
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
SATU JAM SEBELUMNYA.
Kerena Selena belum keluar juga, akhirnya Zionathan memutuskan naik lagi ke atas menemui Selena. Langkahnya melambat saat mendengar suara tawa Selena yang begitu nyaring di sana. Tanpa sadar Zionathan tersenyum saat melihat ekspresi bahagia dari Selena. Sisi dari Selena yang tak pernah dilihat Zionathan sebelumnya.
"Maafkan aku tidak mengenalimu Selena, aku tidak menyangka cintamu sebesar ini kepada Nathan kecil. Walau hatiku hanya menganggap Selena kecil adalah seperti adikku sendiri." Zionathan bersembunyi di balik dinding ruangan.
Zionathan melangkah lagi dan berniat untuk mengajak Selena pulang. Namun langkah terhenti saat mendengar pembicaraan mereka.
"Ferdi, sudahlah...aku tahu banyak rahasia tentang dirimu. Apa mau aku bongkar lagi, hmm? Soal malam valentine mungkin?" Ancam Selena sambil tertawa di sana.
"Ferdi? Bukankah nama itu yang disebut Selena tadi?"
"Rahasia apa Selena, kok aku gak tahu sih?" Chesa ikut heboh.
"Saat itu kamu menangis dan merengek padaku, ayooo, ayoooo..." Selena sengaja menangguhkan kalimatnya.
"Cukup, jangan bahas itu lagi. Jika kamu terus membahas itu, aku tidak akan pulang natal nanti. Lihat saja!" terdengar nada protes dari Ferdinand di layar handphone Selena.
"Siapa Ferdi? dia mau pulang? apakah mereka selama ini LDR?" Batin Zionathan. Hatinya terusik saat mendengar itu. Zionathan tidak tenang.
Selena tertawa lagi, bahkan tawa itu membuat Zionathan semakin terpesona. Getaran-getaran aneh itu kembali tercipta dari dalam dadanya. Getaran ini yang membuatnya tidak nyaman dan semakin ingin melihat Selena. Zionathan semakin menyukai senyuman itu. Selena terlihat ikut terbawa suasana dalam pembicaraan melalui video call. Ia tertawa menutup mulutnya sambil menengadah ke atas.
"Apakah aku menyukainya, kenapa semua terlihat berbeda jika hanya melihatnya tersenyum saja?" Batin Zionathan berbicara pada dirinya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, mendongak ke atas menatap langit-langit ruangan sambil menyentuh dadanya.
Zionathan kembali melihat Selena. Pantulan cahaya lampu membuat kecantikan Selena terlihat jelas. Ia menatapnya semakin dalam dan tidak menyadari ia tersenyum karena menikmati tawa itu.
"Aku rasa aku jatuh cinta!"
"Aku rasa aku menyukaimu." Wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Zionathan menarik napasnya lagi.
Tak ingin membuat Selena marah. Akhirnya Zionathan meninggalkan ruangan itu. Ia membiarkan Selena menyelesaikan pekerjaannya.
"Pak, anda kembali? Dimana sekertaris Selena?" tanya Simon celingukan mencari sosok Selena.
"Dia masih menyelesaikan pekerjaannya. Nanti jika Selena sudah turun. Tolong antar pulang ke apartemen diamond. Kau bisa pakai mobil kantor."
"Baik pak,"
"Ingat! Pastikan dia pulang dengan selamat." Ucap Zionathan dengan penuh perintah.
"Siap pak!" Simon menjawabnya dengan lugas sambil mengangkat tangannya memberi menghormat tanda siap menerima perintah.
Zionathan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor Lucius. Tapi hati Zio tidak tenang. Ia kembali memutar mobilnya dan memilih menunggu Selena di luar pagar dan jauh dari kantor Lucius. Ia hanya ingin memastikan Selena pulang dalam keadaan selamat.
Tiga puluh menit berlalu.
Zionathan mulai bosan. Ia mulai ngantuk. Mana tadi malam ia tidak bisa tidur dan ditambah, tadi pagi Zionathan langsung meninjau lokasi proyek membuatnya kelelahan. Zionathan masih berusaha menahan kantuknya, mencoba memasang musik dari mobilnya. Tapi tidak membantu juga.
Lima menit kemudian kepala Zio terjatuh dan ia tertidur di sana. Suara panggilan dari handphone Zionathan membangunkannya. Zionathan mengerjap.
"Astaga, aku tertidur."
Dengan cepat Zionathan memeriksa handphonenya, ternyata panggilan itu dari Alex.
"Apa Selena sudah pulang?" Batin Zionathan. Ia mencoba menghubungi Simon.
"Hallo pak," Jawab Simon mulai ketakutan.
__ADS_1
"Apa Selena sudah pulang?" tanya Zionathan to the point.
"Ibu Selena tidak mau diantar pulang pak."
"Apa???? jadi dia ada dimana?"
"Aku sudah berusaha membujuknya pak, namun beliau menolak dan memilih menggunakan taksi."
"Bagaimana kau bisa seceroboh ini." teriak Zionathan memaki lelaki itu. Rahangnya mengencang menahan amarah.
"Maaf pak,"
"Dasar bodoh." umpat Zionathan memutuskan penggilan telepon.
Zionathan mencoba menghubungi Selena. Tapi tidak diangkat. Zionathan mencobanya lagi. Hasilnya masih tetap sama.
"Shiiittt!"
Zionathan memukul setir mobilnya dengan frustasi. Ia menarik napasnya, pancaran matanya jelas-jelas menunjukkan kekesalan. Zionathan membawa mobilnya membelah keheningan malam. Gerimis masih setia menemani malam ini. Saat memasuki apartemen diamond, mata Zionathan memicing menatap lurus. Ia mengerem mendadak, sampai mobilnya meninggalkan suara decitan ban diaspal. Ia membuka pintu mobilnya dengan terburu-buru dan menemukan tas dan barang belanjaan Selena.
DEG!
Jantung Zionathan langsung terpukul kuat. Ia mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok Selena.
"Selena!" Teriak Zionathan.
"Selenaaaa....." Lagi panggil Zionathan.
Tak ingin menunggu lama, Zionathan langsung berlari masuk ke arah apartemen untuk memeriksa cctv. Zionathan dapat melihat jelas seorang lelaki mengejar Selena.
Zionathan berlari keluar menuju mobilnya setelah melihat video cctv ke mana arah Selena berlari. Ia memutar mobilnya dengan cepat membelah keheningan malam. Wajahnya benar-benar panik.
Whhhhuuzzz....
Dahi Zionathan mengerut, napasnya terlihat naik turun. Jantungnya terpicu cepat dan gugup, tangannya sampai gemetar memegang setir mobil.
Keheningan malam semakin mencekam, gerimis tak juga berhenti. Zionathan membuang napas frustasi dari mulut, ia nampak kebingungan. Kemana ia harus mencari Selena. Jika ia melapor kepada polisi laporannya masih terlalu cepat.
"Tapi siapa lelaki itu? kenapa Selena seperti mengenalnya?"
Karena hujan jalanan terlihat sepi, membuat kendaraan tidak banyak melintas. Zionathan mengurangi kecepatan mobilnya. Ia menginjak pedal rem ketika melihat lampu merah sedang menyala. Wajah Zionathan menegang, saat melihat Selena keluar dari jalan kecil berlari sekuat tenaga dan diikuti seorang lelaki yang sedang mengejar Selena.
"Selena?"
Ahhhh...Ia tidak bisa turun. Zionathan mencengkeram setir mobil saat lampu merah belum berubah ke hijau. Dan yang paling membuat kesal, Zionathan harus memutar mobilnya sejauh mungkin. Wajah Zionathan diselimuti rasa takut.
Setelah lampu berubah hijau, Zionathan menginjak pedal gas, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar tidak kehilangan jejak Selena. Jantungnya kembali terpukul lebih kencang. Zionathan sudah memutar mobilnya dan sudah kejalur yang semestinya. Zionathan mengurangi kecepatan mobilnya. Ia mengedarkan pandangannya. Namun ia tidak menemukan sosok Selena lagi.
"Shiiittt...Kemana mereka?" umpat Zionathan menggeram.
Zionathan mulai ketakutan. Ia memarkir mobilnya dan memilih turun untuk mencari Selena.
Tiba-tiba Zionathan mendengar derap langkah kaki begitu cepat berlari. Ia melihat bayangan lelaki berlari menuju jalan kecil. Tak ingin menunggu, Zionathan pun ikut berlari mengikuti lelaki itu. Gang sempit yang becek menjadi saksi bisu kejar-kejaran antara mereka. Bunyi picrat-picrat air yang menggenang menjadi irama adu cepat kejar-kejaran bersamaan dengan napas letihnya. Zionathan tak perduli. Baginya nyawa Selena lebih penting.
Langkah Zionathan melambat, ia bingung mereka berlari ke arah mana. Antara kiri atau kanan? Namun Zionathan lebih mengikuti kata hatinya. Ia berlari ke sebelah kanan. Zionathan yakin mereka lari ke arah ini. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara minta tolong.
"Selena?"
Zionathan berlari mencari sumber suara. Teriakan itu semakin terdengar membuat Zionathan semakin panik dan takut.
"SELENA....!! "
DISISI LAIN
"Tolonggggg...!!!" Selena berteriak dengan lebih kencang. Kali ini suaranya terdengar parau dan gemetar.
"Nathan...." Selena meraungkan nama itu dengan kuat. Ia hanya bisa menangis. Ia mundur ke belakang dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Kenapa kau harus berlari seperti sayang? Lihat wajahmu berantakan."
"Hentikan Jack, aku mohon!" pinta Selena menangis sesenggukan.
Jack terkekeh. "Apa yang mau dihentikan, kita memulai saja belum."
"Seharusnya kau sadar, apa yang telah kau lakukan terhadap Chesa. Kau merusak mentalnya. Karena perbuatanmu, ia masih harus terapi sampai saat ini."
"Aku tidak mau membahas itu sayang. Sekarang hanya kita. Aku dan kamu." Ucap Jack tersenyum menyeringai.
"Jangan gila, aku sudah menikah."
"Menikah? tidak mungkin. Aku tidak bodoh Selena. Sudahlah, aku tidak mau kasar kepadamu. Kau hanya ikut denganku. Kita akan nikmati surga indah yang membuatmu terlena."
"Sudah hentikan!"
"Tidak, aku tidak mau berhenti sebelum menikmati tubuhmu itu." Tatapan Jack berubah sayu. Ia mendekat dan berjalan ke arah Selena.
Selena menangis dan menggelengkan kepalanya. Ia mencoba mengambil sela untuk melarikan diri. Tanpa pikir panjang Selena berlari.
Namun pergerakan Selena sudah lebih dulu tercium oleh Jack. Pria itu menendang kaki Selena hingga membuatnya terjatuh.
"Aaarggghh..." Selena kesakitan.
Jack tersenyum sinis. Dengan cepat ia langsung menindih Selena dari atas dengan tangan membekap dari belakang. Selena masih mencoba melawan. Namun ke dua tangannya di pegang dan di kunci belakang punggungnya.
"Aaaaahhhhhhhh!" Selena meraung.
"Ayo, teriaklah, tidak ada seorangpun yang akan membantumu. Harusnya kau dengan ikhlas menyerahkan tubuhmu ini! " Kata Jack dengan geram, rahangnya mengeras penuh kemarahan.
Langkah Zionathan pelan ketika sudah menemukan Selena. Jack belum menyadari kedatangan Zionathan. Dengan langkah cepat datang dari belakang, Ia mengumpulkan tenaga dan keberanian. Tanpa ragu Zionathan langsung menendang pria itu dengan keras dari belakang. Membuat pria itu terkejut dan tersungkur ke depan.
"Brengsek!" Zionathan menahan amarah saat melihat Selena kesakitan.
Jack bangun dan mencoba melakukan perlawanan. Namun sebelum itu terjadi, Zionathan sudah lebih melangkah cepat, dengan kekuatan penuh ia menendang keras pada bagian pipi dengan arah menyamping, membuat lelaki itu kembali tersungkur untuk kedua kali. Selena sangat terkejut saat melihat Zionathan ada di depannya.
"Selena, menjauh dari sini." titah Zionathan. Dengan cepat Selena menganggukkan kepalanya. Ia mengusap air matanya yang tergelincir membasahi pipi.
Zionathan kemudian mundur dan menatap pria itu dengan tajam. Ia membiarkan Jack mengumpulkan tenaganya. Zionathan tetap jaga jarak dan tetap dengan posisi siaga satu. Jack berusaha bangkit untuk melakukan perlawanan, namun Zionathan sudah bersiap dengan trik baru untuk menghabisi lelaki itu. Pria itu meringis kesakitan sambil memegang pipinya. Ia bangkit dan menatap pria muda itu dengan dengan geram.
" Siapa kau? "
"Aku? Aku adalah suaminya." Kata Zionathan dengan tegas tanpa tekanan. "Polisi akan datang, bersiaplah membusuk di penjara."
"AAARGGHH....Dasar brengsek!" Jack geram dan mendekati Zionathan untuk memukulnya. Namun dengan cepat Zionathan menendang bagian perut dan membuat Jack terjatuh dan memuntahkan darah.
"AHHHHHHH." lelaki itu meringis kesakitan.
Zionathan mendekati lelaki itu, ia menekuk kakinya bertumpu pada satu kaki. Zionathan mencengkram dagu Jack dengan kuat dan tersenyum jahat.
"Kau hanya berani kepada perempuan saja!" sinis Zionathan melepaskan cengkramannya.
Tak beberapa lama polisi datang untuk mengamankan Jack. Pihak polisi juga meminta keterangan kepada Selena, agar kasus ini cepat dinaikkan. Mereka membawa Jack meninggalkan tempat itu. Yang tersisa hanyalah mereka berdua.
"Kau tidak apa apa? " Kata Zionathan menatap Selena yang terus menangis. Selena hanya mengangguk pelan.
"Sekarang kamu aman! Jangan takut!" Kata Zionathan tersenyum memeluk istrinya itu. Sepersekian detik mata Selena membulat penuh saat menyadari Zionathan memeluknya.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^.