Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
AYAH HARUS KUAT.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Setelah mendapatkan informasi kamar ICU. Selena setengah berlari menuju kamar dimana ayahnya dirawat. Jantungnya berdegup kencang. Khawatir dan ketakutan. Keringat dingin bahkan membasahi tangannya. Hatinya begitu cemas. Dia ingin melihat secara langsung keadaan ayahnya. Tak puas rasanya ia hanya mendengar penjelasan dari suaminya itu.


Zionathan mengimbangi langkah Selena dan mengikutinya dari belakang. Langkah Selena melambat saat mendekati kamar ICU. Di sana ia melihat Samuel duduk di kursi panjang. Kepalanya tertunduk. Punggungnya ikut merunduk. Ia tengah memangku siku sambil mengunci tangan. Wajahnya muram dan tatapannya sedih.


"Sa-samuel?" Panggil Selena dengan suara parau dan gemetar.


Saat mendengar namanya dipanggil. Samuel pun langsung berpaling dan melihat ke sumber suara.


"Kak Selena?" ucapnya heran, tak menyangka Zionathan dan Selena sudah tiba. Pikirannya kalut hingga lupa dengan waktu.


Selena balas menatap Samuel dengan dada yang naik turun dan napas yang terengah-engah. "Bagaimana keadaan ayah?"


"Ayah masih belum sadar kak." jawab Samuel dengan suara terendahnya. Wajahnya terlihat sedih di sana.


Tak ingin menunggu, Selena pun langsung melangkah menuju ruangan ICU. Sementara Zionathan memilih duduk di samping Samuel.


Selena menutup mata singkat, menghadap pintu ruangan ICU itu. Ia menahan sekejap tangannya di kenop pintu. Matanya memandang sayu, hanya melihat ke arah tangannya yang meremas kenop pintu. Selena menguatkan hatinya. Menarik napas panjang dan akhirnya memberanikan diri membuka pintu.


CEKLEK!


Pintu itu terbuka.


Selena melangkah dengan perlahan. Semaksimal mungkin meminimalisasi suara dari derap langkah kakinya. Mata Selena langsung berkaca-kaca. Mulutnya terbuka dan gemetar. Hidung dan matanya mulai memerah. Ia menarik napasnya lagi. Mencoba menahan perih yang mulai terasa di hidungnya. Selena semakin mendekat dan memandang wajah lelaki paruh baya itu dari dekat.


"Aaahhhhhh..." Selena melepas napas panjang dan berhenti di dekat ranjang. Air matanya dengan cepat tergelincir bebas di pipinya. Ia masih tak percaya saat melihat ayahnya terbaring lemah di depannya. Tubuhnya dipasangi selang oksigen dan infus juga alat pendeteksi jantung yang berbunyi di sampingnya.


"Ayah?" Suara Selena gemetar.


Mendengar suara Selena, Joanna langsung membalikkan badannya. Ia langsung membuka tangannya dan memeluk Selena sambil menangis.


"Kamu sudah kembali sayang?"


"Kenapa ibu harus merahasiakan ini dari Selena?" ucapnya begitu sedih. Berto menggunakan selang-selang dan alat-alat medis untuk menopang hidupnya.


Joanna melepaskan pelukannya menatap Selena dengan tatapan sendu. "Maafkan ibu sayang." Hanya itu yang bisa Joanna ucapkan saat ini.


Selena semakin mendekat ke ranjang dimana ayahnya sedang berbaring tak berdaya.


"Ayah...ayah... hiks...hikss..." Lirih Selena sambil memegang tangan Berto dengan hati-hati. Takut akan menggangu selang infus yang tertancap di tangan ayahnya itu. Selena menatap Berto dengan tatapan nanar. Penuh dengan kekhawatiran.


"Ayah kenapa bisa jadi seperti ini? Bukannya Sebelumnya ayah baik-baik saja. Kenapa begitu tiba-tiba ayah. Lihat Selena, bangunlah! Selena sudah ada di sini, aku tidak akan pergi meninggalkan ayah lagi. Aku akan di sini menemani ayah. Tolong bangun ayah, aku tidak kuat melihat ayah seperti ini. Hati Selena hancur yah. Bukankah ayah menyayangi Selena. Ayah paling tidak suka melihat Selena menangis, kan? jadi bangunlah!"


Joanna ikut menangis di sana. Ia menutup mata singkat karena tak kuasa menahan kesedihan putrinya. Dia sangat mengerti perasaan Selena. Dia begitu sayang kepada Berto. Zionathan hanya memandang istrinya dari kaca pintu. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Zionathan juga begitu sedih melihat keadaan ayah mertuanya itu.


Saat mendengar tangisan putrinya, jari-jari tangan Berto berkedut.


"Se....se...selena putriku!" Suara Berto pelan dan parau. Samar-samar hampir tidak terdengar. Namun Selena bisa mendengarnya. Ia terjengkit dari duduknya.


"Ayah..."

__ADS_1


"Sayang?" Joanna pun terkejut dan langsung bangun dari duduknya, melihat ke arah suaminya. Ia memegang pipi Berto dengan lembut. Joanna dan Selena begitu bahagia saat mendengar suara itu.


"Ayah, kau sudah sadar. Lihat aku!" pinta Selena dengan penuh harapan dan gejolak bahagia.


⭐⭐⭐⭐⭐


Tiba-tiba terdengar nada dering dari ponsel Zionathan. Ia melihat dilayar ponselnya tertulis nama ayahnya. Ia pun langsung menggeser tanda terima pada layar handphonenya.


"Halo, ayah. Maaf aku tidak sempat mengabari kalau kami sudah sampai di sini." kata Zionathan memulai pembicaraan. Ia bangkit menjauh dari Samuel.


"Kamu sekarang berada dimana?" tanya Alberto.


"Kami di rumah sakit yah, apa kabar ibu? aku dengar ibu kurang sehat."


"Ibumu memang kurang sehat. Tadi sudah periksa ke dokter. Mungkin untuk sementara ini, kami tidak bisa ke rumah sakit. Sampaikan permintaan maaf kami kepada ibu mertuamu."


"Nanti aku sampaikan ayah."


"Bagaimana kabar Berto?"


"Belum ada perubahan ayah."


Alberto menarik napasnya yang terasa berat. "Sebelum Berto sakit, dua hari sebelumnya ia menghubungi ayah."


"Menghubungi ayah?"


"Hmmm. Dia menanyakan masalah pernikahan kalian."


Dahi Zionathan mengerut. "Menanyakan masalah pernikahan? maksudnya bagaimana ayah?" Zionathan balik bertanya.


"Ayah juga tidak tahu. Yang jelas ada seseorang yang menyampaikan kepada Berto. Selena tidak bahagia atas pernikahan ini. Selena bahkan pernah berniat ingin mengakhiri hidupnya. Ia tidak tahan dengan tekanan hidup yang kau berikan. Dan parahnya lagi pernikahan kalian hanya sebatas di atas kertas saja. Apakah semua itu benar?"


DEG!


Alberto menarik napas singkat di ujung telepon. "Ayah juga berharap seperti itu. Kau tidak sedang merahasiakan sesuatu kan?"


"Aku mencintai Selena dan itu nyata. Aku tulus ingin membangun rumah tangga bersamanya. Lelucon apa ini?"


"Ayah percaya denganmu. Tapi menurutmu siapa yang menghubungi Berto, apakah ada seseorang yang membencimu."


"Apa jangan-jangan?" Zionathan mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. Hari ini begitu banyak masalah yang dihadapinya.


"Zio? kau masih di sana?"


"Iya, ayah?"


"Jaga baik-baik istrimu, aku tidak ingin kau menyakitinya. Kau mengerti?"


"Pasti ayah. Aku akan...." Kalimat Zionathan tiba-tiba menggantung. Matanya memicing ke arah dokter yang nampak terburu-buru memasuki ruang ICU dimana ayah mertuanya dirawat. Begitu juga para perawat nampak berhamburan masuk. Samuel nampak cemas mondar-mandir di depan ruangan ICU. Karena ia tidak diizinkan masuk.


"Ayah, nanti aku hubungi lagi ya," ucap Zionathan langsung mematikan ponselnya dengan sepihak. Ia pun langsung melangkah panjang menemui adik iparnya.


"Apa yang terjadi Samuel?" tanya Zionathan dengan wajah panik.


Samuel hanya menggeleng dengan frustasi. Ia berulang kali mengusap wajahnya. Menunduk sedih dengan perasaan khawatir, takut dan cemas.


Tiba-tiba salah satu perawat muncul mendatangi mereka.


"Pasien meminta keluarga berkumpul." kata perawat.

__ADS_1


Zionathan dan Samuel langsung memasuki ruang ICU. Zionathan melihat istrinya menangis dan terduduk lemas di lantai. Wajah mereka sudah nampak panik dan cemas. Joanna hanya menangis memeluk Berto. Sementara Dokter dan perawat sudah meninggalkan ruangan itu.


Samuel diam terpaku di tempatnya, tubuhnya membeku. Tak berani mendekat.


"Ayah?" ucap Samuel dengan mata berkaca-kaca.


"Mendekatlah Samuel, ayah sudah menunggumu." Kata Selena menangis di sana.


Kata-kata 'menunggu', seakan menyesakkan dadanya. Ia menggeleng tidak terima. Dengan langkah gontai Samuel mendekati ke ranjang rumah sakit.


Zionathan memeluk istrinya dan memberi kekuatan. Ia memegang ke dua bahu Selena dan menuntunnya berjalan mendekat ke arah ranjang. Kakinya tak berdaya. Beberapa kali ia hampir terjatuh saat berjalan. Beberapa kali pula Zionathan menahan lengan Selena dengan rangkulan dari belakangnya.


Suara dari monitor terdengar jelas di telinganya, menampilkan grafis detak jantung dan tekanan darah. Ventilator yang dihubungkan dengan selang melalui hidung, Berto masih menggunakan oksigen yang menutup mulutnya.


"Ayah." Selena tak kuasa membendung air matanya. Tadi ia sempat pingsan.


"Kamu datang Selena... mendekatkan...!" Suara terbata-bata dari Berto masih bisa di dengar Selena walau ada oksigen masih menempel di mulutnya.


"Bukankah kita sudah bicara ayah?" Air matanya kembali mengkristal penuh dikelopak matanya. Hanya dalam satu kedipan saja, air mata itu akan terjatuh. Selena semakin tidak kuasa menahan kesedihannya, ia melihat jelas bagaimana ayahnya berusaha mengatur napasnya yang begitu berat.


Berto menggeleng, ia tidak sanggup bicara.


"Ayah, jangan tinggalkan Selena." Tangisan Selena kembali pecah lagi. Ia memeluk ayahnya lagi. Selena benar-benar tidak siap di tinggal orang yang sangat dicintainya. Bahunya bergetar dibalik pelukannya.


Suasana menjadi haru, Samuel dan Zionathan ikut menangis. Joanna hanya menatap kosong, tapi air matanya terjatuh bebas membasahi pipinya.


"Ayah harus kuat dan sehat kembali. Bukankah ayah ingin cucu yang lucu-lucu? Semangat untuk sehat ayah. Aku mohon bertahanlah." Selena tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia kembali memeluk lelaki tak berdaya itu.


Berto menggeleng lemah, ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tangannya tiba-tiba terjatuh dari tubuh Selena. Semua panik, mereka histeris menangis.


"Jangan Ayah. Aku mohon!" Jerit Selena semakin histeris.


"Samuel, panggil dokter! " Perintah Selena kepada adiknya.


Tapi Samuel tidak bergerak. Ia masih terdiam seperti orang bodoh di sana. Zionathan langsung mengambil inisiatif menekan nurse call yang ada di ruangan.


"Sayang, bertahanlah, aku mohon..." Isak Joanna memegang tangan Berto. Namun Berto semakin tidak berdaya.


Tanpa menunggu lama dokter langsung datang dan melakukan tindakan untuk menangani Berto. Dengan cepat dokter langsung membuka paksa pakaian Berto untuk melakukan pacu jantung.


"Sayang..." Zionathan menangkap tubuh istrinya yang hampir terjatuh. Selena mencengkram baju milik suaminya, ia menumpahkan tangisannya di dada Zionathan.


Dokter dengan cepat mempersiapkan Alat pacu jantung defibrilator, menempelkan lead ke dada Berto, kabel pacu serta sensor yang akan merekam irama jantung Berto sudah terpasang. Dokter memberikan aliran listrik ke jantung Berto. Mereka kembali menempel ke dada dan melakukannya berulang kali sampai tubuh Berto tersentak ke atas. Untuk memberikan impuls listrik yang dikirim ke otot jantung Berto untuk mengembalikan irama jantung agar kembali normal, namun yang mereka lihat detak jantung Berto tidak ada perubahan. Patient monitor sudah menunjukkan grafis lurus.


Tubuh Selena lemas dan tidak berdaya. Ketika Dokter menyatakan bahwa pasien sudah meninggal. Joanna menjerit histeris dan mendekati tubuh suaminya. Tangisan kesedihan terdengar di dalam ruangan kamar.


"Aaaah... kamu jahat sayang. Kamu meninggalkan aku sendirian." Jerit Joanna meraung dan menggoncang tubuh suaminya yang terdiam tidak bernyawa lagi.


Samuel memilih menyendiri dan menangis di sudut ruangan. Zionathan ikut menjatuhkan air matanya, ia memeluk istrinya dari samping agar tidak terjatuh. Selena terisak menahan segala kesedihannya. Tubuh Selena tiba-tiba lemas seperti tidak bertulang, ia sudah jatuh dan tidak sadarkan diri. Zionathan dengan panik menangkap tubuh istrinya.


"Sayang...!" Panggil Zionathan menepuk pipi istrinya, ia minta tolong kepada perawat agar membawa istrinya keruang IGD.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2