
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Tampan, muda, berkharisma dan sangat disiplin. Zionathan juga di kenal sebagai lelaki pekerja keras, setia dan professional. Sejauh ini dia belum pernah sekalipun mengkhianati kolega bisnisnya. Sejak berhasil menjadi bos besar sekitar enam tahun yang lalu. Ia mampu menahlukkan dunia bisnis.
Zionathan sangat cerdas soal perkonomian bisnis. Otaknya penuh dengan pengetahuan tentang bisnis, bisnis dan bisnis. Cara berbicaranya sangat fasih, tenang dan dewasa. Ia punya semua klasifikasi seorang pemimpin yang tak bisa dipandang sebelah mata. Sama halnya dengan Louis ia juga kuat dalam bisnis. Dia di kenal sangat ramah dan elegan seperti halnya pria berkelas dan berkedudukan tinggi. Mereka cocok di sandingkan dalam rapat ini.
Sedari tadi handphone Zionathan berbunyi. Ia tahu bunyi itu dari notifikasi pesan WhatsApp. Tapi, Zionathan tak perduli. Mengingat pentingnya rapat ini. Ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan rapat ini dan bisa pulang menemui istrinya. Zionathan kembali membayangkan wanita yang selalu membuatnya tersenyum itu.
"Baru dua hari tidak bertemu, aku sudah merindukanmu, istriku." Zionathan menghela napas sambil menatap berkas di depannya.
Zionathan kembali melanjutkan rapat dengan penuh pertimbangan. Perjanjian kerja sama dengan perusahaan Elfrad sungguh menguras tenaga dan pikirannya. Wajahnya terlihat serius sebelum penandatanganan kontrak kerja sama.
Mereka sebelumnya bersitegang membahas masalah banding profit. Zionathan sudah memperhitungkan agar tetap mendapatkan keuntungan dan tidak ingin rugi. Karena dari profit mereka bisa mengetahui bagaimana penjualan dari sebuah perusahaan itu.
Mereka juga membandingkan dengan perusahaan lain yang terancam tutup yang marak diperbincangkan. Atau memberikan pendapat-pendapat lain terkait investasi, modal, pasar yang bersinabungan dengan hal itu.
Dan akhirnya setelah pertimbangan cukup matang dan akhirnya kesepakatan itu di terima.
Embusan napas lega dari mereka akhirnya keluar dengan panjang. Mereka sama-sama tersenyum karena kerjasama bisnis berjalan dengan baik. Penandatanganan kontrak pun berjalan dengan baik. Urusan bisnis pun telah selesai. Louis dan sekretarisnya pun pamit undur diri. Zionathan bangun dari duduknya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul 16.30 wib. Tujuh jam waktu mereka untuk membahas kerjasama ini. Luar biasa, rapat yang paling terlama baginya. Biasanya Zionathan hanya menyelesaikannya satu jam saja.
"Terima kasih pak Zio, senang bertemu dengan anda." Louis kembali mengulurkan tangannya dan Zionathan pun menjabatnya lagi. Mereka mempererat jabatan tangannya seraya melempar senyum. Lagi-lagi ia memperlakukan hal yang sama. Zionathan kembali membalas dengan senyuman formal. Mereka pun berpisah.
Zionathan sendiri kembali duduk di sana bersama dua orang manager yang ikut bersamanya.
"Selesaikan sisa pekerjaan di sini. Serahkan kepada saya laporan lengkap mengenai detail masalah hubungan kerja sama ini. Laporannya bisa langsung kirim melalui email saya." Kata Zionathan menutup berkas yang ia pegang.
"Baik pak," Dua lelaki itu serentak membungkukkan badannya. Mereka pun menyelesaikan sisanya.
Zionathan menarik napasnya lalu meninggalkan ruangan VIP itu. Ia mengambil handphonenya dari jas, sedari tadi ia merasakan benda pipih itu berbunyi. Zionathan mengernyit saat melihat pesan masuk dari nomor tak dikenal. Zionathan membukanya, seketika alis Zionathan mengerut saat melihat 56 gambar masuk ke pesan WhatsApp. Perasannya langsung tidak enak. Tak ingin menunggu lama, ia pun membuka gambar itu.
DEG!
Jantung Zionathan terpukul kencang dan dan langkahnya langsung berhenti. Tangannya terasa dingin. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya resah. Foto-foto Selena dengan Ferdinand terlihat jelas di sana setelah Zionathan membukanya.
__ADS_1
Zionathan berusaha menenangkan diri. Ia menarik napas dalam, meski kerutan dahi tak pernah pudar. Dalam foto itu, terlihat jelas Ferdinand memberikan perhatiannya, ia memberikan minuman dan mengusap sisa makanan yang ada di bibir Selena. Mereka tersenyum bahagia. Ada pula foto mereka sedang naik kereta layang. Seharusnya senyum itu miliknya, Selena tidak seharusnya membaginya dengan pria lain.
Api cemburu membakarnya habis, napas Zionathan keluar terbata-bata. Debaran jantungnya semakin terpukul kencang. Zionathan memegang dahinya, mencoba untuk bernapas, mencoba untuk memahami kembali. Ia berusaha menenangkan diri dan ingin tetap tenang. Dia tidak ingin kehilangan Selena. Kejadian yang terjadi dengan Olivia tak membuatnya gegabah dan akhirnya membuatnya menyesal seumur hidupnya.
Zionathan mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Lalu melepaskan napas panjang dengan mulut yang membulat, seperti melakukan meditasi. Setelah dirasanya cukup tenang. Ia lalu melangkah meninggalkan hotel, membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, agar tiba di rumah dalam keadaan selamat.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Kau tahu, aku menyukaimu sejak kita duduk di bangku kuliah dan perasaanku masih sama dan tidak berubah. Maukah kau menjadi kekasihku Selena?" Ucap Ferdinand dengan suara terendahnya.
Selena masih diam dan tak langsung menjawab. Ia menggigit bibirnya, memilih kalimat yang tepat agar Ferdinand tidak terluka. Selama ini Selena hanya menganggap Ferdinand adalah sahabat terbaiknya. Persahabatan mereka seperti kekayaan yang sangat berarti dan mengalir seindah sungai kecil yang airnya dingin dan segar. Arus jernih dan tidak kotor dari dua orang yang bisa menyatu di dalam suatu ketulusan, bergerak secara positif menuju mimpi dengan harapan masing-masing. Berjuang dan bertumbuh bersama, saling berbagi penderitaan, saling memberikan dukungan dan semangat, mereka menciptakan sungai persahabatan yang lebih lebar, dalam, dan jernih. Keindahan dan kejernihan dari sungai inilah yang akan menginspirasikan semua orang yang melihatnya. Dan Selena bahkan menganggapnya seperti pertalian keluarga. Selena nyaman berada di dekatnya karena ia sudah menganggap Ferdinand seperti saudaranya sendiri.
Sementara Ferdinand mengubah posisi duduknya menghadap Selena. Ia masih menunggu jawaban dari wanita yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga itu. Ia sangat berharap Selena menerima cintanya dan bersedia menjadi kekasihnya.
"Bagaimana Selena, apa kau mau menjadi pacarku?" Ucap Ferdinand lagi.
Mendengar pertanyaan itu lagi, Selena menarik napas dalam-dalam lewat mulut yang sedikit terbuka. Alisnya terangkat dan matanya mengedip pelan memandang Ferdinand.
"Ferdi! terima kasih karena selalu memberikan perhatian kepadaku, kamu orang yang sangat menyenangkan. Kamu lelaki yang sangat baik, dan selalu ada jika aku sedih. Bahkan kau siap kapan saja jika aku membutuhkanmu."
Sesaat Selena terdiam, ia menatap wajah Ferdinand yang tiba-tiba berubah. Wajahnya menegang, dan napasnya mulai berhembus tidak stabil. Selena harus menyampaikan perasaannya dengan jujur. Ia tidak ingin Ferdinand menyimpan perasaan yang mendalam untuknya. Di samping itu juga ia sudah menikah dan Ferdinand harus tahu itu.
"Maaf Ferdi, aku tidak bisa menerima hatimu dan aku hanya menganggapmu sebagai teman."
DEG
Selena dengan lembut menyentuh tangan Ferdinand , ia juga tidak ingin menyakiti lelaki yang begitu baik kepadanya. Sebisa mungkin ia mengatur ucapannya tanpa harus menyakiti hati Ferdinand.
"Terima kasih karena sudah menyukaiku, Tapi percayalah, akan ada seseorang yang sangat beruntung karena bisa memiliki orang sehebat kamu, lelaki yang begitu baik seperti kamu. Maafkan aku... " ucap Selena dengan suara terendahnya.
Ferdinand mencoba mencerna, dan mencoba mengerti, hatinya makin perih saat ini. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Selena begitu dalam.
"Apakah kau mencintai seseorang Selena?" Kata-kata itu berhasil ia ucapkan walau butuh perjuangan.
"Maafkan aku Ferdi, sebenarnya..."
"Siapa lelaki itu? Apakah dia mencintaimu juga? Apa bisa menjagamu dengan baik?" potong Ferdinand cepat tanpa menunggu Selena menyelesaikan kalimatnya. "Jika memang lelaki itu mencintaimu, aku akan mengubur perasaan ini. Tapi siapa dia Selena? Apa dia seseorang yang aku kenal?"
Selena menarik napasnya lagi. Ia bisa melihat jelas Ferdinand begitu tersakiti di sini. Selena melapisi tangannya dan memberikan tepukan di tangan Ferdinand dengan lembut. "Dia cinta pertamaku dan sekarang kami sudah menikah."
Mulut Ferdinand terbuka. Wajahnya menegang kaku. Bukan karena penolakan Selena akan cintanya. Tapi kata-kata terakhir yang begitu menyakitkan hatinya. Bahkan Ferdinand tak pernah tahu hal itu. Kalimat itu begitu cepat menyelusup masuk ke dalam sanubarinya, membuat getaran-geraran samar yang mengelayut di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menyesakkan. Ferdinand menarik napas singkat dan berusaha bersikap tenang. Walau saat ini hatinya seperti tergores luka yang ditaburi jeruk nipis.
"Aku tahu kamu terkejut, tapi itu kenyatannya. Aku sudah menikah."
__ADS_1
"Hahahaha." Ferdinand tertawa di sana. "Selera humormu bisa juga Selena. Bagaimana kau bisa mengatakan sudah menikah." ucap Ferdinand tertawa awkward. Sekaligus berharap Selena hanya bercanda.
"Aku tidak bercanda Ferdi." Selena menjawab dengan tatapan serius. Ia sama sekali tidak sedang terlihat bercanda.
Deg!
Jantung Ferdinand terpukul kencang dan bertambah gugup. Rasa berkeringat, gemetar, panas dingin, dan sekarang dirinya seperti sengsara saat melihat ekspresi serius dari Selena. Ia seperti lelaki bodoh saat ini. Bagaimana Ferdinand tidak pernah tahu soal pernikahan Selena.
"Apa maksudmu Selena, kau sudah menikah?"
"Hmm. Aku sudah menikah dan pernikahan kami sengaja dirahasiakan. Hanya keluarga terdekat yang tahu soal pernikahan ini."
"Dan kenapa aku tidak tahu soal pernikahanmu Selena?"
"Aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaanmu. Saat itu perusahaan keluargamu sedang mengalami masalah. Maafkan aku Ferdi." ucap Selena lagi.
Ferdinand memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam yang terasa begitu menyesakkan. "Apa lelaki itu Zionathan?"
Dahi Selena mengerut. "Kau mengenal Zionathan?"
Rasanya ingin tertawa. Tapi hatinya terlalu sakit. Ia berusaha bersikap tenang dan kembali berkata. "Apa Zionathan yang membawamu keluar dari acara reunian itu, Selena?"
"Hmm. Saat itu dia ada di sana." ucap Selena dengan suara terendahnya.
Ferdinand menarik napasnya yang terasa sesak. Ia tidak bicara lagi. Semua sudah terjawab. Hening tidak ada yang bicara. Selena mengerti saat ini hati Ferdinand masih tergoncang. Tapi Selena yakin pada Ferdinand, masalah seperti ini tidak akan membuatnya terpuruk. Ia tidak akan bersedih sampai berlarut-larut. Dia yakin ada wanita yang jauh lebih baik dan tulus mencintai Ferdinand.
Ferdinand menatap jauh ke depan. Suasana yang sunyi menyelimuti perasaannya saat ini. Senja telah datang menghampiri. Senja yang begitu singkat, selalu membangkitkan perasaan, ketika hening bersentuhan dengan sebuah suasana kesedihan. Banyak rasa yang entah karena apa tersembunyi dari pengakuan.
Detak jarum jam dipergelangan tangannya seakan mengikuti denyut nadinya. Ferdinand hanya memandang kosong di dalam selingan suasana senja. Hidup tidak selalu bahagia, adakalanya sedih menghampiri diri. Sakit yang begitu terasa, bukanlah sakit karena luka, seperti tergores namun tidak berdarah. Ini sakit yang sulit untuk disembuhkan.
Ferdinand tidak boleh egois. Selena sudah menikah dan suaminya saat ini adalah Zionathan. Ia pernah melukai Zionathan dan kali ini ia akan melepaskan Selena.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1