Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
PERASAAN YANG BERGEJOLAK


__ADS_3

πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Kata demi kata yang di dengarnya dari rekaman percakapan mengoyak hati Selena. Begitu sakit, hingga untuk bernapas saja sangat sulit baginya.


"Uncle tahu, Selena putri kesayangan uncle sebenarnya menderita. Ia pura-pura tersenyum bahagia. Namun ternyata tawanya itu hanyalah penutup hatinya yang tengah terluka."


Tangan Selena gemetar dan terasa dingin saat memegang ponsel ayahnya. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. Pedih, sakit dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenyataan ini terlalu menyakitkan hatinya. Selena menggelengkan kepalanya. Masih mencoba mengerti.


Terdengar senyum kecil Chesa di dalam rekaman percakapan. "Aku tahu siapa Selena, dia hanya tak ingin uncle dan aunty mencemaskannya. Sejujurnya ia sangat membenci suaminya yang brengsek itu. Zionathan pernah melakukan kekerasan fisik dan membuat selena trauma. Selena sering mimpi dan menangis uncle."


DEG!


Jantung Selena berdetak kencang di dalam rongga dadanya. Ia menutup mata sejenak, menarik napasnya yang terasa sesak.


"Dan uncle tahu, pernikahan mereka hanyalah sebatas di atas kertas. Jika Zionathan sudah muak dengan Selena, Zionathan akan menceraikannya. Ia bahkan mengancam Selena agar tidak mengharapkan harta kekayaan dari Lucius. Selain itu juga, ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi Selena dan Selena harus mematuhinya. Sungguh menyakitkan. Teman kecil sekaligus lelaki yang sangat dicintai Selena, tega melakukan itu." Chesa nampak menjeda kalimatnya di sana. Ia terdiam beberapa saat.


"Uncle ingat tidak, Selena pernah kabur dari rumah? uncle tahu kenapa Selena kabur?" Chesa menangis di dalam rekaman itu.


"Karena...karena...." Chesa tak sanggup melanjutkan ucapannya. Lagi-lagi ia terdiam dan menarik napas dengan mulut yang terbuka.


"Karena Zionathan pernah melecehkan Selena di acara reunian. Ia menyekap Selena dan membawanya ke hotel. Di sana Zionathan memperlakukan Selena seperti binatang. Selena tak bisa melawan karena Zionathan mengikatnya Uncle." Chesa mengeluarkan suara terbata-bata.


Dada Selena benar-benar terbakar. Api di hatinya tersulut. Panas membara. Debaran di jantungnya semakin bertambah cepat. Rahangnya mengencang. Yang bisa dilakukannya hanya menarik napasnya yang terasa sesak. Matanya berkaca-kaca, kakinya gemetar seperti tak sanggup untuk berdiri.


"Selena pernah membenci Uncle, karena Uncle memaksanya kembali ke rumah. Hal itu membuat Selena frustasi. Dia terpaksa pulang dan memilih pisah ranjang dari Zionathan."


Mata Selena sudah mengkristal penuh dengan air mata bening yang masih terkumpul dan tidak terjatuh di pipinya.


"Uncle harus tahu dan memahami bahwa memaksakan sesuatu yang mustahil juga tak akan mendatangkan kebaikan untuk hubungan mereka. Ujungnya mereka akan menyakiti dan saling melukai perasaan. Cara terbaik Uncle harus memisahkan mereka. Selena harus mengakhiri hubungan itu. Uncle tidak mau kan, Selena semakin menderita di tangan lelaki berhati iblis seperti Zionathan?"


Heeeeeee... Selena membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali. Tiba-tiba terbayang dalam pikirannya wajah suaminya. Bagaimana chesa sahabat baiknya memfitnah suaminya.


"Apakah karena memikirkan perkataan Chesa ayah sakit dan meninggal?" Selena semakin menangis di sana. Ia membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas. Selena tak bisa membendung kesedihannya lagi.


"Haruskah dengan cara seperti ini, kau menghancurkanku Chesa?" ucap Selena dengan suara terendahnya.


Hidung dan matanya mulai memerah, menahan rasa perih yang mulai terasa di hidungnya. Selena kembali menarik cepat napasnya. Matanya berair menahan tangis, ia mendongak ke atas menahan air matanya agar tidak keluar.


"Kau menyakiti hati ayahku Chesa. Aaahhhhh ...."


Selena mondar-mandir sambil berkacak pinggang. Ia tidak sanggup untuk membendung rasa perih di dada. Ini terlalu sakit. Selena menghembuskan napasnya terbata-bata. Bibirnya bahkan gemetar, air mata yang sedari tadi di tahannya menetes di pipinya. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan.


Selena masih tak percaya. Kenyataan ini terlalu pahit. Selena menarik napasnya dengan mulut terbuka, menahan sesak yang teramat sangat. Ia tak bisa meredam segala pedih di dalam dada. Hatinya seperti dicengkeram kuat. Benar-benar terasa hampa, sepi, dan kelam. Air bening kini berjatuhan menganak sungai membasahi pipinya.


"Chesaaaaa......!!!!!!" Selena menjerit histeris.


Ia berusaha menenangkan dirinya. Menarik napas sesaat.


Saat mendengar jeritan Selena, Joanna langsung keluar dari kamarnya. Wajahnya panik dan segera berlari ke dalam kamar putrinya.


Kakinya terasa lemah, Ia terduduk di lantai dengan kaki melipat ke belakang. Ia mengeluarkan suara lirih, menyebut nama ayahnya di setiap tangisannya. Wajahnya mengerut, ia berusaha bernapas meski sesenggukan. Tubuh Selena semakin bergetar, air matanya terus mengalir ke dagunya. Ia menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Namun rasa sesak itu masih menghimpit dadanya. Menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang begitu menyesakkan. Selena tidak akan diam. Ia harus melakukan sesuatu. Mata Selena membulat nanar. Terdiam sesaat.


Dengan tangan dan jari-jari yang gemetar, Selena mencoba menelepon Chesa. Handphonenya ikut gemetar di tangan karena begitu marah. Selena langsung menekan tanda panggil. Namun tidak aktif.

__ADS_1


Selena mencoba menghubungi nomor pribadinya. Nomor ini biasanya hanya teman terdekat saja yang tahu.


Tut...tut...tut...


TIT!


Chesa mematikan nomor panggilan Selena.


"Eh.."


Selena mengembuskan napas yang gemetar karena begitu geram. Ia kembali mencoba menghubungi Chesa.


"Nomor yang ada tuju dengan tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi."


Selena kembali histeris, amarahnya kembali menguasainya saat handphone Chesa tidak aktif. Selena mencengkram rambutnya dengan frustasi.


"Aaaarrrrrgggghh..." Teriak Selena meluapkan kemarahannya.


Joanna langsung membuka kenop pintu dan terbelalak melihat Selena menunduk sambil menangis.


"Selena, kamu kenapa sayang?" Joanna kaget dan melangkah masuk.


Ketika Joanna datang isak tangis Selena semakin pecah, ia kembali menangis. Selena menutup mata dengan kedua tangannya, ia tidak menjawab pertanyaan ibunya. Yang ada ia semakin menangis tersedu-sedu dan membuat Joanna begitu terkejut dan mendekat ke Selena.


"Apa yang terjadi sayang, Jawab ibu!" Kata Joanna.


"Ibuuuu!" Selena meraung. Ia langsung menyambar ibunya dengan pelukan erat.


Bruk!


"Ibuuuu...." Panggil Selena lagi.


Joanna mengernyitkan dahinya. Hatinya langsung khawatir tidak karuan.


Selena menggeleng lemah. Ia hanya menangis dan membenamkan wajahnya di dada ibunya.


"Terus apa yang terjadi? kenapa kau tiba-tiba menangis seperti. Kau merindukan ayah?" Tanya Joanna lagi.


Selena belum sanggup menjawab. Ia memeluk ibunya semakin erat, sangat erat.


"Sayang jawab ibu, apa kau sakit hati dengan kata-kata ibu tadi?"


"Maafkan Selena ibu, maafkan Selena."


"Iya sayang. Tapi minta maaf untuk apa?" Kata Joanna mengelus rambut putrinya dengan lembut. Mencoba menenangkan Selena agar tangisannya berhenti.


"Hikkkss.... hikkkss.... hikkkss....Chesa bu." Selena mulai mengadu. Ini pertama kalinya ia terlihat kacau balau.


"Iya, kenapa dengan Chesa?"


"Chesa...dia ..dia..."


"Iya, dia kenapa?"


"Dia menghubungi ayah sebelum ayah masuk rumah sakit."


Joanna mengerutkan dahi semakin bingung. "Menghubungi ayah? Apa maksudmu sayang?"


Selena mengambil handphone ayahnya dan memberikan rekaman percakapan Chesa dengan ayahnya. Joanna menarik napas dalam-dalam. Pantas saja suaminya pernah bertanya apakah Selena bahagia dengan perjodohan ini? Joanna masih tertawa saat itu. Namun kembali suaminya menanyakan bagaimana rumah tangga putrinya yang sebenarnya. Jika tidak ada kecocokan, biarkan keluarga Lucius memulangkan Selena dengan baik-baik.


Ternyata karena percakapan ini, membuat Berto tak bisa tidur dan memilih minum-minum sendiri. Hingga membuat suaminya sakit dan mendapatkan serangan jantung lagi. Joanna menarik napasnya dalam-dalam. Kini teka-teki itu terjawab sudah. Joanna hanya diam dengan tatapan kosong.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah mendapat pencerahan dari ibunya. Selena memutuskan kembali ke apartemen dan minta maaf kepada suaminya.


Selena berdiri dan keluar dari kamarnya. Ia Setengah berlari keluar dari pintu. Samuel sampai di buat kaget melihat ekspresi dari kakaknya itu.


"Kak, mau kemana?"


Selena tak menjawab, ia hanya mengambil kunci mobil dari atas meja dan melangkah panjang melewati Samuel. Ia menatap ke arah ibunya yang berdiri tidak jauh darinya. Samuel mengerti gestur dari ibunya itu. Ia pun berucap lantang sebelum Selena meninggalkan ruangan.


"Jika kakak ingin menemui kakak ipar, dia lagi perjalanan dinas. Kakak tidak akan menemuinya di kantor atau di apartemen."


Langkah Selena langsung berhenti. Ia segera membalikkan badannya dan mendekat ke Samuel.


"Perjalanan dinas?"


Samuel mengangguk cepat. "Kakak ipar lagi di luar kota. Dia mengatakannya langsung kepadaku. Saat kakak dan Ferdinand video call, Kakak ipar juga menghubungiku saat itu. Dia ingin tahu keadaan kakak."


"Apa?" Mata Selena membulat sempurna. Ia begitu terkejut.


"Hmm. Kakak ipar begitu bahagia saat melihatmu tersenyum saat itu."


"Kamu serius?"


"Iya kak. Emang kenapa?"


"Saat itu bagaimana reaksi Zionathan?" tanya Selena dengan cepat.


"Hmm?" Samuel menunjukkan gestur berpikir. "Saat itu kamera hanya diarahkan ke kakak saja. Jadi aku tidak melihat reaksi kakak ipar."


"Kenapa kau tidak bilang ke kakak." Selena menggeram.


"Hah?" Samuel tampak bingung. "Bukannya kakak sendiri yang tidak mau bertemu dengan kakak ipar, jadi dia sengaja menghubungiku diam-diam, agar bisa melihat kakak."


Selena menyapu rambutnya ke atas. "Astaga..." Ia mengembuskan napas frustasi. "Kakak gak bisa menunggu lagi, aku harus pergi." Selena meninggalkan Samuel di sana.


"Kakak mau kemana?" Samuel mengikutinya.


Tidak ada sahutan dari Selena, ia hanya terus berjalan menuju mobil yang dibelikan Zionathan kepadanya. Selena langsung membanting pintu dan duduk di bagian kemudi. Samuel mengerjap kaget.


"Kakak mau kemana, kakak ipar gak ada di apartemen?!" Kata Samuel mengingatkan Selena.


Selena tetap diam dan memutar mobilnya dengan cepat sampai pedal gasnya diinjak terburu-buru dan menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal. Ia meninggalkan Samuel yang nampak frustasi sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


DALAM PERJALANAN.


Selena memasang earphone wireless ke telinganya untuk menghubungi Alex, tapi tidak diangkat. Dia tidak mungkin menghubungi suaminya. Biarkan ini menjadi kejutan. Tak ingin menunggu lama, akhirnya Selena menghubungi wakil direktur Lucius.


Setelah mendapatkan alamat yang akan ditujunya. Selena memacu mobilnya menuju daerah dimana suaminya berada. Walau perjalanan jauh dan butuh waktu tiga jam ke sana. Selena tak perduli. Ia hanya ingin bertemu dengan suaminya.


Jantung Selena terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul.


Ia terus membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Hai...hai... Senin datang lagi. Jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih banyak 😊☺️


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2