
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Zionathan melepaskan pelukannya yang posesif. Menjauhkan Selena yang terkulai lemah ke atas bantal yang empuk. Peluh keringat Zionathan jatuh menghangatkan tubuh Selena. Keringat dari percintaan mereka yang luar biasa dan begitu dalam. Begitu sendu, serius dan menggetarkan untuk diingat seumur hidup. Selena bersandar di dada bidang Zionathan. Mereka masih sama-sama polos di dalam selimut. Masih saling menikmati setiap sentuhan hangat dan lembut di kulit satu sama yang lain.
"Kau tidak lapar?" Tanya Zionathan sambil mengusap-usap punggung polos Selena yang masih terdiam di sana.
"Tiba-tiba aku kenyang di suguhi seperti ini." Selena tersenyum sambil memejamkan matanya.
Zionathan terkekeh, ia merengkuh tubuh Selena semakin menempel ke tubuhnya, lalu menempelkan pipinya ke pipi Selena. "Bukankah kau sudah menyiapkan makanan istimewa untuk kita makan?" ucap Zionathan lalu menghirup aroma leher Selena. Ia mencium dengan hidung dan menarik napas dalam. Meremas tubuh Selena yang sudah ada di pelukannya.
"Hmmmm." Selena bergumam, menahan geli dalam dirinya. Ia menarik tangan Zionathan yang merengkuh bahunya lalu menggigit dengan pelan.
"Hei...kau menggigitku," Zionathan mencubit hidung Selena dengan pelan.
Selena tersenyum lagi. "Aku masih ingin seperti ini." Hidung mungil, kecil dan mancung itu mengembuskan napas hangat yang menyentuh wajah Zionathan.
Zionathan ikut tersenyum sambil mengusap rambut di puncak kepala Selena. Berulang-ulang dengan lembut. Ia mengedipkan matanya pelan, terus menatap istrinya itu.
"Ini sangat nyaman." Kata Selena sambil mendaratkan kecupan di dada Zionathan. Ia menahan rambut di bawah telinganya saat melakukan itu. "Dan aku ngantuk sekali. Aku ingin tidur." Suaranya terdengar manja di telinga Zionathan.
Ia tersenyum, Mata Zionathan menatap Selena dengan penuh cinta. "Tidurlah," Diusapnya lagi pipi Selena.
Selena tersenyum sambil di dekap Zionathan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara teratur. Dadanya terus menggelitik penuh dengan rasa yang dicintai. Ya, dia dicintai bahkan merasa sangat dicintai. Selena akhirnya terlelap sambil menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
Susana malam ini begitu sendu dan hati mereka masih bergejolak dengan itu. Zionathan pun ikut tertidur dengan posisi memeluk istrinya dengan penuh kehangatan dan cinta.
Lima belas menit telah berlalu.
Dua sejoli ini tertidur lelap sambil berpelukan. Terus membagi kehangatan dengan tubuh polosnya. Dan tiba-tiba handphone Zionathan terus bergetar.
Dddrrrttt..... dddrrrrttttt... dddrrrttt....
"Ehmm..." Zionathan bergumam. Matanya menyipit. Tidurnya terganggu dengan dengan suara getaran handphone yang diletakkan di atas nakas.
Zionathan meraih ponselnya dari atas nakas, melihat layar handphonenya, ternyata panggilan itu dari Alex. Zionathan melihat sekilas jam yang ada di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Zionathan menghela napas panjang, lalu memilih untuk menjawabnya.
"Hmm, ada apa Alex?" Sapa Zionathan setengah berbisik. Takut jika istrinya terbangun karena mendengar suaranya.
"Saya sudah menemukan siapa yang mengirim foto-foto itu kepada anda, pak."
"Heuh, Kau sudah menemukannya?" dahi Zionathan mengerut.
"Betul pak,"
"Baiklah, hari ini saya ingin bertemu dengannya."
"Anak buah kita sudah membawanya ke tempat yang aman."
"Aku tidak mau ada kekerasan di sana. Kau mengerti?"
"Baik pak." Alex menjawabnya dengan cepat. Dia tahu Zionathan tidak suka jika anak buahnya melakukan tindakan kekerasan dalam mengurus soal apapun itu.
"Sekarang dia ada dimana?"
"Saya akan mengirimkan alamatnya lewat pesan pak."
__ADS_1
"Hmm. Pastikan semuanya aman dan terkendali. Saya tidak ingin media mencium ini."
"Pasti pak. Semuanya akan berjalan baik."
"Pekerjaan yang bagus." Zionathan menunduk sambil memijit pelipisnya. Ia menoleh ke samping melihat istrinya yang masih tertidur lelap. "Kau sudah di sana?" Tanya Zionathan lagi.
"Saya masih mengurus sisa pekerjaan tadi siang pak. Saya akan segera menyusul ke sana. Dan yang jelas anak buah kita sudah berada di sana."
"Oke, aku langsung ke sana."
"Atau saya langsung ke sana menjemput anda pak?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Baik pak."
"Bagaimana pertemuan dengan pak Steven tadi. Apa semua berjalan lancar?"
Alex tersenyum saat mendengar itu. "Semuanya berjalan lancar pak. Apalagi tamu dari Australia bisa menggunakan bahasa kita. Semuanya aman dan menyetujui banding profit yang kita ajukan. Jadi tidak salah tuan Alberto bisa dengan cepat memenangkan negosiasi ini. Beliau sama seperti anda pak."
"Baiklah, terima kasih Alex."
"Sama-sama pak." Jawab Alex tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Akhir-akhir ini pak direktur selalu memuji kinerjanya. Bertahun-tahun bekerja dengannya, hanya ada wajah dingin dan kaku saja.
Sementara Zionathan sudah mematikan handphone dan tersenyum penuh arti. Ia lalu menatap istrinya yang masih tertidur lelap. Zionathan mengecup kening istrinya cukup lama, dan mencoba turun dari atas kasur dengan pelan.
⭐⭐⭐⭐⭐
Tak ingin istrinya terbangun. Zionathan dengan perlahan mengangkat tangan Selena yang melingkar di pinggang. Sangat berhati-hati meski wajahnya mengerucut karena menahan berat. Zionathan menurunkan kedua kakinya. Dengan perjuangan yang sungguh mendebarkan agar Selenanya tidak bangun.
Zionathan berhasil turun dari kasur. Selena nampak bergumam dan membalikkan badannya. Huffft... Zionathan bernapas lega.
Ia berjalan mengambil pakaiannya yang berhamburan di lantai. Ia tersenyum mengingat percintaan mereka tadi. Zionathan melepaskan lamunannya, segera mengganti pakaiannya dan memakaikannya dengan cepat.
TING!
Zionathan membuang napas lega. Tak ingin membuang waktu, Ia lalu mengambil kunci mobilnya. Zionathan keluar dan turun melalui pintu lift menuju basement. Ia berjalan menuju mobilnya, tanpa menunggu lagi, Zionathan langsung menyetting GPS di mobil. Alamat yang di kirim Alex lewat pesan WhatsApp tadi. Saat melihat alamat itu, Zionathan sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat tempat yang akan ditujunya.
"Bukankah daerah ini tempat tinggal Olivia?" Wajah Zionathan mengerut.
Zionathan menepis perasannya yang tidak enak itu. Ini hanya kebetulan saja. Zionathan sudah berjanji, tidak ingin terperangkap dengan masa lalunya lagi. Zionathan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju alamat yang sudah dikirim Alex.
Dalam perjalanan, tiba-tiba gerimis mengucur perlahan dan semakin deras seiring menemani perjalanannya. Di antara rapatnya tirai-tirai hujan, Zionathan menyetir mobilnya yang berwarna biru laut itu. Ia menarik napasnya dalam-dalam, Zionathan masih ingat dengan jalanan ini. Tidak jauh dari tempat inilah kecelakaan itu terjadi. Ia harus bisa mengendalikan setir mobilnya dengan baik. Keadaan gelap dan gerimis yang tak juga mau berhenti. Kini lampu mobilnya menjadi satu-satunya penerangan di malam gelap diantara rintik-rintik hujan. Daerah ini memang sepi.
SEMENTARA ITU.
Seorang gadis dengan rambut basah dan dress yang kotor bagian bawahnya tengah menangis sambil menundukkan kepala. Rambut panjangnya nampak berkelompok dan menitikkan air di setiap ujung-ujungnya. Gadis itu dibawa empat orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Kedua tangannya gemetar karena ketakutan. Lengannya di pegang erat oleh dua pria lain.
"Apa yang kalian lakukan? lepaskan aku!"
"Tunggu sampai bos kami datang." Ucap pria itu menatap sinis.
"Siapa kalian? sungguh aku tidak mengenal kalian." ucapnya menatap pria yang begitu kaku dan dingin itu
"Jangan banyak bicara," Desis pria itu dengan mata menyalang tajam.
"Tapi untuk apa kalian membawaku ke sini? kalian ingin merampokku? kalian salah orang. Aku tidak punya apa-apa. Lihat, aku hanya orang biasa." Gadis itu berucap lantang untuk menutupi rasa takutnya. Kedua tangannya gemetar saat tatapan mereka begitu dingin menatap gadis itu. Bahunya melengkung ke depan. Entah karena menggigil karena kedinginan atau juga karena ketakutan, keduanya bercampur aduk sekaligus.
Saat gadis itu ingin berdiri dan berusaha kabur, dengan cepat pria itu menangkapnya. "Sudah aku katakan jangan pernah coba-coba kabur dari sini atau kau akan menderita."
"Lepaskan aku!" Gadis itu berusaha berontak dan melepaskan diri.
"Jangan banyak bergerak, itu akan menyakitimu, bodoh" Pria itu memukul bagian kepala gadis itu.
__ADS_1
"Ahhhh...." Gadis itu mengerang. "Apa yang kalian lakukan?" Ia menangis di sana. "Aku sudah bilang tidak punya apa-apa,"
"Kami tidak ingin menyakitimu, cukup kau diam dan jangan banyak bicara. Kau hanya bertemu dengan bos kami saja."
Gadis itu mengerutkan keningnya, "Aku tidak mengenal bos kalian. Biarkan aku pergi." Gadis itu memohon lagi dengan suara parau sambil menangis
"Pulang katamu? Kau tidak akan bisa pulang sebelum bertemu dengan beliau."
"Apa kalian ingin menjualku?" Ucap gadis itu ketakutan.
"Jika bos kami menginginkan hal itu, kami tidak bisa berbuat apa-apa."
"He he he..." Napas gadis memburu saat mendengar kalimat itu. "Lepaskan aku," Dia kembali berusaha melepaskan diri. Ketakutannya semakin menjadi.
"Tutup mulutnya." Kata pria itu mengarahkan anak buahnya. "Dia terlalu banyak bicara."
Namun sebelum itu terjadi, gadis dengan sekuat tenaga menggigit tangan pria itu dan berusaha kabur lagi.
"Aaarggghh....!" Pria gemuk itu mengerang kesakitan.
Dengan sigap pria yang lain berlari dan mencegah agar gadis itu tidak kabur. Kedua lengannya di pegang kuat agar tidak melarikan diri lagi. Habis kesabaran, lelaki itu mencengkram rahang gadis itu cukup keras. Gadis itu mengerjap dan mundur. Tapi dua pria lain menahan lengannya semakin mencengkram dengan erat.
"Eeeh....Eeeggghhhh..." Gadis itu merasa kesakitan saat jari-jari pria itu menekan kuat sisi rahang bawahnya. Pria itu mengangkat wajahnya ke atas. "Jika kau menurut dan tidak menggigit salah satu anak buahku, aku tidak akan menyakitimu."
"Lepaskan aku," Gadis itu memohon dengan tangisan pilu. Rahangnya semakin dicengkram kuat.
"Lepaskan dia!" Ucap Zionathan dengan tegas saat melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Kedua pria itu langsung melepaskan tangannya dari lengan gadis itu. Lalu mundur dan menunduk saat menyadari kedatangan Zionathan.
"Aku sudah katakan tidak ada kekerasan di sini. Kalian tidak mengerti ya?"
"Maaf tuan, dia berusaha kabur."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini," Zionathan tampak kesal. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Rahangnya terlihat bergaris tegas di sana.
"Maaf tuan." Ucapnya lagi menunduk penuh penyesalan.
"Apa mereka menyakitimu?" Tanya Zionathan berjongkok di sana.
"Heeeh...." Gadis itu hanya mendesah dengan terbata-bata. Matanya nanar penuh ketakutan. Ia terus menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.
Anak buahnya langsung memberikan kursi kepada Zionathan dan mempersilakannya duduk di sana.
"Silakan duduk, tuan."
"Dimana Alex?"
"Sepertinya di jalan tuan."
Zionathan menarik napas dalam-dalam, lalu menatap gadis yang terus menunduk itu.
"Aku tidak ingin membuang waktuku dengan sia-sia. Apakah kamu orang yang mengirimkan foto-foto itu kepadaku?"
DEG!
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^