Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KITA AKAN BAIK-BAIK SAJA.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Ferdinand menatap langit sore yang menurutnya mendung kelam. Seolah alam tahu apa yang sekarang Ia dirasakan. Ferdinand melakukan ritualnya. Mengembuskan napas lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya dan juga menenangkan diri. Ia pasti bisa melalui semua ini. Ferdinand kembali menguatkan hatinya.


Setelah mereka lama terdiam dan merasa cukup tenang, Ferdinand menarik napasnya lagi. Lalu menatap ke arah Selena.


"Izinkan aku mengantarmu pulang." ucap Ferdinand tersenyum tipis, lalu bangun dari duduknya.


Selena mengangguk dan ikut berdiri. Ia mengikuti langkah Ferdinand yang berjalan lebih dulu. Tak ada yang bicara, mereka hanya terus berjalan sampai ke parkiran cafe.


"Mungkin ini akan menjadi terakhir kita bertemu, Selena." ucap Ferdinand dalam hati.


Sedih, kecewa, semua ini memang harus dilaluinya sendiri. Dan ini benar-benar menyakitkan. Ferdinand hanya bisa menujukkan bahwa ia bisa melaluinya. Tapi sesungguhnya itu akan sulit. Ia tak bisa melaluinya tanpa Selena. Pikirannya berkecamuk, hatinya tidak tenang. Ferdinand masih tidak menyangka Selena sudah menikah dengan ternyata lelaki itu adalah Zionathan.


Mereka sama-sama masuk ke dalam mobil. Ferdinand tidak lagi membuka mobil untuknya. Rasa canggung tiba-tiba melingkupi mereka. Ferdinand duduk bersandar. Ia pun memutar kunci di dalam kontak dan menghidupkan mesin mobilnya, lalu mulai menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Hening menyeruak di antara keduanya. Mereka hanya memandangi jalan dalam kebisuan. Selena menghidupkan audio mobilnya untuk memecahkan keheningan mereka. Sementara Ferdinand larut dalam pikirannya sendiri. Tatapannya kalut.


Tidak ingin terperangkap dalam suasana hening, Selena pun mulai berbicara.


"Ferdi?" Panggil Selena pelan.


Ferdinand bergeming. Ia masih larut dalam pemikirannya.


"Ferdinand?" Panggil Selena untuk kedua kalinya.


"Heuh?" Ferdinand menatap ke arah Selena. Merespon panggilannya.


Selena tersenyum. "Sejak kapan kau mengenal Zionathan?"


Ferdinand membalas senyuman itu, lalu menjawab pertanyaan Selena. "Aku mengenal Zionathan sejak dia pindah ke kota A. Saat itu ia baru berusia 12 tahun. Aku dan Zionathan begitu dekat, kami bahkan dikatakan pasangan gay." Ferdinand tertawa.


"Pasangan gay?"


"Hmm. Kemana-mana selalu bersama. Tak terpisahkan. Jadi orang-orang menganggap kami pasangan gay." Ferdinand tersenyum lagi. "Tapi semuanya berubah sejak kejadian lima tahun yang lalu." Ferdinand terdiam sesaat, ia mengembuskan napas panjang dan menatap sayu ke arah jalanan.


"Lima tahu yang lalu? Apa maksudmu soal kejadian kecelakaan itu?"


"Hmm. Kematian Olivia itu murni karena kesalahanku."


"Heuh?" Dahi Selena semakin mengerut. Ia masih menunggu sampai Ferdinand mengatakan semuanya.


"Awalnya aku hanya ingin membuat Zionathan cemburu. Karena aku tahu siapa dia. Aku sengaja merencanakan dansa konyol dan meminta Olivia berpasangan denganku dan aku berhasil membuatnya marah. Zionathan meninggalkan acara itu. Kemarahan itu berbuntut panjang hingga menyebabkan kecelakaan."


Mata Selena membulat sempurna. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Apakah karena itu, ia sangat membenci Ferdinand?" ucap Selena dalam hati.


"Saat kecelakaan itu terjadi, aku ada di sana Ferdi. Ayah membantu mengevakuasi korban kecelakaan itu, termaksud Zionathan dan Olivia."


"Hah? benarkah?"


"Hmm." Selena mengangguk cepat. "Pasti Zionathan begitu terpukul."


Ferdinand menarik napasnya. "Ya. Saat itu juga Zionathan memutuskan persahabatan kita. Ia bahkan menganggapku musuh yang tak termaafkan. Dia sangat membenciku. Aku mengerti itu, terkadang kata maaf saja tidak cukup untuk memulihkan hatinya. Karena aku tahu, ia sangat mencintai Olivia. Bahkan kejadian itu sudah lima tahun telah berlalu, Zionathan masih larut dalam kesedihan. Ia sangat terpuruk atas kehilangan Olivia. Kejadian seperti mimpi buruk untuknya." Ferdinand terdiam sesaat. Memberi kesempatan untuknya menarik napasnya. Sementara Selena diam dan terus menyimak.


"Dan aku sadar apa yang kulakukan itu memang salah. Aku hanya ingin Zionathan memaafkanku." Ucap Ferdinand dengan suara terendahnya.


Selena menarik napasnya. Semua tentang Zionathan terjawab sudah. Itu sebabnya ayah menjodohkannya agar ia bisa melupakan masa lalunya. Dan masalah mimpinya itu. Semuanya saling berhubungan. Itu tidak kebetulan, semua ini adalah rencana dari Tuhan.


"Apakah kau mencintai Zionathan?" Tanya Ferdinand sambil membuang napas menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Selena tersenyum tipis, memandang ke arah Ferdinand yang fokus menatap jalanan. "Ya. Zionathan adalah cinta pertamaku."


"Apakah Zionathan mencintaimu?"


DEG!


Entah mengapa pertanyaan itu mengusik hatinya. Tapi ia tidak ingin ragu. Pengakuan Zionathan setidaknya menunjukkan bahwa Ia benar-benar serius untuk memulai hidup baru dengannya. Selena tersenyum dan berkata "Hmm. Tentu saja dia mencintaiku."


Ferdinand menarik napas dalam dan hanya memandang sayu ke depan. "Syukurlah dia mencintaimu. Aku pikir dia sudah mati rasa soal cinta."


Selena tertawa awkward saat mendengar itu.


"Kamu tidak bertanya bagaimana aku bisa mencintaimu?"


Selena tersenyum sendu dan hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"Aku menyukaimu saat pertama kali melihatmu datang bersama Chesa ke kantin waktu awal-awal masuk kuliah dulu. Kau begitu berani."


Selena menarik napas dalam dan memandang ke depan. Ia sama sekali tidak memberi komentar apapun.


Ban mobil terus berputar, mereka melaju menyusuri jalan. Beberapa puluh menit akhirnya mereka tiba di apartemen mewah. Ferdinand menghentikan mobilnya tepat di depan pagar kokoh itu. Selena sudah melepaskan sabuk pengamannya dan mereka turun bersamaan.


"Terima kasih untuk hari ini Ferdinand. Kau akan tetap teman terbaikku kan?" Kata Selena tersenyum. Jiwa usilnya tiba-tiba menghilang. Sepertinya ia sangat mengerti dengan keadaan sekarang.


"Hei...kenapa bicara seperti itu. Tentu saja kau akan tetap menjadi teman terbaikku." Kata Ferdinand memberikan senyum terbaiknya. Ia tidak ingin Selena khawatir memikirkan perasannya.


Selena tersenyum. "Kau tidak mampir dulu?" tanya Selena berdiri di depan pagarnya.


"Aku langsung pulang saja. Aku takut Zionathan salah paham dan semakin membenciku."


"Baiklah, masuklah!" kata Selena.


"Tidak, aku ingin mengantarmu sampai di depan lobby apartemen."


"Oke kita masuk," kata Selena.


Ferdinand tersenyum. "Masuklah!"


Selena mengembuskan napas panjang, "Hmmm hati-hati di jalan." ucapnya pelan.


Ferdinand memandang Selena dengan tatapan sayu. Selena tersenyum dan segera membalikkan badannya untuk masuk.


"Selena..." panggil Ferdinand.


"Hmm..." Selena dengan cepat membalikkan badannya.


Ferdinand menarik napasnya dan tersenyum kepada Selena. "Jangan pernah tinggalkan Zionathan."


"Ferdi," Mata Selena berkaca-kaca saat mendengar kalimat itu.


"Berjanjilah kepadaku Selena," Ferdinand menatap Selena penuh harap. "Kau tidak akan menyerah dan terus bersamanya. Aku melihat dengan jelas. Kebahagiaanmu adalah Zionathan. Kau cukup mempercayainya, aku tahu siapa Zionathan. Jika sudah jatuh cinta, ia akan selalu melindungimu." Ferdinand menarik dalam-dalam napasnya. "Bertanggung jawablah padaku, kau akan bahagia."


Air mata yang sedari tadi terkumpul jatuh begitu saja membasahi pipinya. Ia menjepit bibirnya dan mengangguk cepat. "Kau juga harus berjanji padaku. Akan menemukan wanita jauh lebih baik." ucap Selena dengan suara terbata-bata.


DEG!


Ferdinand terdiam. "Soal itu sepertinya sangat sulit Selena. Tapi aku akan berusaha dan berjanji mencarikan wanita baik seperti yang kau katakan."


Selena tersenyum. "Terima kasih Ferdi. Kau harus bahagia dan cepat-cepat menikah. Kau mengerti?"


"Hmmm. Tentu saja, aku juga tidak tahan hidup sendiri. Tunggu saja, aku pasti mengundangmu." Ferdinand tersenyum simpul.


"Berjanjilah juga kau akan baik-baik saja. Dan bila membutuhkan apa pun jangan pernah ragu untuk menghubungiku."


"Pasti." Jawab Ferdinand menarik napasnya yang terasa sesak.


Selena mengusap air matanya dengan cepat. "Kau tahu, Ferdinand?"

__ADS_1


"Apa?"


"Aku bersyukur mengenalmu."


Ferdinand lagi-lagi tersenyum. "Dan kau tahu, Selena?"


"Hmm?" Selena mengangkat alisnya.


"Aku jauh bersyukur mengenalmu. Kau wanita yang paling cerewet." kata Ferdinand. "Kau cerewet, tapi aku menyukainya."


Mereka sama-sama menunduk sejenak dan tersenyum.


"Kita akan baik-baik saja." Mereka berucap bersama lalu kembali tersenyum.


"Sekarang masuklah!" Ucap Ferdinand lagi.


"Hati-hati ya,"


"Hmmm."


Entah mengapa melihat raut wajah Ferdinand yang tak seperti biasanya, membuat Selena tidak tenang. Kali ini rasanya berbeda, seperti resah? Ferdinand tersenyum lagi saat Selena mengintip sedikit cela pintu yang sedikit terbuka.


"Apa kau akan terus mengintipku Selena?" ucap Ferdinand tersenyum kecil.


Selena tersenyum dan melambaikan tangannya. "Bye, hati-hati ya."


Selena sudah tidak terlihat lagi. Saat akan berbalik, air mata Ferdinand pun terjatuh. Hatinya remuk, terkoyak bahkan hancur. Ia kembali masuk ke dalam mobil. Ferdinand menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya gemetar. Ferdinand masih posisi terpejam, berusaha menekan segala perasaannya. Hanya wajah Selena yang terlintas dibenaknya. Ia tertunduk.


Energi di tubuhnya seakan hilang entah kemana, kini yang tertinggal hanya rasa pilu dan tidak berdaya. Rasa sakit ini menggerogoti jiwanya. Ferdinand menatap keluar, Ia ingin menguatkan hatinya, namun ia semakin tidak mampu, rasa luka itu semakin menggores hatinya yang paling dalam dan tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Beberapa menit kemudian, Ferdinand menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen mewah itu. Ia hanya fokus menyetir. Melajukan mobilnya membelah jalan.


⭐⭐⭐⭐⭐


Selena duduk di sofa kamarnya. Memijat punggungnya yang terasa pegal. Ia memutarnya berulang-ulang agar otot-ototnya tidak tegang lagi. Ia mengambil handphonenya yang tertinggal. Selena bisa menebak pasti banyak panggilan yang masuk.


Selena menatap layar handphonenya dengan bingung. Tidak ada panggilan dari Zionathan. Panggilan masuk itu hanya dari pak Alex saja. Selena dengan cepat menghubunginya.


"Kenapa pak Alex?" Tanya Selena ketika panggilan tersambung.


"Tadi pak direktur menghubungiku dan menanyakanmu."


"Ha? menayangkan aku pak Alex? Kenapa pak direktur tidak menghubungiku saja pak?"


"Saya juga kurang tahu dan beliau bahkan menanyakan, pukul berapa kamu keluar dari kantor, apakah kamu sudah pulang atau tidak. Beliau baru menghubungiku lima belas menit yang lalu."


"Heuh? Apa pak Alex mengatakan, aku izin keluar?"


"Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa. Apa terjadi sesuatu?"


"Ahhh...." Selena mengeluarkan suara tawa. "Tidak pak, terima kasih atas informasinya pak."


"Oke, sama-sama sekertaris Selena."


Selena pun mengakhiri panggilannya. Ia menghembuskan napas panjang. Perasannya tiba-tiba tidak enak. "Apakah dia tahu aku pergi dengan Ferdinand?"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2