Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
PERJODOHAN LAGI?


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


LIMA TAHUN KEMUDIAN.


Pria muda yang berusia 29 tahun, dengan postur tubuh yang atletis, tampan dan pintar.


Dengan kulit yang sehat dengan wajah penuh kharisma semuanya nampak begitu sempurna. Dengan aroma tubuh nan wangi di setiap penampilannya. Ia sudah menggunakan setelan jas berwarna abu-abu dan celana yang berbahan yang sama dengan setelan jasnya. Dengan potongan belakang Vent membuat jas yang Ia gunakan pas dan nyaman dipakai. Ia menggunakan sepatu Oxford yang mengkilap. Dia terlihat smart dan Profesional, bagi siapa saja yang melihat pasti mengaguminya.


Dia adalah ZIONATHAN LUCIUS, Anak dari Alberto Lucius dan Davina Lucius. Ia sudah mampu memecahkan permasalahan perusahaan semenjak ia bekerja dan belum menjadi direktur utama di perusahaan yang dibangun oleh keluarga Lucius. Dan terbukti Ia mampu membawa perusahaan Group Lucius lebih maju lagi bahkan ia mampu menunjukkan kesuksesannya dan di pandang nomor satu di dunia. Ia bahkan menjadi sorotan para pebisnis lainnya. Ia menjadi topik pembicaraan. Zionathan Lucius memang seperti ayahnya Alberto Lucius.


Zionathan disambut beberapa tim ketika ia keluar dari mobil dan memasuki gedung Pencakar langit. Para manager personal, manager pemasar, dan manager pabrik serta para devisi sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan Zio, mereka menundukkan kepala serentak menyambut direktur utama Lucius.


Langkah kaki menggema serentak mengikuti langkah Zio, tidak cepat dan tidak lambat. Melihat kedatangan direktur utama, para karyawan dengan cepat menundukkan kepala seraya memberi hormat. Mereka tidak berani mengangkat wajahnya karena direktur utama itu dikenal dingin dan tidak bersahabat.


"Bagaimana persiapan rapat hari ini?" Tanya Zio bertanya, namun pandangannya tetap ke depan dan langkahnya masih terdengar di koridor kantor.


"Semua sudah dipersiapkan pak, rapat sudah di jadwalkan pukul sepuluh." jawab Alex dengan cepat, langkahnya tetap mengimbangi. Alex melangkah tegap, ia membawa buku agenda yang tetap standbay di tangannya. Untuk memeriksa dan mencatat jadwal penting direktur utama itu.


"Apa email dari anak cabang sudah masuk?" tanya Zio dengan wajah datar.


"Saya sudah periksa pak, email-nya sudah masuk, anda tinggal memeriksanya." Jawab Alex dengan tegas.


"Untuk besok, persiapkan rapat di anak cabang, saya tidak mau terulang seperti beberapa bulan yang lalu. Sampaikan kepada pihak yang bertanggung jawab mengurus hal itu."


"Saya sudah menunggu berita terakhirnya, dan kita tinggal membahasnya di sana. Waktu dan tempat sudah saya infokan. Mereka sudah mempersiapkan tempatnya. Nanti saya akan langsung memberitahukan kepada bapak." Jawab Alex dengan lugas.


"Ingat saya tidak mau ada kesalahan. Jika hal itu terjadi lagi, aku ingin mereka membuat surat pengunduran dirinya segera."


"Baik pak," Jawab Alex sedikit menunduk dan terus mengikuti langkah pak direktur.


"Tolong Atur sebaik-baiknya, sampaikan kepada Elmon untuk pertemuan dan jamuan dengan klien, saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun. Ingat! TIDAK ADA KESALAHAN. Karena klien kita ingin melihat bagaimana perkembangan anak perusahaan di kota A."


"Baik, saya akan melakukan sebaik mungkin."


"Apa ada kendala? Saya dengar ada keributan di kota A?"


"Sejauh ini laporan yang saya terima, tidak ada pak." Jawab Alex dengan cepat dan tidak bertele-tele, sementara sikap tubuhnya masih tetap tegap.


TAP TAP TAP TAP


TAP TAP TAP TAP


Bunyi langkah kaki Alex melangkah lebih dulu untuk memencetkan tombol lift. Lalu melangkah ke belakang tepat di belakang pak direktur. Ia berdiri tegap menjaga jarak satu meter di belakang Zionathan.


Ting! pintu lift terbuka.

__ADS_1


Zio masuk lebih dulu, dan kemudian disusul Alex. Ia tetap berdiri satu meter di belakang pak direktur setelah memencetkan tombol lift itu kembali. Mereka hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing.


TAK BEBERAPA LAMA.


TING


Pintu lift kembali terbuka.


Zio melangkah keluar yang disusul oleh Alex. Ia sudah tiba di ruangan yang bertuliskan CEO, ia langsung duduk di kursi kekuasaannya.


Alex berdiri tidak jauh dari Zionathan, posisi tegap dan siap mendapat perintah dari direktur utama.


"Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Zio menatap ke arah Alex.


"Maaf pak, tadi pak Alberto mengingatkan saya lagi."


Zio langsung mengembuskan napasnya saat Alex menyebut nama Ayahnya. "Apa masalah perjodohan lagi?" tanya Zio menatap malas.


"Betul pak."


"Kapan itu?"


"Besok lusa pak."


"Baiklah, nanti saya pikirkan lagi."


"Saya harap untuk kali ini anda tidak menolaknya pak."


Dahi Zio mengerut, menatap tajam ke arah asistennya. "Apa kau sedang mengajariku Alex?"


"Cih..." Zio berdecak. Ia mencondongkan tubuhnya sambil memangku siku di atas meja. "Bagaimana sekretaris yang aku minta?"


"Maaf pak, saya belum menemukan sesuai kriteria anda." kata Alex dengan suara terendahnya, ia menundukkan kepalanya tak berani menatap Zionathan.


"Kau bisa mengurusi masalah keluarga Lucius. Tapi soal sekertaris yang aku minta, kau tidak bisa mengusahakannya. Apa kau mau di PECAT?" Rahang Zio mengeras menahan amarah.


"Maafkan saya pak." Alex lagi-lagi hanya bisa menunduk.


Zionathan membuang napasnya dengan decakan sambil menaikkan alisnya setengah. "Saya tunggu dalam waktu dekat, kau harus segera menemukannya. Sekarang kau boleh keluar!" ucap Zio tegas.


⭐⭐⭐⭐⭐


SORE HARI DI APARTEMEN ZIO.


Setelah melakukan Video call bersama sahabatnya, ia duduk santai menatap keluar. Pandangannya jauh menerawang. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Menikmati senja dari balkon kamarnya. Setelah wisuda, Arnold menerima tawaran pekerjaan di Jerman, ia memilih pergi dan menetap di sana. Walau mereka jauh, mereka tetap melakukan hubungan komunikasi dengan baik.


Zio bangkit untuk meregangkan otot-otot nya, selama satu pekan melakukan tugas dengan jabatan CEO tentu bukan hal yang mudah, ia mengemban tugas berat, meneruskan perusahaan Lucius menggantikan ayahnya. Ia harus piawai dalam mengambil keputusan yang terkait dengan perkembangan perusahaan Group Lucius sekaligus mengelola sumber daya yang tersedia terkhusus menyusun strategi untuk mengarahkan bisnis menjadi lebih maju. Jadi Zionathan harus tetap menjaga kesehatannya.


Salah satunya adalah istirahat, walau hanya duduk sambil menikmati acara televisi yang berhubungan dengan dunia bisnis. Zio menghabiskan waktunya beristirahat di apartemennya. Ia sengaja memilih apartemen yang dekat dengan kantornya, karena ia sendiri tidak mau, menghabiskan waktunya di jalan.


Zio kembali menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan napasnya sekaligus dari mulutnya. Lima tahun sudah berlalu, banyak kejadian yang terjadi di luar dugaannya. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya harus pergi untuk selamanya. Sampai sekarang masih ada luka dalam batin yang sangat berdampak pada dirinya.


Kepergian Olivia, masih sangat membekas di hatinya. Walau menjerit dengan tangisan, namun kenyataannya Olivia tidak akan pernah kembali lagi. Olivia sudah tidak pernah menyapa dirinya dalam tidur. Olivia yang begitu penting dalam hidupnya. Dengan berat Zio memang harus mengikhlaskannya. Walau masih sangat sulit untuk melupakannya. Untuk mengobati hatinya, Zio setiap minggu akan berkunjung ke tempat peristirahatan Olivia. Rumah baru yang dihuninya untuk selamanya.

__ADS_1


Zio kembali masuk, duduk di kursi malasnya. Ia duduk menempelkan badannya di kursi, ia mendongak ke atas menatap langit-langit ruangannya. Ia memejamkan matanya. Menarik napasnya pelan, agar ia bisa mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Baru saja ia tertidur, Zio tersentak saat mendengar suara panggilan dari handphonenya.


Drrrrttttt dddrrrttt drrrrttttt.


"Pasti ibu?" tebak Zio dalam hati.


Zio menatap sekilas handphone, ternyata benar dugaannya. Panggilan itu ternyata dari nyonya Lucius. Ia menghembuskan napasnya dan langsung menggeser tanda terima.


"Ya bu?"


"Apa kabar sayang?" tanya Davina tersenyum lembut diujung telepon.


"Baik bu. Ada apa?" tanya Zio tanpa basa-basi.


"Ibu sekedar mengingatkan, besok lusa agar tidak lupa untuk makan malam di rumah utama." Kata Davina mengingatkan.


Zio menarik napas dalam-dalam. Kemudian mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. "Hmm, tadi Alex sudah mengingatkanku bu. Sekarang ibu menghubungiku untuk mengingatkannya lagi."


"Aku hanya memastikan saja, nanti kamu lupa sayang."


"Aku tidak akan lupa bu, apa acara itu begitu penting bu?"


"Tentu saja sayang, kau sudah lama tidak datang ke rumah utama. Ibu hanya merindukanmu. Kau tidak...."


"Ibu, tidak ada niat mengundang wanita lain kan?" Kata Zio memotong pembicaraan ibunya.


"Tentu saja, ini hanya makan malam keluarga saja, setidaknya untuk menjalin kebersamaan saja."


"Baiklah, aku akan meminta Alex untuk memasukkannya ke dalam jadwalku."


"Oke sayang, sampai bertemu lusa. Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya."


"Ya bu, ayah dan ibu juga tetap jaga kesehatan."


"Baik sayang. Kami sehat kok."


TIT.


Panggilan pun terputus.


Ia kembali menarik napasnya dalam-dalam. Semoga saja apa yang pikirkannya benar. Selama ini, jika Ayah dan ibunya mengundangnya makan, pasti dia akan mendesak dan mengatakan kapan menikah dan ujung-ujungnya menjodohkan. Jika Zio menolak yang terjadi hanyalah perdebatan dan membuat hati kesal. Awalnya sih hanya mengenalkan dan membangun relasi saja. Namun lama-lama sikap ke dua orangtuanya sekarang lebih cenderung memaksakan dan memilih seenaknya wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya.


Semua memang berubah semenjak kepergian Olivia membuatnya menutup hati pada semua wanita. Mungkin karena itulah, ayah dan ibunya mati-matian menjodohkannya.


"Tapi hati tidak bisa dipaksa. Apa yang ayah dan ibu pikirankan, menjodohkan? huft...." Zionathan hanya bisa membuang napasnya dan menggelengkan kepalanya. Karena menurutnya cinta tidak bisa dipaksakan karena akan berujung saling melukai.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2