
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
"Kau berani tertawa?" Ucapnya kepada Ferdinand sambil melangkah panjang ingin memberi pelajaran. Giginya saling bergesekan menahan amarah. Saat melihat itu, Selena dengan cepat maju beberapa langkah dan menghadangnya.
"Jika kau bertindak macam-macam, kau akan menyesal. Polisi akan segera menangkapmu dan kau akan membusuk di penjara." ancam Selena dengan posisi tangan terbuka untuk melindungi Ferdinand.
"Selena apa yang kau lakukan?" bisik Ferdinand.
Selena tak menjawabnya. Tanpa rasa takut, Ia menatap tajam. Selena bahkan menantang lelaki itu dengan senyum sinisnya.
Pria bertato, lengkap dengan kumis tebalnya dan kepalanya yang plontos langsung tertawa mendengar itu. "Cih...Kau pikir aku takut? aku bahkan tidak takut mati. Aku melanjutkan hidupku dengan melakukan hal kotor seperti ini. Jika suatu waktu aku diperintahkan membunuh kalian dan detik ini juga kalian berdua akan mati di tanganku." Ucap pria itu menatap sinis.
"Tapi kau bisa merubahnya Kau bisa melanjutkan hidupmu dengan baik dan tidak harus melakukan pekerjaan seperti ini."
"Jangan ikut campur dengan kehidupanku, kau tidak berhak menceramahiku!" Ia membentak Selena dengan mata menyalang tajam. Rahangnya mengeras menahan amarah.
"Kau tidak kasihan dengan dirimu?"
"Aku tidak perduli! Sekarang aku dibayar dan aku wajib menjalankan tugasku."
"Tapi setidaknya...."
Pria itu dengan cepat memotongnya. "Aku tidak mau berdebat denganmu. Jadi sekarang makan ini!" Ia kembali menendang piring dengan kasar agar mendekat ke kaki Selena.
"Dasar sampah. Kau tidak punya hati!" Teriak Selena.
Kalimat itu berhasil menyulut emosi lelaki itu.
"Berapa dia membayarmu, heh?" Selena tersenyum kecut dengan tatapan tajam.
Dengan kekuatan penuh, Ia mengayunkan tangannya, menampar pipi Selena dengan keras,
PLAKKK!!!!
Suara tamparan itu begitu nyaring sampai membuat mata Selena berkunang-kunang.
"Jaga mulutmu, sebelum aku merobeknya."
Ferdinad begitu terkejut. "Apa yang kau lakukan?" Mata Ferdinand terbakar dengan kemarahan, Ia menarik kerah baju lelaki itu dengan ke dua tangannya.
"Lepaskan tanganmu,"
"DASAR BRENGSEK!"
Satu pukulan kuat mendarat di pipi lelaki itu. Pukulan Ferdinand membuat lelaki itu terjatuh.
__ADS_1
Tak cukup hanya sekali, saat lelaki itu merasa pusing. Ferdinand kembali mengangkat kerah baju dan memukulnya lagi. Pria tidak bisa melakukan perlawanan. Ia pusing dengan pukulan telak Ferdinand. Matanya buram terbayang menatap Ferdinand. Bibirnya berdarah dan pelipis di bawah matanya terasa keram.
"Kau hanya berani dengan wanita saja?" Ferdinand mengangkat tangannya dan ingin memberikan pukulan lagi. Namun sebelum itu terjadi, Dengan cepat lelaki itu membenturkan keningnya untuk menyerang hidung Ferdinand. Benturan yang cukup keras berhasil membuat Ferdinand kesakitan.
"Aaarggghh...." Ferdinand mengadu kesakitan. Ia memegang hidungnya yang begitu sakit. Matanya berkunang-kunang, benturan itu membuat hidungnya berdarah. Ferdinand pun mundur ke belakang dan mengeram.
"Ferdi," Selena panik saat melihat hidung Ferdinad mengeluarkan darah.
Sebelum pria itu maju dan menghajarnya, dengan cepat Ferdinand maju dan ‘jebreeetttt’. Ia melakukan tendangan T nya ke arah dada dan bagian perut. Pria itu tidak menangkisnya dan membuatnya terjatuh begitu saja.
"Lari Selena..." Ucap Ferdinand dengan lantang.
"Bagaimana dengan kamu? Aku tidak bisa meninggalkanmu."
"Jangan pikirkan aku, aku bisa menjaga diriku. Sekarang pergilah! kamu harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini."
"Tapi Ferdi?"
"Aku mohon, pergilah!" Tatapan memohon, membuat Selena mengangguk dengan pandangan nanar.
Tanpa pikir panjang, Selena berlari menaiki anak tangga dan sesekali menoleh ke belakang melihat perkelahian yang menegangkan itu. Ia memantapkan langkahnya dan berlari hingga mencapai pintu keluar.
Ferdinand berjuang memukul sebisanya dengan kayu yang ada di sana. Memang Ferdinand tidak pernah belajar bela diri, namun semua keluar secara naluriah. Ia begitu ahli seperti Jacky Chan.
Walau kakinya sempat tertendang, dan beberapa kali diterjang bogem mentah oleh pria bertubuh besar itu. Mereka sama-sama berjuang bertaruh nyawa, saling melepaskan tinjuan dan pukulan kepada pria yang terus menyerangnya. Bahkan Ferdinad sempat terhempas ke lantai. Namun saat Ferdinad memberi tendangan mengarah ke bagian sensitif pria itu. Ia mengerang kesakitan.
"Aaaarrggg." Tampangnya begitu murka. Matanya terus mengunci pergerakan Ferdinand. Dengan sorot mata yang tajam Ferdinand dapat merasakan jika mental pria itu menjadi ciut.
"Kau ingin benar-benar mati ya?" Sengit pria itu dengan sorot mata iblisnya.
"Dasar brengsek..." Pria itu menggeram. Ia merasa terhina mendengar kata-kata itu.
"Apa kau siap?" ejek Ferdinand
"Aaarggghh...." Pria itu begitu marah mendengar tiga kalimat yang di ucapkan Ferdinand.
Pria itu berhasil menendang Ferdinand dua kali dan mengeluarkan lagi belati tajamnya. Ia melangkah panjang, mendekati Ferdinand yang siap dijemput malaikat itu. Ia kepal pisau itu di telapak tangannya dan mengarahkan kepada Ferdinand.
"Kau yang akan mati hari ini." Sengit pria dengan tatapan kebencian. Ia ingin menancapkan belati tajam kebagian dada Ferdinand.
Namun sebelum itu terjadi, Ia memberikannya bogem mentah ke pipi pria itu dan melancarkan beberapa pukulan jabs yang kuat hingga belati tajam itu terlepas dari tangannya dan membuatnya tersungkur.
Ketika pria itu bangkit dan ingin melakukan perlawanan, Ferdinad kembali melangkah cepat dengan kekuatan penuh menendang keras pada bagian pipi dengan arah menyamping, membuat lelaki itu kembali tersungkur untuk kedua kali.
Ferdinand mundur dan menatap pria itu dengan tajam. Ia membiarkan lelaki itu mengumpulkan tenaga. Ferdinand tetap jaga jarak dan tetap dengan posisi siaga satu. Ia melihat lelaki itu berusaha bangkit untuk melakukan perlawanan, namun Ferdinand sudah bersiap dengan trik baru untuk menghabisi lelaki itu.
⭐⭐⭐⭐
Selena berjalan dan sedikit menunduk melangkah keluar melalui pintu belakang. Kali ini ia harus benar-benar bisa lolos dari pria itu. Ia tidak akan menyerah. Selena berlari cepat dan bersembunyi di balik pohon. Jantungnya terpukul keras saat melihat dua orang pria menggunakan masker kain hitam sedang berbincang-bincang. Ia hanya menunggu, sampai ke dua pria itu lengah. Ia masih diam di tempatnya. Mengatur napasnya yang semakin memburu karena takut. Tangan mereka lengkap dengan Laras panjang.
Selena memejamkan matanya, berharap kali ini kebaikan berpihak kepadanya. Selena kembali bergerak untuk bergeser tempat. Ia mencari posisi aman untuk bersembunyi, agar tidak terlihat anak buah Chesa. Dia hanya ingin kabur dari sini. Ia kembali sedikit menunduk dan berlari lagi.
"Berhenti di sana! atau kau ku tembak!"
__ADS_1
Reflek Selena menegakkan punggungnya dan mengangkat tangannya ke atas, menandakan dirinya menyerah. Begitu menyadari seorang lelaki sudah mengarahkan pistol ke arahnya.
Pria yang memakai masker kain hitam itu, menggoyangkan senjatanya dengan gestur mengusir. Selena menahan napas dengan pandangan nanar sambil terus menggelengkan kepalanya.
"Cepat jalan! Atau kepalamu meledak saat ini juga." Pria itu mengarahkan pistolnya ke arah pelipis Chesa.
Selena gemetar mendengar ancaman itu. Matanya berkaca-kaca. Ia memejamkan matanya sesaat, air matanya terjatuh saat menutup matanya. Lalu memilih pasrah. Ia melangkah pelan dan tangannya masih ke atas. Harapannya hilang lagi, entah apa yang akan terjadi pada hidupnya.
"Sekarang bawa dia, satu jam lagi nona Chesa akan menuju tempat ini."
"Baik tuan."
Sementara di ruang bawah tanah, Ferdinand sudah tak mampu lagi untuk berlari. Anak buah Chesa datang dan melihat perkelahian itu. Mereka berhasil menghadiahi timah panas ke kaki Ferdinand.
Ferdinand mengernyit saat melihat Selena berhasil tertangkap lagi. "Selena?"
Mata mereka bertemu dan saling mengunci tapi tidak berani berbicara. Mereka mengikat kembali tangan Selena.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Zionathan masih menunggu, Lionel belum menemukan lokasi Chesa menyekap istrinya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia begitu frustasi. Zionathan membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Tatapannya berubah kosong. Ia tahu Istrinya akan baik-baik saja. Ia berulang kali membuang napasnya dari mulutnya sambil memejamkan matanya. Dadanya bahkan terlihat naik turun, tidak kuasa menahan sesak di dalam dada. Ia larut dalam pikirannya.
Tiba-tiba handphone Zionathan berbunyi. Dengan cepat ia menjawabnya.
"Iya Lionel."
"Aku sudah mendapatkan lokasi mereka."
"Benarkah?" ucap Zionathan antusias.
"Hhmm. Aku akan mengirimkannya."
"Baiklah. Terima kasih Lionel." Ucap Zionathan dengan perasaan haru. Akhirnya ia bisa menemukan istrinya. Walau semalaman mereka menunggu di sini. Dengan harapan dan doa. Akhirnya usaha mereka membuahkan hasil juga. Tuhan akhirnya memberikan petunjuk.
Lionel dengan cepat memberikan informasi alamat pada Zionathan. Ia sudah membuka handphonenya dan melihat lampiran Location alamat x-building yang berhasil ditemukan Lionel. Butuh dua jam sampai ke tempat lokasi yang dikirimkan Lionel terakhir kali kepada Zionathan.
Mereka dengan cepat bergerak ke daerah tempat terakhir Chesa melakukan panggilan. Pasukan khusus dan dari kepolisian juga ikut menuju lokasi tersebut. Suara sirine polisi terdengar sepanjang jalan. Zionathan membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Sementara Samuel baru saja tertidur tiba-tiba terbangun saat mengetahui bahwa lokasi persembunyian Chesa akhirnya ditemukan.
"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Chesa." Kata Samuel meremas tangannya erat-erat.
Sementara Zionathan menahan amarah yang sedari tadi terbakar dari dalam dadanya. Hatinya sakit saat mendengar istrinya diculik. Ternyata wanita gila itu tidak pernah mengindahkan peringatannya. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Sejak tadi, dia hanya memilih diam. Ia sudah tidak sabar menunggu kabar dari Lionel. Zionathan memilih keluar dari mobil dan menangis diam-diam, Zionathan sangat takut. Ia sangat takut kehilangan istrinya itu. Zionathan mengepalkan tangannya begitu kuat. Bahkan untuk bernapas saja ia tidak sanggup.
Kini mereka menemukan titik terang keberadaan Chesa. Tangannya sampai gemetar memegang setir mobil itu. Zionathan tidak bisa terima jika wanita sialan itu mencelakai Istrinya. Dalam hati kecilnya ia hanya berharap semoga Selena dalam keadaan baik-baik saja.
BERSAMBUNG
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^