
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Malam semakin larut. Zionathan merasakan ngilu pada bagian tubuhnya. Dan sakit pada bagian kepalanya begitu menyiksanya. Perasaannya seperti lilitan ketat di sekitar kepala, berdenyut-denyut dan begitu berat.
"Sayang, Selena?" Zionathan bergumam di sana. Matanya terpejam dan terus memanggil istrinya itu.
"Astagaaa.. Kepalaku sakit sekali," Zionathan meringis sambil menyentuh bagian kepalanya. Berdenyut-denyut seperti di pukul palu berkali-kali.
Kening Zionathan mengernyit, alisnya mengerut. Wajahnya meringis menahan rasa sakit luar biasa di bagian kepala. Lagi, Zionathan mengigau dan menyebut hal yang sama.
"Sayang?" Panggil Zionathan lagi.
"Ahhhhh...dingin sekali." Gumam Zionathan tiba-tiba merasakan kedinginan. Kedua kakinya ia angkat dengan posisi tidur dimiringkan dan tangannya lipat di depan dada. Berharap dengan begitu rasa menggigilnya bisa hilang atau setidaknya mereda. Sudah begitu lama Ia tidak sakit.
Mata Zionathan tiba-tiba terbuka, Ia menyadari sesuatu. Ternyata tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya.
"Ahhhhhh.... aku tertidur di sofa? Astaga..."
Zionathan mengembuskan napas singkat. Ia berusaha mencoba menahan tubuhnya yang terasa sakit. Sensasi berdenyut, seperti ditusuk-tusuk dan seperti diikat pada bagian kepalanya semakin menyiksanya. Zionathan menatap ke arah jam yang menempel di dinding. Jam sudah menunjukkan jam dua dini hari.
Zionathan mencoba bangun dari tidurnya, ia melangkah ke dapur untuk mencari obat p3k yang sudah di persiapkan Selena. Pertolongan pertama untuk mengurangi rasa sakitnya.
Pandangannya dengan cepat menangkap sebuah kotak p3K yang ada di dalam lemari. Zionathan membuka lemari. Ia tetap menahan rasa tubuhnya yang kedinginan karena mengigil. Ia merintih tanpa suara sambil bersandar pada lemari pendingin yang ada di dapur dan tanpa sengaja menjatuhkan kotak itu.
Prangggg....!!!!!
"Ssshhiiiit...." Zionathan mengumpat.
Suara kotak p3K terjatuh, sedikit mengacaukan kesunyian malam. Zionathan mengernyit sambil memejamkan mata sedalam-dalamnya. Sakit pada bagian kepala terasa berdenyut-denyut. Dengan napas sedikit menderu terputus-putus, dia mulai mengambil kotak yang terjatuh dari tangannya.
Zionathan pun mengambil obat dan beruntung obat itu tidak sampai berantakan. Ia langsung meneguk air putih yang ditelannya bersamaan dengan obat. Semoga ini berhasil mengurangi sakit kepala dan suhu tubuhnya yang panas sampai membuatnya menggigil.
Zionathan melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya sampai ke atas kepala. Tidur adalah pilihan yang terbaik saat ini. Semoga saja besok ia sudah sehat kembali.
βββββ
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui sela-sela jendela apartemen Diamond. Zionathan masih berada dipelukan selimut. Ia terbangun dan tidak langsung membuka matanya. Zionathan mengerang. Rasa sakit bagian kepalanya belum hilang. Tapi suhu badannya sudah mulai turun dan tidak menggigil lagi.
"Ssshhh!!!" Zionathan meringis, ia kembali merenggangkan otot-ototnya. Menyibak selimut dari tubuhnya. Zionathan memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit.
Semalaman Zionathan tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali matanya terpejam dan kembali terbangun lagi, menahan rasa dingin karena menggigil. Zionathan gelisah. Ia tidak tahu pukul berapa baru bisa tertidur. Udara yang berembus hari ini terasa sangat lembut menyentuh kulitnya, masuk melalui sela-sela jendela. Silau dari matahari membuatnya memicingkan mata.
Zionathan masih sangat mengantuk. Tapi banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Sejenak ia menunduk, memikirkan bagaimana kabar Selena sekarang.
"Apakah kamu masih menangis, sayang?" Zionathan lagi-lagi membuang napas.
Ia mundur untuk menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Sebuah notifikasi pesan masuk di handphonenya dan ternyata itu dari Samuel. Zionathan menatap saat bunyi itu menggema dan layar handphonenya menyala sepintas. Ia meraih handphonenya, tanpa mengubah posisi santai. Hanya sedikit usaha untuk meraih. Zionathan menatap layar.
"Selamat pagi kakak ipar, hari ini keadaan nyonya Lucius baik-baik saja. Kakak lagi sarapan bersama ibu. Laporan selesai."
Bibir Zionathan langsung mengulas senyum bahagia. Sakit kepalanya langsung hilang. Dengan penuh semangat Zionathan pun membalasnya.
"Syukurlah. Apa aku bisa Video call. Setidaknya aku bisa melihatnya wajahnya saja. Tapi diam-diam saja, jangan sampai Selena tahu." Zionathan mengirimkan pesannya dengan cepat.
Tak menunggu lama balasan dari Samuel pun masuk ke handphonenya. Dengan semangat Zionathan membuka balon chat kiriman Samuel.
"Tunggu sepuluh menit lagi ya kak, biar aku saja yang menghubungi kakak."
__ADS_1
Zionathan tersenyum sambil mengembuskan napas lega. Selena akhirnya mau makan. Setidaknya itu kabar baik untuknya di pagi ini. Sembari menunggu panggilan dari Samuel. Zionathan berdiri untuk menyeduh teh hangat untuknya. Pembantu di rumah masih liburan natal dan tahun baru, kemungkinan lusa mereka baru kembali dari kampung halaman.
Setelah selesai menyeduh teh hangat, Zionathan kembali ke ruang tamu. Menunggu panggilan dari Samuel.
Akhirnya panggilan dari Samuel datang juga. Dengan penuh semangat Zionathan menggeser tanda terima dari handphonenya. Samuel mengetuk dua kali layar handphonenya dengan telunjuknya, memindahkan kameranya ke tampilan kamera belakang. Mengarahkan layar handphonenya ke arah Selena. Istrinya sedang duduk santai di halaman rumah. Samuel duduk lumayan jauh dari Selena.
Zionathan tersenyum saat melihat wajah ceria dari istrinya. Selena nampak serius sedang menerima panggilan dari seseorang.
"Apa yang membuatnya tersenyum Samuel?"
"Apalagi jika bukan Ferdinand kak," Samuel terkekeh di sana.
Deg!
Jantung Zionathan seketika langsung terpukul kencang, wajahnya langsung berubah. Rahangnya mengencang kuat. Jantungnya seperti terhantam saat ini. Ia memejamkan matanya dengan sejuta rasa sakit di dalam dada.
"Fer-dinand?"
"Hmmm. Dia adalah sahabat kak Selena. Jika Ferdinand video call, mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbicara." Ucapannya antusias. "Ferdinand baru tiba dari Jepang, dia ingin mengajak kak Selena berkunjung ke makam ayah. Moodnya langsung kembali kak. Cih...dasar pilih kasih."
Kata-kata itu begitu cepat menyelusup ke dalam hatinya. Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Zionathan hanya diam. Yang bisa dilakukannya hanya menarik napasnya yang terasa sesak. Begitu sakit, hingga untuk bernapas saja sangat sulit baginya.
"Ferdinand juga dekat dengan ayah. Dia sudah kami anggap seperti kakak sendiri." Samuel terus berbicara di sana. Hingga tidak menyadari perubahan wajah dari Zionathan terlihat jelas di sana.
Zionathan memegang dahinya, mencoba untuk bernapas. Dengan Ferdinand, istrinya terlihat begitu bahagia. Dan ia begitu bersikap manis dengan lelaki yang paling di bencinya itu. Api cemburu membakarnya habis. Napas Zionathan keluar terbata-bata.
"Samuel," Panggil Zionathan begitu pelan.
"Iya kak?"
"Maaf. Aku harus bersiap ke kantor."
"Ahhhh? kakak mau ke kantor ya?"
"Hmmm. Sampaikan salamku kepada Selena."
"Aku tutup duluan ya."
TIT!
Panggilan langsung dimatikan Zionathan dengan sepihak. Ia membuang asal handphonenya ke sofa. Hatinya terlalu sakit untuk meneruskan panggilan ini.
Heeeeeee... Zionathan membuang napasnya sambil menutup mata, berusaha menenangkan perasaannya. Ia membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas.
Zionathan langsung menuju kamarnya. Membanting pintu itu cukup keras.
BRUKKK!
Zionathan berusaha menguasai perasaannya. Ia menghembuskan napasnya terbata-bata. Bibirnya bahkan gemetar. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan.
Zionathan berjalan ke balkon, ia ingin menenangkan perasaannya. Ia kembali menarik napas dalam sambil memegang dada. Mulutnya terbuka, menggeleng pelan. Zionathan membungkuk dan memegang lututnya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Namun rasa sesak itu masih menghimpit dadanya. Menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi di hati.
"Kenapa harus Ferdinand. Kenapa harus lelaki brengsek itu, Selena..." Zionathan menggeram.
AAARGGGHHH
Zionathan melepaskan amarahnya. Ia melayangkan tinjunya ke dinding beberapa kali, sampai buku-buku tangannya berdarah. Ia begitu marah.
Aaaaahhhhhhhh
Saat rasa sakit tak bisa dilampiaskan dengan amarah. Zionathan hanya bisa mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasanya ingin menangis. Tapi Zionathan menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu.
βββββ
Alex nampak terburu-buru melangkah, setelah mendapat kabar pak direktur sudah tiba di kantor lebih awal dari perkiraannya. Ia langsung menuju pantry untuk menyiapkan kopi. Setelah kepergian ayah mertuanya. Selena tidak bekerja sebagai sekretaris lagi. Alex masih mencari kandidat yang benar-benar pas di hati pak direktur.
__ADS_1
Setelah menyiapkannya, Alex kembali membawa baki dengan secangkir kopi. Ia melangkah tegap menuju ruangan bosnya itu. Alex menarik napasnya singkat, lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Permisi, pak." Alex mengintip dari ujung pintu.
Tidak ada jawaban.
Alex memilih masuk. Ia melihat pak direktur tengah berdiri memandang keluar dinding kaca untuk melihat pemandangan kota. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Posisinya membelakangi Alex.
"Saya bawakan kopi untuk anda pak."
Alex maju perlahan meletakkan kopi di atas meja. Ia lalu melangkah pelan mendekati Zionathan. Alex sudah berdiri dengan jarak dua meter di belakang pak direktur. Namun Zionathan tidak juga membalikkan badannya.
"Maaf pak, saya tidak tahu hari ini anda datang ke kantor lebih cepat. Saya..."
Belum juga Alex menyelesaikan kalimatnya. Zionathan sudah mengangkat tangannya, gestur yang dipahami Alex. Mengisyaratkan Alex tetap diam dan tidak melanjutkan kalimatnya.
Glek!
Alex menelan salivanya begitu susah. Ia diam di posisinya dengan satu tarikan napas.
SEPULUH MENIT BERLALU.
Zionathan menarik napasnya dalam-dalam dan langsung membalikkan badannya. Ia duduk di kursi beroda empat itu tanpa memandang Alex.
"Bagaimana soal yang aku minta tadi malam? apa kau sudah menemukan Chesa?" tanya Zionathan.
"Maaf pak, anak buah kita tidak bisa melacak nomornya karena tidak aktif lagi pak.'' Alex memberitahu.
"Benarkah? Apa dia sengaja?" tanya Zionathan dengan alis melengkung.
"Sepertinya begitu pak." jawab Alex apa adanya.
Zionathan melipat tangannya di atas meja, menatap Alex dengan serius."Saya tidak mau tahu, cari tahu informasi mengenai Chesa secepatnya."
"Maafkan saya pak, tapi...?" Ucapannya menggantung saat melihat tangan pak direktur terluka. "Kenapa tangan pak direktur?"
Wajah Zionathan mengerut saat melihat Alex tak juga melanjutkan kalimatnya. "Tapi apa Alex?" Tanyanya lagi.
Alex mengembalikan pikirannya. "Sa-saya sudah berusaha mencari informasinya pak, tapi sampai saat ini Informasi mengenai wanita itu tidak bisa ditemukan. Sepertinya wanita itu melarikan diri."
"Apa? Dia melarikan diri?"
"Sepertinya begitu pak."
Zionathan tersenyum sinis, "Aku yakin dia sudah sangat ketakutan. Aku yang akan menangkapmu dengan tanganku sendiri." Zionathan menggeram.
"Saya tidak ingin mendengar kata-kata menyerah. Cari tahu keberadaan wanita itu. Secepatnya!"
"Tapi pak?"
"ALEX...!" Zionathan berucap tegas dan mengunci pandangannya kepada Alex.
"Maaf pak." Ucapnya pelan sambil menunduk.
Zionathan langsung bangun dari duduknya dan kembali mengenakan jasnya. Ia berjalan pelan dan keluar dari ruangannya yang di ikuti oleh Alex dari belakang. Zionathan memutuskan berangkat lebih awal ke luar kota. Sementara Jadwal rapatnya adalah besok.
BERSAMBUNG.....
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih πβΊοΈ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^