
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
SEMENTARA ITU.
Saat langkah Zionathan yang keluar terburu-buru, Selena membuka pintu dan mengintip dari balik pintu tempat persembunyiannya. Ekor matanya bergerak cepat mencari sosok suaminya itu.
"Heuh? mau kemana dia?" Ucap Selena mengernyitkan keningnya.
Saat ingin keluar memanggil suaminya itu, Zionathan sudah hilang di balik pintu.
"Sayang....!" panggilnya. Namun sudah terlambat, pintu sudah tertutup kembali.
Selena terdiam dan mematung di posisinya. "Apakah dia mengejar wanita yang mirip Olivia itu?" ucapnya pelan sambil menatap pintu dengan pandangan kosong.
Selena mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyapu rambutnya ke atas. Ia meringis seakan menangis dalam hati. Bahunya seakan tidak bertenaga. Sekujur tubuhnya lemah. Wajah selena berubah sendu. Ia berulang kali membuang napasnya. Mencoba menenangkan diri di sana. Melepaskan kegundahan hatinya.
"Kenapa wajahmu begitu panik sayang, apa kau menyesal telah menyakiti wanita yang mirip Olivia itu?"
Selena sedikit menunduk untuk mengambil pasokan oksigen agar bisa memenuhi paru-parunya.
"Sekarang apa aku harus menyesal?"
Sepersekian detik, Selena mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya. Menghembuskan napas lewat pipi yang mengembung. Ia masih kesal kepada dirinya sendiri. Merutuki kebodohannya selama ini. Selena masih bertanya-tanya kemana Zionathan pergi? Kenapa wajahnya terlihat panik seperti itu?
Selena menarik napasnya lagi dan dengan cepat menggelengkan kepalanya,
"Tidak...tidak...tidak mungkin Zionathan mengejar wanita itu. Ini pasti masalah kantor. Aku tidak bisa berpikir negatif seperti ini."
Selena mencoba berpikir rasional di atas perasaannya. Ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Berulangkali melakukannya, agar perasannya bisa sedikit lebih baik. Menyakinkan dirinya bahwa Zionathan tidak lagi memikirkan wanita yang mirip dengan Olivia itu.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus menggodanya dengan tubuhku?"
"Ah...apa yang dipikirkan Zionathan nantinya. Dia pasti menganggapku seperti wanita penggoda. Itu terlalu konyol Selena, jangan bodoh!"
Selena mondar-mandir di sana di dalam kamar hotel sambil menggigit jarinya dengan frustasi. Tangan satunya memegang pinggang. Ia masih nampak bingung di sana. Selena harus bisa memikirkan cara lain untuk merebut cintanya kembali. Dia tahu betul Zionathan sangat mencintai Olivia. Apalagi tiba-tiba muncul wanita yang begitu mirip dengannya.
"HEH.. Bagaimana ini? Aku depresi! Aaarggghh...." Selena mengacak rambutnya. Ia mendesah kesal karena belum mendapatkan ide.
"Apakah harus dengan cara itu?"
Selena menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. "Astagaaa... kenapa aku terus memikirkan itu sih...Cari ide lain Selena." Selena bermonolog untuk menepis lingeria yang terus memutar di otaknya.
"Oke, oke, tenang Selena. Tenang. Huuu...kendalikan dirimu!" ucapnya kembali menenangkan dirinya. Menarik napasnya perlahan dan menghembuskan sekaligus.
"Oke.. Sepertinya aku tidak ada pilihan lain." Dengan sekuat tenaga dan keterpaksaan yang ia miliki, akhirnya Selena memantapkan dirinya menggunakan lingeria.
Ia langsung membongkar kopernya dan tersenyum saat melihat lingeria yang berbahan microfiber itu.
"Astaga...beruntung aku membawamu..." Selena memeluk lingeria itu di dadanya.
__ADS_1
Lingeria berwarna merah yang memberikan kesan sensualitas, penuh emosi, membangkitkan gairah dan cinta. Selena tersenyum saat membayangkan itu. Ia memang sengaja memilih warna ini, membuatnya merasa percaya diri. Agar Zionathan tak berkedip saat menatapnya nanti. Membuat suaminya itu lebih bergairah dan cepat-cepat memulai petualangan seru berdua.
Selena kembali tersenyum malu, wajahnya merah padam saat membayangkan ia menggunakan lingeria. Ini adalah pertama kali untuknya. Tidak apa-apa, demi suami tercinta.
"Terserah Zionathan menganggapku seperti apa, lupakan masalah harga diri."
⭐⭐⭐⭐
Dengan tarikan napas, Selena duduk di tepi ranjang untuk menyambut kepulangan suaminya. Ia semakin gugup saat pantulan dirinya terlihat di cermin yang ada di kamar hotel itu. Menatap dirinya yang sudah menggunakan lingeria. Jantungnya kembali terpompa kencang. Fuuuh! ia meniup wajahnya dengan hembusan napasnya. Selena duduk di tepi ranjang yang ukurannya big size itu. Ia sangat yakin bisa bertempur bebas di atas kasur itu tanpa ada penghalang.
"Astaga....aku gugup sekali. Zionathan bukan seorang klien atau lelaki yang baru dipacarinya." Selena tersenyum malu di ujung monolognya.
DEG
DEG
DEG!
"Ya, Tuhan! Kenapa Jantung ini tidak bisa tenang? kenapa aku tidak bisa memikirkan apapun. Huaaa..." Selena menepuk-nepuk pipinya untuk menutupi gelisahnya. Ia berteriak dalam hati, berusaha untuk menghentikan waktu.
Selena kembali menarik napas dengan wajah tenang. "Tidak apa-apa Selena. Ini tidak memalukan. Setidaknya dengan cara seperti ini kamu bisa mengembalikan hubunganmu dengan Zionathan."
Selena menegakkan badannya. Meskipun sudah dibalut dengan pakaian tipis yang memperlihatkan hampir seluruh kulit putihnya. Namun tidak membuat Selena seperti wanita penggoda. Sikap tubuhnya bahkan seperti wanita polos yang tidak tahu apa-apa. Aura resesifnya keluar karena posisi merasa bersalah. Ia telah mengabaikan suaminya dan kini suaminya bertemu dengan wanita yang mirip dengan Olivia. Ia tidak ingin suaminya mengingat masa lalunya lagi.
Wajah lembutnya tertunduk dengan senyuman lembutnya. Tangannya semakin dingin, Zionathan tak juga datang. Selena tidak mau menyerah, ia tetap menunggu suaminya itu. Walau terbesit untuk menggantinya. Segala emosi bermain di pikiran, hati dan perasaan Selena.
Tegakkan kepalamu, jangan menyerah. Kata-kata itu seakan menguatkan hatinya. Selena hanya diam sambil menatap pintu. Sepuluh menit telah terlewati. Ia semakin bernapas gugup. Tempo jantungnya masih sama cepatnya seperti tadi.
Tininit!
Zionathan menghentikan langkahnya dan menjawab panggilan itu. Selena bisa mendengarnya.
"Bagaimana? apa kau sudah menemukannya?" tanya Zionathan dengan tegas di setiap ucapannya.
"Menemukan? Siapa yang harus ditemukan? apa maksudnya wanita itu?" batin Selena dengan wajah tegang.
"Bagaimana kau bisa seceroboh ini Alex? kesabaranku hampir habis karena tindakan bodohmu itu." Zionathan menangguhkan kalimatnya. Ia tak bisa mengontrol emosinya lagi. Ia mencoba bernapas dengan mulut terbuka. "Apa kau mau aku pecat hari ini?"
"Heuh kau memecat Alex, kau tega memecatnya demi wanita itu sayang?" Selena menggeleng hampir tak percaya.
"Aku tidak mau tahu, cari dia sekarang juga. Jika tidak, buat surat pengunduran dirimu, aku tidak akan mengampuni orang yang membuat kesalahan fatal seperti ini. Camkan itu!" Suara Zionathan sudah memenuhi ruangan itu.
Selena menutup mulutnya masih tak percaya. Ia menarik napasnya yang terasa berat. Matanya sudah mengkristal penuh dengan air bening yang siap terjatuh dari matanya.
Suara langkah kaki itu kembali terdengar. Selena menarik napasnya yang terasa sesak. Kini ia siap menghadapi suaminya itu.
CEKLEK!
Selena menahan napasnya yang tertahan di dada. Matanya kembali berkaca-kaca. Daun pintu terbuka dan terdorong ke arah dalam. Selena semakin menegakkan badannya di sana saat melihat sosok yang di tunggunya sejak tadi.
Pandangan Zionathan yang awalnya turun, tiba-tiba terangkat saat melihat istrinya di dalam kamar.
"Selena?"
Zionathan sangat terkejut saat melihat istrinya sudah ada di kamar.
"Kau terkejut saat melihatku ada di sini?"
__ADS_1
Zionathan bergeming di tempatnya, napasnya keluar dengan terbata. Selena menatapnya dengan tegas. Tanpa di undang air mata Selena menetes ke pipinya bahkan tanpa mengedip.
"Kenapa kau begitu marah sayang? apa wanita itu berhasil mengembalikan kenanganmu bersama Olivia?" Ucapnya dengan suara parau dan gemetar.
Zionathan masih terdiam dengan mulut yang terbuka. Ia memastikan kembali pandangannya, apalagi saat melihat istrinya menggunakan lingeria yang pas dengan warna kulitnya. Matanya bahkan tidak berkedip.
"Kau tidak menginginkanku ada di sini bukan?" Selena tertawa di sana sambil memalingkan wajahnya. Wajahnya mengerut menahan tangisannya.
"Kau kembali bertemu wanita yang mirip dengan masa lalumu dan kau ingin kembali ke momen itu, kan?" ucap Selena tersenyum sambil mengusap air matanya dengan cepat. "Tidak apa-apa, aku tidak melarangmu melakukan itu. Aku hanyalah wanita tempat sandaranmu sementara. Kau tidak pernah mencintaiku." Selena tertunduk dan menangis di sana.
Sementara Zionathan masih terus menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung membuka mulutnya menarik napas sesak. "Selena, dengarkan aku!"
"Seharusnya aku tidak datang ke sini. Aku hanya merusak kebahagiaanmu."
"Selena...."
"Dan pakaian ini? aku terlalu bodoh menggunakan ini." Selena semakin menangis dan ingin membuka lingeria yang digunakannya.
Tap..tap...tap...
Zionathan melangkah panjang karena tidak tahan melihat Selena menangis. Hatinya sakit dan terluka. Ia langsung menarik pinggang Selena, lalu menciumnya dengan tarikan dan Lmatan yang kuat dan dalam.
Mata Selena terbelalak saat mendapat serangan yang sangat tiba-tiba itu. Jantungnya berdegup kencang, saat Zionathan mengeratkan pelukannya dan membuat Selena terhimpit oleh tubuhnya. Ciuman itu semakin dalam dan menarik semua bibir istrinya itu, menjelajahi setiap bagian yang tak bertulang.
Selena reflek memejamkan matanya dan menikmati ciuman itu. Selena juga merindukan ciuman itu. Air matanya kembali menetes. Mereka seakan melampiaskan kerinduan yang membuncah di dalam dadanya. Tautan bibir itu tak juga Zionathan lepaskan, buliran air mata kedua insan itu menetes di pipi. Mata mereka masih saling terpejam. Selena kini pasrah apa yang dilakukan suaminya yang sangat ia rindukan itu. Bahkan menikmati ciuman itu yang diberikan Zionathan. Ciuman ini seperti obat kerinduan untuk mereka. Perlahan-lahan Zionathan melepaskan tautannya, keduanya terengah-engah. Kening mereka menyatu dan saling memejamkan mata. Air mata Selena kembali terjatuh.
Mereka kembali dalam posisi saling menatap, terlihat jelas kilatan dari mata mereka menunjukkan kerinduan yang mendalam. Zionathan kembali memeluk Selena, membelai rambutnya dengan sayang dan kembali mengusap punggung Selena dan memeluknya dengan erat. Sepertinya dia tidak ingin melepaskan pelukannya saat ini, takut jika ini hanyalah mimpi.
"Aku mencintaimu Selena, aku keluar karena ingin mengejarmu."
Selena melepaskan pelukannya, ia menatap Zionathan dengan kerutan dahi. "Mencariku?"
"Hmm." Zionathan mengangguk. "Tadi Samuel menghubungiku dan mengatakan kau datang menyusulku ke sini."
"Jadi kau keluar ingin mencariku? bukan mengejar wanita yang mirip Oliva itu?"
Zionathan tersenyum. "Buat apa aku mengejarnya?" Ia lalu mencubit hidung istrinya dengan lembut. "Apa kau melihat semuanya?"
Selena mengerucutkan bibirnya sambil menundukkan kepalanya, tak ingin melihat wajah Zionathan. Ia sangat malu sekali. Lagi-lagi ia salah menilai suaminya itu.
"Olivia adalah masa laluku. Aku tidak ingin melihat ke belakang dan tidak ingin terjebak dengan masa lalu itu. Walau terkadang memang masa lalu menggiurkan untuk kembali di kenang. Membuat kita kerap menoleh ke belakang. Aku tidak dapat memulai bab selanjutnya dalam hidupku jika harus terus membaca yang terakhir. Sekarang aku ingin melihat ke depan. Kau adalah masa depanku bersama anak-anakku nantinya."
"Maafkan aku," Selena memejamkan matanya. Air matanya kembali terjatuh ke pipinya.
Zionathan tersenyum dan memandang istrinya dari atas sampai ke bawah. "Kau sangat cantik sekali sayang. Apa kau sengaja menggodaku? Aku tidak bisa diam jika melihatmu seperti ini."
DEG!
BERSAMBUNG.....
^_^
Hai...hai.. Jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih banyak 😊☺️
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1