
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Selena menutup wajahnya dan terus menangis histeris di sana. Ia menjerit sekuat tenaga. Mendorong tubuhnya agar bersandar di sandaran kasur. Tak perduli lagi dengan keadaannya yang berantakan.
Reflek Zionathan merengkuh pundak Selena dan memeluknya dengan erat. Sangat erat sambil menangis. "Maafkan aku, sungguh aku minta maaf."
Selena meronta. Namun Zionathan menahan rontahan Selena dengan sekuat tenaga. Menyadari ia telah melukai hati Selena. Selena kini semakin berteriak meski suaranya sudah terdengar parau.
"Maafkan aku Selena, aku telah berbuat kasar kepadamu. Seharusnya aku tak melakukan itu."
Selena hanya terus berteriak dan mendorong tubuh Zionathan. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan. Ia tidak mampu melawan tubuh Zionathan yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Selena hanya menangis tersedu dan meraung-raung.
Zionathan menyadari kesalahannya, ia hanya bisa menenangkan Selena yang terus menangis di sana.
"Maafkan aku," Ucap Zionathan dengan suara terendahnya. Ia melepaskan pelukannya saat melihat Selena sudah cukup tenang.
Selena tak juga bicara. Ia berbaring dengan posisi miring dan tatapannya kosong tak berdaya. Air matanya mengalir deras di sudut matanya. Ia tidak menyangka hidupnya akan hancur seperti ini. Kehormatan yang selama ini dijaganya. Direnggut paksa oleh suaminya sendiri. Zionathan memperlakukannya seperti wanita tak berharga. Setiap perkataan lelaki ini melukai hatinya.
Zionathan duduk di sisi ranjang. Tertunduk dengan tatapan kosong. Tubuhnya membungkuk dengan siku yang terpangku di atas lutut. Ia mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya.
"Selena, apa sebaiknya kita ke dokter?"
Selena masih tetap diam, Ia semakin menutup rapat mulutnya. Napasnya masih tak beraturan. Air matanya terus berlinang membasahi bantal. Selena hanya memegang dadanya yang begitu sesak. Pedih, sakit dan kecewa. Itulah yang dirasakannya saat ini.
Zionathan dapat melihat kesedihan itu. Sekuat apapun ia meminta maaf. Selena sudah sangat membencinya. Zionathan hanya tertunduk lesu.
"Apa masih sakit, lebih baik ke dokter?" Kata Zionathan lagi. Ia menyentuh lengan Selena dengan lembut.
Selena tak menjawab dan hanya menangis. Bahunya gemetar.
"Baiklah jika kamu tidak ingin ke dokter. Aku akan mencari obat untuk mengurangi rasa sakit. Aku keluar sebentar, nanti aku kembali lagi." Kata Zio lembut dan langsung pergi meninggalkan Selena.
Selena tidak berucap satu kata pun bahkan tidak ingin melihat Zionathan.
CEKLEK!
Pintu tertutup dan Zionathan pun sudah keluar. Saat itu pula Selena menangis dan meraung sambil meremas erat bantalnya. Ia mengeluarkan suara tangisannya. Ia sangat sakit akan hal ini. Dadanya pun ikut sesak.
Kenapa hidupnya jadi seperti ini. Ayah dan ibunya tak pernah memperlakukan Selena dengan kasar. Bahkan dari perkataan, mereka tidak pernah menyakitinya. Selena benar-benar depresi. Air matanya kembali berlinang. Ia merasakan ketakutan dan kesedihan yang luar biasa.
Sementara Zionathan masih berdiri diluar mendengar tangisan Selena, isakan tangisnya terdengar hingga membuat lelaki itu memejamkan matanya, hatinya ikut sakit. Ini semua karena perbuatannya yang tak termaafkan. Zionathan menarik napasnya lagi. Lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah merasa cukup tenang, Selena berusaha bangun. Tak ingin berlama-lama di sini, ia tidak mau bertemu dengan Zionathan lagi. Selena akhirnya meninggal kamar hotel. Ia pergi melalui jalur khusus agar Zionathan tak melihatnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Zionathan kembali ke hotel membawa obat yang bisa mengurangi rasa sakit pada bagian tubuh Selena. Sungguh perjuangan berat saat Zionathan mengatakan keluh kesahnya. Sampai penjaga apotik tersenyum sambil menjepit bibirnya dengan erat agar tawa mereka tidak pecah.
__ADS_1
Zionathan mendesah mengangkat tangannya untuk melihat obat itu kembali. "Semoga ini membantu." Ucapnya pelan.
Sementara Ferdinand memperlambat langkahnya saat melihat Zionathan memasuki hotel. Ia mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil. Ia sudah sangat frustasi mencari Selena kemana-mana. Handphonenya tidak bisa dihubungi. Dan yang parahnya lagi cctv ke arah toilet tidak ada. Ferdinand tidak bisa mencari kemana Selena pergi.
"Zionathan?" panggil Ferdinand pelan tapi masih bisa terdengar oleh Zio.
Zionathan kenal suara itu, ia membalikkan badannya dan menatap datar ke arah Ferdinand.
"Apa kabar Zio?" Tanya Ferdinand tersenyum meskipun dia tahu kalau Zionathan tidak akan pernah membalas senyumannya.
Zionathan berusaha tetap tenang, walau dalam hatinya ada amarah yang terpendam. Apalagi saat mengingat kedekatannya dengan Selena.
"Aku tidak mengenalmu." Kata Zio ketus dan melangkah masuk ke lobby hotel.
Ferdinand mengejarnya, mengikuti langkah Zionathan sampai ke lobby hotel dan ia berusaha menghentikan langkahnya.
"Zio, dengarkan aku!"
Zio mengangkat alisnya setengah. Tatapan permusuhan ia kibarkan di sana. "Apa kurang jelas, aku tidak pernah mengenalmu." tegas Zionathan menekan kalimatnya.
"Tapi kita harus bicara, kita harus mengakhiri perselisihan ini." Bujuk Ferdinand dengan raut wajah serius.
"Cukup! Kau terlalu banyak bicara...!" kata Zionathan dengan nada geram. Zionathan melangkah lagi.
Ferdinand memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam.
"Zio, ayahku sedang sakit. Dia ingin bertemu denganmu." Ucap Ferdinand dengan lantang.
Langkah Zio terhenti, masih dalam posisi memunggungi Ferdinand. Tangannya mengepal kuat.
"Maafkan aku jika pertemuan ini membuatmu tidak nyaman, tapi aku sungguh-sungguh. Ayahku ingin bertemu denganmu. Ia sedang dirawat rumah sakit." Ferdinand sesaat terdiam, menarik napas singkat. Ia menatap punggung Zionathan yang tak juga berbalik.
"Aku mengerti, kau tidak akan percaya itu. Tapi ayahku benar-benar sakit. Ia sangat merindukanmu." Kata Ferdinand pelan sambil menundukkan kepalanya. "Ingat satu, aku tak pernah menganggapmu musuh. Aku benar-benar menyesali semuanya."
Zionathan tersenyum sinis, "Menyesali?" gumam Zio mendesah pelan. Zionathan memejamkan matanya begitu erat. Menarik satu-satu napasnya. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Kupingnya panas saat mendengar kalimat itu. Kemudian ia kembali mengingat perkataan Selena, bahwa Ferdinand selalu membuatnya nyaman dan bisa memberikan kebahagiaan untuknya.
"Aku berharap...."
Zionathan tidak tahan lagi. Mata Zio terbakar dengan kemarahan, Ia segera membalikkan badannya dan melangkah ke arah Ferdinand.
Dan....
BRUKKK!
Satu pukulan kuat mendarat di pipi Ferdinand. Pukulan Zio membuat Ferdinand terjatuh. Zionathan menarik kerah baju Ferdinand dengan ke dua tangannya.
"Ini pukulan ke dua kalinya, aku harap dipertemuan kita berikutnya. Aku sudah siap membunuhmu."
Ferdinand merasa pusing dengan pukulan telak dari Zio.
"Jangan menggunakan uncle agar aku bisa memaafkanmu. Itu tidak akan mungkin!" Rahang Zio mengencang menahan amarah.
Tak cukup hanya sekali. Zionathan kembali mengangkat kerah baju Ferdinand dan memukul wajahnya lagi.
Ferdinand tidak membalasnya. Ia hanya tersenyum pasrah. Bibirnya berdarah dan pelipis di bawah matanya terasa keram.
__ADS_1
"Dasar brengsek!" Zionathan melepaskan cengkraman baju Ferdinand.
Saat melihat keributan. Security langsung berlari ke arah Zionathan dan Ferdinand. "Apa yang kalian lakukan? Kalian sudah berani membuat keributan di hotel ini." Ucap security dengan tegas.
Napas Zionathan memburu cepat. Tatapannya begitu mengintimidasi. Ia tak perduli saat dua orang security berdiri tegap di sana. Zionathan langsung meninggalkan Ferdinand begitu saja.
Ferdinand tersenyum, ia memegang bibirnya yang terluka. "Maaf pak."
"Saya harap ini tidak terulang lagi." ucap pria itu dengan tegas.
"Baik pak," kata Ferdinand lagi. Ia menghela napas panjang dan hanya bisa menatap kepergian Zionathan yang hilang di balik lift.
Zionathan menarik napas panjang dan memperbaiki postur tubuhnya. Ia melangkah masuk ke kamar hotel menggunakan kunci elektrik yang ia simpan di saku celana.
CEKLEK!
Zionathan masuk dan menutup pintu itu kembali.
Zionathan terkesiap sambil meremas obat yang ada di tangannya saat melihat Selena tidak ada di kamar hotel. Ia menjatuhkan obat itu dan berlari mencari Selena ke kamar mandi.
"SELENA....!!!!" teriak Zionathan begitu panik.
BRAKKK!
Pintu di buka sedikit kasar dan tidak ada siapa-siapa di sana. Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. Menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Setelah kesadarannya kembali. Zionathan setengah berlari keluar dari pintu. Orang yang berpapasan dengannya sampai di buat kaget karena hempasan pintu yang cukup kuat. Punggung tegap Zionathan sudah menghilang di balik tembok koridor hotel.
SEMENTARA ITU.
Selena berjalan menyusuri jalanan sambil sesekali menyeka air matanya. Dia tidak tau sudah sejauh apa dia berjalan. Tak ada satu pun taksi yang lewat. Hari sudah malam, Dia bahkan tidak tahu sudah berada dimana. Kakinya sudah mulai sakit. Hembusan angin malam semakin membekukan suasana. Jalanan mulai sepi malam ini. Selena terus mengingat perlakuan kasar Zionathan. Ia tidak bisa menutupi rasa gejolak yang ada di dalam hatinya. Perasannya hancur berkeping-keping. Malam penuh kepedihan bagi Selena. Harinya suram yang tidak pernah ia bayangkan.
Langkahnya terus menyusuri jembatan dengan tarikan napas yang panjang, Selena tiba-tiba berhenti. Matanya menatap lurus. Angin malam berhembus membelai wajah Selena. Air matanya kembali menguasai dirinya. Air mata yang sedari tadi terkumpul, tergelincir begitu saja membasahi pipinya. Ia mencengkram pagar jembatan dengan kuat. kakinya lunglai seakan tidak mampu untuk memijak bumi lagi. Napasnya pun ikut tertahan di dada saat mengingat kejadian tadi.
"Kau brengsek Nathan, aku membencimu!" Selena mengatur napasnya yang tidak stabil dan Ia kembali melanjutkan kalimatnya.
"Sekarang kau menghancurkan hidupku?" Seru Selena terus berteriak. Air matanya terus meleleh membasahi pipinya. Ia terus memegang dadanya dan menarik napasnya dalam-dalam. Bibirnya gemetar, napasnya keluar tidak stabil. Wajahnya mengerucut, mengerut, suaranya lirih dan meraung.
"Aku membencimu.." Teriak Selena lagi. Kedua tangannya membentuk corong di depan mulutnya agar angin malam mendengar jeritan hatinya. Napasnya terus berembus dan masuk lewat mulut terbuka.
Selena terduduk, tangannya masih memegang jembatan. Air matanya mengalir begitu saja. Saat ini ia membiarkan air bening terus mengalir ke dagunya.
Saat ini Selena harus lebih kuat. Walau dalam hati sesungguhnya jika mengingat itu, ia akan menangis kembali. Hatinya terluka dan sakit. Namun sebisa mungkin ia harus bisa memperlihatkan senyumannya. Jangan sampai Keluarganya tahu. Cukup hanya dia sendiri yang memendam perasaan terluka dan sedih ini.
Rintik-rintik hujan tiba-tiba turun. Ia yang terduduk tak perduli. Ia menunduk, pikirannya masih kalut. Cukup lama Selena terduduk meringkuk memeluk kakinya. Hujan semakin deras. Selena mendongak ke atas merasakan hujan membasahi wajahnya.
Selena akhirnya bangkit walau tangannya masih memegang sisi jembatan. Ia melangkah meninggalkan jembatan itu. Ia tidak berlari atau pun melangkah panjang untuk menghindari hujan. Selena seakan menikmati hujan yang turun semakin membasahi tubuhnya.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^