Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
BERJUANG UNTUK SEMBUH


__ADS_3

πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Selena gelisah tak bisa tidur karena lapar. Ia hanya mengerang, meringkuk sambil memegang perutnya. Matanya masih terpejam.


"Sayang, aku lapar sekali." ucap Selena bergumam pelan.


Tangannya menyapu ke dua sisi tempat tidur. Dahinya berkerut saat menyadari sisi kanannya kosong. Tangannya meraba-raba lagi sisi kosong di sampingnya. Kini dengan tempo yang cepat. Ia langsung membuka matanya mencari sosok Zionathan, sang suami yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga itu. Yang mencintainya lebih dari apapun yang ada di dunia ini.


"Sayang?" Panggil Selena lagi dengan suara serak khas baru bangun.


Tidak ada sahutan. Keadaan kamar ini sangat sunyi dan sepi.


"Kemana dia? apa dia lembur lagi?" gumamnya.


Selena membuang napas lalu kembali dengan posisi telentang di atas kasur. Kamar mewah dengan tempat tidur dan lemari yang cukup besar terlihat di sana. Semua didominasi dengan warna peach yang lembut dan warna-warna senada yang saling berkolaborasi. Semua terlihat indah dan nyaman.


Ya, semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Zionathan mengganti semua isi kamar dan warna catnya. Dengan alasan agar Selena nyaman bersama bayi yang dikandungnya. Dan terbukti Selena tertidur nyenyak. Apalagi ada suami yang selalu memberikan perhatian kepadanya.


"Aku lapar, apa sebaiknya aku minta ibu Berta menyiapkan makanan untukku?"


Selena mengurungkan niatnya untuk menghubungi ibu Berta. Matanya menatap ke jam yang ada di kamar. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. "Oh my God sudah pukul dua?"


Ia mendesah lesu. "Apa Zionathan tertidur diruang kerja? Sebaiknya aku menyusulnya."


Selena langsung bangun dengan posisi duduk. Selena mengusap singkat wajahnya. Ia menjatuhkan kakinya di lantai. Berjalan keluar dari kamarnya.


Baru juga beberapa langkah, ia melihat Alex masuk keruang kerja suaminya.


"Al...." Kalimatnya menggantung, Alex sudah masuk dan menutup pintu itu.


Selena mengerucutkan bibirnya. Ia mengerti, semenjak ia masuk rumah sakit, Zionathan hanya fokus merawatnya. Jadi ia harus bisa menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang beberapa hari tertunda. Apalagi saat ini suaminya fokus pada perencanaan proyek baru di kota A.


Zionathan bertanggung jawab langsung untuk membuat perencanaan proyek baru itu. Suaminya harus bisa membangun kerjasama yang baik dengan karyawannya agar proyek ini berjalan sesuai harapan.


"Sebaiknya aku menyiapkan teh madu dan kopi instan untuk Alex." kata Selena dengan bersemangat melangkah menuju dapur.


Setelah membuat teh madu kesukaan suaminya. Selena lalu membuatkan kopi instan. Ia menuang kopi bubuk ke dalam gelas dan menambahkan air panas, kemudian mengaduknya sampai rata. Selena meletakkan cangkir di atas baki yang berisikan teh madu dan kopi instan itu. Kemudian ia melangkah menuju ruang kerja suaminya.


Ia membuka pintu itu dengan pelan dan mendorongnya dengan kaki, karena tangannya posisi memegang baki. Samar-samar ia mendengar suara suaminya yang berbicara dengan Alex.


"Apa yang mereka bicarakan, kenapa raut wajahnya begitu serius?"


Selena tersenyum mendorong pintu itu lebih lebar lagi sambil menjepit bibirnya menahan senyum. Selena bisa membayangkan bagaimana terharunya Zionathan saat ia menyiapkan minuman kesukaannya.


Pembicaraan itu tertangkap jelas di telinganya. Dahi Selena tiba-tiba mengernyit. Zionathan dan Alex belum menyadari keberadaannya.


"Ferdinand? bukankah dia sudah kembali ke Jepang? kenapa mereka membicarakan Ferdinand?"


Sepersekian detik, Selena diam membeku di sana. Ujung-ujung jarinya tiba-tiba terasa dingin. Jantungnya terpukul kencang. Selena menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha tenang. Namun perasannya tak juga tenang.


"Ada apa ini? kenapa dengan Ferdinand?"


"Sakit? Siapa yang sakit? apa ayah Ferdinand sakit?"


Jantung Selena semakin terpukul kencang. Saat mendengar dengan jelas bahwa pembicaraan mereka membawa-bawa namanya.

__ADS_1


"Selena jangan sampai tahu masalah ini. Aku ingin kau merahasiakannya sampai Ferdinand benar-benar sembuh. Itu permintaan Ferdinand dan aku harus bisa memegang janji itu."


Selena semakin sulit bernapas. Ia berusaha mengambil pasokan oksigen untuk memenuhi paru-parunya tapi hasilnya masih sama. Selena memejamkan matanya dan memegang dadanya yang terasa sakit.


"Semua biaya pengobatan Ferdinand, Lucius yang akan menanggung semuanya."


"Baik pak,"


"Bagaimana keberangkatan besok?"


"Seperti yang anda perintahkan, saya sudah sewa pesawat jet pribadi untuk keberangkatan tuan Ferdinand."


Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. "Jika ada kata lain di atas terima kasih, mungkin itu sudah aku lakukan, Alex. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Mungkin jika Ferdinand tidak melakukan itu. Kemungkinan kandungan Selena pun tidak akan bisa diselamatkan. Hal terburuk yang dialaminya selain cacat, Selena tidak akan bisa mengandung lagi. Tapi Ferdinad melakukan itu tanpa menyesalinya. Ia bahkan rela cacat seumur hidup dan..."


"Praaangggg!!!"


Gelagar suara gelas pecah, terjatuh dari tangan Selena. Zionathan tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena terkejut melihat istrinya berada diruang kerjanya.


"Sayang....?" Zionathan segera berlari mendekat ke arah istrinya. Sementara Alex hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka karena begitu terkejut.


Selena terduduk lemas sambil memegang dadanya, Ia begitu terkejut saat mendengar semuanya dengan jelas dari mulut suaminya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Zionathan begitu khawatir."


Selena hanya diam membeku dan menatap ke satu titik tanpa melihat ke arah Zionathan.


Zionathan mengambil tangan istrinya untuk memeriksa tangan yang sudah terlihat ruam merah. "Alex, ambilkan obat P3K? cepat!" ucapnya tidak sabaran.


Alex mengembalikan pikirannya. "Baik pak," ucapnya cepat.


"Tidak perlu Alex!" cegat Selena menghentikan langkah Alex. "Kau tetap di sana dan jangan bergerak."


GLEK! Alex menelan salivanya berulang kali. Ia memilih diam di sana sesuai perintah nyonya Lucius itu.


Zionathan menarik napasnya dalam-dalam. Ia masih tak bicara, yang dilakukannya hanyalah mengusap wajahnya dengan kasar.


"SAYANG???" Lagi panggil Selena sambil menekankan intonasi bicaranya. "Katakan padaku ada apa? kenapa dengan Ferdinand?"


Alex mengerjap beberapa kali di sana, ia meremas tangannya karena melihat situasi ini. Rasanya ingin keluar dari sana.


Sementara Zionathan membuang napas panjang, memiringkan wajahnya dan menatap sendu ke arah istrinya itu.


"Apa maksudmu Ferdinad mengganti dosis obat untuk menyelamatkan aku?" Mata selena memohon meminta penjelasan.


Zionathan mengusap wajahnya lagi. "Aaarghhhhh." Ia menggeram di sana. Bagaimana ia harus mengatakannya. Ia tak ingin melihat istrinya sedih.


"JAWAB AKU ZIO!" Suara Selena sudah memenuhi ruangan itu. "Sampai kapan kamu akan diam? kau tidak berubah. Dulu saat ayah sakit kau melakukan ini juga. Sekarang jelaskan semuanya!"


Zionathan hanya menatap Selena dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca. Kedua sudut bahunya mengerut dan melengkung ke depan. Mulutnya terbuka dan mulai berkata.


"Benar Ferdinad melakukan itu untuk menolongmu." Zionathan menunduk lalu mendongak. "Besok Ferdinad berangkat ke Jepang untuk melakukan pengobatan terapi."


DEG!


Wajah Selena menegang, "Maksudmu Ferdinad cacat?" Mata Selena menatap lurus, kosong dan berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng masih tak percaya.


"Sayang, maafkan aku."


Selena menggeleng, ia masih tak percaya. Bagaimana Zionathan bisa merahasiakan ini? Bagaimana Zionathan bisa setega ini? Suaminya bahkan berbohong dan mengatakan Ferdinand sudah kembali ke Jepang.


"Sayang, dengarkan aku," Ucap Zionathan dengan wajah memelas sendu.


Selena tidak menjawab. Bibirnya gemetar menahan emosi sambil menyapu air mata yang membasahi pipinya.

__ADS_1


"Ferdinand akan baik-baik saja."


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan ini?" teriak Selena saat itu juga tangisannya pecah. Ia sedih mendengar bahwa Ferdinad rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkannya.


"Aku tahu, aku salah. Tapi semua ini atas permintaan Ferdinand. Dia memintaku untuk tidak mengatakan kepadamu."


"Tapi setidaknya kau mengatakan kepadaku. Ferdinand telah menyelamatkan aku," Matanya menyorot tajam. Napasnya tersengal begitu cepat naik turun karena menahan segala emosi yang membuncah.


Zionathan menarik napas panjang dan langsung memeluk istrinya. "Maafkan aku."


"Sekarang dimana Ferdinand. Aku ingin bertemu dengan Ferdinand,"


"Besok kita akan bertemu Ferdinand."


"Hikkkss.... hikkkss..." Selena menangis, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. "Apa Ferdinad akan sembuh?"


"Hmm. Pasti! Dia pasti bisa sembuh sayang. Kita harus terus mendoakannya." Zionathan membelai dan mengecup rambut Selena dengan lembut. Memeluknya dengan erat. Ia juga berharap semoga pengobatan Ferdinand di jepang berjalan dengan baik.


Sementara Selena hanya menangis sambil mencengkram kaus Zionathan dengan erat. Ia pun berusaha untuk tenang. Alex sudah meninggal ruang kerja itu, ia juga tidak tahu harus berkata apa.


⭐⭐⭐⭐⭐


Jadwal keberangkatan Ferdinand sengaja dimajukan karena keluarga ingin menghantarkan Ferdinand ke bandara. Zionathan dan Selena terburu-buru sebelum Ferdinand meninggalkan rumah sakit. Ia harus bertemu dengan sahabatnya itu.


Hati Selena begitu cemas. Zionathan mengimbangi langkah Selena dan mengikutinya dari belakang. Langkah Selena melambat saat melihat Ferdinand didorong menggunakan kursi roda keluar dari ruangannya.


"Fer-ferdinand?" Panggil Selena dengan suara parau dan gemetar.


Saat mendengar namanya dipanggil. Ferdinand mengangkat wajahnya dan melihat ke sumber suara.


"Selena?" ucap Ferdinand dengan ekspresi terkejut. Ia tak menyangka Selena ada di sana. Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.


Selena melangkah dengan perlahan. Mata Selena langsung berkaca-kaca. Mulutnya terbuka dan gemetar. Hidung dan matanya mulai memerah. Ia menarik napasnya lagi. Mencoba menahan perih yang mulai terasa di hidungnya. Selena semakin mendekat. Saat itu juga air mata Selena tergelincir membahasi pipinya. Matanya tak lepas menatap ke arah kaki Ferdinand yang ditutup dengan kain putih itu.


"Aaahhhhhh..." Selena melepas napas panjang dan berhenti di depan Ferdinand. Ia masih tak percaya saat melihat Ferdinand tidak bisa berjalan.


"Ferdi." Suara Selena gemetar. Air matanya tanpa diundang kembali terjatuh lagi.


"Hei, jangan menangis." Kata Ferdinand mencairkan suasana. Ia berusaha kuat di depan Selena. Karena ia tahu seperti apa Selena, jika dia tahu Ferdinand bisa seperti ini karena dirinya.


"Aku tidak apa-apa, Selena. Aku masih bisa sembuh, kita bisa buktikan itu. Kau akan lihat, aku akan berlari mengejarmu. Bukankah begitu dude?" Ferdinand menatap Zionathan yang ikut merasakan kesedihan istrinya.


Selena mengangguk cepat, menarik cairan hidungnya dengan cepat. "Kau harus buktikan itu, kau harus sembuh," ucap Selena menangis dengan wajah mengerut.


Ferdinand mengangguk cepat. Selena berusaha menahan sesak yang menghimpit dadanya. Bibirnya sampai gemetar, napasnya keluar tidak stabil.


Selena melangkah dan memegang tangan Ferdinand. Mengusapnya dengan lembut. "Kau adalah teman terbaikku Ferdi, aku akan doakan semoga kau sembuh dan bahagia dengan kehidupanmu." Ucap Selena tidak bisa menahan kesedihannya, air matanya terus keluar membasahi pipinya.


"Tentu saja, aku akan sembuh demi kau, Zionathan dan demi semua keluargaku juga." Kata Ferdinand mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia tersenyum sumringah di sana.


"Hmm. Kau harus pegang janjimu. Awas kalau kau ingkar janji." Kata Selena mencoba tersenyum.


Semua orang yang ada di sana terharu melihat persahabatan Selena dan Ferdinand. Benar saja setelah kedatangan Selena, Ferdinand lebih semangat dan berjuang untuk sembuh.


Setelah memberikan pelukan bergantian kepada Ferdinand. Akhirnya mobil mewah itu membawa Ferdinand meninggalkan rumah sakit. Zionathan langsung memeluk istrinya saat tangisan Selena kembali pecah di sana. Ia tidak banyak bicara, Zionathan membiarkan istrinya menangis untuk mengurangi sesak di dadanya.


BERSAMBUNG


^_^


Hai...hai...sudah kamis aja 😘 jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2