
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Zionathan begitu shock saat Selena menamparnya. Ia menyentuh bagian pipinya, rasa panas bekas tamparan yang menjalar di pipinya menyisakan rasa sakit yang teramat sangat. Telinganya sampai berdengung dan pandangannya juga berkunang- kunang.
"Berani kau menamparku,"
"Aku sangat memben..."
Belum lagi Selena selesai melanjutkan kalimatnya dengan gerakan yang tiba-tiba, Zionathan mendorong tubuh Selena dan menghimpit tubuh gadis mungil itu. Entah dorongan apa, Zionathan menariknya agar mendekat dan kedua tangannya dicengkram kuat. Hingga Selena tidak bisa melakukan perlawanan dan KISS...
Mata Selena membelalak. Sedetik kemudian ia tersadar bahwa bibir mereka telah bersentuhan. Zionathan dengan cepat Mlumat kasar bibir Selena.
"Mmmmpppp" Reflek Selena menjepit bibirnya, dan berusaha menghindari ciuman Zionathan. Ia menggeleng ke kiri dan kanan. Berusaha menjauhkan diri dari suaminya itu.
Namun Zionathan tetap berusaha mendapatkan bibir Selena. "Aku harus menghukummu. Berani sekali kau menamparku." Mata Zio berkabut, tatapannya memerah menahan amarah.
"Mmmmpppp...." Selena menjepit bibirnya rapat-rapat.
Tangannya dipegang kuat oleh Zio dan menempelkannya ke dinding. Selena semakin kesulitan melepaskan diri. Air matanya menetes dari pelupuk matanya ciuman menjijikkan dan sama sekali tidak diinginkannya. Walau Zionathan adalah suaminya. Tapi ini pemaksaan, Selena tidak bisa terima diperlakukan seperti ini.
Zionathan Masih berusaha menarik bibir Selena dengan paksa. Dengan susah payah Selena mencoba melawan. Zionathan menciumnya dengan sangat kasar agar bisa mendapatkan bibir Selena. Ia menggigitnya. Reflek Selena mengaduh kesakitan. Zionathan membuka sedikit mulutnya dan mlumat dengan kasar. Ia mengambil semua bibir Selena, menariknya tanpa ampun. Zionathan bahkan berani memainkan lingualnya, mengecapnya dan mengeksplor mulut Selena.
Selena semakin berlinang air mata. Ia semakin tidak terima. Membuatnya semakin sesak dan tidak bisa bernapas. Ia seperti orang bodoh saat ini. Namun sepersekian detik Selena mengembalikan pikirannya. Dengan kekuatan penuh ia mendorong tubuh Zionathan hingga bibir mereka terlepas.
"Kau brengsek," teriak Selena mengusap cepat bibirnya. Air matanya berlinang membasahi pipinya.
"Itu hukumanmu sudah berani menamparku. Jika kau menginginkan lebih dari itu, aku bisa merusakmu. Camkan itu!" Zionathan memberikan peringatan. Bahkan setiap perkataannya tak bisa dibantah.
Kaki Selena bergetar, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. "Bunuh saja aku! Agar kau tak menyiksaku seperti ini." Tangis Selena semakin pecah dengan dipenuhi emosi.
Zionathan dengan cepat membalikkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Ia tidak ingin melihat Selena. "Apa yang telah aku lakukan? Aku sudah benar-benar gila." Zionathan mencengkram erat tangannya.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Lakukan saja tugasmu sebagai seorang istri." nada suara di dalam kalimat Zionathan begitu kental bahkan sampai mengoyak hati Selena saat ini.
"Bagaimana denganmu, apa kau pernah menjalankan tugasmu sebagai seorang suami? Setidaknya kau melihat aku sebagai istrimu."
"Kau tidak berhak mengatur apa yang harus aku lakukan." Zionathan hanya melirik sekilas ke arah Selena lalu melangkah menuju ranjang rumah sakit.
"Apa?" Emosi Selena kembali meledak. Namun Zio malah tidur dan posisinya memunggungi Selena. Menganggap Selena tidak ada di sana.
Hati selena sakit, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Selena terduduk lemas, menatap lurus. Ia tidak menyangka nasibnya akan seperti ini. Tubuhnya bergetar menahan sesak di dada. Air bening yang sedari tadi mengkristal kembali terjatuh lagi.
"AAAAHHHHHH...." Selena tak bisa menahan. Ia menjerit di sana. "Kau jahatttttttt." Mulutnya terbuka. Selena benar-benar menangis tersedu-sedu. Raungannya begitu lirih. Tangannya memutih pucat dan gemetar.
Zionathan kembali memejamkan matanya. Entah mengapa saat mendengar tangisan wanita itu. Ada rasa bersalah. Kenapa ia bertindak sebodoh itu. Perasaan Zio campur aduk tidak karuan. Ia mengepalkan tangannya, menyadari semuanya, bahwa ia telah menyakiti perasaan Selena.
__ADS_1
Selena hanya bisa menutup mulutnya dan menangis lagi. Saat dirinya terluka dan sakit tak bisa lagi dilampiaskan dengan amarah. Ia hanya memegang dadanya yang begitu sesak. Pedih, sakit dan kecewa. Itulah yang dirasakannya saat ini.
Selena menunduk dan hanya terus menangis dengan sesenggukan. Napasnya sungguh tidak beraturan. Bahu Selena terus naik turun dan gemetar.
Zionathan diam di posisinya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dengan membiarkan Selena menangis, bisa mengurangi rasa bersalahnya. Namun tangisan Selena tak juga reda. Hingga Zio bangun dan melihat ke arah Selena. Akhirnya Zio memilih mengalah. Ini adalah benar-benar kesalahannya.
Zionathan melangkah mendekat ke arah nakas dan mengambil air hangat untuk Selena.
"Minumlah dulu," Kata Zio dengan wajah kaku.
Selena masih diam dan terus menangis. Ia bahkan tidak memandang Zionathan.
"Ambilah..." Kata Zio melembut.
Selena melemparkan tatapan tajamnya ke arah Zionathan. Napasnya bahkan berembus tidak stabil.
Zio menarik napasnya saat melihat ke arah bibir Selena yang bengkak karena ulahnya. "Aku tidak ingin berdebat. Kau harus minum, Lihat! wajahmu pucat."
Namun tiba-tiba, Selena menampik tangan Zionathan dan....
"Praaangggg!!!"
Gelagar suara gelas pecah, terlempar dari tangan Zionathan. Ia sangat terkejut. Keheningan tiba-tiba mencekam. Bukan suaranya yang kelihatan begitu menakutkan, akan tetapi ada getaran-geraran samar yang mengelayut di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menyesakkan. Zionathan hanya diam, matanya mengarah ke bawah dan melihat gelas pecah yang berantakan. Selena tersenyum sinis dan matanya beralih menatap Zio dengan tajam.
"Kau tidak perlu melakukan itu!" Kata Selena dengan cepat mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya. Ia segera bangun menuju kursi sofa untuk merebahkan tubuhnya.
Selena menarik napasnya yang terbata-bata. Matanya kembali berkaca-kaca, hidungnya perih, dadanya sesak. Hingga tidak dapat bernapas dengan baik. Ia menutup mulutnya dengan ke dua tangannya agar pria brengsek itu tidak mendengar suara tangisannya.
Hening menyeruak di antara mereka, membuat suasana semakin mencekam. Zionathan hanya bisa diam terpaku di sana.
⭐⭐⭐⭐⭐
Beberapa hari di kota London, akhirnya mereka kembali ke kota A. Semenjak kejadian itu, Selena tidak bicara apa-apa lagi. Dia hanya memilih diam. Ekspresinya kaku bahkan tak tertebak. Zionathan merasakan perubahan itu dan membuat Selena tampak berbeda.
Pesawat yang ditumpangi Zionathan dan Selena mendarat mulus di bandara internasional di kota A. Walau tadi ada sedikit kendala karena pengaruh cuaca. Gumpalan awan ini bisa menjulang cukup tinggi di angkasa yang isinya petir membuat penumpang di pesawat panik. Pilot sudah melakukan persiapan jika sesuatu terjadi dalam menghadapi penerbangan dan bisa dikendalikan. Sehingga pilot dapat mengatasinya dan penerbangan mereka sampai dengan selamat.
Mereka langsung keluar dari pintu kedatangan dan di sambut oleh Alex.
"Selamat sore pak, Selamat sore sekretaris Selena." Sapa Alex dengan sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Hmm, Selamat malam Alex." Zionathan balik menyapa dengan senyuman tipis. Sementara Selena hanya tersenyum samar sambil menganggukkan kepalanya.
"Saya ingin menyetir sendiri." kata Zio datar.
"Heuh?" Alex mengerutkan dahinya sambil menatap Selena.
"Kau tidak dengar?"
"Baik pak." Jawab Alex cepat sambil menyerahkan kunci kepada pak direktur.
Selena memelas sambil memalingkan wajahnya. Setelah Alex memasukkan barang-barang bawaan mereka. Ia langsung pulang menggunakan taksi. Ia langsung kembali ke rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya, setelah beberapa pekan mengurus perusahaan Lucius.
Saat melihat kepergian Alex, Selena langsung membuka pintu belakang dan duduk di sana. Zionathan mengangkat setengah alisnya, ia mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Selena. Ia langsung membuka pintu bagian belakang. Tangannya masih berpegang di pintu, ia membungkukkan badannya dan menatap Selena dengan dingin.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu duduk di belakang? " tukas Zio dengan wajah datar.
"Aku tidak mau duduk di depan. Jadi biarkan aku duduk di sini." kata Selena tetap bergeming menatap lurus ke depan.
"Apa kau pikir aku supirmu?" sinis Zionathan sambil menukik alisnya.
"Aku hanya tidak nyaman duduk di sampingmu."
"Dengan Alex kau cepat sekali duduk di depan. Apa karena aku tidak membukakan pintu untukmu?" Kata Zionathan menatap ke arah Selena.
"Kapan juga dia melihat aku duduk dengan Alex." Umpat Selena.
"Aku tidak sedang bercanda Selena. Jadilah istri yang penurut!" ucap Zionathan tegas, matanya menyorot semakin tajam.
Selena tidak menggubris. Ia bahkan tetap duduk di bagian belakang.
"Aku bilang duduk di depan Selena!"
Selena memalingkan wajahnya sambil menarik napasnya dengan kesal. Dia juga tidak mau berdebat dengan lelaki ini. Energi semakin terbuang sia-sia. Nanti yang dia dapatkan hanya rasa marah dan parahnya ia tidak bisa melampiaskannya. Selena langsung keluar dari mobil dan duduk di bagian depan.
Zionathan tersenyum samar. Ia berdehem dan kembali bersikap datar. Zionathan lalu masuk dan duduk di bagian kemudi mobil. Sementara Selena memilih menatap ke arah luar sambil meremas tangannya.
Zionathan menarik napas panjang. Ia memberanikan diri untuk mendekat ke arah Selena.
"Heh." Selena terkejut saat melihat pergerakan Zio yang mendekat ke arahnya. Ia diam membeku dan mematung di posisinya. Tubuhnya seketika terasa kaku tak dapat bergerak.
"Jangan macam-macam? Aku akan membunuhmu." ancam Selena dengan kerutan dahi. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
Zionathan tidak menjawab, Ia semakin mendekat ke arah Selena.
"Apa yang kau lakukan?" Jantung Selena seakan berhenti karena kedekatan ini. Ia mencoba menahan emosinya. Ia tidak mau mati cepat hanya karena lelaki ini. Selena mengangkat tangannya tepat di depan wajahnya. Cara untuk melindungi diri.
Zionathan kembali ke tingkat kesadarannya, ia tidak mau membuat wanita ini semakin membencinya. Dengan cepat Zionathan menarik Seat belt dan memasang ke tubuh Selena
"Kita tidak bisa berjalan sebelum kau memasang ini!" ucap Zio pelan.
"Kau bisa mengatakannya dan tidak perlu melakukannya." Ucap Selena dingin tanpa ekspresi. Ia langsung membuang wajahnya dan menatap ke arah jalanan. Selena mendengkus sebagai tindakan akhir dari aksi panik dan kesal sekaligus marahnya.
Zionathan kembali duduk bersandar, Ia tersenyum sendiri. Ia pun memutar kunci di dalam kontak dan menghidupkan mesin mobilnya. Ia memasukkan persneling, lalu mulai menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya.
Hening menyeruak di antara keduanya, tidak ada yang bersuara. Mereka memandangi jalan dalam kebisuan. Zionathan menghidupkan audio mobilnya untuk memecahkan keheningan mereka. Sementara Selena larut dalam pikirannya sendiri. Tatapannya kalut, seperti memikirkan sesuatu dan hanya terdiam sepanjang jalan. Yang dilakukannya hanyalah mendesah panjang sambil menatap keluar.
Mereka tiba di depan apartemen mewah milik Zionathan. Zionathan segera menghentikan mobil dan memarkirnya dengan baik. Selena keluar lebih dulu, tanpa menunggu Zionathan. Ia bahkan tidak membantu suaminya untuk membawa tas mereka. Zionathan hanya menghela napas panjang. Getaran dari handphonenya kembali terdengar lagi. Ia tahu panggilan itu dari ayahnya. Dengan cepat Zionathan langsung mengangkatnya.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^