Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
JANGAN TINGGALKAN AKU.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SELENA GWYNETH.



Dengan sedikit tergesa-gesa, Zionathan segera mengganti pakaiannya. Ia menggunakan kaos putih dan celana jeans berwarna biru.


Zionathan mencari kunci mobil dan segera melakukan panggilan kepada Alex.


TUT TUT


Panggilan tersambung.


"Hallo pak," Alex menjawabnya.


"Kau dimana?"


"Ini baru sampai di rumah pak, ada apa pak?" tanya Alex berhenti tepat di depan pintu rumahnya.


"Sekarang putar balik dan kau langsung ke kantor."


"Apa terjadi sesuatu pak?"


"Nanti saya jelaskan."


"Tapi pak?" Alex menahan tangannya untuk membuka kenop pintu. Panggilan sudah lebih dulu mati. Alex menarik napas singkat sambil menurunkan handphonenya. Mau tidak mau, ia harus kembali ke kantor Lucius sesuai perintah pak direktur.


SEMENTARA ITU.


Pikiran Zio langsung kacau, Ia benar-benar blank. Tanpa pikir panjang ia berlari keluar dari ruangannya. Dengan terburu-buru, Zionathan masuk ke dalam mobilnya. Ia memundurkan mobilnya. Matanya fokus memandang spion dan membanting setir. Zionathan langsung menancapkan mobilnya dan pergi meninggalkan apartemennya.


Whhhhuuzzz....


Mobil Zionathan melaju cepat menuju kantor Lucius. Di antara rapatnya tirai-tirai hujan,


Ia membelah keheningan malam. Selintas kejadian kecelakaan lima tahun yang lalu teringat lagi oleh Zio. Dahi Zionathan mengerut, napasnya terlihat naik turun. Jantungnya terpicu cepat dan takut.


Semenjak Kejadian kecelakaan lima tahun yang lalu, dokter menyatakan sebagian ingatannya hilang di masa lalu. Zionathan sudah melakukan terapi agar ingatan itu kembali. Namun Zionathan mengalami kesulitan untuk membentuk ingatan itu.


Namun ingatan masa kecilnya bersama Selena kembali lagi. Zionathan mencengkram setir mobilnya. Memori-memori yang pernah hilang dalam ingatannya mulai bangkit ke permukaan. Pecahan-pecahan adegan dan gambar bergulir cepat dan kasar di dalam kepalanya yang kosong, yang kini mencicip nyeri seperti mau pecah. Ingatan itu nyata dan semakin jelas. Dan Zionathan ingat Selena terkurung dalam kegelapan.


"Apa jangan-jangan....?"


Zionathan dengan cepat menggunakan earphone wireless dan langsung di pasang ke telinganya. Ia mencoba menghubungi security kantor.


TUT


Baru bunyi nada tunggu yang pertama, seorang pria langsung mengangkatnya.


"Hallo Selamat malam. Ini kantor Lucius." ucap pria itu dari ujung telepon.


Suaranya tidak jelas, terputus-putus karena pengaruh hujan deras.


"Hallo, ini saya Zionathan Lucius."


Pria itu terjengkit dari duduknya karena terkejut. Suara Zionathan membuatnya ketakutan. Kenapa tiba-tiba bosnya menghubunginya? Tak pernah sekalipun direktur utama berhubungan langsung dengan security. Apakah hidupnya akan berakhir. Pria itu semakin deg-degan.


"A-ada apa pak?" ucapnya cepat.


Zionathan terlihat gusar di balik telepon. Ia berusaha mengatur napasnya. Jantungnya bergemuruh di dalam dadanya. Ia sampai mencengkram setir mobil karena tidak bisa menutupi kegelisahannya. "Apa semua karyawan sudah pulang?"


"Tentu saja pak, bahkan jalur ke ruangan pak direktur sudah di kunci." jawab lelaki itu dengan cepat.


"Apa?"


"Heuh?" Lelaki bertubuh gempal itu mengerutkan dahi bingung. "Apa karyawan kantor masih lembur pak?"


"Kau masih berani bertanya, seharusnya kau periksa setiap sudut ruangan sebelum mengunci ruangan. Dasar bodoh!"


"Maaf pak, saya tidak sempat memeriksanya, karena tiba-tiba mati lampu. Tapi sekarang sudah hidup lagi."

__ADS_1


Zionathan menarik napasnya. "Baiklah. Sekarang saya ke sana." kata Zionathan langsung memutuskan panggilan.


Zionathan mengembuskan napasnya berulang kali. Ia memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan hatinya.


Tidak butuh lama Zionathan sudah sampai di depan pagar kokoh milik kantor Lucius. Zionathan menarik rem tangan dan keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Di sana Alex sudah menunggunya. Matanya melotot dengan wajah mengerut penuh tanya.


"Pak?" Alex membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


"Maaf. Aku terpaksa memintamu kembali ke kantor."


"Apa terjadi sesuatu pak?" Tanya Alex mengernyit bingung melihat kepanikan pak direktur.


"Selena sepertinya terjebak di kantor."


"Terjebak? kok bisa? Apa jangan-jangan Selena memilih lembur untuk menyelesaikan tugas yang anda berikan pak?"


"Sepertinya begitu."


"Terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Alex menautkan kedua alisnya. Ia masih bingung, Selena yang lembur, kenapa pak direktur harus memintanya ke sini.


"Kau tunggu di sini. Biar aku yang ke atas."


"Apa pak?"


Zionathan mengembuskan napas kesal. "Kau tunggu di sini, biar aku yang ke atas. Kau harus stand bye. Jika suatu waktu aku membutuhkan bantuanmu. Kau harus cepat datang."


"Bantuan? Apa sekertaris Selena dalam bahaya pak?"


Zionathan berdecak. "Jangan banyak tanya. Tunggu saja di sini."


Alex dengan cepat menundukkan kepalanya. "Baik pak."


Zionathan langsung berlari menuju pintu lift. Derap langkah kakinya terdengar menggema di lantai kantor. Ia langsung masuk ke dalam pintu lift. Tak menunggu lama, Zionathan tiba di lantai paling atas.


TING!


Saat pintu lift terbuka, Zionathan mengerutkan keningnya. Lampu di ruangan ini mati. Zionathan segera mengeluarkan handphonenya, ia langsung menghubungi security untuk segera melakukan perbaikan. Setelah melakukan panggilan Zionathan menggunakan senter handphonenya sebagai alat penerang.


"Selena..." panggil Zionathan pelan. Tidak ada sahutan. Hening, yang terdengar hanyalah suara langkah kakinya.


"Selena, kamu dimana?" Zionathan menyorot senternya ke arah meja Selena. Tidak ada siapa-siapa.


"Selena...." panggil Zionathan lagi.


Langkah kakinya pelan, melihat ke setiap sudut ruangan dengan sorot lampu senter dari handphonenya. Tiba-tiba cahaya senter mengarah ke balik meja. Selena berjongkok sambil menutup ke dua telinganya. Posisinya meringkuk bersembunyi di balik kedua kakinya.


"Selena?" panggil Zionathan dengan suara terendahnya. Tidak ada sahutan yang terdengar hanya isak tangis dari Selena.


Zionathan ikut berjongkok tepat di depan Selena. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Zionathan begitu lembut, menatap Selena begitu was-was. Lampu senter handphonenya ia letakkan di atas meja dan Selena tak juga menggubris.


"Selena, lihat aku!" Zionathan memegang lengan Selena. Perlahan-lahan Selena mengangkat wajahnya, menatap nanar lelaki yang di depannya.


Kerutan dahi Selena semakin terlihat, napasnya terengah, mulutnya terbuka. Ia masih ketakutan, sampai membuatnya sulit bernapas.


"Selena?"


Tangisan Selena seketika pecah dan langsung menyambar dada Zionathan. "Aku takut, aku takut..." Lirih Selena dengan suara tangisan keras.


Zionathan terkejut saat Selena memeluknya dengan erat.


"Aku takut.... jangan tinggalkan aku..."


Zionathan diam membeku, tak berani membalas pelukan itu. Namun beberapa detik kemudian tangannya perlahan-lahan menepuk punggung Selena dengan lembut. "Tidak apa-apa, aku di sini." ucap Zio menenangkan Selena.


"Kau datang?" Selena semakin menangis.


"Hmm, aku datang untuk menjemputmu."


"Kau tidak akan pergi, kan?!"


"Tentu saja."


"Tidak! kau bohong, kau akan pergi meninggalkan aku seperti Nathan." Kali ini suara Selena parau dan sesenggukan, begitu lirih. Penuh ketakutan dan kecemasan. Semuanya bergabung dalam lirih suara Selena. Napasnya masih terengah. Wajahnya pucat dan keringat dingin memenuhi batas-batas rambut di dahi dan pelipisnya.


"Tidak Selena. Aku di sini dan semuanya akan baik-baik saja." ucap Zionathan menepuk lembut punggung Selena.


Selena hanya menangis dan semakin membenamkan wajahnya di dada Zionathan.


"Janji. Kau tidak akan pergi meninggalkan aku Ferdi. Aku takut dan sangat takut. Dadaku sakit dan aku tidak bisa bernapas, Ferdi."

__ADS_1


"Ferdi? Siapa Ferdi?" Batin Zio. Tapi ia tak perduli. Ia hanya menarik napasnya dan kembali memenangkan Selena. "Semuanya akan baik-baik Selena, sekarang lihat aku!" pinta Zionathan.


Dan saat itu juga lampu di ruangan itu hidup kembali. Mata Selena mengerjap beberapa kali saat menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba masuk ke matanya. Dan sepersekian detik Selena tersadar, bahwa lelaki yang ada di depannya bukanlah Ferdinand yang dari tadi menghubungi Selena untuk menenangkannya.


Jantungnya terpukul kencang, menyadari ia memeluk Zionathan. Dengan kekuatan penuh ia mendorong tubuh Zionathan. "Kamu???"


Zionathan terkejut dan tubuhnya terjungkal ke belakang. "Selena? Apa yang kau lakukan?"


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan?"


"Aku datang ke sini untuk menjemputmu."


"Menjemputku? apa aku tak salah dengar?"


"Selena, aku datang ke kantor, karena kau belum pulang." Nada suara Zionathan melembut.


"Tak usah banyak alasan, bukankah kau menyuruhku untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini." ketakutan Selena sirna saat melihat Zionathan. Ia mengusap cepat sisa-sisa air matanya.


"Besok, kau bisa melanjutkannya. Sekarang kita pulang."


"Aku tidak mau pulang. Jika harus pulang, aku tidak mau pulang bersamamu." ucapnya ketus seraya membuang mukanya.


"Selena...."


"Aku sudah katakan tidak mau pulang." Mata Selena menyorot tajam. Ia kembali ke meja dan merapikan berkas yang belum selesai diperiksanya.


"Jangan membantahku!" Alis Zionathan menukik tajam.


"Kenapa, kau tidak terima?"


"Aku datang ke sini langsung dari kota A menempuh perjalanan sampai tiga jam. Dan kau tidak menghargai usahaku." Zionathan menegaskan kalimatnya.


Selena semakin menarik napas dalam-dalam saat mendengar perkataan Zionathan. Menahan sesak yang teramat sangat. "Aku tidak memintamu datang menjemputku."


"Berapa kali aku harus katakan, aku tidak suka dibantah." Zionathan menekan perkataannya.


"Aku benci dengan semuanya, aku benciiiiii..." Selena membalikkan badannya, ia tidak ingin melihat Zionathan.


"Apa karena aku memberimu tugas. Sehingga kau begitu marah?" Tengking Zionathan.


Selena tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. "Kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan. Terkadang kau datang seperti pahlawan dan terkadang kau menyakiti hatiku tanpa perasaan. Kau benar-benar lelaki aneh."


"Aku masih berbaik hati Selena, jangan membuatku marah dan ingat aku adalah suamimu."


"Suami, aku tidak pernah menganggapmu sebagai suamiku. Kita hanyalah orang asing."


"Apa? Jangan membuatku marah." Bentak Zionathan.


"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!" teriak Selena. Ia terduduk sambil memegang dadanya.


"Tidak! aku akan tetap menunggumu."


"Jangan seperti ini. Aku tidak nyaman dan aku tidak mau. Seperti kesepakatan kita, anggap aku tidak ada. Aku ingin kita tidak saling mengenal. Bukankah itu yang kau inginkan. Aku mohon! " pinta Selena menunduk sedih sambil menangis.


Zionathan seketika terdiam, Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Entah mengapa hatinya begitu sakit melihat Selena menangis seperti ini. Zionathan menarik napasnya lagi, sikap keras kepala Selena tidak berubah. Dari kecil sampai sekarang.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Lanjutkan pekerjaanmu. Aku pergi!"


Zionathan langsung meninggalkan ruangan itu.


Sementara Selena semakin menangis. Rasa marah dan kesalnya bercampur menjadi satu. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Selena menangisi semuanya. Menangisi pernikahannya. Pernikahan seharusnya membahagiakan, bukan menciptakan luka seperti ini. Selena tidak menginginkan seperti ini. Dia tidak mau terluka. Pernikahan ini tak seharusnya tak terjadi.


Zionathan memenjamkan matanya dan memilih bersembunyi di balik dinding. Tangisan Selena semakin terdengar. Ia memilih meninggalkan ruangannya.


"Apa aku terlalu menyakitinya?"


Zionathan menarik napasnya dalam-dalam, untuk memulai dari awal sepertinya sulit. Selena sudah terlalu membencinya. Zionathan membenamkan wajahnya di setir mobil. Perasannya saat ini sulit dijelaskan. Ia hanya diam dan menunggu Selena di dalam mobilnya. Sementara Alex sudah pergi sepuluh menit yang lalu.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.

__ADS_1


__ADS_2