
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Keesokan paginya, matahari mulai bersinar terang, dan sebagian cahaya hangatnya masuk melewati celah jendela yang tertutup gorden.
Selena tidak langsung bangun, ia menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Selena memandang ke sampingnya. Dilihatnyalah sebuah foto yang menemaninya tidur. Selena tertegun sesaat. Tersenyum dengan manis tanpa perintah.
"Hmmm," Selena mendesah lalu mengambil foto itu, lalu memiringkan kepala melihat dengan senyuman.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu Nathan." Selena mendekap foto itu sambil memejamkan matanya. Kemudian menatapnya dengan penuh haru. Ia tidak menduga akan dipertemukan dengan Nathan lagi. Selena masih tak percaya, ini serasa mimpi.
"Apa kau merasakan hal yang sama Nathan?" Selena tersenyum khayal. Masih menikmati bunga-bunga cinta yang semakin subur bermekaran di dalam hatinya.
"Ahhhhh..." Selena menatap foto itu lagi. Ia tersenyum sendu. "Nathan..apa kau masih ingat saat kau pergi meninggalkan aku di gudang dan memintaku menunggumu. Kau berjanji akan kembali. Saat itu hujan sangat deras. Aku ketakutan sekali, saat kau tidak kembali. Aku pikir, kau memang sengaja meninggalkan aku di gudang itu. Aku tidak tahu harus melakukan apa kecuali menangis. Setelah menunggu dua jam. Akhirnya kau datang bersama uncle. Kau menceritakan semua, bahwa kau lupa jalan ke gudang. Yang membuatku terharu, kau menangis meminta uncle untuk secepatnya datang." Selena tersenyum sambil mengusap foto itu dengan lembut.
"Aku masih bisa ingat bagaimana kau menangis tersedu dan minta maaf kepadaku." Selena berdecak lagi. "Hei... jika itu bukan kau, aku tidak akan memaafkanmu. Aku ketakutan saat itu. Rasanya ingin mati." Selena mendesah dengan wajah mengerucut sedih.
"Kau tahu aku sangat takut kegelapan. Gelap itu menakutkan, untuk melihat sekitarnya pun aku tidak ingin. Sedetik, dua detik, aku mulai merasa gudang itu mulai menciut dan kegelapan di sekitarku serasa menindih tubuhku. Aku mulai sesak nafas saat itu. Ahhhhhh..." Selena memejamkan matanya sambil memeluk foto itu di dadanya.
"Sudah cukup aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi." Ia bergegas bangun dan merapikan tempat tidurnya.
Semalaman Selena tidak bisa tidur, ia gelisah dan terus memikirkan Nathan. Selena berusaha memejamkan matanya, namun tidak bisa. Yang dia lakukan hanyalah membolak-balik kan badannya ke kiri dan ke kanan. Memeluk bantal guling dan melepaskannya lagi. Malam itu isi kepalanya sudah penuh dengan Nathan. Ia bahkan terbuai dengan lamunannya. Tanpa sadar jam terus berputar. Semua kenangan manis itu mencuat dan menggetarkan hatinya. Hingga akhirnya ia tertidur. Selena benar-benar terlelap dan tidak tahu pukul berapa ia bisa tertidur.
Selena melantunkan lirik lagu yang bahkan ia sendiri tidak paham apa lagunya. Efek terlalu bahagia. Pertemuan dengan keluarganya pun di percepat. Selena bertambah nervous. Astaga wajah Selena bersemu merah. Jantungnya terpukul kencang. Selena menarik napasnya dalam-dalam. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Oke...oke sekarang kembali pada realita Selena. Semoga aku bisa melewati hari ini dengan profesional."
Selena segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nada dering yang dinyanyikan oleh George Benson yang berjudul Nothing's gonna change my love for you, berbunyi memecahkan kesunyian pagi. Selena mendengarnya, dengan cepat ia berlari mengambil handphonenya dari atas meja. Selena menatap layar pipih itu dan melihat siapa yang memanggilnya. Ia menggeser tanda terima layar di handphonenya sebelum panggilan itu berakhir.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Selena menyapa Alex.
"Selena, pagi ini pak direktur tidak ke kantor. Ia langsung meninjau proyek yang ada di kota B."
"Jadi kalau pak direktur tidak ke kantor, apa urusannya denganku? Bukankah itu lebih bagus? Aku tidak lagi sengsara menghadapi sikap lelaki kaku itu." umpat Selena dalam hati.
"Habis dari kota B, kemungkinan pak direktur tidak kembali ke kantor. Beliau ada acara keluarga. Jadi semua tugas di kantor beliau serahkan kepada kita." terang Alex.
"Astaga laporan pak Axel begitu akurat dan terpercaya." Selena tersenyum kecut sambil memutar bola matanya.
"Jadi aku harap jangan terlambat. Kau harus tiba di kantor sebelum pukul tujuh. Ingat, sekertaris Selena. Kali ini jangan sampai pak direktur menegurmu lagi."
"Baik pak," Ucap Selena dengan sopan.
"Ada pertanyaan?"
__ADS_1
"Ah... tidak ada pak." jawab Selena cepat.
Axel tersenyum di ujung telepon. "Oke, sampai bertemu di kantor ya."
"Siap pak Alex." Ucap Selena dengan sopan. Panggilan telepon pun berakhir.
Selena langsung bergegas mandi. "Astaga gawat, waktuku tinggal empat puluh menit lagi."
Terlambat satu menit saja tidak ada ampun bagi perusahaan Lucius. Tubuhnya menggeliat saat membayangkan wajah pak direktur. "Ihhhh...."
Selena dengan cepat keluar dari kamarnya, ia sambil membawa tasnya.
"Maaf bu. Selena tidak bisa membantu ibu."
Joanna tersenyum sambil membalikkan badannya. "Tidak apa-apa sayang...Heuh?" Dahi Joanna langsung mengerut. "Sudah mau berangkat? cepat sekali sayang."
"Iya bu. Pihak kantor menghubungiku. Banyak tugas yang harus aku selesaikan di kantor. Jadi aku terburu-buru bu." Selena meneguk susu lalu bergegas pergi.
"Tapi kau belum sarapan," ucap Joanna menghentikan langkah Selena.
"Maaf bu, aku tidak sempat lagi."
"Kau bawa roti ini, kau bisa makan saat di jalan." Joanna mengambil roti dan memberikan kepada Selena.
"Ahhhh ibu selalu yang terbaik." Ucap Selena terharu. Ia mengigit roti itu. "Aku berangkat dulu. Ayah aku pergi ya...Samuel kakak pergi!" Ucap Selena melambaikan tangannya saat melihat Samuel baru keluar dari kamarnya.
"Hati-hati nak. Pakai saja mobil." Ucap Berto dari taman belakang.
"Oke, Ayah..." sahut Selena tersenyum. Ayahnya selalu pengertian di saat-saat seperti ini.
"Ayah pilih tebu, coba saja aku yang pinjam mobil, ayah pasti tak memberikannya." Ucap Samuel mendengkus.
"Oke bu, aku pergi ya..." Selena pamit. Ia tidak perduli dengan ocehan Samuel.
Setelah melakukan ritual cium pipi kiri dan kanan. Selena berlari menuju mobil. "Oh my God, lima belas menit aku harus tiba di kantor." ucap Selena.
Selena langsung masuk ke dalam kemudi mobil. Roti yang dibuatkan ibunya bahkan masih menggantung di mulutnya. Selena langsung melarikan mobilnya menuju perusahaan Lucius.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Fiuhhhhhh.." Selena menghembus napas lega sembari mengusap dadanya. "Syukurlah aku tiba di kantor tepat waktu." Ucapnya tersenyum singkat.
Di dalam lift Selena merapikan baju dan rambutnya lalu naik keruangan pak direktur Lucius.
TING
Pintu lift terbuka. Selena menegakkan badannya, mengangkat wajahnya untuk tersenyum. Hanya ada satu cara menuju kebahagiaan dan itu adalah berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kekuatan kehendak kita. Bahagia itu sederhana, sesederhana jika saat tersenyum dan bersyukur dengan apa yang sudah ia miliki saat ini. Terkadang kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil dalam hidup.
"Perfecto..." Kata Selena keluar dari lift. Ia berjalan elegan. Kecepatan berjalannya pas. Posisi tubuh yang seimbang dan mata yang memandang lurus ke depan. Selena berjalan mendekati ruangan Alex dan tersenyum.
"Selamat pagi pak Alex." Selena mengetuk pintu ruangan Alex sebanyak tiga kali.
"Selamat pagi sekretaris Selena. Anda sudah datang? Silakan masuk!" Ucap Alex memandang sekilas dan kembali mengeluarkan dokumen dari dalam lemari.
Selena mengerutkan keningnya saat menatap beberapa tumpukan dokumen di atas meja.
"Untuk apa dokumen itu pak?"
"Duduklah!" Alex menunjuk dengan dagu ke arah kursi di depannya. Wajahnya terlihat serius. "Kita harus menyelesaikan secepatnya. Pak direktur memintaku mengumpulkan data ini. Lusa pak direktur harus memeriksanya. Ini benar-benar terdesak."
"Terdesak pak?" tanya Selena menatap bingung.
__ADS_1
"Hmm." Alex mengangguk. "Beliau akan sibuk mempersiapkan pernikahannya."
"What? heh!" Pffftttt tawa Selena hampir saja terlepas jika ia tidak menahannya. Ia membuang wajahnya tertawa tapi tidak mengeluarkan suara.
Alex mengerutkan keningnya menatap ke arah Selena. "Kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu?"
Selena menjepit bibirnya, berusaha menahan tawanya. Ia mencondongkan badannya, melirik sekilas ke arah pintu, takut pembicaraan mereka terdengar karyawan lain. Alex menatap bingung sambil mengerutkan keningnya.
"Saya pikir pak direktur seorang gay," Bisik Selena hampir saja tak terdengar oleh Alex.
"Heuh? Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Alex membulatkan matanya. Ia menggeleng dan kembali ke dokumen yang dipegangnya.
"Bukankah pak direktur alergi dengan wanita? Jadi tidak salah saya berpikir seperti itu pak."
Alex mendesah dan fokus dengan dokumen yang dicarinya. "Tidak juga, pak direktur begitu mencintai ibunya."
"Kecuali itu pak Alex, anak tetangga saya juga tahu itu pak, kalau seorang anak itu wajib menyayangi ibunya. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, kenapa wanita itu mau ya pak? apa wanita itu buta?"
"Buta bagaimana?"
"Astaga anda terlalu lugu pak, wanita itu buta dan tidak bisa melihat seperti apa pak direktur itu. Tak ada nilai plus yang saya lihat kecuali jabatannya pak. Udahlah dingin, kaku, arogan lagi."
"Sssstttttt... hati-hati kalau bicara. Nanti pak direktur mendengarnya." Alex mengingatkan, walau ucapan Selena menggelitik hatinya.
"Pak direktur kan tidak ada pak, kita bebas membicarakannya." kata Selena tersenyum.
Alex tersenyum lagi. "Pak direktur sebenarnya baik, apalagi jika dia benar-benar mencintai seseorang. Beliau akan menjaga cinta itu sepenuh hati. Bahkan tidak terpikirkan olehnya untuk mengkhianati."
Selena tampak berpikir sambil membengkokkan bibirnya. "Tapi yang saya lihat pak direktur tidak seperti itu pak."
Alex tersenyum kecil. "Kamu tidak tertarik dengan pak direktur?"
Mata Selena terbelalak saat mendengar itu. Ia dengan cepat mengibas-ngibaskan tangannya. "Tertarik dengan pak direktur? Ahhhhhh...mana mungkin pak, untuk memikirkannya saja saya tidak ingin. Apalagi berani menyukai beliau pak." Kata Selena tertawa hambar. Ia memalingkan wajahnya "Cih...anda pikir saya gila ya pak? saya masih waras. Tertarik? Astaga...masih banyak Lelaki di dunia ini. Jika hanya dia lelaki diciptakan Tuhan, saya memilih tidak mau menikah."
"Tapi kenapa wajahmu memerah?" Kata Alex menggoda Selena.
"Apa pak?" Selena dengan cepat menyentuh bagian pipinya. "Aduh sepertinya AC ruangan ini rusak ya pak?" Selena berdalih dan mengibas-ngibaskan tangannya ke leher.
"Benarkah? Sepertinya ruangan ini cukup dingin. Lihatlah suhunya bahkan pas ke ruangan ini." Alex merentangkan tangannya sedikit, seakan menikmati udara yang menyejukkan tubuhnya. Ia benar-benar ingin mengisengi Selena.
Selena tiba-tiba bangun dari duduknya. "Pak, apa saya mau buatkan kopi untuk anda?" tanya Selena mengalihkan.
"Ehm..." Alex menunjukkan gestur berpikir.
"Boleh juga. Kebetulan dari rumah aku belum minum kopi." Alex tersenyum sambil melipat tangannya di atas meja.
"Oke, baik pak. Saya akan buatkan kopi untuk asisten terbaik di perusahaan ini." Kata Selena bersemangat.
Alex tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Selena dengan cepat keluar dari dari ruangan itu menuju pantry.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1