Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MASIHKAH DIA MENGINGATKU


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SELENA GWYNETH.



HARI YANG MEMBOSANKAN.


Selena menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Setiap hari harus dilaluinya seperti ini. Sendiri lagi, menyendiri lagi. Tidak ada kegiatan kecuali membersihkan rumah dan memasak.


"Huuufffftttt," Selena mengembuskan napas dengan pipi yang menggembung sambil menatap langit-langit kamarnya.


Beberapa detik kemudian. "Aaarghhhhh...." Selena menendang-nendang kakinya ke atas. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Kapan penantianku berakhir? aku ingin kerja..." Teriak Selena dengan frustasi. Selena memandang jam yang ada di kamarnya, Sudah pukul 11.


TOK TOK TOK


Terdengar suara ketukan pintu dari kamarnya.


"Sayang?" panggil Joanna dari luar.


"Ia bu... ada apa?" Selena bangun dari tidurnya sembari membuka pintu.


"Ibu boleh masuk?" Tanya Joanna terlebih dahulu, saat pintu sudah terbuka untuknya.


"Tentu saja bisa bu, emang aku pernah melarang ibu masuk ke kamar Selena?" Ucapnya tersenyum sambil mempersilakan ibunya masuk.


Joanna melangkah masuk yang diikuti Selena juga. Joanna duduk ditepi ranjang. "Duduk bersama ibu di sini!" Joanna menepuk kasur itu dengan lembut.


Selena menurut dan duduk di samping ibunya. Joanna mengambil tangan Selena dan memberikan usapan lembut di punggung tangannya.


"Kamu belum dapat panggilan?" tanya Joanna menatap ke arah Selena.


Selena mengerti maksud ibunya. "Hmm." Ia mengangguk lemah sambil menunduk. Selena tak berani menatap ke arah ibunya.


Joanna mengangguk dan kembali mengusap tangan Selena lagi. "Kamu harus tetap sabar dan jangan mudah menyerah. Kelemahan terbesar kita adalah saat kita menyerah. Kau harus terus mencari dan mencoba sekali lagi. Masih banyak peluang untukmu. Ingat, ketika satu pintu tertutup, kamu tidak tahu kalau pintu lain akan terbuka. Kamu masih memiliki banyak kesempatan dan peluang. Meskipun ditolak oleh satu perusahaan, cobalah cari perusahaan lain yang pintunya masih terbuka. Ya....walau kadang kita ditolak sebuah perusahaan bikin kita malas dan bahkan membuat kita putus asa. Tapi ibu yakin kamu bukan tipe orang seperti itu. Kamu pasti bisa melaluinya. Ibu yakin waktu terdekat ini kamu akan mendapatkan pekerjaan."


Selena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia terharu saat mendengar nasehat dari wanita yang melahirkannya. Selena bahkan tidak bosan. Petuah bijak yang lebih dulu kenyang makan asam garam kehidupan. Setiap masalah dihadapi dengan cara tak biasa. Tak ada duka yang terlalu dalam, karena paham bahwa ada sesuatu yang tersimpan di balik ujian. Menghadapi pahit manisnya kehidupan dan belajar dari sana, adalah sebuah cara langsung untuk menjadi dewasa.


"Aku bersyukur mempunyai ibu pintar dan cantik seperti ibu. Terima kasih ibu, selalu memberikan semangat untuk Selena." Ia langsung memeluk ibunya.


Joanna tersenyum dan membalas memeluk Selena. "Orang tua pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya."


Selena melepaskan pelukannya. "Pantas saja ayah mencintai ibu."


"Ah kamu bisa saja." Joanna mencubit lembut pipi Selena.


"Hahahaha." Tawa mereka pun pecah bersamaan.


"Nah .. seperti ini dong, jangan murung lagi. Kau bukan anak Berto jika bersedih seperti ini."


Tiba-tiba muncul Berto dari balik pintu. "Sayang, sepertinya kita harus pergi."


"Hmm, sebentar lagi." sahut Joana dari dalam.


"Ibu mau pergi?"


"Ya, ada undangan makan siang dari sahabat ibu. Kau masih ingat teman kecilmu dulu?"


"Siapa bu?"


"Nathan..."

__ADS_1


DEG!


Saat ibunya menyebut nama Nathan. Jantung Selena seketika terpukul kencang. Ia menarik napas singkatnya dan menahan di dada. Sudah begitu lama, tapi saat nama Nathan disebut Selena begitu gugup. Ia terdiam seakan menikmati detakan jantung yang sudah lama tak ia rasakan.


"Oh, mungkin kau tidak ingat Nathan lagi."


"Na-nathan, tentu aku ingat ibu." Selena menjawabnya dengan cepat. Wajahnya bersemu merah.


"Sudah lama tidak bertemu mereka, ibu sangat merindukannya."


"Bukankah mereka menetap diluar negeri bu?"


"Ya, tapi saat Nathan kuliah, mereka pindah ke sini lagi."


"Selama ini, Ibu masih sering berhubungan dengan mereka?" Tanya Selena penasaran.


"Tentu saja, baru-baru ini ibu Nathan menghubungi ibu, dia menanyakan kabarmu juga."


"Benarkah?" Selena tersenyum malu. "Bagaimana kabar Nathan bu?"


"Sekarang Nathan meneruskan perusahaan ayahnya. Tapi ibu tidak tahu perusahaan apa."


"Oh..." Selena mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ah.. baiklah, ayahmu sudah menunggu ibu." Joanna bangun dari duduknya, diikuti oleh Selena juga.


"Titip salam untuk ibu Nathan bu."


"Hmm, nanti ibu sampaikan. Ibu pergi ya," Joanna pun keluar dari kamar selena.


Saat pintu tertutup, Selena membuang napas panjang lewat mulut sambil memegang dada. Jantungnya terpukul begitu kencang dan cepat.


Sudah 15 tahun berlalu, saat Nathan pindah, dia berusia 14 tahun.


"Apa Nathan sudah menikah, ahhh....aku lupa menanyakan kepada ibu."


Selena membuka laci meja dan mengeluarkan foto yang ia selipkan di buku. "Aku bahkan tidak ingat gimana wajahmu sekarang? Ya... hanya foto ini yang aku punya. Aku harap kau juga menyimpan foto itu Nathan." Ucap Selena membelai foto itu dengan lembut.


"Apa kau masih mengingatku Nathan?"


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah makan siang, Zio kembali ke kantor.


Begitu masuk ruang CEO. Ia langsung berjalan menuju kursi kekuasaannya. Sementara Alex langsung pergi ke pantry untuk membuatkan teh hangat untuk bosnya. Lalu ikut masuk ke dalam ruangan itu.


"Pak, ini teh anda," ucap Alex menyodorkan satu cangkir teh hangat yang sudah disediakannya.


"Terima kasih." Ucap Zio singkat lalu memegang tabletnya untuk mengecek beberapa email penting.


Sementara Alex berdiri tegap tidak jauh dari meja pak direktur. "Izinkan saya membaca Jadwal anda berikutnya pak," ucap Alex dengan sopan.


"Hmm, silakan." Sahut Zio sambil fokus dengan tabletnya. Ia tidak memandang Alex.


Alex mengembuskan napas sebelum membaca jadwal berikutnya. "Jam dua nanti ada meeting mingguan, bila waktu memungkinkan akan di arrange untuk lanjutan meeting evaluasi yang masih tertunda. Dan Sore ini, anda akan mengunjungi makam nona Olivia." Alex mengigit bibir bawahnya saat membacakan jadwal terakhir bosnya itu.


Saat nama Olivia disebut, Zionathan menghentikan kegiatannya. Ia diam sesaat untuk menenangkan hatinya. Kemudian Zio berbicara lagi.


"Lanjut!"


"Apa ada yang ingin anda tambahkan, pak?" tanya Alex sedikit takut.


"Tidak ada, semuanya sudah oke. Nanti ingatkan saya lagi."


"Baik pak," Alex menunduk. "Apa, ada lagi yang bisa saya bantu, pak?"


Zio memegang dagunya, lalu menatap ke arah Alex. "Bagaimana soal sekertaris yang saya minta?"


"Besok kami mengirimkan email kepada kandidat yang sudah menjatuhkan lamarannya ke perusahaan kita."

__ADS_1


"Baiklah, saya tunggu secepatnya! Kau bisa keluar."


"Kalau begitu saya permisi pak," Alex menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Lalu memutar badannya untuk meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu Alex!"


Alex dengan cepat memutar badannya. "Ya, pak? Ada yang bisa saya bantu?"


"Bagaimana soal bunga yang akan kubawa nanti, apa kau sudah memesannya?" Tanya Zio.


"Sudah pak, saya sudah memesan bunga lily untuk anda bawa nanti."


"Oke, terima kasih. Kau bisa keluar!"


Alex menundukkan kepalanya dengan note yang dipegangnya. Lalu keluar dari ruangan itu.


Setelah pintu tertutup, Zio kembali memeriksa pekerjaannya, ia menatap tablet digital di tangannya dengan wajah serius.


WAKTU TIDAK TERASA, SORE PUN TELAH TIBA.


Zionathan berjalan membawa seikat bunga Lily putih kesukaan Olivia. Olivia pernah mengatakan bunga Lily adalah lambang kesucian dan kemurnian. Zio tersenyum saat Olivia menyamakannya dengan bunga Lily.


"Sayang, Kau tahu kenapa aku suka bunga Lily?"


"Kenapa?" Tanya Zio antusias sambil menatap Olivia dengan penuh cinta.


"Karena cintamu sama seperti bunga ini."


"Kok bisa?"


"Karena bunga ini melambangkan kesucian dan kemurnian. Sama halnya dengan cintamu. Kau tulus mencintaiku apa adanya dan aku sangat bersyukur akan itu."


"Benarkah?"


"Hmm, Aku percaya itu. Selamanya kau akan menjaga cinta kita dengan baik."


Zio tersenyum sambil melepaskan lamunannya. Ia melangkah tegap saat Zio memasuki tempat pemakaman umum dimana Olivia beristirahat untuk selamanya.


Zionathan berjalan menyusuri jalanan sambil membuang napas berulang kali. Sudah lima tahun berlalu tapi kenangan bersama Olivia masih melekat di hatinya. Gerimis tiba-tiba turun. Angin berembus menusuk ke tulang. Dingin mencekam seakan gambaran dari hati Zio saat ini. Rasa sakit akan kehilangan orang yang dicintainya membuat Zio tidak kuat untuk melangkah.


Semakin ia melangkah mendekati makam Olivia, hatinya semakin dicengkeram. Rasa sakit di dalam dadanya membuat hatinya disayat dan terbelah menjadi beberapa bagian. Ia seperti berada ditepi jurang, tidak sanggup untuk melangkah ke depan. Zionathan berdiri lama menatap batu nisan yang bertuliskan Olivia. Saat meletakkan bunga ke makam itu, air matanya terjatuh begitu saja. Zio menarik napas dengan mulut terbuka. Lalu membuka kaca mata hitamnya.


"Apa kabar kamu di sana?" Awal kata yang diucapkan Zio dengan bibir gemetar. "Apa kau kesepian?" Zio tersenyum sambil menyeka air matanya yang terjatuh lagi.


"Seharusnya pertanyaan itu untukku," Zio menarik napasnya lagi. "Kau tahu, aku kesepian tanpamu. Berjalannya waktu, seharusnya aku sudah bisa mengikhlaskan kepergianmu. Tapi sepertinya itu sangat sulit. Mungkin aku harus butuh waktu lagi untuk mengobati hati ini."


"Rindu ini membuatku gila. Aku bahkan menangisimu dalam diam. Aku bahkan ingin sekali mendengar suaramu. Salahkah aku sayang?? Semenjak kepergianmu aku memilih tinggal sendiri. Aku seperti tidak sanggup melewati ini semua. Aku benar-benar sendiri di sini." Zio tersenyum sendu diujung kalimatnya.


"Aku rindu semua tentangmu, tentang kita. Kau tidak pernah menyapaku dalam mimpi lagi. Apa kau begitu bahagia di sana?" Zio memejamkan matanya saat mengatakan itu.


"Salahkah aku jika detik ini aku masih sering menangisimu?? Aku tidak tau harus berbuat apa untuk mengobati semua sakit yang kurasa. Aku telah mencoba untuk bersikap tegar. Tapi ternyata aku tidak sekuat itu. Aku tidak sanggup jika terus membohongi diriku sendiri dengan mengatakan bahwa aku tak lagi memikirkanmu. Aku tidak sekuat itu. Jadi datanglah sapa aku dalam mimpi.


Aku akan selalu menunggumu dalam mimpiku. Aku mencintaimu Olivia. Aku sangat mencintaimu." Ucap Zio menunduk sedih.


Lama ia terdiam di sana. Setelah cukup tenang. Ia bangun dari duduknya. Zio melangkah meninggalkan makam Olivia. Saat kepergian Olivia. Zio memang tak bisa melupakan Olivia. Zio terlihat kuat tapi sesungguhnya ia sangat rapuh. Ia mengalami shock berat merasakan duka yang benar-benar mendalam. Perasaan yang sulit untuk menahan dan menolak rasa sedih justru membuat Zio semakin terpuruk.


Zio akan berusaha menutup luka yang pernah ia rasakan sebelumnya, dia akan memulai hidup baru dan harapan yang baru.


Memulai hari-hari dengan semangat, dan pikiran yang positif dalam menyambut hidup yang baru. Dia tahu Olivia tidak akan bisa kembali kepadanya. Tapi jika diminta untuk melupakan dan menggantikan wanita lain di hatinya. Sampai saat ini pun Zio tidak bisa melakukannya.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2