
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Hari yang cukup panjang akhirnya berlalu. Pekerjaan yang benar-benar menumpuk hari ini akhirnya selesai juga. Zionathan tersenyum sambil merenggangkan otot-ototnya dan sedikit memijit bagian tengkuk belakangnya. Bibirnya mengulas senyuman lagi. Ia kembali membayangkan wanita yang selalu membuatnya bahagia. Wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
Zionathan sesaat memandang ke arah luar lewat dinding kaca transparan yang membatasinya dengan dunia luar kantornya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Ia sengaja menyelesaikan tugasnya sebelum berangkat liburan bersama istrinya. Zionathan memilih merayakan natal dan tahun baru di kota paris. Zionathan menghela napas panjang. Ia menutup tabletnya dan bergegas membawa tas yang biasa dibawanya ke kantor.
CEKLEK!
Pintu ruangan terbuka. Zionathan keluar dari sana. Melangkah dengan tegap menuju meja sekretaris cantiknya. Dentuman sepatu pantofel menambah kesan tegas dari seorang pemimpin perusahaan Lucius itu.
"Kau sudah siap?"
Selena terperanjat karena tidak menyadari Zionathan sudah berdiri di depannya. "Pak direktur?"
Zionathan tersenyum sambil mencondongkan tubuhnya. "Iya istriku?"
Saat mendengar kalimat itu wajah Selena bersemu merah. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu ruangan Alex. Wajah tegangnya terlihat jelas di sana.
Zionathan terkekeh, "Apa yang kau takutkan, bukankah kau istriku? Lagian Alex juga sudah tahu kita sudah menikah."
Selena menggigit bibir bawahnya. "Benar, apa yang aku takutkan? Aku sudah siap membuka lembaran baru kehidupan bersama lelaki yang memiliki sejuta pesona itu."
"Ayo, tunggu apa lagi. Sekarang ikut aku!"
"Kita mau pulang pak?"
"Tidak, kita makan dulu dan aku ingin tahu semua makanan kesukaanmu."
"Heuh? Makanan kesukaan? sementara aku hanya suka makanan buatan ibu."
"Bagaimana?" Tanya Zionathan lagi
"Baik pak." Selena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Hmmm, ayooo...." ajak Zionathan tersenyum. Ia melangkah lebih dulu dan berjalan tegap di koridor kantor.
Selena kaget dan buru-buru merapikan mejanya. Ia bergegas menyusul pak direktur sebelum ketinggalan lift.
TAP TAP TAP TAP
TAP TAP TAP TAP
Bunyi langkah kaki Selena yang berjalan cepat menyusul Zionathan. Ia mengembuskan napasnya saat berhasil menyusulnya sampai di depan lift. Selena pun memencetkan tombol lift. Lalu melangkah ke belakang tepat di belakang pak direktur. Ia berdiri tegap menjaga jarak satu meter di belakang Zionathan.
Ting! pintu lift terbuka.
Zionathan masuk lebih dulu, dan kemudian disusul Selena. Ia tetap berdiri satu meter di belakang Zionathan setelah memencetkan tombol lift itu kembali dan pintu lift tertutup.
Zionathan segera membalikkan badannya, menatap istrinya dengan sendu. Ia memegang pinggang Selena dan mendorongnya hingga punggung Selena menyentuh dinding.
DEG!
Mata Selena terbelalak kaget saat Zionathan melakukannya dengan tiba-tiba. Ia bertambah gugup saat Zionathan memberikan remasan di pinggangnya. Badannya terasa kaku, seluruh tubuhnya terasa panas dan gemetar. Mereka sangat dekat, sampai tangan Selena menyentuh dada Zionathan. Untuk memberikan jarak untuk mereka.
"Jangan panggil pak jika hanya kita berdua saja."
__ADS_1
Mata Selena mengedip cepat, debaran jantungnya semakin kencang membuatnya sulit untuk bernapas.
"Aku ingin kau memanggilku sayang atau apapun itu, tapi jangan pak direktur." Kata Zionathan mengejar wajah Selena yang terus menunduk.
Selena tidak berani menatap langsung ke arah Zionathan.
"Kenapa terus menunduk istriku, lihat aku!" ucap Zionathan dengan suara yang dominan.
Selena tak juga mengangkat wajahnya. Ia terlalu gugup melihat wajah itu. Melihat ekspresi Selena, Zionathan melepas tawanya, wajahnya tampak bersemi sambil memperlihatkan susunan gigi yang putih yang berbaris rapi di sana.
Ia lalu melepaskan pelukannya di pinggang Selena. "Tidak apa-apa, mungkin kau butuh waktu." ucap Zionathan pelan dengan suara bariton khas miliknya.
GLEK!
Selena menelan salivanya berulang kali dan mengangkat wajahnya untuk melihat Zionathan.
Zionathan tersenyum sambil merapikan kembali jasnya. Ia kembali berdiri tegap memunggungi Selena.
Huffft! saat itu juga Selena mendapat kesempatan untuk bernapas. Meski jantungnya masih memicu cepat dan ia sangat gugup. Selena menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya secara bersamaan sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya.
Ting!
Pintu lift terbuka lagi.
Zionathan keluar lebih dulu. Selena mengikutinya dari belakang. Sudah tidak ada orang di sana. Zionathan memelankan langkahnya dan menaruh tangannya di belakang. Melambaikan tangannya seakan memanggil Selena untuk menggenggamnya.
Selena lagi-lagi menggigit bibir bawahnya, memandang ke kiri dan ke kanan. Dengan malu-malu, Ia berlari kecil ke arah Zionathan untuk meraih tangan itu. Zionathan tersenyum bahagia. Lagi-lagi bunga di hatinya bermekaran indah di dalam dadanya. Ia membawa tangan Selena menyamping. Selena pun ikut tersenyum tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hal-hal kecil yang dilakukan Zionathan membuat hatinya meleleh. Mereka terus berjalan beriringan sampai ke mobil.
⭐⭐⭐⭐⭐
Mereka membolak-balikkan daftar menu makanan kemudian pilihan mereka jatuh pada menu Temaki dan fotumaki sementara minumannya, mereka memilih wafun carpaccio dan ice lemon tea.
"Kau suka sushi?" tanya Zionathan kepada Selena saat mereka sudah selesai memesan makanan.
"Kamu pernah makan sushi?" tanya Selena.
"Tidak pernah. Tapi karena ini kesukaan istriku, aku akan mencobanya."
Tiba-tiba panggilan dari handphone Selena berdering. Ia mengeluarkannya dari tas kecilnya dan melihat benda pipih itu. Ternyata panggilan itu dari Ferdinand. Seketika wajahnya gugup.
"Kenapa tidak di angkat?"
"Sebentar ya, "Ucap Selena bangun dari duduknya dan sedikit menjauh saat menjawab telepon dari Ferdinand.
"Hallo Ferdinand."
"Hallo cantik, bagaimana kabarmu?"
Selena tersenyum, "Kabar baik."
"Malam natal, aku ingin bertemu denganmu Selena."
"Malam natal? Bukankah itu acara untuk keluarga."
"Hmm. Benar juga, bagaimana kalau di hari natal. Apa kamu bisa?"
"Tentu saja bisa. Nanti aku kabari lagi ya."
"Kamu dimana?"
"Aku lagi diluar, kamu sendiri dimana?"
"Aku di rumah." kata Ferdinand tersenyum sambil melihat Selena dari arah luar restoran jepang itu. Ia melihat ke arah Zionathan juga.
__ADS_1
"Oke, nanti aku kabari lagi ya." kata Selena mulai gelisah saat Zionathan terus memperhatikannya.
"Baiklah, sampai bertemu Selena." Kata Ferdinand tersenyum di balik telepon.
Tit!
Panggilan telepon mereka pun terputus. Ferdinand melangkah meninggalkan restoran itu. Dia tahu Selena adalah sekretaris Zionathan. Tapi melihat kedekatan mereka, Ferdinand sepertinya punya firasat jika Zionathan menyukai Selena. Dia harus cepat-cepat mengatakan perasannya. Ferdinand tahu, jika Zionathan sudah mencintai seseorang ia tidak akan melepaskannya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk berupa makanan laut, daging, sayuran mentah yang sudah dimasak. Tersaji indah di atas meja. Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula. Nampak sangat nikmat terlihat di mata mereka.
Zionathan menambahkan menu puding strawberry berserta cream di atasnya. Menatap teksturnya saja sudah terasa nikmat. Apalagi langsung menikmatinya.
Selena mengambil bagiannya. "Hhhhmmm. Enak sekali." Ia memejamkan matanya dengan erat, saat menikmati sensasi sushi masuk ke mulutnya. Ia mengunyah pelan dan tersenyum menatap Zionathan. "Rasanya pas," ucapnya lagi.
"Habiskan, jika kurang kita bisa pesan kembali." Zionathan mengambil sumpitnya dan mengambil bagiannya. "Kau coba ini." Zionathan mengulurkan sumpit yang berisi sushi ke arah Selena. "Buka mulutmu, "Ucap Zionathan sambil menggoyangkan sumpitnya.
Wajah Selena bersemu merah, Ia menahan sisi rambut di samping bahunya agar tidak terjatuh ke depan. Ia mencondongkan badannya menyambut suapan Zionathan. Selena dapat menikmati tekstur sushi menyentuh lidah. Rasanya benar-benar pas dan enak.
"Hmmm..." Selena lagi-lagi bergumam nikmat.
Zionathan tersenyum melihat senyum itu. Ia pun ikut menikmati sushi itu. Walau Zionathan tidak terlalu menyukainya tapi demi menyenangkan Selena, Ia hanya bisa ikut menikmatinya. Sementara Selena, tidak terlalu suka menu ini. Karena Ferdinand, ia jadi menyukai makanan khas jepang ini.
"Kau mau lagi," tawar Zionathan mengambil kue cream.
Selena tersenyum sambil mengangguk. Ia memasukkan potongan kue ke mulutnya. Namun Zionathan berbuat usil dengan menempelkan sisa cream yang ada di sendoknya. Zionathan tertawa setelah itu.
"Aaaahhhhh..." ucap Selena spontan tertawa,
Zionathan terkekeh dan mengambil tissue dan menghapus cream di bibir Selena. "Tapi kau tetap cantik kok." Ucap Zionathan semakin tertawa.
Lagi-lagi ia terpesona dengan wajah itu. Siapa yang tahan dengan wajah setampan itu. Selena menunduk sambil menjepit bibirnya menahan senyum.
Zionathan tersenyum sambil memegang tangan Selena dan menaruhnya di atas meja. Wajahnya terlihat serius menatap ke arah Selena. "Hari ini aku sangat bahagia, bagaimana bisa kamu membuat segala aspek dalam hidupku berubah secepat ini. Kini semua dalam otakku hanya dipenuhi kamu. Dan kenapa aku baru menyadarinya." Kata Zionathan pelan.
Selena terdiam sambil memandang tangan Zionathan. Zionathan menggenggam tangannya dengan hangat. Perasaan ini, momen ini. Rasanya benar-benar mendebarkan. Tidak ada momen sebahagia ini dalam hidupnya. Cinta yang terkubur kini perlahan bersemi kembali di dalam hatinya.
"Aku mencintaimu Selena. Maafkan aku telah banyak menyakitimu. Mungkin kata maaf tak cukup untuk mengobati hatimu yang terluka." Zionathan terdiam sesaat, ia menatap wajah Selena dengan sendu.
"Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku ingin menjadi yang pertama dan menjadi yang terakhir dalam hidupmu. Menghabiskan waktu bersama sepanjang hari tanpa ada rasa sakit hati. Aku rasa itulah sebuah pernikahan. Kini aku sadar, kau orang yang tepat untuk mendampingiku. Kau telah melihat semua kekuranganku tapi tetap mencintaiku. Hingga tak ada satu pun wanita di luar sana yang mampu sepertimu."
Mata Selena berkaca-kaca, ia tidak menyangka Zionathan mengatakan kalimat yang menyentuh hatinya.
Zionathan mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari kantong jasnya. Dan membuka kotak itu dan menunjukkan kepada Selena.
"Ini bukan cincin lamaran," Zionathan tersenyum kecil. Selena ikut tersenyum juga. "ini adalah cincin pengikat hati kita sebagai suami-istri."
Selena menutup mulutnya. Air matanya yang terkumpul kini tergelincir begitu saja. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam dan mendesah dalam mulutnya. Setelah cukup tenang. Selena membalas menatap Zionathan. Mengangguk pelan dan mengatakan.
"Aku mau untuk menjadi bagian hidupmu, menjadi yang pertama dan menjadi yang terakhir dalam hidupmu. Wanita yang pertama yang selalu ada di saat pagi datang untuk membangunkanmu dan menjadi cahaya kebaikan di rumah kita nanti. Mari kita bersama-sama melalui ini semua, tanpa ada rasa sakit hati." Ucap Selena menghapus air matanya. Ia bangun dari duduknya menyerahkan jari tangannya kepada Zionathan.
Zionathan menitikkan air matanya dan ikut bangun dari duduknya. Ia tersenyum sambil memasangkan cincin itu ke jari manis Selena. Dengan satu gerakan Ia memeluk tubuh Selena masuk ke dalam pelukannya. Zionathan semakin memeluk kencang tubuh mungil istrinya itu. Lalu mengecup erat puncak kepala Selena.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^