Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
SELENA BUTUH WAKTU


__ADS_3

πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


DUA MINGGU KEMUDIAN


Setelah kepergian ayahnya, Selena tidak pernah pulang ke apartemen dan Zionathan pun memilih tinggal di kediaman Gwyneth. Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Zionathan langsung pulang.


Hari yang melelehkan untuk hari ini. Pekerjaan Zionathan benar-benar padat dan menumpuk setelah dua minggu tidak masuk kantor. Untuk merenggangkan otot-ototnya saja terkadang tidak ada waktu. Masih banyak list pekerjaan yang belum terselesaikan dan semua menunggu di periksa dengan benar. Ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah. Pikirannya kembali larut dengan bayangan Selena. Bagaimana pun Ia harus bisa membujuk istrinya pulang.


Zionathan mengendarai mobilnya sendiri. Ia meminta Alex untuk beberapa hari ini tidak menyetir untuknya. Zionathan tiba di kediaman Gwyneth. Ia pun menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobilnya. Zionathan tersenyum sendu menatap rumah sederhana tempat dimana Selena tumbuh dan dibesarkan di sana.


Zionathan menarik napasnya dalam-dalam dan menatap sejenak rumah sederhana itu. Ia masih belum bisa memahami istrinya. Setelah mengantarkan ayah mertuanya ke tempat peristirahatan yang terakhir, Selena diam dan tidak mau bicara. Awalnya Zionathan hanya mengira istrinya itu masih diselimuti kesedihan. Namun setelah tujuh hari berlalu, perubahan Selena tampak jelas. Ia tidak mau pulang dan anehnya Selena memilih tidur bersama ibunya.


Zionathan mencoba menarik napas dengan mulut terbuka. Ia membenamkan wajahnya di setir mobil, mencoba mengerti dengan semua ini. Zionathan kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir dalam hatinya. Kemudian ia melepaskan napas panjang. Akhirnya ia memilih turun dari mobil. Ia melangkah masuk ketika Ibu Joanna membukakan pintu untuknya.


"Selamat malam bu," sapa Zionathan tersenyum ramah.


"Selamat malam nak Zio."


"Dimana Selena bu?"


"Dia ada di kamar bersama Samuel."


"Baik bu. Kalau begitu saya langsung ke kamar Selena."


"Nak Zio," Panggil Joanna menghentikan langkah Zionathan.


Zionathan membalikkan badannya untuk melihat ke arah ibu mertuanya itu. "Iya, bu?"


"Selena kembali tak mau makan. Apa sebaiknya kita bawa ke dokter saja?"


"Nanti saya usahakan membujuknya lagi bu."


"Hmmm. Ibu berharap kamu bisa membujuknya nak. Selena sangat susah jika berurusan dengan dokter. Ibu hanya takut Selena sakit. Ibu tidak mau kehilangan...." Joanna menangguhkan kalimatnya. Ia menutup mulut menahan tangisannya.


Zionathan menarik napasnya yang terasa berat. Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Ia juga tidak ingin Selena sakit.


"Ibu jangan khawatir. Aku langsung ke kamar menemui Selena bu."


Joanna menganggukkan kepalanya. Zionathan tersenyum ke arah ibu mertuanya. Ia menunggu sampai wanita itu benar masuk ke dalam kamarnya. Zionathan menarik napasnya lagi, lalu melangkah ke arah pintu kamar Selena.


Zionathan menyiapkan hatinya kembali. Ia melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya untuk menenangkan diri. Zionathan lalu membuka pintu tersebut secara perlahan.


CEKLEK!


Begitu membuka pintu. Zionathan mendengarkan perdebatan sepihak dari Samuel.


"Kak, makanlah walau hanya sedikit. Lihat badanmu kurus sekali. Kau terlihat jauh lebih tua dan tidak cantik lagi. Kau mau, kakak ipar meninggalkanmu, karena istrinya tidak cantik lagi?"


Selena bahkan tidak melihat Samuel. Ia menatap ke arah luar yang jendelanya sengaja dibiarkan terbuka.


"Astaga kak, kau tidak kasihan padaku? tanganku keram." keluh Samuel.


Zionathan tersenyum mendengar Samuel berbicara. Dibukanya pintu itu lebih lebar. Dan Zionathan masuk ke dalam menemui Samuel yang sedang mengulurkan tangan untuk menyuapi istrinya itu.


Saat melihat Zionathan masuk, Selena melirik sekilas lalu membuang wajahnya ke kanan ke arah jendela. Zionathan tersenyum mendekat ke arah Samuel.


Samuel yang melihat Zionathan langsung menurunkan tangannya. "Kakak ipar sudah pulang?" sapanya ramah.


Zionathan mengangguk. Lalu melemparkan tatapannya ke arah Selena. "Sayang, bagaimana keadaanmu?"


Selena tidak menjawab, ia bertahan dalam kebisuan.

__ADS_1


Samuel hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka ini? Kenapa mereka seperti musuhan dan tidak mau bicara? Tunggu...tunggu dulu. Apa kak Selena masih menyalahkan kakak ipar? Astaga kak, kematian ayah adalah takdir Tuhan. Bukan karena kamu liburan ke Paris. Kakak Selena seperti anak kecil saja dan anehnya kakak ipar begitu sabar menghadapinya." Samuel merutuki kebodohan kakaknya dalam hati.


"Hari ini dia gak mau makan kak?" ucap Samuel menghela napas singkat.


Zionathan tersenyum. "Bagaimana jika aku mencobanya?"


"Ah...boleh kak dengan senang hati." Samuel langsung berdiri dari duduknya dan mempersilakan Zionathan mendekat ke sisi ranjang.


Zionathan juga mengambil piring dari tangan Samuel. Ia mendekat dan mengusap kepala Selena dengan lembut. Meski Selena tahu keberadaan Zionathan, namun Selena tak kunjung memandang ke arah suaminya itu.


"Sayang, makan sedikit ya?"


Selena hanya berdiam memandang ke arah luar. Sama sekali tidak mau memalingkan wajahnya melihat Zionathan.


"Sayang, makanlah. Aku akan menyuapimu, ya?"


Selena tak menjawab, Zionathan mendesah lesu.


"Dari tadi dia memang tidak mau bicara kak," jelas Samuel agar kakak iparnya tidak merasa kecewa dengan sikap bungkam Selena.


Zionathan memandang Samuel dan mengangguk. Ia paham. Kembali ia melihat ke arah istrinya. "Selena, sayang. Sampai kapan kau harus diam seperti ini. Makan, iya?" lagi bujuk Zionathan.


Selena tetap diam dan tidak menggubris sama sekali.


Samuel menjepit bibir melihat hal itu. "Cobalah, lagi kak, saya keluar dulu, ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan."


Zionathan mengangguk.


"Kak, aku tinggal dulu ya." ucap Samuel dengan gaya bahasa yang sering dia gunakan dengan Selena.


Namun sebelum Samuel pergi, Selena mencegatnya dengan menarik tangan Samuel. Selena seakan meminta Samuel untuk tidak pergi. Zionathan hanya diam saat melihat itu.


"Heuh?" Dahi Samuel mengerut. Ia membalikkan badannya menatap ke arah Selena. "Aku harus mengerjakan tugas kuliah kak. Ada kakak ipar yang menemanimu di sini."


Meski tangan Selena masih berusaha meraih tangan Samuel, namun Samuel tidak perduli. Ia memilih keluar dari kamar itu. Membiarkan kakak iparnya menghadapi sikap Selena yang seperti anak kecil itu.


Zionathan memandang ke arah pintu yang kini sudah tertutup. Ia mengembuskan napas panjang dan melihat ke arah istrinya itu.


Zionathan tidak mau menyerah, ia tetap mengarahkan sendok ke mulut Selena. "Makan sedikit, sayang."


Selena tetap bertahan tidak mau membuka mulutnya, bahkan semakin menjauhkan wajahnya.


"Selena?"


Selena tak juga memandang ke arah suaminya. Zionathan menurunkan tangannya.


"Apa kau masih marah kepadaku?"


"......"


"Apa yang harus aku lakukan Selena? aku sudah minta maaf. Bagaimana caranya lagi aku membujukmu, hmm..."


"Aku hanya tidak ingin melihat wajahmu." Suara Selena begitu pelan tapi sangat menusuk.


DEG!


Jantung Zionathan seketika terpukul kencang.


"Apa alasannya?" Zionathan berusaha menahan segala gejolak di dalam dadanya.


"Kau pasti tahu alasannya." Selena melemparkan tatapan tajamnya. "Kau egois! Kau yang membuat ayahku seperti ini. JELAS-JELAS KAU TAHU AYAH SAKIT, TAPI KAU MASIH TETAP INGIN PERGI KE PARIS." Bentak Selena.


Zionathan menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, mencoba mengontrol dirinya sendiri. "Bukankah masalah itu sudah selesai? Kita langsung pulang saat itu dan menemui ayah di rumah sakit."


"Tidak. Sampai sekarang aku tidak melupakannya. Jika saja kita tidak pergi, mungkin saja ayah tidak meninggal." Selena kembali menangis.


"Selena, ini sudah jalan Tuhan. Kita tidak bisa menolak takdir. Dan aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tapi...."


"Jika kau tahu perasaanku. Kembalikan ayahku."

__ADS_1


Zionathan berpindah mendekat ke istrinya, berusaha membujuk Selena. Namun sebelum itu terjadi. Selena menampik tangan Zionathan sebelum tangannya mengulur untuk menyentuhnya. Dan ternyata mengenai piring yang di pegang suaminya.


PRANG!!!!


Nasi tumpah dan jatuh ke lantai. Semuanya berantakan.


Zionathan begitu terkejut. "Selena?"


Joanna yang sedang berdoa di dalam kamar dan Samuel yang sedang mengerjakan tugas kuliah, begitu terkejut mendengar suara ribut dari arah kamar Selena.


"Apa kau semarah itu Selena?"


"Iya, aku sangat marah."


"Aku juga sakit Selena. Hatiku juga hancur saat melihatmu seperti ini. Aku tidak pernah menginginkan seperti ini. Jika aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku juga tidak bodoh berangkat ke Paris." Zionathan balas berucap lantang dan membuat Selena terdiam.


Joanna tidak tahan lagi. Ia ingin masuk ke kamar Selena. Namun Samuel menarik tangan ibunya menjauh dari kamar itu.


"Biarkan mereka menyelesaikannya bu. Aku yakin kakak ipar bisa menyelesaikan kesalahan pahaman ini."


"Tidak, ibu tidak tahan lagi melihat sikap Selena."


"Ibu seperti tidak tahu kakak saja, dia keras kepala dan susah membujuknya disaat seperti ini. Nanti juga hatinya membaik. Biarkan saja mereka." Samuel memilih masuk ke dalam kamar.


Joanna hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Ia pun akhirnya memilih masuk ke dalam kamar.


⭐⭐⭐⭐⭐


Selena memalingkan wajahnya lagi dan kembali menangis. Air matanya membanjiri pipinya. Bahunya gemetar.


Zionathan mengusap wajahnya dan mengerutkan alis menatap Selena. "Sayang. Maafkan aku."


Zionathan langsung mendekat dan memegang tangan Selena. Wajahnya langsung mendekat ke pipi Selena. Meski Selena masih bersikeras tidak ingin melihat ke arah suaminya itu.


"Maafkan aku telah membentakmu."


Zionathan mengecup pipi Selena dan menempelkan hidungnya ke wajah istrinya.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi aku mohon, jangan menyiksaku seperti ini Selena. Aku sangat mencintaimu."


Selena tidak menjawab hanya terus menangis di sana. Zionathan ikut menangis di pipi Selena. "Ayah sudah bahagia. Ia tidak ingin melihatmu seperti ini, sayang."


Selena tak berucap sepatah kata pun. Ia hanya terus menangis. Zionathan bisa menyimpulkan bahwa Selena masih marah kepadanya. Mungkin Selena butuh waktu. Zionathan bisa mengerti itu.


"Untuk sementara waktu tenangkan hatimu dulu. Aku tidak ingin saat kau melihatku, kau masih marah seperti ini sayang. Jika hatimu sudah membaik, kau bisa menghubungiku."


Selena mengerti arti ucapan suaminya. Wajahnya mengerut menahan tangisannya.


"Jangan sampai sakit. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Ucap Zionathan mengecup lama kening istrinya.


"Sekarang, tidurlah!"


Zionathan membelai pipi selena dengan punggung tangannya dan kemudian membantu Selena untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Selena dengan cepat memiringkan tubuhnya memunggungi Zionathan.


Zionathan menarik napas singkat, ia kemudian membersihkan kekacauan yang dibuat istrinya itu. Setelah semuanya bersih dan rapi. Zionathan duduk di sofa menemani istrinya. Meski hatinya benar-benar sakit, namun Zionathan harus melakukan itu. Demi Selena. Demi wanita yang sangat dicintainya itu.


SATU JAM KEMUDIAN.


Zionathan pun meninggalkan kamar Selena. Perlahan-lahan Selena membuka matanya saat pintu tertutup lagi. Air matanya terjatuh dari sudut matanya. Selena tidak bisa membendung sakit hatinya lagi. Ia hanya bisa menangis dalam diam. Selena bahkan tidak mencegat kepergian suaminya itu. Harga dirinya terlalu besar melakukan itu.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Hai...hai...Senin sudah datang lagi, jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak. Terima kasih 😊☺️

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2