Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
ACARA REUNIAN.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Acara reunian diadakan di tempat hotel berbintang lima, dimana Felicia pernah mengadakan acara ulang tahun di tempat ini juga. Lokasinya sama diadakan di taman belakang. Tempat ini mengingatkan Zionathan pada Olivia. Hatinya kembali remuk dan terasa tersayat. Begitu pedih dan membuatnya tak berdaya. Pandangan Zionathan berkabut sesaat. Kepalanya tiba-tiba sakit. Ia duduk di pojok taman yang kebetulan di sana hanya ada lampu remang-remang. Zionathan memegang kepalanya dengan erat. Tempat ini seakan memancing jiwa lemahnya lagi.


He, heeeee, Zionathan bernapas lewat mulutnya. Mencoba memasukkan sebanyak mungkin oksigen ke paru-parunya. Tubuh Zionathan hampir saja kalah dengan jiwa. Namun Ia berusaha untuk melawannya dan kembali tersadar. Ia menarik napasnya, mencoba menenangkan diri.


"Banyak tempat, kenapa harus tempat ini? Apa dia sengaja melakukannya?" Ucap Zionathan menggerutuk.


Zionathan berdiri enam meter dari tempat pertemuan mereka. Menyendiri di sana sambil menunggu Felicia. Tidak berani mendekat. Walau kerinduan pada teman seperjuangan sudah tidak dapat dibendung. Ia menatap lekat petak tempat temannya berkumpul. Beberapa wajah masih ia ingat, meski samar. Tapi kebanyakan asing. Entah karena lupa, atau mereka memang orang asing yang menjadi pasangan pesta di sana.


Bertahun-tahun tersekat jarak, pertemuan selalu menjadi momen istimewa untuk mengingat masa silam. Saling bersabar coba manfaatkan pertemuan yang sangat sulit dijadwalkan. Masing-masing, saling membusungkan dada, menunjukkan pada dunia bahwa mereka telah mencapai puncak kesuksesan dan tidak ingin tersaingi oleh yang lain.


SEMENTARA ITU FERDINAND DAN SELENA DALAM PERJALANAN.


Ban mobil terus berputar, mereka melaju menyusuri jalan. Mereka hanya diam menikmati suasana perjalanan yang tenang. Saling melempar senyum. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba di hotel ternama di kota ini.


"Kita sudah sampai." Ucap Ferdinand sambil menarik rem tangan.


Selena langsung melepaskan sabuk pengamannya dan menunggu Ferdinand membuka pintu untuknya. Ia tersenyum melihat Ferdinand mengitari mobil dan membuka pintu, lalu menekuk tangan kirinya mempersilakan wanita itu untuk menggandeng tangannya.


"Silakan nona cantik..." kata Ferdinand.


"Terima kasih tuan." Selena sedikit menunduk, lalu tersenyum menyambut tangan Ferdinand.


Seorang pelayan menyambut mereka dan mengarahkan tamu langsung ke taman belakang. Mereka terus melangkah mengikuti pelayan itu menuju tempat acara reunian yang terkesan mewah itu.


Hingga mereka sampai di taman yang begitu luas dengan dipenuhi dekorasi yang sangat cantik. Dekorasi glamor di setiap sudut taman benar-benar indah sekali. Ada tambahan lampu dan lilin sebagai penerangan untuk menambah suasana menjadi tetap kesan hangat dan romantis. Lilin ditambahkan sebagai hiasan pada meja makan. Rangkaian bunga yang tersebar di setiap sudut dan halaman belakang menjadi lebih cantik. Sementara pada meja dan kursi di hias dengan pita dan kain berwarna senada dengan tema garden.


"Wow, acara reunian saja semewah ini. Luar biasa!" pekik hati Selena begitu takjub.


Tak hanya ada hiasan bunga-bunga segar saja, ada dekorasi balon juga dan ranting-ranting kering sebagai hiasan.


"Astaga tempat ini indah sekali." ucap Selena merekahkan senyum, takjub.


"Hmm...tentu saja, teman-teman memberikan sumbangan untuk memeriahkan acara ini."


"Ha? benarkah?"


"Hmm, kau mau tahu berapa? sekitar dua ratus juta."


Selena menutup mulutnya karena terkejut. "Wow.. kalian benar-benar luar biasa."


Ferdinand hanya terkekeh melihat ekspresi lucu dari Selena. Ia meraih tangan Selena, melangkah bersama mengambil tempat duduk, sebelum acara di mulai.


Rangkaian acara telah dimulai, sehingga taman ini berubah menjadi ramai seketika. Canda tawa mereka memancarkan aura kebahagiaan. Dan suasana seperti inilah yang Ferdinand rindukan. Meskipun di Jepang, Ia memiliki banyak teman yang asyik seperti di sini. Namun, tetap saja terasa berbeda. Kenanganlah yang membuatnya berbeda. Lagi pula setiap orang memiliki sifat berbeda sehingga menciptakan suasana yang berbeda pula.


"Sebentar biar aku ambilkan minuman." Bisik Ferdinand ke telinga Selena. Suara dentuman musik membuat Selena hanya menganggukkan kepalanya saja.


Ferdinand melangkah ke meja untuk mengambil minum karena tenggorokannya terasa kering. Ketika minum Ia mengamati teman-temannya satu persatu. Ferdinand menyadari bahwa tidak ada Zionathan di sini. Karena penasaran, Ia bertanya dengan Felicia yang kebetulan tengah mengambil minuman juga di sana.

__ADS_1


“Felicia, Zionathan gak hadir ya? Kok aku dari tadi gak melihat batang hidungnya sama sekali.” tanya Ferdinand menganggap Zionathan masih seperti sahabatnya dan memang seperti tidak terjadi apa-apa.


"Uuhukkkk...! Uuhukkk...!" Felicia tersedak, wajahnya berubah merah saat melihat Ferdinand berdiri di depannya.


"Felicia, kamu tidak apa-apa?" dengan cepat Ferdinand mengambil tissue yang ada di atas meja.


Dengan cepat Felicia menoleh ke kiri dan ke kanan. "Astaga ... bisa mampus aku, kalau Zionathan tahu, Ferdinand ternyata ada." Wajah Felicia meringis seperti mau menangis. Ia masih terdiam gelisah di sana.


"Felicia, kau tidak apa-apa?" ulang Ferdinand kembali sambil menyentuh lengan Felicia. Ia memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Wanita itu secara dekat.


"Maaf, aku tidak apa-apa." Felicia membuang mukanya setelah mengambil tissue dari tangan Ferdinand.


"Sungguh, kau tidak apa-apa. Wajahmu sempat merah. Aku takut minuman anggur itu masuk ke dalam paru-paru mu."


"Aku bilang aku tidak apa-apa. Jangan memperbesar masalah. Lagian bukankah kau mengatakan tidak datang ke acara ini." Keluh Felicia menatap malas kepada Ferdinand. "Bisa berantakan semua rencanaku." Felicia menggeram dalam hati.


"Ya, aku memang mengatakan itu. Tapi karena ayahku sakit dan aku terpaksa pulang. Kamu kok kesal ya. Lagian tidak salahkan ikut ke acara ini?"


"Seharusnya kamu bilang di grup dong." protes Felicia tidak terima.


Dahi Ferdinand mengerut saat melihat reaksi wajah Felicia yang tidak mengenakkan hatinya. "Kamu gak suka aku datang ke acara ini?"


"Bukan tidak suka, tapi ..."


"Apa Zionathan ada di sini?" Potong Ferdinand menatap lekat ke arah Felicia. Kegelisahan wanita itu terlihat jelas.


"Aku tidak tahu," Kata Felicia ketus.


"Berarti dugaanku benar, Zionathan ada di sini."


"Felicia..." Panggil Ferdinand lagi.


Felicia tak perduli, ia hanya terus pergi menjauh dari Ferdinand.


"Astaga, ada apa dengan dia?" Ferdinand mengembuskan napas panjang. Ia kesal melihat sikap Felicia. Setelah mengambil minuman, ia kembali ke meja. Namun dahinya mengerut saat melihat Selena tidak ada.


Ferdinand bertanya kepada pelayan wanita yang kebetulan berdiri di sampingnya. "Kau melihat wanita yang duduk di sini, gak?"


"Maksud anda wanita yang menggunakan gaun berwarna biru itu ya?"


"Ya, betul."


"Dia sepertinya ke toilet, tuan."


"Oke, terima kasih." ucap Ferdinand tersenyum dan kembali duduk ke kursinya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Saat di tengah acara, Zionathan sudah dibuat penasaran saat melihat ada wanita yang mirip dengan istrinya. Ia terlihat cantik dengan gaun yang membalut indah di tubuhnya. Namun saat menangkap sosok itu lagi, alis Zionathan mengernyit. Ternyata wanita itu adalah benar-benar istrinya. Dan lelaki itu?


DEG!


Jantung Zionathan seketika langsung terpukul kencang saat melihat istrinya bersama Ferdinand. Matanya terbelalak tak percaya.


"Jadi Ferdi itu Ferdinand?"


Tangannya langsung terasa dingin. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya resah. Zionathan berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam, saat Ferdinand memperlakukan Selena seperti wanita paling berharga di sana. Dan yang membuat Zionathan tidak terima, Selena bahkan terlihat santai dan tenang. Ia tersenyum merasa dirinya paling bahagia di dunia. Bahkan saat melihat itu rasa-rasanya Zionathan tidak sanggup.

__ADS_1


Ia tidak terima, saat lelaki bersama dengan Selena adalah Ferdinand. Lelaki yang merenggut kebahagiaannya secara paksa hingga menyebabkan kematian Olivia. Debaran jantung Zionathan semakin cepat. Ia mencoba untuk bernapas, mencoba untuk memahami bahwa Selena kini diambil Ferdinand lagi.


"Apakah Ferdinand sengaja melakukan ini? Dia pasti tahu Selena adalah istriku. Atau jangan-jangan Selena tidak mengatakan bahwa ia sudah menikah?"


Matanya tidak lepas menatap ke arah pasangan yang sedang dimabuk cinta itu. Dada Zionathan benar-benar terbakar saat melihat Ferdinand mengusap sesuatu di bibir Selena dengan tissue. Zionathan meremas tangannya sendiri. Rahangnya mengencang kuat.


"Apa mereka sengaja melakukan itu? Apa mereka bekerja sama untuk menghancurkan hidupku?"


Emosi Zionathan benar-benar tersulut. Api amarah kini membakarnya habis. Napas Zionathan keluar terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan dan terbakar oleh kegeramannya. Ia masih tidak percaya. Ferdinand seakan mengambil semua yang ada pada dirinya. Zionathan menarik napas dalam-dalam saat mereka berdua tengah serius bercengkrama di sana. Zionathan masih memperhatikan mereka dari jauh.


Sepertinya kebaikan berpihak kepadanya. Ferdinand tiba-tiba bangun dari duduknya dan tak beberapa lama Selena meninggalkan kursinya juga.


"Mau kemana dia?" Dengan cepat Zionathan mengikutinya.


Sementara itu, Selena kebingungan mencari toilet. Karena memang harus masuk ke dalam hotel lagi. Dari pada tersesat dan muter-muter di sana, Selena pun bertanya kepada petugas yang ada di sana.


"Permisi pak, toilet dimana ya?"


"Oh, anda lurus saja nona, paling ujung sebelah kanan." Ucap lelaki itu dengan sopan.


"Terima kasih pak," Ucap Selena menunduk sopan. Ia pun melangkah mengikuti petunjuk seperti yang dikatakan lelaki itu. Namun, saat langkahnya nyaris mencapai toilet, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar. Selena terbelalak terkejut.


"Tanganku.... " Selena berbalik dan ingin melihat siapa yang berani mencekal tangannya.


"Siapa kau....?" Suara Selena tiba-tiba tertelan. Bibirnya terkatup rapat. Kedua matanya pun membola sempurna saat mengetahui yang menarik tangannya adalah Zionathan.


Zionathan tak menjawab, ia hanya terus menarik tangan Selena dan membawanya ke kamar hotel setelah meminta kunci dari resepsionis. Ia bahkan tidak melepaskan cengkraman tangannya.


"Ke-kenapa kau ada di sini?" Kata Selena belum bisa menutupi rasa terkejutnya. Ia tidak nyaman saat Zionathan menghunuskan tatapan tajam kepadanya.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di sini?" bentak Zionathan.


Suara Zionathan nyaris menyakiti gendang telinganya sampai membuat Selena memejamkan mata berulang kali. Ia mengelus dadanya karena terkejut. Untung saja koridor hotel ini sepi. Napas Zionathan tersengal karena menahan emosi. Ia terus menarik paksa tangan Selena dan membawanya ke kamar hotel.


"Lepaskan aku! Aku tidak datang bersamamu." bentak Selena.


Zionathan bertambah emosi saat mendengar kata-kata itu. Ia semakin menarik tangan Selena. Zionathan memasukkan kunci elektrik yang ada di tangannya dan membuka pintu kamar dengan kunci elektrik itu. Ia mendorong tubuh Selena hingga terjatuh ke lantai.


"Malam ini, aku ingin memberimu pelajaran."


DEG!


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang.


Ini Novel keenam saya.


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2