Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MENYELESAIKAN KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Selena bersandar di dada bidang Zionathan. Wajah Selena tampak serius di sana. Zionathan mengusap-usap punggung Selena sambil mendengarkan dalam diam. Namun, dari reaksinya, Selena tahu Zionathan sedang menyimak dengan baik.


"Bukankah kau memerintahkan anak buahmu untuk menyekapnya? Mereka sampai melakukan kekerasan dan membuat Chesa trauma." Ucap Selena dengan suara gemetar. Ia ikut merasakan kesedihan Chesa. Bagaimana jika ia diperlukan seperti itu.


"Kalian bahkan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjelaskan. Anak buahmu tidak ada belas kasihan."


Zionathan mengerutkan kening. "Menyekap? aku tidak pernah memerintahkan anak buahku untuk menyekap seorang wanita apalagi melakukan kekerasan seperti yang kamu katakan sayang."


"Tidak mungkin Chesa mengarang cerita sampai segitunya sayang."


Zionathan sedikit berpikir keras. Ia berusaha mengingat siapa wanita yang dikatakan istrinya itu. Seperti yang dikatakan Selena tanpa belas kasihan? dan kini sampai membuat wanita itu trauma? Astaga, apakah ia sekejam itu?


Zionathan pasti berpikir seribu kali jika melakukan itu. Dan selama ini ia tidak pernah punya masalah kepada orang lain. Ia benar-benar memperhitungkan kembali dengan sangat hati-hati. Zionathan takut akan melukai orang-orang yang sangat disayanginya. Apalagi jika itu menyangkut kerjasama bisnis. Ia akan melihat lawannya terlebih dahulu. kecuali jika karyawannya sudah melakukan kesalahan fatal, ia tidak sampai menyakiti mereka. Zionathan hanya menyerahkan mereka kepada pihak yang berwajib. Karena Zionathan sadar, ia tidak pantas menghakimi orang yang bersalah.


Tiba-tiba ia teringat seseorang.


"Apa maksud Selena adalah wanita itu?"


Zionathan langsung mengerjap, dia langsung tahu orang yang dimaksud Selena. Zionathan mengembuskan napas panjang sebelum berbicara. Ia memilih Selena melanjutkan penjelasannya.


"Benarkah kau menyekap Chesa? dia adalah sahabatku sayang." Selena balas menatap Zionathan dengan tatapan meminta penjelasan.


Zionathan menarik napas panjang lalu menatap Selena. "Apa dia mengatakan itu?"


Selena menganggukkan kepalanya. "Kau meminta Chesa menjaga jarak denganku. Sementara dia adalah sahabatku satu-satunya. Kami bahkan selalu melakukan hal bersama-sama. Kuliah di tempat yang sama, bekerja di kantor yang sama. Liburan selalu bersama. Aku mengerti dia, Chesa juga begitu." Mata Selena berkaca-kaca. "Sekarang kau harus jujur kepadaku, apakah kau benar-benar melakukan itu kepada Chesa sayang?"


"Kau sudah yakin Chesa sahabat yang baik dan mengerti dirimu?"


"Hmm. Tentu saja, aku sangat mengenalnya. Sekarang yang jadi pertanyaannya, benarkah kalian menyekapnya? Kau tidak mungkin setega itu sayang?"


Zionathan mendesahkan napas panjang, lalu menarik sebelah tangannya ke atas kepala. Menambah tinggi bantalan di belakang tengkuk dan lengan. Tangan Zionathan lain mengusap rambut Selena. Mencoba menenangkannya lewat sentuhannya.


"Aku memang pernah memerintahkan anak buahku untuk mencari seorang yang mengirimkan foto-fotomu ke handphoneku."


"Foto-fotoku? foto apa maksudmu?" Kedua alis Selena menyatu. Raut wajahnya berubah menegang. Wanita berwajah cantik itu tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Matanya tidak mau lepas menatap suaminya.


Zionathan mengembuskan napas singkat dan melanjutkan penjelasannya. "Saat aku berada diluar kota, dia mengambil foto-fotomu saat bersama Ferdinand dan semua foto-foto itu dikirim langsung kepadaku. Jika kau tidak percaya, aku masih menyimpan semua foto-foto itu." Zionathan mengeluarkan handphonenya dari kantong celananya. Membuka galeri foto dan memperlihatkan semua foto-foto itu kepada Selena.


Selena tercengang, Jantungnya terpukul kencang. Tangannya terasa dingin. Foto-fotonya dengan Ferdinand terlihat jelas di sana. "Chesa yang mengirim ini?" ucapnya pelan hampir tidak terdengar Zionathan.


"Hmm. Aku hanya meminta Alex mencarikan siapa pengirim foto ini. Karena nomor pengirimannya tidak dikenal dan saat itu aku tidak tahu bahwa Chesa itu temanmu."


Selena menggeleng dengan mulut terbuka. Ia masih tak percaya dengan semua ini. Semua foto itu jelas diambil saat ia dan Ferdinand berada di restoran, saat mereka naik kereta layang.


"Itu artinya Chesa sengaja melakukan ini?"


"Iya. Dia sendiri mengakui semuanya."


"Bagaimana soal menyekap?"


"Tidak ada penyekapan di sana. Apalagi sampai menyakitinya. Aku hanya meminta penjelasannya darinya."

__ADS_1


"Apa kata Chesa?"


Zionathan menarik napasnya lagi. Tidak mungkin ia mengatakan semuanya.


"Cukup sampai di sini saja. Kita tidak perlu membicarakan soal itu lagi."


Selena menggeleng cepat. "Tidak aku ingin tahu semuanya. Kau tidak perlu menutupinya."


"Sayang?"


"Tidak apa-apa, agar aku tahu Chesa seperti apa."


"Kamu yakin?"


Selena mengangguk lagi.


Zionathan terdiam sejenak dan menarik napas panjang lalu memandang istrinya itu. "Sekarang tujuannya hanya ingin membuatmu menderita. Kau tidak pantas bahagia. Dia sengaja Mengirimkan foto-foto itu agar aku semakin membencimu."


Selena mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih mencoba mengerti. "Kenapa Chesa melakukan itu?" Jelas-jelas Chesa tahu bahwa Selena tidak ada hubungan apa-apa dengan Ferdinand.


Mata Selena kembali berkaca-kaca. Air bening menetes di sudut matanya. Zionathan merasakan itu. "Sayang kau menangis?"


"Kenapa Chesa seperti ini? Dia menilai persahabatan kami serendah itu? Aku tulus menyayangi Chesa. Aku tidak berniat menyakiti hatinya." Bahu Selena mulai gemetar.


Saat mendengar perkataan istrinya itu. Zionathan menarik napasnya dalam-dalam lewat mulut yang sedikit terbuka. Zionathan semakin merapatkan tubuhnya dan memeluk istrinya. Ia tak berucap apa-apa hanya membiarkan istrinya menangis.


Selena menitikkan air mata dan menenggelamkan wajahnya ke dada Zionathan. Chesa bahkan menganggap dirinya seorang pengkhianat. Chesa menilai buruk tentang dirinya. Perasaannya benar-benar kalut, bingung, resah, Khawatir. Semua bercampur jadi satu.


"Sudah jangan menangis lagi sayang. Aku terlihat buruk jika membiarkan istriku menangis seperti ini." Zionathan mengusap lagi punggung Selena.


Selena masih terus menangis, Zionathan melihat ke arah Selena. Ditariknya tengkuk Selena dan dicium hangat.


"Sayang?"


"Hmm."


Selena memegang pipi Zionathan dengan sebelah tangannya "Aku minta maaf." Selena menurunkan pandangannya. Ia merasa sangat bersalah karena sempat tidak mempercayai suaminya itu.


Zionathan mengerutkan keningnya. "Maaf? untuk apa?"


"Aku sempat kesal dan marah padamu." Bibir Selena mengerucut ke depan sambil memainkan kancing baju kemeja Zionathan.


Zionathan tersenyum hangat. "Aku mengerti. Kau pasti bingung siapa yang akan kau percaya. Di sisi lain Chesa adalah temanmu dan ditambah lagi aku ada suamimu. Apakah karena itu kau banyak diam?"


"Maaf." Bibir Selena semakin mengerucut ke depan.


"Hmm. Terserah dia mau menilaimu seperti apa. Kau akan mengerti dan belajar. Banyak hal yang kau petik dari semua ini. Seharusnya kau berterima kasih. Tuhan masih baik. Di hari natal ini, Tuhan menujukkan siapa sebenarnya Chesa. Sekarang kau hanya percaya aku. Suatu saat dia akan sadar nantinya."


Selena tersenyum haru menatap Zionathan. Zionathan balas tersenyum. "Oleh karena itu maafmu diterima tapi hukuman selalu ada."


"Heuh?" Selena mendongak. "Hukuman?"


"Ya. Kamu mendapatkan hukuman karena telah berprasangka buruk terhadap suamimu ini."


"Ha? itu tidak adil."


Zionathan terkekeh. "Kau tetap harus mendapatkan hukuman."


"Tidak. Aku tidak mau." rengek Selena. Ia menyandarkan lagi wajahnya ke dada Zionathan. Ia masih terus menangis. Menarik-narik cairan hidungnya.


"Jika kau tidak ingin mendapatkan hukuman. Jangan menangis lagi. Jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu pusing. Kau mengerti?" Zionathan mengusap-usap lagi punggung Selena dengan sayang.

__ADS_1


"Aku janji tidak akan memikirkan hal itu lagi."


"Sekarang tidurlah. Besok perasaanmu akan lebih baik. Hari esok akan selalu lebih baik."


"Kau bijak sekali sayang." Ucap Selena di sela-sela tangisannya.


"Hmm. Kau baru tahu?"


Selena terkekeh. "Aku mencintaimu Nathan."


"Jangan panggil Nathan lagi. Kau terlihat hanya mencintai Nathan kecil saja."


Selena tertawa lepas saat mendengar itu. "Aku mencintaimu sayang, Zio dan Nathan kecil. Gak ada bedanya, kan?"


Zionathan tersenyum, mencium puncak kepala Selena. "Aku juga mencintaimu, sayang."


⭐⭐⭐⭐⭐


Sekitar pukul enam pagi lebih sedikit, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam, munculnya fajar pagi menyambut kehidupan.


Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.


Selena merasa sangat bersyukur masih bisa merasakan fajar pagi dan menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang. Kini suasananya berbeda. Sekarang Selena bahagia bersama lelaki yang dicintainya.


Selena tersenyum hangat, ia masih merasakan hangatnya dekapan dari Zionathan. Mereka memutuskan menginap di kediaman Gwyneth. Hari ke dua natal nanti. Selena menggelar open house di apartemen mewahnya. Pejabat tinggi di Lucius dan Karyawan-karyawan Lucius akan mengunjungi pemimpin tertinggi mereka.


Selena kembali memejamkan matanya, hembusan napas dari Zionathan begitu terasa menyentuh pipinya. Senyuman mulai terulas di bibirnya. Ia benar-benar terhanyut menikmati aroma tubuh dari lelaki yang selalu membuatnya mabuk cinta itu. Ditambah suasana benar-benar menaburkan energi romantis yang menyenangkan.


Sebuah dekapan hangat membuat mereka terlelap. Malam itu, Zionathan terus membuatnya tersenyum setelah mereka menyelesaikan kesalahpahaman itu. Zionathan tidak mau berhenti menyanyikan lagu untuknya. Selena kembali tersenyum.


Mereka masih berbaring nyaman di kasur yang empuk. Posisi tidur mereka miring. Zionathan mendekap tubuh mungilnya dari belakang. Saling memberi kehangatan sampai pagi menyingsing.


Selena tersenyum dan bergerak, berusaha lepas dari dekapan Zionathan. Namun..baru juga ia bergerak, tangan Zionathan kembali menariknya semakin dalam dan memeluknya lebih erat lagi.


"Mau kemana sayang?" Zionathan bergumam di sana.


"Kita akan bersiap pulang. Alex dari tadi malam menghubungimu. Bukankah hari ini kita menggelar open house?" Ujar Selena menyentuh tangan Zionathan dengan lembut.


"Ehhmm, sebentar lagi. Aku masih nyaman seperti ini."


Selena membalikkan tubuhnya menatap Zionathan dengan lekat. Ia menyentuh bagian pipi Zionathan, seakan menikmati pemandangan yang tidak ingin dilewatkannya. Entah mengapa pagi ini, perasannya berbeda. Ia begitu mengagumi suaminya itu. Walau sedang tertidur ia kelihatan tampan sekali. Hihihihihi Selena tersenyum sendiri. Wajah yang terlihat tegas, hidungnya yang mancung dan bibirnya? reflek Selena menggigit bibir bawahnya. Benar-benar suami yang sempurna.


"Kita bersiap ya?" Bujuk Selena.


"Aku masih ngantuk sayang."


"Oke. Tidurlah dulu. Aku ke dapur membantu ibu sebentar."


Selena mengecup bibir Zionathan dengan singkat. Ia pun bergegas turun dari atas kasur meninggalkan suaminya yang masih tertidur.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2