item pekerjaan di lapangan secara detail selama periode pekerjaan. Mereka sangat luar biasa bekerja keras dalam melaksanakan pembangunan ini dengan baik. Tim dari London sendiri datang untuk melihat satu lagi masa depan LUCIUS.


Zionathan memberi peluang besar membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan pekerjaan. Ia dan bersama tim yang lain berjalan memasuki area bangunan. Seseorang pria datang menyambut kedatangan mereka.


"Selamat sore Pak! " Sambut pria itu membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada direktur utama Lucius. Lalu menjabat tangan dengan genggaman erat.


"Selamat sore juga pak." Kata Zionathan mengulurkan tangannya untuk menjabat pria sebagai penanggung jawab atas proyek ini.


"Bagaimana proyeknya apa ada masalah? " Tanya Zionathan menatap bangunan yang tersaji di hadapannya.


"Semuanya berjalan dengan baik pak, tidak ada masalah sama sekali. Sesuai permintaan anda proyek ini akan selesai secepatnya."


"Bisa saya berjalan untuk melihatnya?"


"Tentu saja pak, silahkan! " Penanggung jawab proyek mempersilahkan Zionathan melihat lokasi proyek.


Mereka berjalan beriringan dan terlihat serius melihat bangunan dan sesekali menatap gambar. Ia meminta sebuah bentuk laporan dari semua item pekerjaan dengan tujuan untuk mengetahui setiap perbandingan antara volume kontrak kerja dengan kajian atau perhitungan teknis yang sudah dilaksanakan. Alex ikut memberikan usul dan saran mengenai pembangunan itu.


"Oke pak, anda tinggal menyerahkan laporan lengkap mengenai detail pelaksanaan pada setiap pembayaran pekerjaan. Selain itu, penyedia jasa juga menyampaikan detail dari hasil survey lapangan. Laporannya bisa langsung kirim melalui email saya saja." Kata Zionathan menutup berkas yang ia pegang.


"Baik pak," jawab pria itu dengan cepat.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Selena nampak serius menyelesaikan pekerjaannya. Hingga waktu bergulir dengan cepat. Pekerjaan yang masih menumpuk mengharuskan Selena harus bisa menyelesaikannya.


"Huuufttt...." Selena mengembuskan napas panjang.


Ia menatap sekilas ke arah luar. Tiba-tiba awan mendung. Langit yang biasanya menampakkan diri dengan indah berubah dipenuhi awan pekat menakutkan. Hujan deras pun menjatuhkan bulir-bulir air tanpa henti, membawa semburat cahaya putih dan membasahi setiap jengkal tanah.


Selena benar-benar terperangkap di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi hujan tak juga reda. Bahkan bertambah deras. Selena teringat, bahwa tadi pagi ia berangkat menggunakan taksi.


"Jangan mati lampu dong, please..." Selena berdoa dalam hati. Ia masih bergelut dengan pekerjaannya.


Namun tiba-tiba ruangan itu gelap. Jantung Selena terpukul kencang. Ia reflek menutup mata dan telinganya. Ia mulai merasa ruangan itu mulai menciut dan kegelapan di sekitarnya serasa menindih tubuh Selena. Ia mulai sesak napas. Pipinya basah oleh air mata. Mulutnya hanya diam, tetapi kata hatinya berkata-kata meminta pertolongan.


Hening...


Sangat hening..


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2