Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
UCAPAN SELAMAT.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Dekorasi acara pemberkatan mereka di sulap begitu indah. Semua didominasi warna putih. Mulai dari pintu masuk hingga dekorasi dinding. Bunga putih dan nuansa blush pink yang di isi dengan sofa putih dan chandelier yang memberi kesan mewah. Dengan ornamen lilin di sekitar dekorasi bunga. Di tambah kain-kain putih yang menjuntai di langit-langit gedung. Konsep seating party, di mana para tamu duduk di masing-masing kursi yang sudah ditentukan. Dekorasi meja bundar juga mengusung tema elegan, dengan bunga besar warna pink sebagai centerpiecesnya. Terlihat pula kristal menjuntai di bawah bunga.


Acara pemberkatan berjalan lancar. Masih di ruangan yang sama. Tamu undangan ikut merasakan kebahagiaan mereka. Mereka masih tampak berbincang-bincang sambil menyantap makan siang yang sudah di siapkan. Menunya ala Asia atau western food.


Sementara Zionathan dan Selena duduk tanpa saling menatap. Tidak ada saling lempar senyum seperti pengantin pada umumnya.


"Kau sudah mempelajari surat perjanjian itu?" Tanya Zionathan datar tanpa memandang Selena.


Selena melirik sekilas. "Cih...apa dia pikir mau ulangan sampai harus dipelajari."


"Aku sudah bilang tidak mau mengulangi ucapanku."


"Sudah, dan aku juga sudah membubuhi tanda tanganku. Anda puas?" Jawab Selena dengan ketus.


"Kenapa kau tidak memberikannya kepadaku?"


"Kenapa anda harus membahasnya sekarang? Apa tidak ada waktu lain lagi?" Selena mulai kesal.


"Aku takut kau salah menggunakannya."


Selena berdecak, ia menatap Zionathan dengan sinis. Lama-lama lelaki ini menjengkelkan. "Apa surat perjanjian itu bisa digadaikan? Jika bisa, aku ingin menggunakannya."


Zionathan tersenyum kecil. Kalimat itu benar-benar menggelitik hatinya. Kemudian wajahnya kembali datar lagi "Besok serahkan kepadaku. Surat itu begitu penting untukku."


Rahang selena mengencang kuat. "Jangankan besok, hari ini juga aku bisa memberikannya kepadamu." Selena menekan setiap perkataannya.


"Sabar.. sabar...." Batin Selena menenangkan hatinya. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. "Aku rasa otaknya benar-benar terganggu. Dia benar-benar gila."


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Begitu selesai berjabat tangan dan mengucapkan selamat. Tidak lupa mereka memberikan doa kepada kedua mempelai. Sesi foto berakhir dengan baik. Para tamu undangan akhirnya pulang satu persatu.


Tidak ingin melihat ayahnya kelelahan, Zionathan langsung menghubungi supir untuk mengantar orang tuanya lebih dulu. Selena pun ikut bergabung dengan mereka.


"Kamu di sini saja, tak perlu antar kami. Tamu undangan masih banyak." Kata Davina kepada Selena, ia bangun dari duduknya saat melihat supir masuk ke dalam ballroom.


"Baik bu," jawab Selena tersenyum tipis.


"Pergunakan tiket yang ayah berikan. Semoga bulan madu kalian berjalan dengan baik." kata Alberto mengingatkan Zionathan.


Zionathan menatap Selena sekilas. Lalu tersenyum kepada ayahnya. "Baik ayah."


"Kami pergi ya sayang." kata Joanna memeluk putrinya.


Selena pun membalas memeluk ayah dan ibunya, beserta mertuanya secara bergantian yang di ikuti oleh Zionathan juga. Mereka pun meninggalkan ballroom.


Zionathan kembali bergabung bersama teman-temannya. Sementara Selena memilih duduk. Hari yang membosankan. Menyita waktu dan tenaga. Lelah? Pasti. Dan di hari ini mereka sebagai bintang utama, Selena diharapkan tampil sesempurna mungkin, menjadi pasangan paling anggun di hari ini. Menerima doa dan restu dari semua tamu yang hadir.


"Huffft..." Selena mengembuskan napas sambil memijit kakinya yang terasa keram. Matanya menyusuri setiap tamu yang masih ada. Mencari sosok lelaki yang menyebalkan itu. Zionathan yang tampak sibuk berbicara dengan rekan bisnisnya.


TAK BEBERAPA LAMA.


"Selena...." Panggil Chesa melangkah cepat seraya mengangkat tangannya. Ia tersenyum haru melihat Selena begitu cantik dengan balutan gaun yang indah.


Selena dengan cepat memalingkan wajahnya mencari sumber suara. "Katanya gak bisa datang." bibir Selena mengerucut ke depan saat Chesa sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


"Aku terpaksa berbohong. Mengatakan kepada orang kantor kalau aku sakit. Demi kamu, apa yang tidak bisa."


"Tapi orang kantor tidak tahu kan?"


"Ya... teman-teman kantor tidak ada yang tahu kamu menikah."


"Syukurlah, rahasiakan soal pernikahanku ya." pinta Selena.


"Hmm." Chesa mengangguk. Ia tersenyum getir saat melihat ekspresi wajah Selena. "Apa kamu bahagia?" tanya Chesa dengan suara terendahnya.


"Kalau menurutmu bagaimana?" tanya Selena balik bertanya. Seulas senyuman tersemat kembali di bibir tipisnya, hingga membuat matanya menyipit. Ia berusaha pura-pura bahagia.


"Aku berharap kamu bahagia Selena. Apapun yang terjadi. Kau harus tetap berbagi denganku. ingat itu!"


"Pasti..." Kata Selena tersenyum.


"Sudah beberapa hari ini Ferdinand tidak bisa menghubungimu. Dia mencemaskanmu. Apa dia juga tidak tahu soal pernikahanmu?"


"Hmm, aku tidak memberitahunya."


"Kenapa, bukankah Ferdinand teman kamu juga."


"Kamu tahu kalau Ferdinand tahu kabar pernikahanku. Dia bisa datang dan meninggalkan pekerjaannya."


"Benar juga," kata Chesa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi kenapa Ferdinand tidak bisa menghubungimu?"


"Perbedaan waktu di Jepang dengan negara kita berbeda. Dia menghubungiku saat aku sudah tertidur. Aku malas mengangkatnya. Apalagi akhir-akhir ini aku lelah sekali."


"Astaga...dia benar-benar ya, nanti aku sampaikan ke Ferdinand."


"Nanti jika ada waktu, aku pasti menghubungi Ferdinand." ucap Selena.


Chesa mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan."Dimana suamimu?" tanya Chesa mengalihkan pembicaraan.


"Iya, benar juga. Aunty dan Uncle sudah pulang?"


"Hmm. Mereka baru saja pulang."


Saat menangkap sepasang mata memperhatikan mereka. Chesa tampak gelisah, ia mencondongkan badannya ke arah Selena dan berbisik. "Aku tidak nyaman dari tadi, suamimu memperhatikan kita. Lebih baik aku pulang ya."


Selena reflek melemparkan tatapannya ke arah Zionathan. Mata mereka bertemu. Dengan cepat Selena memalingkan wajahnya lagi.


"Kau sudah lihat, kan? tatapannya seperti menelan kita."


Selena tersenyum, ia mengalihkan pembicaraan. "Baiklah. Aku juga tidak mungkin menahanmu di sini. Jangan lupa sampaikan permohonan maafku kepada Ferdinand. Nanti aku pasti menghubunginya." kata Selena bangun dari duduknya.


"Oke." Tanpa di minta Chesa langsung memeluk sahabatnya itu. "Bagaimana pun, aku tetap mengucapkan selamat untukmu. Selamat menempuh hidup baru ya," Kata Chesa mengeratkan pelukannya.


Selena kembali menarik napasnya yang terasa sesak. Ia menganggukkan kepalanya. "Terima kasih Chesa. Kau memang sahabat terbaikku."


Chesa tersenyum dan melepaskan pelukannya. Ia lalu menyerahkannya kotak, yang ia pegang sedari tadi. "Ini untukmu." Kata Chesa menyerahkan kotak hadiah kepada sahabatnya itu.


Selena tersenyum lagi "Terima kasih Chesa, harusnya kau tidak usah repot-repot."


"Hei..Aku tulus memberikannya. Gunakan saat malam pertamamu."


Wajah Selena bersemu merah. "Astaga...kau ini!"


"Hahahaha..." Chesa tertawa. "Aku pulang ya, bye..." Kata Chesa melangkah meninggalkan ballroom itu.


"Terima kasih Chesa." Seru Selena.


Chesa kembali berbalik menatapnya. Ia membalasnya dengan gestur menyilangkan ibu jari dan telunjuk hingga membentuk simbol hati. Gestur ungkapan rasa sayang atas persahabatan mereka. Selena terkekeh dan membalas mengangkat kedua tangannya agar membentuk hati. Dan Chesa pun hilang di balik tembok. Saat itu pula senyum Selena hilang dari wajah cantiknya. Ia menghela napas panjang dan kembali duduk.


"Nona Selena?" Seorang pria terlihat berjalan menghampiri Selena.

__ADS_1


"Iya pak,"


"Tuan Zio meminta saya mengantar anda ke kamar hotel."


"Ka-kamar hotel?" kedua mata Selena membeliak.


"Iya, nona."


DEG DEG DEG


Jantung Selena seketika terpukul kencang. Kata-kata itu berhasil membuat wajahnya terbakar. Ia menahan napas, ia tidak mungkin menolak? Bisa curiga pria ini. Tak ingin menunggu. Selena pun mengiakan.


"Silakan ikut saya nona." Pria itu menunjukkan jalan.


Selena bernapas berat bercampur kesal seraya meremas tangannya. Apa kata orang jika melihatnya berjalan sendiri seperti ini? Mana ia mengenakan gaun pengantin lagi? Selena pun mengikuti langkah pria itu. Ia terus mengumpat Zionathan. Ia kembali mengingat surat perjanjian yang diberikan Zio kepadanya. Rasanya benar-benar marah, kesal.


Selena terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak nyaman saat semua mata memandangnya heran ke arahnya.


"Ya ..ya...kamu pasti heran melihatku berpenampilan seperti ini. Aku seperti pengantin yang ditinggal suami, kan?" Selena menggerutu di dalam hati.


Saat mendekati kamar. Selena semakin gugup. Jantungnya deg-degan. Langkah kakinya seiring dengan bunyi detakan jantungnya yang ikut memukul cepat. Ujung-ujung tangannya terasa dingin. Selena menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya lewat mulut untuk menghilangkan rasa gugupnya. Meski demikian debaran di dada bukannya bertambah pelan. Namun, bertambah kencang.


"Silakan nona! Kamar tuan Zio ada di ujung." ucap pria itu dengan sopan.


"Terima kasih."


"Kalau begitu, saya permisi nona." ucap pria itu membungkukkan badannya


Selena mengangguk dan membiarkan pria itu pergi meninggalkannya. Selena kembali menghadap pintu kamar itu. Ia menahan sekejap tangannya di kenop pintu. Matanya menatap kosong melihat ke arah tangannya yang meremas kenop pintu, namun ia tak kunjung membukanya. Selena melakukan ritualnya, menarik napas. Hal yang sering ia lakukan di saat sedang gugup.


CEKLEK!


Pintu itu terbuka.


Udara dingin pendingin ruangan itu terasa pas. Wangi apple dari pengharum ruangan menambah kesegaran kamar berkelas itu.


Selena mengedarkan pandangannya, dahinya mengerut. "Heuh tidak ada siapa-siapa? kemana pak direktur brengsek itu?"


"Apa artinya dia meninggalkanku sendiri di sini?"


Selena lagi-lagi bernapas gugup. Ia melepaskan high heels yang dikenakannya. Menggantinya dengan sendal tipis berbahan lembut.


"Benar tidak ada siapa-siapa. Itu artinya aku bisa istirahat...." Selena memutar tubuhnya, mengangkat tangannya seperti ingin terbang dan membuang dirinya dengan gerakan jatuh bebas ke kasur. Ia tidak perduli dengan gaun yang dikenakannya dan tiara yang ada di atas kepalanya.


"Aku lelah..." Ucap Selena mendesah sambil menatap langit-langit kamar hotel.


"Tapi kenapa dia meninggalkanku di sini? bukankah dia harus membawaku ke rumah utama."


"Ahhhhh...." Selena membuang napasnya. "Tidak apa-apa. Aku bahkan lebih nyaman seperti ini." ucap Selena tersenyum.


Hingga tanpa sadar Selena tertidur masih menggunakan gaun pengantinnya. Rasanya hari ini sangat lelah. Mungkin dengan tidur, ia bisa mengembalikan kebugaran tubuhnya. baru saja Selena tertidur. Tiba-tiba ia mendengar suara bariton yang tak asing di telinganya. Suara itu awalnya sayup-sayup, semakin terasa dekat, dekat dan lebih dekat.


Dan ....Tidakkkkkkkkkkkk


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2