Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KITA TIDAK BISA SEPERTI INI


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


"Apa? Dia menyuruhku pergi?" Selena tertawa sambil menangis dalam hati, tak mengeluarkan suara, hanya napas yang berembus dan masuk lewat mulut yang terbuka. Ia tidak boleh menangis karena pria brengsek itu.


"Dasar manusia gak punya hati!" Selena kembali menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menahan sesak yang teramat sangat.


"Oke, aku pergi. Aku tidak takut." Selena mendengkus. Ia melangkah sambil menghentakkan kakinya.


"Dia berbeda dengan Ferdinand." tiba-tiba Selena teringat sahabatnya itu. "Dia saja sudah play boy tapi masih menghargai wanita. Tidak seperti dia? Dasar lelaki monster." Selena kembali menggerutu.


"Aaahhhhh..."


Selena menyentuh lehernya yang perih. Karena syal itu, ia terkena cakaran Zionathan. "Dasar pria arogan!" umpat Selena menggeram kesal. Ia terus berjalan meninggalkan rumah sakit.


"Mungkin aku butuh refreshing. Tapi..." Selena menyadari sesuatu. Handphone dan tasnya masih ada di sana. "Bagaimana aku bisa pergi?" Ia meraba kantong celananya dan tertinggal hanyalah dua puluh dolar saja.


"Apa aku harus kembali? Ah.... tidak mungkin," Selena menggelengkan kepalanya. Ia terus melangkah keluar dari rumah sakit.


"Terimakasih, ya Tuhan, akhirnya aku bisa menikmati hariku tanpa mengurus orang sakit." Sepasang Keith membalut telapak kakinya, mengajak Selena berjalan lebih jauh lagi.


"Ya, benar. Hari yang sangat menyenangkan." Ia menghela napas berat bercampur kesal. Sepanjang jalan Selena hanya mengumpat Zionathan.


Selena berjalan menyusuri jalur Pedestrian di antara bangunan-bangunan seperti kubus menjulang. Jalan kaki pilihan terbaik jika ingin menikmati keramaian di kota ini. Ia tersenyum sambil mendongak ke atas. Sore hari langit masih terlihat cerah. Beberapa orang berlalu-lalang, berjalan cepat menuju tujuannya. Tempat ini masih begitu ramai, mobil dan bus datang silih berganti. Menjadikan detak kota ini begitu cepat. Riuh tapi tidak membosankan, gaduh namun masih berbalut keindahan. Hawa dingin begitu menusuk membuat tangannya bersedekap untuk memberikan rasa hangat di sekitar tubuhnya. Ekor matanya menyapu setiap jalanan yang dilaluinya.


Di persimpangan atau penyeberangan, Selena harus pencet tombol bulat di bagian bawah tiang traffic light, agar tak lama menunggu lampu berbentuk orang jalan kaki segera menyalakan warna hijau.


Selena kemudian menyembunyikan tangan dalam saku coat mantel berukuran panjang dengan bahan tebal dan padat untuk membuat tubuhnya hangat dan nyaman, sembari menanti dengan pejalan kaki lainnya. Hingga momen yang paling Ia suka pun muncul. Selena sering menyaksikannya lewat tv saja dan kini Selena bisa merasakannya.


"Tuk…tuk…tuk…" berbunyi begitu lampu hijau menyala. Suara yang terdengar menuntun ini berakhir ketika pejalan kaki sudah berhasil menyeberang, kira-kira tiga puluh detik. Selena tersenyum dan terus berjalan mengikuti pejalan kaki.


Hingga akhirnya ia sampai di depan Tower of London, menikmati sore di Sungai Thames sembari menatap Tower Bridge yang menawan. Kota dengan alunan terompet yang merayap-rayap di antara gedung-gedungnya.


“The glamour of it all!!” seru Selena meloncat kesenangan.


Setelah berteriak sepuasnya. Selena kembali berjalan, seperti tak kenal lelah. Saat berjalan kaki di trotoar, Ia tersenyum lagi sambil mendongakkan kepala ke atas melihat gedung-gedung pencakar langit menghiasinya. Banyak trotoar di London yang sangat teduh, bukan karena pepohonan namun karena bayangan gedung-gedung tinggi.


Semua orang datang dari segala tempat, semua orang pernah berada di tempat ini. Ada tingkat anonimitas yang membuat siapa pun bisa menyelip dengan mudah di antara hiruk pikuk keramaian. Mereka memanfaatkan waktu dengan penuh kebahagiaan dan kekaguman. Karena kota London, banyak mengisahkan cerita fantasi dan kisah sebuah ironi.


Di sana banyak orang-orang yang memberi pertunjukan di jalanan. Salah satunya di sudut Central Park. Saat melakukan pemanasan sebelum pertunjukan, salah satu dari mereka berseru kepada kelompok pengunjung. Selena tertawa di sana, saat pemain akrobat itu sedang melucu. Ia berasa terlepas dari beban.


Matanya memicing saat memperhatikan lalu lalang orang dengan pakaian modis yang sungguh memanjakan matanya. Banyak yang mengenakan pakaian kerja rapi tapi tak kurang juga yang berpakaian dengan gaya preppy. Selena kemudian tersenyum, Ia benar-benar menikmatinya walau hanya bermodalkan dua puluh dolar saja.


Ada orang yang duduk bersantai di dekat air mancur sambil makan sandwich. Ada juga para pemungut sampah dan pengamen saxophone. Sungguh keindahan imajinasi akan kota London yang menunjukkan kehidupan yang nyata. Mereka benar-benar terbiasa dengan cuaca dingin.

__ADS_1


Setelah puas menikmati kebebasannya. Hingga ia tidak sadar hari sudah berganti malam. Ia hanya terus berjalan menuju taman di tengah kota. Kesedihan kembali terlukis di wajahnya.


"Apa aku harus kembali ke rumah sakit saja?"


Selena menghela napas panjang sambil memandang ke arah jalanan.


"Kenapa hidupku berakhir seperti ini?" Selena bernapas dengan mulut terbuka. Hatinya hampa. Ia menghela napas lagi, seolah-olah dengan begitu ia bisa mengalirkan sebagian rasa sesak di dadanya ke udara bebas, membaginya dengan dunia. Namun dengan setiap helaan napas, sesak yang ia rasakan justru makin menjadi. Tenggorokannya terasa tercekat. Selena segera menelan ludah, meski mulutnya terasa kering. Ia tidak ingin menangis di tempat umum seperti ini. Apa yang akan orang katakan jika mereka melihat seorang perempuan dewasa menangis tanpa sebab yang jelas di tengah jalan?


"Aku ingin kembali saja dari pada tidak dianggap sama sekali. Aku benci dengan pernikahan ini. Aku benci dengan peraturan-peraturan itu."


Selena kembali merapatkan coatnya. Udara terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Setiap kali ia menghembuskan napas, ia dapat melihatnya berubah menjadi uap di depan mata. Langit telah lama berubah gelap, tak satupun bintang yang tampak bergelantungan di sana, menimbulkan kesan bahwa sang langit sedang kesepian.


Selena memandang berkeliling. Beberapa orang lain juga tengah berdiri di pinggir jalan sepertinya, tak jauh darinya. Sepertinya mereka juga tengah menunggu sesuatu. Atau seseorang. Atau mereka sedang tidak menunggu siapa-siapa, hanya berdiri tanpa tujuan, menikmati dinginnya udara yang menusuk-nusuk kulit seperti jarum dan menikmati hujan salju yang turun.


"Ahhhhh....." Selena mendesah panjang.


⭐⭐⭐⭐⭐


LIMA JAM KEMUDIAN.


Di ruangan rumah sakit.


Tidur Zionathan benar-benar nyenyak. Bukan berarti pikirannya tenang, ini karena pengaruh obat dan tubuhnya yang lemah. Tubuhnya seakan mengambil kesempatan untuk memulihkan diri. Setelah makan malam. Zionathan kembali mengistirahatkan tubuhnya agar benar-benar kembali bugar. Ia meminta dokter untuk membuka jarum infus yang tertancap di tangannya. Kini Zio hanya mengandalkan obat yang diberikan dokter saja.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam dan hari pun berganti dan kini sudah menujukkan pukul dua dini hari.


Dddrrrttt….! Drrrrttttt…! Drrrrttttt…!


Dering suara handphonenya terdengar lagi, Ia dengan cepat mengambilnya dari atas nakas dan memicingkan matanya untuk melihat panggilan itu. Zionathan membaca di display handphonenya dan ternyata panggilan itu dari ibunya. Zionathan pun mengangkatnya.


"Ehmm..ya bu?"


"Sayang, apa kabarmu nak?" terdengar suara paruh baya di ujung telepon.


"Ini sudah jauh lebih baik bu. Tiga jam yang lalu aku minta dokter untuk melepaskan infus."


"Heuh? kenapa langsung lepas infus sayang?"


"Aku tidak nyaman bu. Ibu tidak perlu khawatir. Aku sudah baikan kok dan kata dokter besok sudah bisa pulang."


"Oh begitu ya. Baguslah! Tapi yakin sudah baikan?" tanya Davina lagi.


"Hmm. Dokter di sini hebat-hebat bu."


"Oh, ya, sayang. Dari tadi ibu mertuamu menghubungi Selena. Kenapa tidak di angkat? apa Selena sudah tidur?"


Wajah Zionathan menegang dan ia baru tersadar. Ternyata Selena tidak pulang dari siang tadi.


"Zio, apa kau mendengar ibu. Selena dimana nak?" Tanya Davina.


"Ah..dia dari tadi sibuk mengurus keperluanku bu dan sekarang selena sudah tidur." Kata Zionathan berbohong.

__ADS_1


"Katakan kepada Selena untuk segera menghubungi ibunya. Dari tadi, istrimu tidak menghubungi keluarganya."


"Nanti aku sampaikan bu."


"Jangan terlalu memberatkan dia nak. Kasihan dia. Selena juga sangat mengkhawatirkanmu apalagi dia tahu suaminya sakit seperti ini. Dia sampai berangkat ke London untuk menyusulmu."


"Iya bu." Jawab Zio terpaksa.


"Oke, jangan lupa sampaikan kepada Selena agar segera menghubungi ibunya, ya!"


"Ya bu. Nanti aku sampaikan."


Saat panggilan terputus, Zionathan langsung menghubungi Steven dan mengatakan jika Selena belum kembali.


"Apa? nona Selena belum pulang tuan?" Steven terjengkit dari tidurnya. Ia menatap jam yang ada di dinding kamarnya. "Ini sudah jam dua pagi pak. Kemana nona Selena, apa dia diculik?" Ucap Steven ketakutan.


"Kalau saya tahu. Saya juga tidak repot-repot menghubungimu. Sekarang saya tidak mau tahu. Cari dia!" kata Zio menekan setiap ucapannya.


TIT!


Zionathan mematikan handphonenya. Ia mengusap kepalanya dengan frustasi saat ibu Joanna kembali menghubungi handphonenya.


"KEMANA DIA PERGI?" umpat Zio menggeram.


Tiba-tiba Zio mendengar suara yang tak asing. Ya, seperti itu Selena. Dia sedang berbicara dengan perawat di sana. Ia semakin menajamkan pendengarannya.


Zionathan panik dan langsung merebahkan tubuhnya kembali. Ia memejamkan mata saat derap langkah kaki terdengar semakin mendekat, suara seperti yang berbenturan dengan marmer terdengar menggema jelas di telinganya. Apalagi suasana sunyi seperti ini.


Zionathan masih berpura-pura tidur. Entah mengapa mode jantungnya tiba-tiba aktif di dalam rongga dadanya. Ia tidak pernah segugup ini. Jantungnya berdetak penuh kewaspadaan. Langkah itu semakin lama semakin mendekat.


CEKLEK!


Pintu dibuka secara perlahan dan ditutup dengan pelan. Langkah kakinya juga terdengar pelan dan semakin mendekat ke arah ranjang rumah sakit. Kemudian berhenti di depannya. Zionathan seperti tertangkap. Ia diam dengan posisi seperti orang yang benar-benar tertidur di atas ranjang.


Selena berdiri dan menatap Zionathan dengan pandangan tak terbaca. Ia membiarkan sebagian rambut hitamnya berhamburan membingkai wajahnya yang nyaris membeku. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Ia masih diam mengamati wajah lelaki yang tertidur nyaman di sana. Laki-laki yang sama sekali tidak punya hati. Ia menarik napas panjang dan berkata.


"Aku tidak mau diperlakukan seperti ini terus. Besok aku pulang dengan penerbangan pertama. Aku harap kita tidak bertemu lagi." Selena terdiam sesaat dan kembali melanjutkan kalimatnya.


"Kita tidak bisa menjalani pernikahan seperti ini. Saling menyakiti. Setidaknya kau menghargai aku sebagai istrimu. Aku akan menjelaskan kepada orangtuaku dan kau juga bisa menjelaskan kepada orangtuamu. Selamat tinggal!" Ucap Selena dengan yakin diiringi dengan napas yang terbuang sangat berat.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2