
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Setelah mendapat telepon dari Samuel adik iparnya. Zionathan bernapas lega. Akhirnya polisi sudah mengamankan Chesa. Ia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Chesa akan mendekam di dalam sel tahanan, sebelum dilimpahkan ke pengadilan tinggi.
Kini Zionathan hanya berdua dengan Selena. Untuk sementara, Alberto yang mengurus perusahaan sampai istrinya benar-benar pulih. Joanna dan Davina memilih istirahat di rumah, setelah dua hari tak bisa tidur.
Zionathan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Ia sudah selesai melakukannya. Zionathan mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang rumah sakit. Ia merapikan selimut Selena, agar menutupi seluruh tubuh istrinya dengan baik.
Zionathan tersenyum lembut sambil mengecup tangan Selena. Menatapnya dengan penuh cinta. "Apa kau tidak menyadarinya? kau kini mengandung buah cinta kita, sayang." Zionathan mencium tangan Selena lagi. "Tentu saja kau tidak menyadarinya. Aku hitung dari usainya. Saat ayah meninggal, kau sudah mengandung anak kita. Dan kini kabar gembira itu aku tahu dari dokter yang menanganimu, sayang."
Terima kasih sudah bertahan untukku sayang. Kau kuat demi anak kita. Aku sangat bersyukur akan itu." Zionathan tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya.
Kemudian ia menarik napasnya yang terasa berat. "Kau berhasil membuatku terkejut. Kau tahu? hatiku sangat sesak, aku takut bahkan sampai tidak bisa bernapas dengan baik. Aku marah saat mengetahui Chesa menculikmu. Dia bahkan berani menyakitimu. Setelah kejadian ini. Kini menyadari tidak bisa hidup tanpamu sayang. Aku tidak bisa karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jadi sadarlah, lihat aku. Apa kau tidak merindukanku. Sehari bagiku seperti tujuh hari tidak melihatmu. Bangunlah sayang." Zionathan berucap sambil mengecup tangan Selena lagi.
Tidak ada kata-kata setelah itu. Zionathan menundukkan kepalanya di samping Selen. Membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang menyilang. Ia melepaskan rasa sesak di dada dan tertidur di samping istrinya. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Zionathan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Tidak beberapa lama.
"Hmmmpppp....Hhhhmmppp...." Suara Selena pelan dan parau. Samar-samar hampir tidak terdengar. Namun Zionathan bisa mendengar dan membuatnya terbangun.
"Sayang?" Zionathan langsung bangun dan melihat ke arah Selena dan memegang pipi Istrinya dengan lembut. Ia begitu bahagia saat mendengar suara itu.
"Sayang, kau sudah sadar. Lihat aku!" pinta Zionathan dengan penuh harapan dan gejolak bahagia.
Perlahan-lahan mata Selena membuka. Ia masih menyesuaikan pandangannya pada cahaya ruangan itu. Ia meringis saat tubuhnya digerakkan. Luka seperti bekas sayatan terasa begitu sakit pada bagian punggungnya. wajahnya mengerut dan semua terasa perih.
"Selena, sayangku... kau sudah sadar. Lihat aku!" mata Zionathan berkaca-kaca dengan wajah yang mengerut. Tak ada yang bisa menggambarkan rasa bahagianya saat ini. Selenanya benar-benar sadar. Ia bisa melihat mata indah itu lagi.
"Zionathan? kau kah itu?" lirih Selena menaikkan tangannya ke atas. "Sayang?" panggilnya lagi dengan suara lemah dan sangat pelan.
"Syukurlah, kau sudah sadar sayang." Zionathan mencium kening Istrinya cukup lama. Bergantian dengan mata, hidung, pipi, dagu dan juga bibir Selena. Ia menciumnya dengan cepat dan berulang-ulang. Menghujani ciuman untuk orang yang dicintainya itu.
"Akhirnya kau sadar juga. Aku sangat takut kehilanganmu. Terima kasih sudah sadar, sayang." Zionathan menatap Selena begitu dekat dan suaranya berbisik dengan gemetar. Bahkan tangan Zionathan yang mengusap kepala Selena juga masih gemetar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, aku berdoa setiap waktu agar kau bisa menemukanku. Dan lihat, Kau berhasil menemukanku."
"Hmmm tentu saja sayang." Zionathan langsung memeluk istrinya. Kali ini begitu erat, seperti takut kehilangan. Bahunya gemetar dibalik pelukan.
Selena ikut menitikkan air mata haru, hatinya kembali tenang dan hangat. Karena saat membuka mata, ia bisa melihat suaminya. Di saat hal terakhir yang diingat Selena hanyalah kejadian buruk. Meski memorinya masih sepenggal-sepenggal.
"Dimana Ferdinand? apa kau berhasil menemukan Ferdinand?"
Zionathan mengangguk dan masih posisi memeluk Selena. "Ferdinand sudah ditangani pihak rumah sakit. Dia juga ditemukan tak sadarkan diri."
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya."
"Tidak sekarang sayang. Kau masih butuh istirahat." Kata Zionathan.
Selena tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah,"
"Apa kau perlu sesuatu? Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Badanku pegal, tubuhku sakit semua." Selena menarik napas singkat, "Sayang, bisakah aku duduk?" Ucapnya dengan tatapan sendu.
"Apa tidak masalah dengan kondisimu seperti ini? Aku rasa kau masih butuh istirahat." terang Zionathan.
"Aku lapar." Selena mendorong tubuhnya ke atas dengan tenaga yang masih terkumpul. Zionathan membantunya sampai posisi Selena terduduk dan bersandar di sandaran ranjang rumah sakit.
"Sebentar, aku belikan sesuatu dari kantin rumah sakit saja, makanannya lumayan enak juga."
Selena mengangguk lemah. "Sepertinya itu ide bagus."
"Sebenar aku tinggal dulu ya." Kata Zionathan mencium puncak kepala Selena.
Zionathan pun melangkah meninggalkan ruangan itu. Saat itu pula Selena turun dari kasur dengan bantuan ke dua tangannya. Selena terus mencoba turun dari atas kasur. Ia berjalan sambil membawa tiang infusnya menuju jendela kamar rawat inap. Selena menatap keluar, memandang keluar jendela yang terbuka. Pandangannya kosong tak berarti. Sampai akhirnya kenangan buruk itu datang. Penculikan, penyiksaan yang dilakukan anak buah Chesa membuatnya panik. Semua kepingan-kepingan kejadian itu seperti berputar-putar di dalam otaknya. Selena mencengkram kepalanya begitu kuat. Hatinya sakit mengingat itu.
Setelah cukup tenang, selena melangkah menuju ranjang pasien. Namun langkahnya berhenti saat kepalanya tiba-tiba sakit, bau obat-obatan dari rumah sakit langsung tercium oleh hidungnya. Dengan sedikit tertatih-tatih, Selena melangkah menuju wastafel yang ada di kamar mandi.
Tak beberapa lama, Zionathan masuk lagi ke dalam kamar VIP itu. Langkahnya melambat saat tidak melihat istrinya di atas ranjang rumah sakit.
"Sayang?" panggil Zionathan panik. Ia berlari ke arah kamar mandi dan menemukan Selena muntah-muntah di sana. Zionathan langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memijit tengkuk Selena. Kini ia tahu kenapa istrinya sering mengalami seperti ini.
Selena memilih tidak menjawab. "Ueeeeeekkkkkkk." Selena kembali mual saat perutnya bergejolak, tapi tidak mengeluarkan apa-apa.
"Sepertinya aku masuk angin sayang?" Kata Selena. Dengan napas terengah-engah ia mengumpulkan kekuatan untuk mencuci mulutnya di wastafel.
"Tidak. Kau tidak masuk angin."
"Heuh?" Selena mengernyit. "Maksudmu aku punya penyakit serius?"
Zionathan menggeleng, menahan senyumnya. "Itu biasa dialami ibu hamil sayang. Perubahan hormon pada ibu hamil, membuat kamu harus mengalami muntah seperti ini di setiap saat." kata Zionathan tersenyum mengambil kedua tangan istrinya.
DEG!
Jantung Selena terpukul kencang, sangat kencang. Ia menahan napasnya, saat mendengar kalimat itu. "Aa-apa maksudmu aku hamil?"
Zionathan mengambil tangan Selena dan meletakkannya telapak tangan itu dibagian perut istrinya. "Kau hamil sayang. Kau mengandung buah cinta kita."
Mata Selena membulat sempurna. "Aku hamil?" Ucapnya masih tak percaya.
"Ya, kamu hamil." Jawab Zionathan dengan wajah berbinar bahagia.
Sepersekian detik, ia menyadari sesuatu. "Astaga..." Selena menutup mulutnya tidak percaya, ternyata ia belum mendapatkan bulanannya. Selena semakin menahan napasnya.
Zionathan tersenyum, menarik istrinya masuk ke dalam pelukannya. "Terima kasih sayang." Zionathan mengecup kening Selena dengan posesif. "Kau jangan memikirkan apapun. Termasuk mengenai Chesa, semuanya serahkan kepadaku. Kau tidak perlu khawatir. Cukup jaga kesehatan dan makan yang banyak untuk kesehatan anak kita. Kau mengerti?"
__ADS_1
Selena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia masih tidak percaya, "Apakah aku sepolos itu? sampai tidak menyadari bahwa ada janin berkembang di dalam rahimku."
Selena membalas pelukan suaminya. "Astaga, aku sangat bahagia sayang!" Ucapnya lagi dengan mata berbinar. "Kita akan menjadi orang tua."
"Hmm, kau akan menjadi seorang ibu yang hebat. Pasti! ibu yang cantik dan aku akan ayah yang super hero." Zionathan mengusap-usap punggung Selena dari atas sampai ke bawah.
Selena melepaskan tawanya. Kebahagiaan itu benar-benar terlukis di wajah mereka.
βββββ
Dokter melangkah masuk menuju ruangan VVIP A. Untuk melakukan pemeriksaan fisik terhadap Pasiennya yang bernama Selena Gwyneth. Zionathan bangkit dari duduknya dan tersenyum ramah menyambut dokter Mark
"Selamat siang Tuan! " Sapa dokter itu dengan ramah.
"Selamat siang juga juga dok." sahut Zionathan berdiri disamping lelaki yang memakai jas putih itu.
Dokter Mark melangkah menuju pasien, mengarahkan stetoskop ke dada untuk melihat kondisi jantung pasien, sementara perawat memeriksa tekanan darah Selena.
"Keadaannya sudah mulai membaik, kita tinggal menunggu masa pemulihan saja. Ibu Selena mendapatkan luka dan perlahan-lahan luka itu mulai mengering." Dokter Mark menjelaskan semua dari hasil pemeriksaannya.
"Bagaimana hasil tes darahnya dok?"
"Hasilnya sudah keluar," Dokter Mark diam sesaat kemudian melanjutkan kalimatnya. "Dari hasilnya. Ibu Selena beberapa kali diberikan obat bius dan terakhir kali mereka memberikan suntikan untuk melumpuhkan tubuh istri anda. Tapi dari hasil pemeriksaan saya dosisnya terbilang sedikit." ucap dokter itu akhirnya. Dia memandang ke arah Selena yang nampak menegang.
"Suntikan berbahaya dok?" Tanya Zionathan terkejut menoleh ke arah dokter.
"Ya. Zat ini sangat berbahaya. Pancuronium bromide atau yang dikenal dengan Pavulon adalah penenang otot yang pada dosis tertentu bisa melumpuhkan. Obat tersebut biasanya akan bekerja dalam waktu satu sampai lima menit setelah disuntikkan dalam tubuh. Beruntung obat ini diberikan dalam dosis rendah. Tubuh ibu Selena kuat hingga tidak mempengaruhi janinnya." ujar dokter Mark menjelaskan.
Mendengar itu Zionathan mengepalkan tangannya. Ia sangat marah dengan apa yang dijelaskan dokter Mark kepadanya. Zionathan mencoba mencerna semua perkataan Dokter itu. Ia menarik napasnya yang terasa sesak.
"Apakah seburuk itu dok?" Tanya Selena menimpali.
"Kita bisa memberikan multivitamin untuk menghilangkan Zat itu."
Tubuh Selena menegang dia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ternyata suntikan itu benar-benar berbahaya untuk tubuhnya. Dia menggeram dan ingin melampiaskan kemarahannya pada Chesa.
"Kita akan periksa kandungan ibu Selena sekitar satu jam lagi."
Zionathan menganggukkan kepalanya, tanda mengerti dengan apa yang dijelaskan dokter itu, pikirannya kembali berkelana.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu tuan. Jangan stres ibu Selena, tetap semangat."
Dokter Mark tersenyum seraya menepuk lengan Selena dengan lembut. Ia pamit undur diri dan berlalu pergi meninggalkan ruangan beserta kedua perawatnya itu.
BERSAMBUNG
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih πβΊοΈ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^