Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
PERGUNAKAN WAKTU SEBAIKNYA.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Zionathan dan Selena sepakat berangkat ke Paris setelah perayaan natal. Selena ingin berkumpul dengan keluarga dan merayakan bersama. Momen perayaan natal inilah yang di tunggu-tunggu. Saling mengungkapkan rasa sayang dengan menyiapkan hadiah. Sebelum perayaan natal, ada salah satu kebiasaan yang wajib dilakukan. Menghias pohon Natal dan mendekorasi halaman rumah dengan kerlipan lampu hias, serta menghadiri misa Natal.


Salah satu tradisi lain adalah berbagi hadiah di hari Natal. Berbagi hadiah ini merupakan lambang cinta kasih kepada yang kita sayangi, bukan hanya pada keluarga, tapi kita juga berbagi kasih pada mereka yang kurang mampu.


⭐⭐⭐⭐⭐


Di Apartemen Diamond.


Pagi datang menyapa. Hujan rintik-rintik membasahi kota A. Selena sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan menu makanan untuk mereka santap di perayaan natal ini. Selena dengan cekatan mempersiapkan segala sesuatunya. Berulang kali ia menatap ke atas, melihat ke arah kamar. Belum ada tanda-tanda suaminya keluar dari sana.


Tadi malam, Zionathan memang lembur di kantor Lucius untuk tutup buku di akhir tahun. Zionathan pulang sudah pukul dua dini hari. Ia ingin liburan tanpa ada beban pekerjaan.


SEMENTARA DI DALAM KAMAR.


Samuel masih terpejam dan masih nyaman dengan posisi ini. Tadi malam ia dihubungi kakaknya yang bawel ini. Selena minta di temani karena suaminya sedang lembur di kantor. Samuel mencium aroma masakan dari arah dapur yang tercium di hidungnya. Membawanya ke alam sadar untuk segera bangun dari tidurnya. Ia Perlahan membuka matanya. Ia tersenyum saat menyadari dirinya tidur di apartemen mewah diamond. Samuel juga tidak menyangka akan mendapatkan penyambutan yang hangat dari kakak iparnya. Semenjak pernikahan itu, Zionathan yang dikenalnya begitu berbeda. Ia begitu dingin dan tak bersahabat. Hingga membuat jarak untuk mereka.


Samuel merasa bersyukur akhirnya kebahagian itu berpihak kepada Selena. Perayaan natal yang di tunggu-tunggu menjadi momen mengharukan terkhusus untuk dirinya. Kini suasananya berbeda.


Selena masih tampak sibuk, ia kembali ke wajan untuk mengaduk sayur yang masaknya harus setengah matang. Hingga ia tidak menyadari Samuel sedang berjalan ke arahnya.


"Butuh bantuan?"


Selena mengerjap, lalu sepersekian detik Ia tersenyum lembut. "Kamu sudah bangun?"


"Aku pikir kau akan memakiku."


Selena mengernyit. "Buat apa aku memakimu?"


"Karena terkejut."


"Cih..." Selena berdecak. "Aku tidak akan mati karena terkejut."


"Dimana kakak ipar?"


Selena menoleh sekilas dan tersenyum. "Masih tidur,"


"Hmmm. Maaf, aku juga terlambat bangun. Jika tidak karena aroma masakan ini sampai ke kamar. Kemungkinan aku masih tidur kak." Kata Samuel berbisik.


"Sekarang mandilah, kita akan pergi ke gereja. untuk mengikuti misa natal." kata Selena menepuk lengan Samuel.


"Serius gak mau dibantu?"


"Dari dulu yang namanya masak, aku bisa sendiri. Kau ingat waktu ada kegiatan arisan dari kantor ayah. Aku bisa melakukannya sendiri. Jadi kau tidak perlu terbebani."


Samuel tersenyum. "Benar juga, kau kan lahir dari planet ketujuh." ledek Samuel.


"Samuel...." Selena mencubit lengan adiknya itu.


"Owh...sakit kak," Keluh Samuel sambil terkekeh.


"Syukurin. Awas kalau kau katakan itu lagi. Aku tidak akan memberikan hadiah natal." Ancam Selena sambil menunjukkan spatula ke arah Samuel.


Samuel tertawa lagi. "Aku akan berlari dan minta perlindungan dari kakak ipar dan masih ada yang bersedia memberikan hadiah natal untukku."


"Astaga, Samuel....ini anak memang gak berubah ya." Selena kembali mengancamnya dengan spatula. "Sekarang mandi sana."


"Aku masih malas kak, " Samuel bukannya langsung mandi. Ia menggeser kursi dan duduk di sana.

__ADS_1


Selena membawa hasil karyanya di meja panjang itu. Satu porsi tumisan sayur dengan campuran brokoli, potongan wortel, kentang, pabrika merah, hijau dan kuning dan juga bawang bombai. Lengkap dengan irisan daging sapi. Mengeluarkan asap yang mengepul dengan wangi bawang dan saus yang menggugah selera.


"Hmmmm, ini benar-benar wangi sekali, kak." Ucap Samuel menatap semua makanan yang tersaji di atas meja.


"Siapa dulu, chef handal gitu lho."


"Jangan terlalu memuji diri kak. Nanti jatuhnya terlalu sakit. Aku gak bisa bantuin nanti."


"Ihhhhh....kau ini. Aku juga gak butuh bantuanmu." Selena mengeluarkan d*sahan malas. Setiap perdebatan, dia memang selalu kalah.


"Bagaimana kabar Chesa kak? Kemarin aku ketemu dengannya. Kenapa dia seolah-olah tak mengenaliku ya?"


"Chesa melakukan itu?"


"Hmm." Samuel menganggukkan kepalanya.


"Memang akhir-akhir ini, kakak gak pernah menghubunginya."


"Tapi gak mungkin Chesa pura-pura lupa hanya karena kakak gak pernah menghubunginya."


"Benar juga ya," Selena mengetuk dagunya membuat gestur berpikir. "Nanti kakak akan menghubunginya."


"Hmm, itu lebih bagus kak."


"Sekarang bergegaslah. Aku tidak mau terlambat di perayaan natal ini." kata Selena memberikan gestur mengusir adiknya.


"Bagaimana ayah dan ibu?"


"Kita bertemu dengan mereka di gereja. Kita gak punya waktu. Mandilah!"


"Oke...oke..." Samuel tersenyum dan bergegas meninggalkan dapur.


"Hei...jangan lupa gak pake lama ya." teriak Selena dari arah dapur. Samuel hanya membalasnya dengan lambaian tangan.


Selena tersenyum menghela napas singkat. Ia kembali melanjutkan aktivitas masaknya.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Sayang bangun." Ucap Selena pelan dengan suara yang merdu.


Zionathan perlahan membuka matanya, ia langsung tersenyum tipis saat melihat Selena sudah berpakaian rapi dengan mini dress bermodel rok melebar hingga batas lutut, berlapis brokat berwarna merah maroon. Pakaian ini sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Di pinggangnya terdapat pita warna merah yang lebih terang. Elegan. Selena terlihat sangat manis dengan dressnya. Ia juga sudah wangi dengan tampilan segar dan rambut yang diurai begitu saja melewati bahu. Berombak cantik dan membuat rambut indahnya tampak lebih bervolume.


Selena berjongkok dihadapan Zionathan, menyejajarkan wajah dengan suami kesayangannya itu. Senyuman manis tak pernah ia pudarkan dari wajahnya.


Zionathan masih terpesona dengan wajah cantik itu. Ia belum mau beranjak untuk bangun. Zionathan suka melihat Selena di pagi hari seperti ini. Sangat segar. Turut menyegarkan matanya. Dia hanya ingin melihat Selena dan Selena lagi.


"Ayo, bangun sayang. Samuel sudah menunggu kita di ruang tamu. Bajumu sudah kuatur di ruang ganti. Aku juga sudah menelpon ayah dan ibu. Kita akan ke gereja bersama. Jangan sampai terlambat dan membuat mereka menunggu lama."


"Kau melupakan sesuatu." Mata Zionathan berubah sayu.


Selena tersenyum. "Ah..Merry Christmas suamiku, cup!" Selena dengan cepat mengecup bibir Zionathan.


"Sekarang mandilah sayang." omel Selena kembali melangkah ke arah cermin dan memperhatikan penampilannya.


"Masih ada satu jam lagi."


"Kita masih harus jemput ayah dan ibu."


"Kita bertemu di gereja saja."


"Kau tidak sopan, tidak baik seperti itu sayang." Selena berbalik dan menatap ke arah suaminya.


Zionathan melirik gerak gerik Selena dengan tatapan yang usil. Pandangannya berubah sensual. Begitu erotis. Sinar matahari yang memancar dari jendela makin menambah tatapan nakal Zionathan. Matanya naik turun di tubuh Selena.


Selena mengedip beberapa kali saat melihat tatapan suaminya yang tak lepas darinya. Tatapan suaminya itu berkilat. Selena langsung menelan salivanya.


GLEK!

__ADS_1


"Sayang? Kenapa memandangku seperti itu, apa penampilanku ada yang aneh?" Selena menatap ke arah dirinya.


"Kau istri yang paling seksi di dunia." Zionathan tersenyum tipis dan memiringkan kepalanya. Pagi ini, Ia ingin melihat istrinya mendesah dan menyebut namanya.


Wajah Selena langsung merona merah padam. "Sayang, kau ini apa-apaan?" Selena tertawa awkward sambil merapikan rambutnya yang padahal sudah rapi. "Sudah jangan menggodaku. Samuel sudah menunggu kita. Cepat bergegaslah!"


Zionathan tersenyum saat melihat istrinya salah tingkah. "Aku sudah bilang, masih ada waktu satu jam. Aku rasa Samuel juga mengerti jika harus menunggu kita sedikit lama."


"A-apa maksudmu?" Selena mengangkat alisnya makin gugup.


"Tidak mungkin kau tak mengerti maksudku." Suara Zionathan terdengar serak. Siapapun tahu itu dari gairah yang tertahan.


Selena berdehem gugup. Tatapannya jadi liar ke sana ke mari, menghindari Zionathan. Begitu melihat Selena bereaksi. Ia tersenyum manis. Zionathan melihat ke arah jam yang ada di dinding.


Glek! Selena semakin tidak tahan saat melihat maksud dari suaminya itu. Tatapan yang indah, sekaligus panas dan erotis. Selena terbakar hanya dengan satu kedipan. Ini masih terlalu pagi dan tidak mungkin melakukannya.


"Astaga, aku benar-benar gila."


"Aku sangat bergairah pagi ini." Ucap Zionathan semakin serak. Ia pun menelan salivanya dan terlihat dari jakungnya yang naik turun.


"Aku akan memberikanmu kesempatan sepuluh menit." Zionathan mengangkat alisnya. "Kita tidak akan terlambat hanya karena sepuluh menit."


GLEK!


Selena terdiam kaku. Napasnya berembus tidak stabil. Selena ingin mengumpat wajah tampan itu.


"Bagaimana sayang?" Zionathan sudah duduk ditepi ranjang.


Jantung Selena berdebar. Ia masih terdiam sambil mencengkram dress yang dipakainya.


"Waktu berjalan, aku sudah katakan akan menggunakan waktu sepuluh menit saja. Tidak lebih dan tidak kurang." Zionathan merekahkan bibirnya.


Heeeee.... Selena mengeluarkan napas terbata-bata. Kenapa ia harus begitu sangat menggoda. Suaminya ini dapat membuat wanita tahluk hanya dengan karisma.


Tanpa pikir panjang Zionathan menarik tangan istrinya begitu cepat ke arahnya dan membawa istrinya terduduk di pangkuannya. Zionathan mengancing pinggang Selena dengan erat.


"Ehhh. Sayang? Samuel ada."


"Tidak mungkin Samuel masuk ke kamar ini."


"Kenapa kau jadi nakal seperti ini?" Tak di sangka Selena pun menginginkan Zionathan.


"Kamu yang selalu membuatku menjadi pria nakal dan terus menginginkanmu. Mata dan tubuhku tidak bisa berbohong untuk mendambakan ini semua. Apalagi menyia-nyiakan kesempatan ini."


Wajah Selena kembali bersemu merah. Ia kemudian menarik tangannya dari genggaman Zionathan. Selena melihat ke arah jam. Lalu memperhitungkan waktu. "Oke, kita hanya punya waktu sepuluh menit." Tegas Selena.


Zionathan tersenyum penuh kemenangan. Selena membalasnya dengan senyuman nakal sambil membuka kancing dress atasnya.


"Dengarkan aku tuan Lucius! Waktu kita hanya ada delapan menit. Pergunakan waktu sebaik-baiknya. Kau harus sampai ke puncak kenikmatan sebelum waktu delapan menit. Kau mengerti suamiku?"


GLEK!


Zionathan terkesiap. Matanya membulat.


"Selena?"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2