
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Senyuman kecil tersungging di bibirnya saat Zionathan sudah rapi dengan celana dan pakaian kemeja biru pastel yang pas di tubuhnya. Dengan parfum beraroma woddy disemprotkannya ke beberapa titik tertentu. Ia lalu meraih dasi bermotif garis serong berwarna biru dongker dari atas nakas dan membuka gulungannya.
Zionathan langsung memasang dasi itu ke lehernya. Ia mengikat simpul dasi dan langsung siap dipakai hanya dengan cara dikalungkan dengan tarikan pada ujungnya. Karena Istrinya baru saja selesai membentuknya. Ia kembali mengencangkan dasi di kerah bajunya dan sesaat memiringkan wajahnya untuk menatap dirinya di depan cermin. Ia terus mencoba senyuman dan wajah terbaiknya di depan cermin. Sesekali memandang istrinya lewat cermin. Zionathan sengaja tidak membangunkan istrinya. Karena tadi malam Selena kurang tidur karena tidak enak badan.
Satu d*sahan napas, Ia tersenyum kembali. Zionathan kembali menyisir rambutnya dengan rapi. Penampilan Zionathan sudah siap. Siap untuk melakukan pekerjaannya dengan semangat baru untuk mengawali hari.
Zionathan lalu berjalan mendekati istrinya yang masih tertidur itu.
"Sayang, selamat pagi." CUP! "Aku pergi dulu."
"Hmmm, mmm." Selena mengulat. Sapaan selamat pagi dan sesuatu yang lembut menempel di keningnya membangunkan Selena dari tidurnya. "Sayang?" Gumam Selena dengan suara khas bangun tidur. Ia berusaha membuka matanya, walau masih ngantuk.
"Kau mau pergi?"
"Hmm."
"Peluk aku. Sebentar saja." rengek Selena begitu manja.
Zionathan terkekeh sambil mengusap dagunya. "Akhir-akhir ini kamu seperti anak kecil sayang. Apa kau menyadarinya?" Zionathan membungkuk ke arah Selena. Memandang istrinya dengan sayang.
Selena tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan terus menggoda suaminya itu. "Ayolah sebentar saja."
Tadi malam Selena nampak berbeda. Dia terlihat manja dan kata-kata cintanya tadi malam membuat hati Zionathan merasa terikat dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Seorang wanita yang selalu membuatnya menjadi pribadi yang berbeda.
"Kamu tidak akan terlambat hanya memelukku sebentar saja sayang." rengek Selena seperti anak kecil. Ia duduk sambil menggulung asal rambutnya ke atas. Lalu menyibak selimut dari pangkuannya dan segera membuka tangannya meminta suaminya agar naik ke atas tempat tidur dan memeluknya. "Kemarilah!"
Zionathan tersenyum melihat wajah cantik istrinya itu. Ia menyukai pancaran senyuman dari Selena, wajah istrinya secerah mentari pagi, rambutnya yang digulung asal, membuat Selena terlihat lebih cantik natural. Benar-benar pesona wanita pagi. Selena menggunakan t-shirt oblong milik Zionathan yang sengaja dipakainya tadi malam dengan alasan agar bisa tidur. Bawahannya ia menggunakan celana jeans pendek yang berbahan denim. Kakinya yang jenjang terlihat putih dan mulus. Menambah kadar cintanya.
"Sayang... tunggu apa lagi, jangan melihatku seperti itu." ucap Selena dengan gumaman manja.
Zionathan tersenyum lagi. Akhirnya ia memutuskan naik ke atas kasur. Selena langsung tiduran di sana. Zionathan merebahkan tubuhnya menyamping dan berhadapan dengan Istrinya. Ia menekuk siku. Merangkul punggung Selena agar mendapat sandaran yang nyaman di lengannya. Zionathan terus merangkulnya dengan erat dan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Selena langsung menyambutnya dengan senang hati. Ia tersenyum sambil menarik napas panjang. Wangi woody dari parfum yang digunakan suaminya sangat menenangkan. Suaminya sudah rapi, rambut sudah tersisir rapi, nampak sedih basah. sudah siap berangkat ke kantor. Namun Selena harus menahannya demi mendapatkan pelukan dari suaminya itu.
"Apa sakitnya sudah hilang?" tanya Zionathan mengecup lagi kening istrinya dengan lembut.
"Masih, tapi tidak sesakit tadi malam."
"Apa kita ke dokter saja."
"Ini hanya sakit kepala biasa. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Tapi kenapa sakitnya harus datangnya malam? aku sangat mencemaskanmu sayang."
Selena tersenyum dan langsung mendongak ke atas, menatap suaminya lebih dekat. Dewa Olympus yang begitu sempurna dikirimkan Tuhan untuknya. Semburat senyum langsung terpancar di wajahnya. Masih pagi, tapi hatinya sudah berbunga-bunga hanya melihat ketampanan suaminya itu.
"Selagi kau ada di sampingku, aku bisa menahan sakitnya. Dan ini beneran sakit biasa kok. Jadi kamu tidak perlu mencemaskannya. Oke?!"
Zionathan menarik napas singkat dan membelai rambut istrinya. "Jika masih sakit, kita ke dokter ya?"
__ADS_1
"Hmm. Oke tuan tampan."
Zionathan mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Selena.
"Hmmm. Sangat nyaman memelukmu seperti ini." Selena kembali mencium aroma tubuh suaminya dengan posesif.
"Oya? kalau begitu aku akan membiarkanmu memelukku lagi nanti malam. Kalau sekarang tidak bisa, aku harus bekerja sayang." Goda Zionathan.
Selena mengerucutkan bibirnya saat Zionathan menyudahi pelukannya. Suaminya itu segera bangun dan berdiri. Zionathan memandang binar mata cokelat istrinya yang begitu menggoda.
Selena tersenyum. "Baiklah. Tapi nanti malam aku harus menagihnya."
"Hmm. Tidak perlu ditagih. Aku akan dengan senang hati melakukannya." Sahut Zionathan lagi dengan senyum smrik.
Melihat senyuman itu, rasa-rasanya ingin menarik Zionathan dan tidak membiarkannya bekerja. Mencurinya satu hari ini untuk dirinya.
Zionathan melihat jam di tangan kirinya. "Aku berangkat dulu sayang."
"Nanti siang aku ke kantor ya?" Selena duduk sambil merapikan rambutnya.
"Hmm. Datanglah, nanti kita makan siang bersama." Zionathan melangkah mengambil tasnya. "Tidak perlu mengantarku. Kau tetap disitu dan lanjutkan istirahatmu."
Selena menjepit bibirnya dan mengangguk paham. "Hati-hati sayang,"
"Kamu jangan lupa sarapan. Aku akan meminta ibu Berta membawa sarapanmu ke sini saja. Bagaimana?"
Selena tersenyum dan mengangguk cepat.
"Aku mencintaimu, sayang."
"Aku juga mencintaimu, Nathan." Selena melambaikan tangannya. Suaminya sudah hilang dibalik tembok kamarnya.
Selena menarik napas dalam-dalam sampai kedua bahunya ikut turun. Ia menjatuhkan kakinya ke lantai dan berjalan ke arah balkon sambil membawa teh hangat yang dibawakan suaminya tadi.
TOK TOK TOK.
Terdengar ketukan pintu dari kamarnya.
"Masuk bu." kata Selena melangkah masuk ke kamarnya lagi.
Ceklek!
"Aku membawakan sarapan anda nyonya." ucap ibu Berta tersenyum sambil membawakan baki di tangannya. Sarapan pagi lengkap dengan susu sesuai pesanan tuannya sebelum berangkat.
"Ah...aku sarapan di dapur saja bu. Aku mandi dulu." Ucap Selena membalas senyuman ramah dari wanita paruh bayah itu.
Ibu Berta mengangguk paham. "Baik nyonya." Wanita itu membungkukkan badannya, dan langsung keluar dari kamar.
Selena langsung menuju kamar mandi. Entah mengapa akhir-akhir ini Selena suka sekali berendam di dalam bathtub. Padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti itu. Sekarang Selena ingin memanjakan diri dengan mandi campuran air hangat dan minyak aromaterapi. Ia memberikan beberapa tetes minyak lavender dan chamomile. Bisa memberikan ketenangan saat dihirup olehnya. Selena benar-benar menikmatinya. Cukup sepuluh menit saja. Ia langsung keluar dari bathub, lalu menyalahkan shower untuk membilas tubuhnya.
Setelah 20 menit berlalu dia keluar dari kamar mandi. Selena keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Wajahnya sudah terlihat segar. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya masih terjatuh.
Selena menggunakan pakaiannya. Ia berpenampilan anggun dan fashionable. Kaos fashion item yang branded dari Chanel dan celana jeans yang digunakannya dari merek Louis Vuitton, hadiah dari suaminya.
βββββ
Dddrrrttt.... Dddrrrttt....
Tiba-tiba handphone yang diletakkan Selena di atas meja bergetar. Selena memandang sekilas ke belakang. Ia tahu panggilan itu pasti dari suaminya. Selena tersenyum dan melangkah untuk mengambil handphonenya. Saat menatap benda pipih itu, dahinya mengernyit saat panggilan itu ternyata nomor baru.
"Ehmm.. Halo?" Ucap Selena menyapa saat menggeser tanda terima dari handphonenya.
__ADS_1
"Halo Selena. Kau masih mengingatku?" terdengar suara seorang wanita di ujung telepon.
Alis Selena menukik tajam, saat tahu panggilan itu ternyata dari Chesa. Ia tersenyum samar di sana. "Bagaimana aku bisa melupakanmu Chesa. Kau seorang pengkhianat seperti lumut. Tumbuh menyelusup lalu secara perlahan menghancurkanku." kata Selena sedatar mungkin.
"Bagaimana seorang teman baik mengatai sahabatnya sendiri. Kau jahat..." Chesa tertawa mengejek di ujung telepon.
"CK..." Selena berdecak dan tersenyum smrik. "Bagaimana mulut kotormu itu bisa mengatakan kita masih sahabat. Setelah apa yang kau lakukan kepada ayahku."
"Aku melakukan itu demi kebaikanmu Selena."
"Apa? kau melakukan itu demi aku? apa kau sudah gila?" bentak Selena tidak terima.
"Bisakah kau tidak berteriak Selena, aku tidak tuli." Ucap Chesa dengan santai tanpa beban.
Selena memutar bola matanya, ia jengah dengan semua ini. "Aku membencimu Chesa. Jadi jangan pernah menghubungiku lagi."
"Selena. Dengarkan aku. Bagaimana kalau kita bertemu saja. Aku bisa menjelaskan semuanya. Agar kita tidak salah paham lagi."
"Aku tidak sudi bertemu denganmu."
"Tapi kita harus bertemu, jika kau tidak menganggapku teman lagi, oke...tidak apa-apa. Tapi kau harus tahu, kenapa aku melakukan itu Selena."
Selena menahan geram, giginya saling bergesekan karena menahan emosi. "Kau pikir aku bodoh. Kau itu benar-benar seperti uang receh, bermuka dua dan tidak berharga. Masih bisa bermulut manis seperti sampah." Selena menekan setiap perkataannya.
Chesa menarik napas. "Terserah kamu menilaiku seperti apa. Tapi semua itu aku lakukan demi kamu dan masalah pembicaraan terakhir dengan uncle. Ayahmu menitip sesuatu kepadaku dan aku harus menyerahkan langsung kepadamu."
DEG!
"Apa?" Wajah Selena berubah.
"Sebelum Uncle sakit. Ia memberikan sesuatu kepadaku dan aku tidak berani membukanya karena benda itu bukan milikku. Sekarang tergantung kepadamu, jika kau tidak percaya. Aku tidak akan memaksamu."
"JANGAN BOHONG!" Teriak Selena.
"Aku sudah bilang tidak akan memaksamu. Jika kau ingin bertemu. Kau bisa datang ke villa dimana kita sering datangi bersama Ferdinand."
"Kau pikir aku...."
TIT
Panggilan langsung dimatikan Chesa.
"Hallo...hallo....Chesa? Chesa? Oh shiiittt..!" Selena berteriak, tapi sambungan itu sudah mati. Ia mencoba menghubunginya lagi.
NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI.
"Aaarghhhhh." Selena menahan geram.
Ia langsung membuang asal handphonenya. Selena berusaha menahan amarah. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.
Selena tidak tenang. Ia memikirkan perkataan Chesa. Yang dia lakukan hanyalah mondar-mandir dengan gelisah di kamarnya. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, menggigit jari, berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkan Selena.
Namun tanpa pikir panjang, Selena langsung meraih kunci mobil dan berlari dari kamarnya. Ia penasaran, apakah benar ayahnya memberikan sesuatu kepada Chesa atau tidak?
BERSAMBUNG.....
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih πβΊοΈ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^