Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
BERTEMU TEMAN LAMA.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


DUA BULAN TELAH BERLALU.


Setelah hujan tadi malam. Pagi harinya disambut cuaca cerah dihiasi suasana yang indah beserta embun-embun pagi.


Selena membuka matanya. Ada cahaya kecil, panjang dan vertikal memancar di balik gorden yang sedikit tersorong dari posisinya. Selena menyipitkan matanya menahan silau saat menatap cahaya itu. Ia merenggangkan otot-ototnya tubuhnya. Tangannya ditarik ke atas, melewati kepala dan menyelusupkan di sela-sela bantal sambil dikencangkan ke atas. Selena menurunkan kaki dan duduk di tepi ranjang. Ia menggerakkan tangan ke atas sambil menguap.


Sepersekian detik, Selena langsung tertunduk lesu. Dua bulan telah berlalu. Setelah Selena menyebar CV ke beberapa perusahaan, tapi belum ada panggilan kerja untuknya. Rasa was-was ini memang menganggu pikirannya. Sampai-sampai Samuel selalu meledeknya mengapa dirinya belum mendapatkan panggilan kerja.


"Bukankah IP kakak paling tinggi? Harusnya melihat ijazahmu semua perusahaan bisa langsung memanggilmu. Tapi kenyataannya tidak seperti itu."


Astaga! kata-kata itu seperti kaset rusak yang berputar-putar di otaknya. Ini benar-benar penghinaan untuknya. Tapi Selena tidak putus asa. Selena yakin bahwa ada pelangi sehabis hujan. Ada kemudahan di balik kesulitan. Itu yang menjadi motivasi untuknya. Jadi tetap semangat!!!


Selena tersenyum lagi. Ia langsung bergegas meninggalkan kamarnya. Berhubung ini hari minggu, selena selalu memanfaatkan waktunya untuk berolahraga. Walau itu hanya sepuluh menit saja. Setelah membasuh wajahnya. Selena menggunakan baju kaos yang berwarna putih, celana pendek dan sepatu kets. Udara yang segar membuat ia lebih bersemangat. Selena menatap pintu kamar paling ujung masih tertutup rapat. Seperti biasa jika hari libur, Ayah dan ibunya pasti belum bangun. Begitu juga dengan Samuel, hari biasa aja susah bangun apalagi hari libur.


Selena tidak mau berlama-lama. Ia keluar dari rumah dan tersenyum menyapa tetangga yang sedang melakukan olahraga yang sama seperti dirinya. Di sana ia memulai pemanasan terlebih dahulu. Tak menunggu lama Selena mulai berjalan keluar dari pagar dan perlahan-lahan berlari kecil meninggalkan komplek rumah. Pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam tubuh. Selena bersyukur bisa menikmati belaian hangat sang mentari.


Selena terus berlari kecil menapaki setiap jalan aspal dan terus menyusuri setiap area. Ia menikmati setiap keringat yang menetes. Langkah demi langkah Ia lalui. Keringat pun menetes dengan rajin. Sesekali wajahnya terkena tiupan udara yang masih sejuk. Di tambah lagi banyak anak-anak kecil di taman, tempat biasa Selena istirahat. Ada juga beberapa anak muda, orang tua bahkan sudah lanjut usia yang sering berjalan kaki atau berlari di minggu pagi.


Selena menyudahi larinya. Ia duduk di kursi panjang yang ada di taman. Ia menengadah ke langit, menikmati udara sejuk. Matahari masih tersenyum, begitu pula dengan awan, sangat putih, sangat ramah. Senyum sang mentari mulai meninggi dari ufuk barat. Selena tersenyum dan berdiri menengadah dan merentangkan tangan seakan menghadang matahari. Selena benar-benar menikmati suasana pagi ini.


"Selena," Suara bariton dari seorang lelaki memanggil namanya.


Selena membalikkan badannya dan menatap sosok lelaki yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kau?" tangan Selena menunjuk ke arah lelaki yang tersenyum ke arahnya. itu berusaha mengingat-ingat. "Bukankah kau Ferdinand?" tanyanya lagi.


Ferdinand tersenyum sumringah. "Ya, saya Ferdinand satu kuliahmu dulu."


"Astaga...aku hampir tidak mengenalmu. Kau berubah banget Ferdi." Selena menatap Ferdinand dari atas sampai ke bawah.


"Benarkah? berubah seperti apa?" tanya Ferdinand menggoda Selena.


Selena membengkokkan bibirnya. Ia mengetuk dagu sambil membuat gestur berpikir. "Kau lebih tampan dan berwibawa." jawab Selena menaikkan ke dua alisnya.


"Hahahaha...." Ferdinand tertawa awkward. Ia sedikit menunduk dan mengusap keningnya. Hatinya berbunga-bunga saat Selena mengatakan itu.


"Apa kabar Ferdinand? Lama tidak terlihat. Tadi aku sempat berpikir kau sudah dilarikan salah satu dari pacarmu."


"Hahahaha" Ferdinand tertawa lagi. Kali ini tawanya begitu lepas. "Kau bisa aja."


"Bukankah seperti itu?" Selena menepuk lengan Ferdinand.


Ferdinand tersentak saat merasakan sentuhan dari Selena. Hatinya seketika berbunga-bunga. Ferdinan memang menyukai Selena dari dulu, tapi karena ia sering dicap lelaki playboy. Selena hanya tertawa saat Ferdinand mengungkapkan perasaannya. Ia hanya menganggap Ferdinand sebagai temannya. Dan terbukti, sampai sekarang Selena masih menganggapnya seperti itu.


"Kita jalan lagi yuk!" Kata Selena melempar senyum.


"Silakan nona cantik!" Ferdinand mengulurkan tangannya memberikan jalan untuk Selena.


Langkah mereka beriringan. Mereka berjalan-jalan diantara pepohonan yang menjulang tinggi. Jalanan aspal itu dikhususkan untuk pejalan kaki dan pengunjung yang datang. Tempatnya ditumbuhi banyak tanaman hijau. Terlihat asri, segar dan udara pagi membantu suasana hati mereka lebih baik lagi. Tidak ada pengendara motor di sana.

__ADS_1


Selena dan Ferdinand menikmati pemandangan dan suasana tempat itu. Selena beberapa kali mendongak ke atas melihat ke arah gulungan awan di langit. Menarik banyak-banyak udara segar ke dalam paru-paru. Mengembuskan lewat mulut. Rasanya sungguh merilekskan.


"Bagaimana kabarmu Selena?"


Selena tersenyum. "Bukankah yang harus kau tanya itu Chesa?" tanya Selena balik bertanya.


Ferdinand mengangkat bahu. "Tapi aku ingin tahu kabarmu. Soal chesa, aku yakin pasti kabarnya baik."


"Cih...setelah kau mengungkapkan perasaan kepadanya, kau tiba-tiba menghilang. Bukankah itu tidak adil? Chesa frustasi saat kau pergi dan tidak ada kabar."


"Heuh? Siapa bilang? aku tidak pernah mengatakan perasaanku kepada Chesa. Kalian berdua sudah aku anggap seperti adikku." kata Ferdinand tersenyum hambar. Ia mengusap tengkuknya berulangkali. Hati kecilnya mengatakan jika Selena masih tetap spesial di hatinya. Kesederhanaan dan kedewasaannya membuat Ferdinand menyukai Selena.


"Kau serius?"


"Hmm. Apa Chesa mengatakannya?"


"Ya," Jawab Selena meneguk air putih dari tumbler yang dibawanya dari rumah. Lalu menyimpannya kembali ke tas kecil, yang sering dibawanya untuk menemaninya olahraga.


"Yang benar saja, Chesa yang mengungkapkan perasaan kepadaku." Ucap Ferdinand dalam hati. Ia hanya bisa menggeleng dan memilih tidak melanjutkan pembahasan itu lagi.


"Aku dengar kau lagi butuh pekerjaan." Ferdinand mengganti topik pembicaraan.


Selena mengangguk dengan senyum sendu. "Hmm, sudah dua bulan aku pengangguran. Aku belum ada panggilan."


"Bagaimana kalau kau bekerja di kantorku?"


Wajah Selena berbinar bahagia. "Kau serius?"


"Hmm. Kau harus ikut aku keluar negeri."


"Keluar negeri?"


"Jauh sekali, apa gak ada di sini?" Selena mengerucutkan wajahnya.


"Jika cabang yang ada di sini, aku gak ada wewenang Selena."


"Emang kantornya dimana?"


"Di Plumbon International Textile."


"Aku juga sudah memasukkan lamaranku ke sana. Belum ada tanda-tanda juga." Wajah Selena memelas.


"Benarkah?"


"Hmmm," Jawab Selena dengan bergumam.


"Aku bisa menghubungi pak Anton. Kau bisa langsung di terima dan tidak harus melalui tahap sulit."


"Jangan, aku tidak mau." tolak Selena.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau dinilai negatif. Dan itu disebut juga sebagai nepotisme. Aku akan tetap mengikuti peraaturan yang ada."


"Kalau begitu, kau bisa ikut denganku. Kau akan mendapatkan pengalaman baru. Dan tetap mengikuti prosedur yang ada. Bagaimana?" tawar Ferdinand lagi.


Selena menggelengkan kepalanya. "Maaf! Aku tidak bisa,"


"Kenapa? kau kurang yakin denganku? aku bisa memberikan gaji tiga kali lipat."

__ADS_1


"Ini bukan masalah gaji. Aku hanya tidak bisa meninggalkan keluargaku. Apalagi akhir-akhir ini ayah sering sakit."


"Hmmm, sangat disayangkan. Padahal aku membutuhkan karyawan sepertimu."


"Maaf ya. Aku memang tidak bisa."


Ferdinand hanya bisa mengangguk pelan. Ia tersenyum penuh arti. Mereka terus berjalan menikmati udara pagi.


"Oh ya, Kau dari mana saja. Lima tahun menghilang tanpa jejak. Bahkan kau lost kontak dengan kami." Kata Selena membuka pembicaraan lagi, setelah mereka lama terdiam. Ia melangkah pelan sejajar dengan Ferdinand.


Ferdinand tersenyum menatap lurus ke depan. "Aku melarikan diri."


Dahi Selena berkerut menatap Ferdinand. "Heuh? melarikan diri? Kau buat masalah ya?"


Ferdinand tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Bisa dikatakan begitu." Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskan sekaligus. "Aku merasa bersalah atas kejadian lima tahun yang lalu, selena."


"Masalah apa? Pasti soal wanita." tebak Selena lagi. Dia tahu bagaimana Ferdinand. Tidak jauh-jauh dari urusan wanita.


Ferdinand tersenyum smrik. "Kau selalu bisa menebaknya."


"Tentu saja, selama aku mengenalmu. Kau hanya gonta-ganti pacar. Beruntung aku tidak terkecoh dengan ketampananmu. Jika tidak, mungkin saja aku adalah salah satu korban wanita itu." Ucap Selena tersenyum mengejek.


"Apa kau menilai aku seburuk itu Selena?" Ferdinand lagi-lagi membuang napas lesu.


"Terus kenapa kau merasa bersalah? Apa kesalahanmu begitu fatal sampai kau menghilang dan tidak ada kabar?" kejar Selena. Ia juga penasaran kenapa Ferdinand tiba-tiba pergi.


"Kau masih ingat saat aku mengajakmu ke pesta ulang tahun temanku?"


"Yang mana ya? Aku lupa."


"Tentu saja kau lupa, kejadian itu sudah lama. Saat itu kau menolaknya, karena sedang mengikuti seminar bersama ayahmu."


"Terus?"


"Awalnya aku hanya iseng membuatnya cemburu. Mengatakan kepada Felicia agar aku dipasangkan dengan Olivia." Ferdinand menarik napas dalam-dalam lewat mulut yang sedikit terbuka. Jika mengingat kejadian itu. Ferdinand sangat menyesal telah merencanakan itu semua. Ia lalu melanjutkan ucapannya. "Aku berhasil membuatnya cemburu, emosinya tersulut dan dia langsung mengajak Olivia meninggalkan pesta itu." Ferdinand diam sesaat.


Selena menatap dan memperhatikan Ferdinand dengan seksama.


"Ya, karena itu. Mereka berdua mengalami kecelakaan."


Selena terbelalak dengan mulut terbuka. "Kecelakaan?" tanya Selena tak percaya. Wajahnya nampak shock saat Ferdinand menceritakan itu.


Ferdinand tersenyum sendu. "Olivia meninggal saat itu juga,"


"Astaga," Selena menutup mulutnya karena begitu terkejut. "Aku ikut bersedih Ferdinand." Kata Selena mengusap lembut pundak Ferdinand.


Saat merasakan sentuhan itu. Jantung Ferdinand terpukul kencang. Ekspresi wajahnya berubah kaku. Getaran itu terus terasa di sekujur tubuhnya. Aliran listrik di dada semakin menyetrum dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Benar-benar membuat Ferdinand tak bisa berkata apa-apa. Debaran ini masih sama.


"Apakah ini cinta?"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2