Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
AKU WANITA KUAT.


__ADS_3

đź’Ś Setidaknya Lihat Aku Suamiku đź’Ś


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Hingga tanpa sadar Selena tertidur masih menggunakan gaun pengantinnya. Rasanya hari ini sangat lelah. Mungkin dengan tidur, ia bisa mengembalikan kebugaran tubuhnya. baru saja Selena tertidur. Butiran keringat meluncur deras membasahi keningnya. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan.


“Kamu bisa menyelamatkanku.” Kepala Selena menggeleng, seakan membebaskannya dari mimpi buruk itu.


“Sungguh, aku tidak bohong, kau bisa menyelematkan aku dari masa laluku. Tolong aku!”


Selena nampak gelisah, napasnya tidak beraturan. Bibirnya bergerak namun tidak bisa mengeluarkan suara. Hembusan napasnya semakin terdengar tidak beraturan.


"Selamatkan aku, bantu aku keluar dari masa laluku. Aku mohon!"


Ehhhh....." Selena mengerang, tangannya berkedut.


"Kamu Selena kan....ya benar kamu Selena."


"Ahhhh..." Selena mulai mengigau. Suaranya terdengar lirih dan pelan.


"Tolong aku Selena... Aku tidak mau terpuruk...Aku ingin bebas!"


Mata Selena masih terpejam, keringat dingin semakin menjadi, bulir-bulirnya menyebar di sekitar dahi. Kening selena ikut mengerut.


"Aahhhhh." Napas selena semakin terdengar tidak stabil. Begitu cepat dan memburu. Suaranya terdengar begitu lirih. Bola matanya bergerak cepat ke sana kemari dengan mata yang masih terpejam.


Dan.... Tidakkkkkkkk....!!!


Selena berteriak keras….


Matanya tiba-tiba terbuka. Selena terbangun dengan mendadak setengah terloncat. Keringat membasahi kening. Membebaskan diri dari mimpi buruk itu. Mimpi ini benar-benar membuat jantungnya berdebar. Terasa nyata. Selena menatap ke arah dirinya.


"Astagaa...Aku masih menggunakan gaun ini? akhir-akhir ini aku mimpi buruk." Ucap Selena mengeluarkan napas terbata-bata. Ia menghapus peluh keringat yang membasahi keningnya.


"Mimpi itu?"


Mata Selena memicing. Berusaha mengingat. Bulu kuduknya langsung berdiri.


"Suara itu? aku pernah mendengar suara itu? tapi dimana? Dia begitu jelas mengatakan minta tolong kepadaku." Ucap Selena samar-samar mengembalikan ingatannya.


Perlahan-lahan. Ingatan itu semakin jelas. Selena shock, matanya membulat sempurna dan reflek menutup mulutnya.


"Bukankah mimpi itu?"


Jantung Selena deg-degan. "Suara itu lah yang pernah minta tolong padaku saat kejadian kecelakaan lima tahun yang lalu."


Mata Selena mendelik. "Kok bisa mimpi itu datang lagi?" Selena menggeleng tidak percaya.


Bulu-bulu halus yang ada di permukaan kulitnya berdiri tanpa di minta. Tubuhnya gemetar ketakutan. Untuk menelan salivanya saja ia gugup.


"Siapa pria itu?" Ucap Selena menatap kosong ke arah lantai kamar hotel.


Selena mengusap tengkuknya. Keringat semakin membasahi keningnya, walau AC di ruangan ini posisi hidup. Mimpi itu membuat jantungnya berdebar. Mimpi itu benar-benar nyata.


"Oh ya Tuhan..." Selena menutup telinganya. Suara itu semakin jelas terngiang di telinganya. Selena masih takut dengan mimpi itu. Tiba-tiba ia mendengar suara. Suara itu awalnya sayup-sayup, semakin terasa dekat, dekat dan lebih dekat. Selena mengerjap. Jantungnya kembali terpukul keras.


"Ha? siapa itu? Apa dia hantu?" Ia melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Selena menjatuhkan kakinya di lantai. Ia mengendap-endap dan bersembunyi di balik dinding.

__ADS_1


"Kau akan tertangkap basah, dasar hantu s*alan." Selena menggeram. "Kamu pikir aku takut, tidak aku tidak takut dengan hantu." Ucap Selena percaya diri.


Takut jika si hantu melihatnya, Selena bersembunyi lagi. Kamar ini seluas ruangan rumahnya. Tiba-tiba Selena tersenyum membayangkan keadaan rumahnya.


"Uuuhhhhh...aku rindu rumah."


"Hehehehe...baru hitungan jam kau uda merindukan rumahmu? Dasar ya.." Selena terkekeh sendiri sambil melangkah pelan.


Dengan gerakannya yang lambat ia sesekali mengintip. Selena Ingin mengetahui apa yang dilakukan si hantu itu. Apakah dia hantu yang datang ke mimpiku?


Selena menepuk-nepuk pipinya. "Jangan takut Selena, tenang...tenangkan dirimu...hantu tidak bisa membunuhmu." Selena berucap untuk memberi semangat pada dirinya.


Pintu balkon terbuka. Gordennya melambai-lambai membuat bulu kuduknya semakin bergidik. Langkahnya mulai pelan dan Selena terkesiap saat pintu kamar mandi terbuka. Dengan cepat Selena membalikkan tubuhnya dan ingin kabur. Namun sebelum ia berhasil sembunyi. Langkahnya terhenti saat mendengar suara bariton yang tak asing di telinganya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang memintamu masuk ke kamarku? Harusnya kau menunggu di ruang depan?"


"Ha?" Posisi Selena masih membelakangi Zionathan. Suaranya seperti tertelan. Bibirnya terkatup rapat. Kedua matanya membulat sempurna saat mengetahui ternyata dia bukan hantu, melainkan suaminya sendiri. "Aduh aku terlalu naif masuk ke kamar ini." Rutuk Selena.


"Apa kau berusaha ingin menggodaku, jangan harap aku akan tergoda. Dimana Elfrad? Apa dia mau di pecat? Menjengkelkan!" Zionathan menggeram kesal.


Selena menutup matanya rapat-rapat. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak dari posisinya.


Zio berdecak sambil menaikkan sudut bibirnya. "Kau selalu diam seperti orang bodoh. Apa itu kebiasaanmu? Aku sudah katakan tidak mau mengulangi ucapanku. Ingat! Ini peringatan terakhir untukmu."


Selena menarik napasnya dalam-dalam, ia menjepit bibirnya lalu memutar badannya agar menghadap ke arah pria arogan itu.


"Eh!" Selena terkejut saat membalikkan badannya. Zionathan sudah berdiri di ujung pintu dengan telanjang dada sambil menggunakan handuk.


DEG ..DEG...DEG...


Seketika Jantung Selena bergemuruh di rongga dadanya. Rambut Zionathan masih basah dan jatuh menjuntai secara acak. Sebagian menutup dahi dan pelipisnya. Wajahnya terlihat sangat segar. Matanya nampak berbinar. Posisi berdirinya sangat sempurna, seperti artis Bollywood yang pernah ditontonnya. Posisinya sangat santai dengan sebelah tangan yang ditekuk sambil memegang pinggang.


GLEK!


Lagi-lagi ia menelan salivanya berulang kali. Ia lupa bahwa lelaki yang berdiri di depannya adalah pria yang tidak punya hati. Selena terhipnotis dengan pria sejuta pesona ini. Ia tertegun melihat Zionathan. Rasa lelahnya hilang saat disuguhkan pemandangan sejuk itu. Iya! Sejuk sekali. Seperti berada di pegunungan. Pemandangan yang menyegarkan matanya. Namun membakar di dalam dadanya. Rahang tegas, bahunya yang lebar, punggungnya terlihat kekar dan sempurna dengan lekukan-lekukan otot dadanya yang bidang dan otot perutnya yang terlihat basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum mau lepas.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Zio tak suka.


Selena mengedip pelan dan tidak merespon.


"Ingat! Jangan pernah mengharapkan apa-apa dariku, pernikahan ini hanya sebatas di atas kertas saja." Ucap Zio dengan sinis.


Selena mengerjap, Ia masih bergeming tidak bergerak dari posisinya. Ia bahkan meremas gaun yang dikenakannya.


Zionathan memiringkan kepalanya, ia berjalan pelan mendekat ke arah Selena. Kini menghunuskan tatapan tajam kepadanya, seolah Selena adalah pencuri yang sedang tertangkap basah. Alis Zio menukik tajam, matanya berubah Devil saat melihat ekspresi Selena yang termangu di hadapannya.


"Apa kau tidak bisa bicara?" Zionathan menyentil kepala Selena.


"Heuh?" Selena kembali mengerjap. Ia berusaha mengembalikan pikirannya.


Zionathan tersenyum jahat, Ia semakin mendekat dan berhenti tepat di depan Selena. "Kenapa kau masih menggunakan gaun ini? Apa kau berharap aku ingin membukakannya, hmmm? Jangan pernah bermimpi." Desis Zio nyaris berbisik.


Deg!


Jantungnya kembali berdetak, kali ini bergemuruh lebih cepat. Suara itu begitu mirip dengan lelaki yang ada di mimpinya.


"Eh..." Selena mundur dan nyalinya seketika ciut. "Siapa dia? apa dia makhluk jadi-jadian?"


"Dari caramu memandangku, aku yakin kau menginginkan tubuhku. Bukankah begitu?"


Selena menatap ke arah Zio, berusaha menyadarkan dirinya. "Aku harap mimpi itu hanya bunga-bunga tidur. Bagaimana lelaki sialan ini, masuk ke dalam mimpiku." Rutuk Selena.


"Bagaimana bisa aku bertemu dengan wanita bodoh seperti ini." Zionathan menatap kesal.

__ADS_1


Selena menatap nanar. Ia tidak tahan dengan penghinaan suaminya. Wanita bodoh? Selena begitu membenci kata itu. Baru hitungan jam, dia mengucapkan sumpah dihadapan Tuhan. Berani-beraninya dia merendahkanku? Emosi Selena naik sampai ke ubun-ubun. Ia menatap tajam ke arah Zionathan.


"Bagaimana bisa anda mengatakan itu tanpa beban. Saya juga tidak berharap itu. Apalagi tidur bersama. Anda jangan bermimpi pak."


Sudut bibir Zio melengkung ke atas. "Baguslah," saya tidak ingin membuang waktuku. Sekarang, persiapkan pakaianku."


Dahi Selena mengerut. "Kenapa aku harus mempersiapkan pakaianmu?" Protes Selena.


"Bukankah kau sudah mempelajari surat perjanjian itu? kenapa balik bertanya lagi?"


"Ha? saya tidak ada membaca poin tertulis seperti itu pak."


"Kamu yakin?" Sorot mata Zio benar-benar menampakkan kemarahannya. Ia kesal jika setiap ucapannya dibantah.


"Ya saya yakin? Jadi jangan harap saya mau menyiapkan pakaian anda." Ucap Selena berani membantah selagi dia benar.


"Kau tidak bertanggung jawab sebagai seorang istri."


Selena memutar bola matanya, ia merasa jengah dengan sikap lelaki ini. "Bukankah pernikahan kita hanya sebatas di atas kertas pak? Anda tidak bisa menuntut banyak kepadaku. Jadi persiapkan sendiri. Jangan menjadi lelaki manja." Sambil berlalu dari hadapan Zio.


Tapi Zionathan tidak mau diam, ia begitu marah saat Selena tidak menghargainya. Zionathan menarik tangannya dengan kasar.


"Apa katamu?"


"Lepaskan aku," Selena menampik tangan Zio.


"Kau mau pergi kemana?!"


"Aku mau mencari kamar lain. Jadi jangan menghalangiku."


"Apa? Berani-beraninya kau membantahku?" bentak Zio.


"Ya, kenapa? Aku tidak sudi satu kamar denganmu."


Emosi Zionathan tersulut. Ia harus memberi pelajaran pada wanita keras kepala seperti Selena. Zionathan dengan cepat menarik tangan Selena dan melempar tubuhnya ke atas kasur. Tubuh Selena terhempas dan berayun telentang.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Selena dengan histeris.


"Selangkah kau meninggalkan kamar ini, aku pastikan kau tidak bisa melihat orang tuamu lagi. Ingat itu!" Kata Zio meninggalkan Selena yang terdiam dengan posisi telentang di atas kasur.


"Apa?" Napas Selena tersengal karena menahan emosi.


"Itu pelajaran untukmu. Aku bisa lakukan lebih dari itu!" Zionathan dengan kasar membuka kopernya.


"Kau sudah gila! Kau lelaki tak punya hati!" suara Selena naik satu oktaf. Hatinya sakit. Rasanya ingin menangis. Tapi Selena berusaha menahannya.


"Terserah! Sekarang, cepat ganti pakaianmu. Aku tidak ingin melihatmu menggunakan gaun jelek itu." Ucap Zionathan dari kamar mandi. Ia terpaksa memakai pakaiannya di sana.


Selena menarik napasnya dalam-dalam. Ia masih shock. Napasnya naik turun begitu cepat. Seumur hidup, ia tidak pernah diperlakukan orang tuanya seperti ini. Apalagi bersikap kasar sampai mendorongnya.


"Dasar lelaki tidak punya hati, mati saja kau brengsek...!" umpat Selena dalam hati.


Selena kembali menguatkan hatinya, ia tidak mau menangis di depan suaminya. "Aku tidak lemah, aku wanita kuat, Aku wanita tangguh." Batin Selena menguatkan.


"KITA LIHAT SIAPA YANG AKAN BERTAHAN."


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2