
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Zionathan mondar-mandir dengan gelisah di ruang keluarga. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, berkacak pinggang dan melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkan Zionathan.
"Apa sebaiknya aku menghubunginya?" Tanya Zionathan pada dirinya sendiri.
Ia menggeleng cepat. "Ah, tidak-tidak! Aku tidak mau!"
Zionathan berharap Selena yang menghubunginya. Ia mengeluarkan handphonenya dan melihat ke arah layar pipih itu. Namun tidak ada panggilan sama sekali. Zionathan kembali menghembuskan napasnya. Sudah pukul delapan malam, selena belum juga pulang. Tentu saja membuat Zionathan sangat khawatir. Ia takut kejadian malam itu terjadi lagi. Bayangan Selena yang menangis ketakutan sangat jelas terlintas di otaknya.
"Arrggggghhh." Zionathan menggeram pada dirinya. Ia menepuk-nepukkan handphone ke dahinya berulang-ulang. Alisnya melengkung khawatir. Zionathan duduk sambil memegang dahi. Ia masih ragu apa harus menghubungi Selena atau tidak.
Lama Zionathan berpikir dan akhirnya ia memutuskan. "Tidak, aku harus menghubunginya. Setidaknya aku tahu dia ada dimana."
Zionathan mencari kontak nama 'Istri bodoh' di handphonenya. "Ahh... seharusnya aku mengganti nama ini." Batin Zionathan, lalu menekan tanda panggil di ponselnya.
"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK DAPAT MENERIMA PANGGILAN, COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."
Dahi Zionathan mengerut "Tidak aktif? Kemana dia sampai tidak mengaktifkan handphonenya? Apa baterainya habis?"
Zionathan membuang napasnya dengan kasar. Ia masih tidak percaya dan kembali menatap ponselnya. Ia kembali menekan tombol panggil, namun jawaban operator masih sama.
Zionathan mencoba menarik banyak napas lagi. Menelan salivanya berulang-ulang agar tidak terbawa emosi. Ia memandang ke arah handphonenya lagi. Masih berpikir.
Zionathan terus memandang handphonenya. Ia kemudian mengembuskan napas yang terdengar frustasi. Lalu mengusap-usap tepian casing handphonenya. Zionathan kemudian mencari kontak nama ibu mertuanya lalu melakukan panggilan.
Tut... tut...tut...
Panggilan tersambung dan terdengar suara bahagia dari seberang.
"Hallo, nak Nathan."
Zionathan tersenyum. "Hallo ibu, apa kabar? Maaf baru bisa menghubungi ibu."
"Ah...tidak perlu minta maaf sayang, kabar ibu baik kok. Oya, Bagaimana kabar kalian? Selena juga akhir-akhir ini tidak pernah menghubungi ibu."
Seketika penyataan Ibu Joanna menjelaskan kalau putrinya tidak berada di sana. Zionathan langsung menarik napas panjang.
"Kabar kami baik bu, Selena memang akhir-akhir ini sibuk sekali." Kata Zionathan memberitahu. Ia tidak mengatakan masalah kejadian malam itu.
"Apa belum ada kabar baik dari Selena nak?"
Zionathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengerti maksud ucapan ibu mertuanya itu.
"Doakan saja bu. Semoga Tuhan memberikan secepatnya." ucap Zionathan di sana.
"Amin sayang. Semoga Tuhan mengabulkan doa kita. Oh iya, dimana Selena? Ibu mau bicara dengannya."
"Heuh?" Wajah Zionathan berubah panik, otaknya dengan cepat berputar untuk mencari jawaban yang tepat. "Selena sedang mandi ibu. Nanti aku sampaikan kepada Selena agar menghubungi ibu kembali."
"Astaga dia benar-benar ya, gak pernah berubah. Sampaikan kepada Selena jangan mandi malam-malam lagi."
Zionathan semakin serba salah. Ia menarik napas singkat dan menjawabnya. "Baik bu. Nanti aku sampaikan."
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor Lucius nak Nathan? Apa semuanya berjalan baik?"
"Hmm. Semuanya berjalan dengan baik."
"Ingat, propesional tetap propesional. Jangan terlalu lelah bekerja, nanti kamu sakit lagi. Sampaikan juga kepada Selena, dia itu paling susah dibilangin. Kau tahu sendiri, Selena paling keras kepala."
Zionathan lagi-lagi tersenyum. "Terima kasih atas perhatiannya bu. Aku pasti menjaga kesehatanku."
"Senang rasanya kau menghubungi ibu."
"Aku juga senang mendengar suara ibu. Kami akan lebih sering menghubungi ibu." Zionathan tersenyum lembut dibalik telepon.
"Hmm. Baiklah sampaikan salam buat Selena ya nak."
"Baik bu. Nanti aku kabari lagi. Sampai jumpa ibu."
__ADS_1
"Iya, nak. Bye."
TIT!
Telepon terputus.
Zionathan mengembuskan napas lewat mulutnya. Ia melempar asal handphonenya ke atas meja. Zionathan kemudian menangkup wajahnya, mencoba untuk melupakan rasa penasarannya kepada Selena. Zionathan duduk menyandarkan punggungnya sambil menatap langit-langit ruangan. Gelas yang berisikan kopi hitam yang sebelumnya mengepulkan asap di atas meja, kini sudah terlihat tenang tanpa uap putih yang merayap naik ke udara.
Ting!
Satu pesan masuk. Zionathan menatap malas saat bunyi itu menggema dan nyala handphonenya menyala sepintas. Ia meraih handphonenya dan tanpa mengubah posisi duduknya. Zionathan menatap layar dan ternyata pesan itu dari Felicia.
"Sibuk gak? Aku ingin bicara."
Karena tidak ada balasan. Suara ponselnya berbunyi nyaring dan menganggetkannya. Zionathan menghela napas singkat, ia tahu panggilan itu dari Felicia. Zionathan menatap malas, lalu menggeser tanda terima dari ponselnya.
"Hallo, Felicia!" Ucapnya datar, tak bersemangat.
"Hei Zio sayang?" Felicia nampak antusias dibalik telepon.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak suka." Zionathan terang-terangan menunjukkannya.
"Oke, sorry." Felicia tersenyum. "Apa kabar, sudah lama tidak memberi kabarmu, apa kau sibuk?" tanya Felicia dari seberang.
"Ah, Maaf Felicia. Kabarku baik." Kata Zionathan mengeluarkan d*sahan seperti tersenyum.
"Bagaimana soal pembicaraan kita Zio? Kau bersedia,kan?!" Tanya Felicia mengingatkan Zionathan.
Zionathan mengerutkan keningnya. "Pembicaraan apa?" tanyanya lagi.
Wajah Felicia langsung mengerucut. "Sudah kuduga kau melupakan pembicaraan kita saat aku mendatangi kantor Lucius."
"Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk. Banyak yang aku pikirkan. Kau bisa mengingatkanku lagi. Pembicaraan apa?"
Felicia memutar bola matanya sambil mengeluarkan d*sahan panjang. "Acara reunian kita, bukankah aku sudah membicarakannya? kau tidak masuk grup ya?"
"Aku tidak masuk grup."
"Pantes saja. Aku masukkan ya?"
"Tidak usah."
"Grup itu tidak penting." jawabnya ketus.
"Astaga, apa karena Ferdinand?"
Zionathan berdecak malas. "Aku sudah bilang jangan mengatakan nama itu di setiap pembicaraan kita."
"Kejadian itu sudah lama Zio, seharusnya kau bisa menerima Ferdinand lagi. Bukankah kalian sahabat sehidup semati. Kalian bahkan pernah dijuluki pasangan gay, karena begitu dekat."
"Jangan membuatku kesal Felicia." Bentak Zionathan. "Jika aku sudah marah, aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi. Ingat itu!" Ancam Zionathan.
"Oke...oke...maaf! Aku tidak akan membahas itu lagi."
Zionathan menarik napas panjang, ia memilih tidak menjawab.
"Zio, apa kau masih di sana?"
"Hmm."
"Bagaimana soal acara itu, Kamu mau, kan?"
Zionathan diam beberapa detik, lalu menjawabnya. "Aku tidak akan datang jika ada Ferdinand."
"Ferdinand tidak bisa pulang. Ia sudah membicarakannya di grup. Apa chattnya mau aku teruskan ke kamu?"
"Tidak perlu."
Felicia tersenyum. "Kamu mau, kan?!" tanyanya lagi.
"Kapan?"
"Lusa."
"Baiklah, aku akan datang ke acara itu."
"Ingat, sebagai pasanganku ya."
"Sebagai teman."
__ADS_1
"Astaga, di sini diminta sebagai pasangan Zio," rengek Felicia mendayu manja.
"Sudah aku matikan."
"Tunggu!"
"Apalagi?"
"Ingat pukul tujuh di hotel A."
"Hhhm."
Zionathan pun langsung mematikan panggilannya telepon.
⭐⭐⭐⭐⭐
Karena Selena belum juga pulang, akhirnya Zionathan memutuskan untuk menunggunya di lobby apartemen. Beberapa langkah ke depan, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Sosok yang sangat di kenalnya. Siapa lagi jika bukan Selena. Ia tengah berbicara serius dengan seseorang. Lampu remang-remang di halaman parkiran, membuat ia tidak bisa melihat jelas siapa sosok lelaki itu.
Selena nampak tersenyum sumringah dan mendekat ke arah lelaki itu.
"Siapa lelaki itu? apakah dia ferdi?" ucap Zionathan terus memperhatikan gerak-gerik mereka.
Terdengar tawa kecil menggelitik hati Zio. Rayuan dari pria itu membuat Selena tersipu malu. Tatapan mereka beradu penuh asmara. Selena bahkan berulang kali memberikan pukulan hingga pria itu terdengar mengaduh kesakitan.
"Astaga benar-benar tidak punya malu," umpat Zionathan.
Dan yang membuat Zionathan terbelalak dan hampir tak percaya saat Selena memeluk mesra pria itu. Zionathan menelan salivanya begitu susah. Matanya berkedip cepat. Selena membuka pintu dan membiarkan pria itu masuk, mereka tampak berbicara lagi. Ia bisa melihat dengan jelas. Selena tampak bahagia, aksi saling mencubit pipi dan saling melempar senyum terlihat jelas.
Zionathan mengepalkan tangannya yang terasa dingin. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuatnya begitu marah. Ia ingin melihat sampai dimana kejujuran wanita itu. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Selena. Matanya tidak mau lepas menatap ke depan. Terus melihat adegan saling menatap dan bercengkrama penuh cerita. Kerutan di dahinya kini tak pernah pudar.
Ia mencari nama Selena di ponselnya dan langsung menghubungi wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Handphone sudah aktif, tapi tidak di angkat. Zionathan tersenyum kecut sambil menaikkan alisnya. Ia kembali menghubunginya.
Tut...tut..tut..
Tersambung namun tiba-tiba TIT. Selena mematikan panggilannya. Zionathan hampir tak percaya. Matanya menatap lurus melihat pasangan yang terus berbicara itu.
Zionathan sudah nampak kesal. Ia membuang napasnya dengan kasar. Ia masih tidak percaya dan kembali menatap ponselnya. Dengan tarikan napas yang panjang. Ia kembali menghubungi Selena. Tapi hasilnya masih tetap sama, panggilan darinya diabaikan.
Zionathan menurunkan ponselnya. Hatinya begitu terpukul. Dadanya benar-benar terbakar. Api dihatinya tersulut. Panas membara. Zionathan memegang dahinya. Ia masih kalut dengan logika dan perasaan yang saling membentur. Kenapa Selena berani melakukan ini di depan apartemennya.
Zionathan mengecangkan rahangnya. Dadanya benar-benar panas sekarang. Emosinya membara. Ia ingin melabrak Selena dan memakinya. Namun mobil itu sudah lebih dulu meninggalkan apartemen. Selena melangkah bersemangat sambil membawa paper bag di tangannya.
Dengan mulut yang terbuka, Zionathan kembali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia bersembunyi di balik dinding, agar Selena tidak melihatnya.
Selena tersenyum di depan lift sambil menunggu pintu itu terbuka.
"Kau nampak bahagia saat bertemu lelaki itu." Ucap Zionathan berdiri tepat di belakang Selena.
Mendengar suara dan sosok Zionathan yang tiba-tiba ada di belakangnya. Selena langsung terbelalak dengan mulut yang merekah terbuka.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Zionathan tanpa ekspresi. Walau di dalam dada rasanya ia ingin meledakkan amarahnya di depan Selena. Tapi Zionathan menahannya. Ia tahu Selena masih trauma dengan kejadian malam itu.
Ting!
Pintu lift terbuka, Selena langsung masuk, begitu juga Zionathan.
"Apa kau sengaja mematikan handphonemu?" Kata Zionathan lagi. Matanya menatap ke arah paper bag yang ada di tangan Selena.
Selena melirik sekilas ke arah lelaki yang terus menghujaninya pertanyaannya. Ia tetap diam dan tidak menjawab.
"Apa kau tidak bisa bicara?" Nada suara Zionathan sudah nampak kesal.
TING!
Pintu lift terbuka lagi. Selena langsung melangkah meninggalkan Zionathan lebih dulu.
Sementara Zionathan hanya bergeming sambil menarik napasnya dalam-dalam. Ia hanya terus menatap punggung Selena yang melangkah cepat tanpa perduli dengan Zionathan.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
FLASH BACK NYA MASIH BERLANJUT YA MY READERS 😘
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.