
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
TIDAK BEBERAPA LAMA.
"Hmmmpppp....Hhhhmmppp...." Suara Zio pelan dan parau. Samar-samar hampir tidak terdengar. Namun Alex bisa mendengar. Ia melangkah cepat mendekati ranjang rumah sakit.
"Tuan Zio?" Alex berucap pelan.
Namun Zio masih terpejam. Mungkin kesadarannya belum kembali akibat cara kerja obat bius yang memengaruhi otak dan organ-organ tubuhnya.
" Hmmm.... hmmmm..." Zio mengigau dan mengerutkan keningnya. Ia merasakan sesuatu yang perih dipunggung tangannya saat ia menggerakkan tangannya.
Alex berusaha membangunkannya lagi. "Tuan Zio, anda sudah sadar?"
Perlahan-lahan mata Zio membuka. Ia masih beradaptasi dengan cahaya ruangan. Akhirnya Zio berhasil membuka matanya dengan sempurna. Ia melihat sekelilingnya di dominasi warna putih. Aroma obat-obatan tercium di hidungnya. Zio meringis saat tubuhnya di gerakkan. Badannya remuk seperti bekas pukulan terasa begitu sakit pada bagian punggungnya. Wajahnya mengerut dan semua terasa perih.
"Hiksss..." Zionathan menahan sakit pada bagian kepalanya.
"Tuan..." panggil Alex lagi.
"Kenapa aku berada di sini?" Gumam Zio berusaha mengingat. Ia melihat punggung tangannya sudah tertancap infus. kepalanya diperban. Zio mengerutkan keningnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Syukurlah anda sudah sadar tuan. Bagaimana perasaan anda tuan?" Tanya Alex mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Zionathan.
"Alex? kenapa aku di sini?" lirih Zio menatap ke arah asistennya. "Dimana Olivia?"
"Anda tidak ingat tuan?"
Tiba-tiba ia baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi oleh Zio. Mulai membongkar kotak-kotak memori yang kosong, mengais-ngais sisa-sisa ingatannya yang mungkin masih tertinggal. Sampai pikirannya terasa kelu. Kepalanya sakit. Zio mencengkram kepalanya. Memori-memori yang tersimpan dalam ingatannya mulai bangkit ke permukaan. Pecahan-pecahan adegan dan gambar bergulir cepat dan kasar di dalam kepalanya yang kosong, yang kini mencicip nyeri seperti mau pecah.
"Tuan, anda tidak apa-apa?"
"Aku tanya dimana Olivia?" Bentak Zio, bahkan suaranya memenuhi ruangan. Ia seperti orang yang ketakutan, Ia melihat sekelilingnya, mencari-cari keberadaan Olivia. Zio berharap ini hanya mimpi, kejadian malam itu tidak benar-benar terjadi.
Alex menunduk sedih. "Olivia sudah meninggal tuan." Ucapnya pelan namun Zionathan bisa mendengarnya dengan jelas.
"A-apa? Jangan bohong Alex, itu tidak mungkin!" ucapnya parau dan gemetar. Tubuhnya menegang kaku. Jantungnya terpukul kencang. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Mata Zio seketika berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan." Ucap Alex dengan penuh penyesalan. Ia tahu tuan Zio tak akan terima begitu saja.
"Selagi aku tidak melihat Olivia, aku tidak akan percaya omong kosongmu Alex." ucap Zio melepaskan selang oksigen yang bertengger di hidungnya.
"Apa yang anda lakukan tuan. Anda tidak bisa turun." Alex ketakutan saat melihat Zio ingin turun.
Tapi Zio tak perduli. Ia mengangkat sebelah kakinya turun dengan bantuan ke dua tangannya. "Aaarghhhhh..." Zio merintih kesakitan saat kakinya mendapatkan luka karena terjepit badan mobil. Lukanya masih basah. Namun Zio tak memperdulikan rasa nyeri yang mencuat dari seluruh tubuhnya. Ia terus mencoba turun dari atas kasur. Zio mengangkat tangannya ke belakang memegang sisi kasur dan mencoba memegang tepian sebagai penyangga tubuhnya.
"Tuan, saya mohon! anda tidak bisa melakukan ini."
"Aku ingin melihat Olivia. Jangan buat aku marah Alex, kau mengarang cerita dan mengatakan Olivia meninggal. Kau pikir aku akan percaya." Alis Zio menukik tajam. Tatapannya hampir saja ingin menelan Alex hidup-hidup.
Zio masih berusaha, tubuhnya terangkat perlahan. Kini Zio berposisi setengah berdiri.
"Aaarghhhhh." Zio terjatuh, wajahnya mengerut menahan sakit.
Alex memilih pasrah. "Biar saya bantu tuan, saya akan membawa anda menemui nona Olivia."
"Aku masih bisa jalan," Zio menjawab dengan ketus. Ia menarik dan membuang napasnya dengan cepat. Bersiap untuk melangkah perlahan. Sambil menahan nyeri, Zio menyeret kakinya pelan.
"Ahhhhh...." Zio tak sanggup berjalan.
"Nona Olivia ada di lantai bawah tuan, saya rasa anda membutuhkan kursi roda. Biar saya membawa anda ke sana."
Zionathan membuang napas kasar. Ia membiarkan Alex keluar dan mengambil kursi roda. Tak menunggu lama, Alex sudah kembali.
Zio akhirnya memilih duduk, ia sendiri tidak tahan jika harus berjalan sampai ke lantai satu. Alex pun mengantarkan Zionathan dengan mendorong kursi roda di koridor rumah sakit. Area rumah sakit ini nampak sepi. Selain karena bangunan ruang rawat inap hanya untuk pasien VIP, hari juga sudah sangat malam, para pasien dan penjaganya sebagian besar sudah beristirahat. Mereka tiba di lantai satu. Zio jelas-jelas melihat tulisan kamar Jenazah.
DEG!
Jantung Zio terpukul kencang. Begitu sesak, hingga ia tak bisa menarik napasnya dengan benar. Bahkan untuk menelan salivanya saja ia tidak sanggup. Zionathan mendengar jelas suara tangisan histeris dari seluruh keluarga Olivia.
Zio menggeleng tak percaya. Tatapannya nanar dan kosong. "Tidak mungkin!" Ia mencoba mencerna, dan mencoba mengerti, hatinya makin perih saat ini. Zio menangis dan membeku di tempatnya. Air matanya kembali menguasai dirinya. Ia tidak bisa menolak betapa hancurnya hatinya saat ini.
Zio berusaha bangun, menyeret kakinya dan mendekat ke arah peti jenazah. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Air bening itu kembali membasahi pipinya.
Davina menyadari kedatangan Zio. "Sayang? Kau sudah sadar?"
Zionathan tidak menjawabnya. Matanya hanya menatap lurus ke arah peti jenazah. Saat Ia melihat Olivia terbujur kaku dan wajahnya sangat pucat, hati Zio seperti dicengkeram. Olivia tertidur damai, Zio terus menatapnya, kalau-kalau mata Olivia akan terbuka dan semuanya akan baik-baik saja.
Zio memegang tangan Olivia, air matanya mengalir tanpa diundang. "Sayang, jangan seperti ini. Aku mencintaimu. Aku tak bisa tanpamu. Lihat aku... bangunlah..." Tangisan Zio akhirnya pecah di keheningan malam.
Davina menutup mulutnya dan menangis saat melihat tangisan putranya. Air matanya ikut membanjiri pipinya. Ia melangkah dan memeluk Zio dari belakang. "Sayang...." hanya itu yang keluar dari mulut Davina.
Sementara Alberto hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Malam ini mereka akan membiarkan Zio menangis sepuasnya. Membiarkan Zio mencurahkan segala rasa sakit lewat tangisannya. Agar Zio bisa menguatkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Davina tak sanggup. Ia terus mengusap punggung Zio.”Sayang, lihat ibu!"
"Aku ingin Olivia kembali ibu, tolong kembalikan Oliviaku."
“Sayang, dengarkan ibu. Saat ini Olivia tidak merasakan sakit lagi. Dia udah tenang di sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia di sana.”
“Tidak... Olivia tidak mungkin pergi. Dia hanya tidur bu."
"Sayang dengarkan ibu." Davina mencoba membujuk Zio.
Teriakan Zio membuat semua perawat datang dan berusaha menenangkannya, tapi Zio tidak bisa, air matanya mengalir terus tiada hentinya.
"Ibu, kenapa harus Olivia, kenapa bukan aku saja." Zio mencurahkan isi hatinya.
Davina menggeleng. Ia sedih saat mendengar perkataan putranya.
"Anda tidak bisa keluar dari ruangan anda tuan. Anda masih butuh istirahat. Tuan harus kembali ke kamar anda." kata seorang perawat menghampiri Zio.
"Sayang, Olivia akan dibawa ke rumah duka. Kau belum bisa meninggalkan rumah sakit." Davina kembali membujuk anaknya. Ia tahu Zio masih dalam tahap pemulihan pasca operasi.
"Besok, kau bisa melihatnya kembali." kata Alberto menimpali dan memberikan kekuatan kepada putranya.
Zio mengangguk lemah. Dua orang perawat akhirnya membawa Zio kembali ke ruangannya. Suster itu kembali memberikannya obat penenang. Agar pasien bisa benar-benar beristirahat. Sesaat kemudian Zio tertidur, di alam mimpi, Olivia datang padanya. Olivia tersenyum kepadanya. Dia melangkah mendekat ke arah Zio. Wajah Olivia tampak berseri, kelihatan senang sekali, seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia ini. Olivia tersenyum lagi dan menggenggam tangannya. Zio memeluknya merasakan kenyamanan bersamanya. Zio merasakan dia memberiku kekuatan, ketegaran, Olivia mengusap punggung Zio dengan penuh rasa sayang, tapi pelan-pelan Olivia melepaskannya. Olivia menjauh dari Zio, semakin jauh, jauh dan hilang dari pandangannya.
Saat Zio sadar, ia menangis lagi. Bukan karena cengeng, semua itu karena rasa cintanya yang besar. Zio juga tidak siap berpisah dari Olivia. Jika ia tidak membesarkan masalah, kecelakaan itu tidak akan terjadi. Rasa cemburunya membuat Olivia pergi. Olivia bahkan melindunginya dari benturan itu. Ahhhh....tangisan itu terdengar lagi. Memanggil Olivia untuk kembali lagi. Sekarang dunia baginya terasa kelam. Hatinya seolah-olah tidak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, Olivia tidak akan pernah kembali lagi.
Kesedihannya menciptakan segala kegelapan dan kesenduan hati. Bayangannya seolah telah melekat pasti di dalam jiwa dan raganya. Sampai di bawah batas kesadaran Zio pun, Ia tak akan mampu bisa untuk melupakan Olivia. Olivia Nathania, dengan segala kesederhanaan yang dia miliki, Zio mencintainya. Sesosok wanita cantik dan berwibawa yang pergi meninggalkannya. Satu tahun hubungan mereka mampu menciptakan debaran-debaran yang membuat mereka di mabuk cinta. Kenangan akan kebersamaan yang dulu terjalin masih terekam jelas di dalam otak Zio. Meski kepala ini terbentur hingga hancur tak akan menghilangkan sedikit pun cerita tentangnya.
KEESOKAN HARINYA.
Zionathan mengantarkan Olivia ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua sahabatnya ikut datang dan merasakan kesedihan yang terdalam. Dengan hati yang kehilangan, entah percaya atau tidakkah dengan kejadian ini. Entah bisa atau tidaknya untuk merelakan kepergiannya. Dan malam itu Zio masih melihat Olivia yang selalu ceria, yang selalu asyik, yang selalu tersenyum, yang selalu perhatian kepadanya. Kini Zio tak bisa merasakan kehangatan itu lagi. Tak terasa air matanya mengalir lagi.
"Untuk kamu wanita yang sangat luar biasa, wanita yang sangat sempurna. Kamu mungkin sudah pergi meninggalkan aku di sini. Tapi, kenangan kita akan selalu abadi, kenangan yang sangat sulit untuk aku lupakan, kenangan yang sangat berkesan dan luar biasa." Zionathan berusaha kuat menatap gundukan tanah yang ada di depannya.
"Selamat tinggal sayang, semoga kamu bahagia di sana. Aku selalu mencintaimu, menyayangimu. Terima kasih atas goresan kenangan yang luar biasa ini, yang memberi warna di kehidupan untukku. Dan kau tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun di hatiku. Semoga kita bisa dipertemukan kembali. Tuhan titip Olivia ya, beri dia tempat yang terbaik di sana." Zionathan menunduk dengan luka dan kesedihan yang mendalam. Air matanya terjatuh di gundukan tanah yang masih basah itu.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^