
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Selena merasa pusing yang sangat luar bisa di kepalanya. Ia meringis seperti tidak sanggup menahan sakit pada bagian tubuhnya. Tadi ia sempat melakukan perlawanan karena ingin melarikan diri. Selena habis di pukul dan diseret dengan paksa oleh anak buah Chesa.
Pelan-pelan ia membuka matanya. Dia merasakan pergerakan tubuhnya tidak bebas. Selena duduk di kursi dengan posisi tangan terikat ke belakang. Seluruh tubuhnya pegal, sakit, terutama persendian tangan, bahu, juga kakinya. Bahkan sebagian ada yang biru, tepat dibagian yang mendapatkan tekanan dan tarikan yang paling kuat.
"Ferdi?" panggil Selena menyadari bahwa Ferdinand tidak ada bersamanya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Ferdinad. Selena mulai ketakutan. Ia hanyalah seorang diri dalam gudang kumuh ini.
"Ferdi? dimana kamu? apa kamu berhasil melarikan diri? ah... tidak mungkin." Selena berbicara pada dirinya sendiri. Ia menggeleng dengan tatapan lemah. Tiba-tiba ia teringat suaminya.
"Kenapa kamu belum menemukanku, sayang? apa begitu susah mencariku?" ucapnya parau dan gemetar. Selena mulai menangis.
"Cepat temukan aku sayang, aku sudah tidak sanggup menahan ini semua. Aku cengeng saat tidak berada di sampingmu." Air mata Selena mengalir semakin deras.
"Eeehkkkk....ehhkkkk...." Selena mencoba untuk bernapas. Wajahnya mengerut menangis. Hidungnya memerah. Tangannya mencoba melepaskan ikatan yang melilit dipergelangan tangannya. Namun semua terasa sia-sia.
"Sayang ...aku merindukanmu." Selena mengangkat wajahnya dengan mulut terbuka, napasnya tidak stabil dan terengah.
Penerangan ruangan itu cukup untuk melihat sekeliling. Tapi sejauh mata sayunya menelusur, tidak ada celah keluar dari sana. Ia hanya melihat satu buah pintu di ujung tepat di depan. Dan tidak perlu memeriksanya, Selena tahu pasti pintu itu terkunci.
"Astaga...Tempat apa ini? kotor dan berbau, cat dindingnya sudah kusam dan berlumut."
Selena mencium bau amis yang membuat perutnya mual. Bau alkohol dimana-mana. Tempat ini seperti gedung yang tidak terpakai lagi.
Ia tidak berada di villa Chesa lagi. Tempat ini seperti bangunan tua bertingkat. Bagian luarnya tidak ada cat dan berwarna abu-abu semen alami. Di beberapa bagian sudah bertumbuh lumut dan juga ditumbuhi tanaman berjalar. Bangunan ini terlihat terbengkalai dan tidak digunakan. Setidaknya dari luar seperti itu. Namun begitu masuk ke dalam, di lantai tiga suasana di dalamnya terlihat berubah. Areanya terlihat terurus dan terang dan juga bersih. Sepertinya memang ada yang tinggal di lantai tiga dan menjadi titik kumpul atau markas sebagian dari mereka. Tapi tidak di tempat penyekapan Selena, tempat di lantai dua ini sangat kumuh. Mereka memang sengaja mengurung Selena di sana.
"Dimana Chesa, kenapa semenjak aku di tangkap, dia tidak pernah menunjukkan dirinya."
Selena mencoba memejamkan matanya, dengan tidur ia bisa melupakan ini semua. Ia sangat berharap bangun nanti, Selena bisa melihat suaminya berdiri di depannya.
βββββ
Tidak beberapa lama setelah tertidur. Ia tidak sadar bahwa pintu dibuka secara paksa dan,
Byuuuuurrrrr
Selena disiram dengan air tepat mengenai wajahnya. Selena mengerjapkan matanya. Tubuhnya sudah basah. Selena berusaha mengatur napasnya. Kedua pria itu menjauh setelah mereka menyiram tubuh Selena.
"Kamu masih bisa tidur di saat seperti ini, dasar wanita sialan!" Tulang keringnya di tendang dua kali.
"Aaaahhhh..." Selena mengadu kesakitan.
"Lima belas menit lagi bos kami akan datang. Persiapkan dirimu."
Mata Selena menyorot tajam. "Apa maksudmu Chesa?"
Pria itu tersenyum sinis sambil bersedekap. "Jika kau sudah tahu, kenapa bertanya lagi."
"Sejak kapan anak ingusan itu, bos kalian?"
"Tutup mulutmu, kau tidak berhak mengatainya."
Rahang Selena mengencang. Matanya tak lepas menatap ke dua pria yang tersenyum angkuh di sana. "Kau tidak tahu siapa Chesa. Dia wanita gila."
"Cih... Apa katamu!" Gigi pria itu bergesekan menahan emosi. "Sekarang kau bisa mengumpatnya, setelah ini aku pastikan kau tidak akan berani melakukannya lagi."
Selena tersenyum kecut dan tidak perduli. "Terserah jika kalian mau percaya atau tidak. Sekarang dimana temanku? aku ingin bertemu dengannya."
__ADS_1
Mereka menjauh dari Selena dan memilih duduk menikmati minuman alkohol yang sengaja mereka bawa.
"Aku tanya, kemana kalian membawa temanku?" Teriak Selena lagi, saat pertanyaannya tidak digubris sama sekali.
Sekilas pria itu menoleh ke belakang dan memilih tidak menjawabnya. Mereka kembali asyik berbicara sambil menikmati minuman alkohol yang ada di tangannya.
Selena mengembuskan napas frustasi. Sia-sia ia berbicara dengan ke dua pria itu. Ia hanya bisa memerhatikan setiap gerakan mereka. Satu pria gondrong itu sepertinya menelpon seseorang, sementara yang satunya lagi asyik minum sambil menikmati rokoknya.
"Kalau kalian tidak ingin mengatakannya. Lebih baik lepaskan aku! " ucap Selena dengan lantang. Suaranya menggema di dalam ruangan itu, membuat kedua pria itu kembali menoleh ke arahnya. Penampilan Selena sudah berantakan, pakaian basah dan rambutnya acak-acakan.
Salah satu pria bertato melangkah berjalan ke arah Selena.
"Lepaskan aku! aku ingin bertemu dengan dengan Ferdi." ucapnya dengan tatapan lemah.
Mata Selena berkaca-kaca. Ada rasa takut ketika ke dua pria semakin mendekat, tubuh mereka dipenuhi tato dan wajahnya benar-benar menakutkan.
"Jangan mendekat," Cegah Selena ketika pria itu membungkuk dan menatap lekat ke wajahnya.
"Kamu cantik!" Ucapnya dengan senyum menyeringai.
Selena membuang wajahnya. Ia tidak ingin melihat wajah pria itu.
"Hahahaha..." pria itu tertawa. Matanya tak lepas menatap tubuh Selena dari atas sampai ke bawah. "Bagaimana jika hari ini kita melakukan pertarungan dua lawan satu. Aku rasa ini akan menjadi pertunjukan yang tak terlupakan. Bagaimana?" Ia menoleh ke salah satu temannya.
"Sepertinya ide bagus bos. Di tambah cuaca dingin seperti ini, saya rasa itu akan menambah nilai plus. Kita bisa lebih bersemangat lagi untuk mengeluarkan lebih banyak keringat."
Selena mengerutkan keningnya, wajahnya tegang. "Jangan coba-coba menyentuhku." Mata Selena mendelik tajam.
"Kau hanya tinggal diam dan menikmatinya."
Lelaki bertato itu tersenyum, mencondongkan tubuhnya ke arah Selena. Tatapan lapar dan ingin segera melahap mangsa yang ada di depannya. Ia memajukan wajahnya dan ingin mencium paksa bibir Selena. Selena berusaha meronta, ia menghindari ciuman yang menjijikkan itu. Tanpa pikir panjang, Selena menghentakkan kepalanya ke bagian hidung lelaki bertato itu.
"Aarghhhh.. " Pria itu mengerang kesakitan.
Ia kalap mata, lelaki itu marah karena melihat ada darah keluar dari hidungnya.
Selena meludah tepat di wajah pria itu, Membuat lelaki itu semakin marah.
"Dasar wanita sialan!" Bentak lelaki itu mengayunkan tangannya, menampar pipi Selena dengan begitu keras sehingga membuat sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.
Mata Selena kembali berkaca kaca, air matanya sudah tergelincir membahasahi pipinya.
"Berani-beraninya kau." Geram lelaki itu menarik rambutnya ke belakang, hingga Selena mengeluarkan suara kesakitan.
AAAAARRRRRGGGG
Selena semakin menangis tersedu-sedu, kedua lelaki itu tidak perduli. "Lepaskan!" teriak Selena. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki gudang.
"Tuk.. tuk.. tuk..tuk..."
Kedua pria menyadarinya. Mereka dengan cepat memperbaiki postur tubuhnya. Suara bunyi sepatu itu begitu menggema di dalam ruangan itu. Selena memicingkan matanya, melihat siapa yang datang. Kedua pria bertato menundukkan kepala tanda memberi hormat kepada wanita itu.
"Selamat datang nona." Sapa mereka serentak.
Chesa tidak menjawabnya, ia menatap Selena yang terlihat berantakan sekali. Ia tersenyum puas. Sudut bibirnya melengkung ke atas.
"Dimana Ferdinand?" Tubuh Selena gemetar menahan emosi.
"Kau masih bertanya dimana Ferdinand, disaat kau sudah bersuami." seringai Chesa dengan tatapan sinis. Ia duduk tepat di depan Selena, sementara kedua lelaki bertato itu setia berdiri di belakangnya.
"Apa mau mu? Lepaskan aku Chesa!" Nada suara Selena sudah naik namun ratapannya seperti memohon.
Lagi-lagi Chesa tertawa hambar, ia menggerenyotkan bibirnya hingga tampak giginya.
__ADS_1
"Hari ini kau akan mati di tanganku Selena." ucapnya dengan tatapan predator. Suasana ruangan itu berubah menakutkan.
"Kenapa? Kenapa kau ingin membunuhku?"
"Kau tidak tahu?"
"Apa kerena Ferdinad lagi?"
"Itu salah satunya. Sisanya, semua masalah ini terjadi dari dirimu."
"Apa maksudmu?"
"Semua orang menyayangimu dan aku membenci itu. Kau tidak tahu kenapa aku memindahkanmu ke sini. Karena suamimu berhasil melacakmu. Sekarang Zionathan frustasi tak akan bisa menemukanmu."
"A-apa?" Selena tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Kau sudah benar-benar gila."
"Iya, aku sudah gila. Dan aku akan membuat semua orang gila karena tidak bisa menemukanmu." Chesa tertawa jahat di sana.
Napas Selena tersengal menahan emosi. "Bukankah kita pernah berteman, Kenapa kau bisa berubah seperti ini."
"Tidak, aku tidak pernah menganggapmu teman. Kau hanya musuh yang harus dilenyapkan. Hari ini kau akan merasakan sakit, sampai tubuhmu menggigil tak bisa melupakan kesakitan ini, tempat ini akan menjadi saksi raungan kesakitanmu dan hari ini akan menjadi kenangan terburuk buatmu, sampai di napas terakhirmu." kata Chesa dengan nada sangat dingin, kata-kata di dalam kalimat Chesa sangat kental, benar benar menakutkan. Ia mencengkram dagu Selena begitu kuat.
"Aaarggghh...."
"Semua orang tidak pernah melihatku, saat aku berjalan denganmu. Semua orang memujimu baik itu teman atau dosen kita. Jangankan itu, mommy dan daddy juga begitu." Teriak Chesa tersenyum getir.
"Jadi yang selama ini kau baik kepadaku, apa artinya itu?"
"Itu semua palsu." Ucap Chesa dengan wajah dingin dan menatap Selena dengan tajam.
"Pa-palsu?"
"Iya palsu. Semua gara-gara kau brengsek. Ferdinand tidak pernah mencintaiku." Teriak Chesa meraih baju Selena dan menggoncang tubuhnya.
AAAHHHHH
"Ferdinand tak pernah mencintaiku." Chesa begitu emosi sampai suaranya menggelegar di dalam ruangan itu.
"Kau tidak bisa memaksakan Ferdinand untuk mencintaimu." ucap Selena berapi-api.
Mendengar itu emosi Chesa tersulut. Ia pun menampar Selena dan berulang kali menendang kaki Selena. Ia kesetanan, tak mau berhenti. Hanya rasa sakit yang teramat pilu dan jeritan Selena terdengar di dalam ruangan. Tangannya diikat tak bisa melakukan perlawanan.
AAAAHHHHHH
"Dasar sialan,mati saja kau." ucap Chesa dengan tatapan membunuh.
Selena tak berdaya, tubuhnya lemah. Ia berusaha mendongak melihat Chesa. Seketika matanya terbelalak melihat benda yang ada di depannya.
"Apa yang kau lakukan Chesa?" ucap Selena dengan suara nyaring.
Selena kembali berteriak ketika melihat alat suntik di pegang lelaki bertato itu. Matanya sudah basah oleh air mata sementara napasnya tersengal dengan suaran gemetar.
"Aku mohon jangan lakukan itu Chesa." Teriak Selena meluapkan rasa takut yang bergejolak di dalam dadanya. Sungguh ia sangat takut.
"Tuhan tolong aku!"
"Aku akan membuatmu menderita. Tubuhmu akan lumpuh selamanya. Kau akan dikucilkan dan dipandang hina. Termaksud itu suamimu sendiri."
"Tidakkkkkkk!! Tolonggggg!" teriak Selena histeris.
BERSAMBUNG
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih πβΊοΈ
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^