
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Sehabis makan malam, Zionathan dan Selena tidak langsung pulang. Mereka berjalan-jalan ke taman beriringan dan sejajar, sambil menyusuri jalan. Suara kendaraan seakan saling bersahutan. Angin malam berhembus membelai wajah dan rambut Selena yang menjuntai indah. Selena tersenyum dan diam-diam memerhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kau menyukainya?" tanya Zionathan saat melihat Selena menatap sekilas cincin yang ada di jarinya.
Selena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang ada di jarinya. "Mata berliannya cantik."
Zionathan mengangkat setengah alisnya sambil tersenyum samar. "Hmm, berlian biru ini sangat langka, para kolektor dan pecinta berlian menciptakan permintaan yang kuat untuk berlian jenis ini."
"Benarkah?" Selena tersenyum antusias, melihat kembali cincin indah yang menghiasi jari manisnya.
"Aku mendapatkan ini langsung dari tambang Cullinan di Afrika Selatan, berlian ini dikategorikan sebagai salah satu berlian paling indah di Bumi." jelas Zionathan lagi.
Mata Selena berbinar bahagia sampai mulutnya terbuka. "Wah luar biasa?"
"Hmm, ini spesial aku persiapkan untuk istriku tercinta. Apapun aku lakukan untukmu."
Mendengar itu Selena tersenyum malu. Ia menatap ke arah Zionathan yang tersenyum begitu manisnya. Kepalanya sedikit tertunduk sambil melihat ke arah kakinya.
"Melihatmu tersenyum seperti ini, setidaknya bisa mengurangi rasa bersalahku kepadamu." Tatapan Zionathan begitu sayu dan sendu.
Dan tiba-tiba....
Zionathan menarik tengkuk Selena dan mencium lama dibagian kening Selena. Selena merasa malu, tapi sekaligus bahagia. Sungguh Selena tenggelam dengan tatapan itu. Ia menjepit kecil bibirnya dan mengerutkan dahinya menahan haru. Hatinya kembali menghangat. Dengan lembut ia memegang tangan suaminya itu. Tak bicara hanya terus berjalan menikmati indahnya malam.
Mereka berjalan ke arah taman kota dengan jalan melingkar. Pepohonan di sana dihiasi lampu-lampu kecil. Sangat indah. Mereka berjalan beriringan dengan langkah-langkah santai. Zionathan tersenyum lagi sambil memegang puncak kepala Selena. Ia merangkul bahu Selena rapat-rapat, menempel dan berbagi kehangatan dalam dekapan tubuh yang kekar.
Selena menunduk dan tersenyum. Ia pun memberanikan diri untuk balas merangkul pinggang Zionathan. Zionathan sedikit terkejut dan reflek menatap Selena. Selena hanya tersenyum dan menatap lurus ke depan. Banyak muda-mudi yang duduk di taman ini. Berlalu lalang sambil bergandengan tangan dengan pasangannya. Ada juga mereka yang duduk di taman sambil memegang minum di tangannya.
"Pak direktur?" Selena menatap kesamping dan melihat ke arah Zionathan yang sedari tadi diam.
"Lagi?" protes Zionathan. Ia melihat ke arah Selena.
"Heuh?" Selena menatap bingung. "Maksudnya pak?"
Zionathan berdecak kecil dan menghentikan langkahnya lagi. Ia menatap Selena dengan tatapan protes dan tidak terima. "Aku akan menciummu di sini, jika kau mengatakan itu lagi."
Selena terdiam dengan pipi merona. Kaku, bingung, bahagia, malu, entah apa. Semua rasa itu campur aduk. Tapi yang jadi pertanyaannya, apa kesalahannya?
__ADS_1
"Istriku, aku sudah bilang, jangan panggil pak jika hanya kita berdua saja. Panggil suami bisa, nama juga tidak apa-apa."
Selena tersadar. "Maaf, aku lupa..." Selena langsung menundukkan kepalanya.
"Untuk kali ini tidak apa-apa. Besok, aku tidak ingin kau memanggilku dengan sebutan itu lagi. Aku akan menciummu. Aku bahkan tidak perduli jika itu di kantor atau tempat keramaian." Zionathan mencondongkan tubuhnya dan mengacak singkat rambut Selena.
Selena tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia terus berjalan pelan dan meninggalkan Zionathan yang masih tetap diam di tempatnya. Menyadari hal itu, Selena membalikkan badannya.
Zionathan sendiri menatap Selena dengan senyuman tipis. Jarak mereka kini menyisakan sepuluh meter. Disaksikan bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas langit. Zionathan berteriak dan kedua tangannya membentuk corong di depan mulutnya agar suaranya jelas di dengar Selena.
"Istriku. Aku mencintaimu." Zionathan tidak perduli jika pengendara mobil memperhatikannya.
Selena terkejut, matanya membulat sempurna saat orang-orang memandang ke arah mereka. "Astaga apa yang dia lakukan, kenapa dia harus berteriak di sini." Batin Selena sambil terus menatap Zionathan.
"Tetaplah di sisiku apapun terjadi. Kamu adalah tujuanku sekarang. Aku tidak perduli dengan yang lainnya." Kata Zionathan dengan lantang. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, hmmm." Lanjut Zionathan lagi.
Selena sesaat menunduk, perasannya campur aduk saat ini. Terharu, bahagia, semuanya menjadi satu. Ia menatap Zionathan dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca menahan penuh haru.
Zionathan tersenyum, senyumannya penuh arti. Ia membuka kedua tangannya agar Selena datang kepadanya.
Napas Selena tersendat. Selena memajukan langkahnya mendekat ke arah Zionathan yang menunggunya. Langkahnya terus mendekat dan....
BRUKKKKKK
Selena menyambar tubuh Zionathan. Wajahnya mengerut. Pelupuk matanya tidak kuat menahan air matanya yang terjatuh. Selena hanya diam sambil memeluk pinggang Zionathan dengan erat. Ia membenamkan seluruh wajahnya ke dada Zionathan.
Zionathan lalu mengeluarkan handphonenya, dan mengarahkan kamera selfi. Ia mengangkat handphonenya mengarahkan ke mereka.
"Istriku...." Panggil Zionathan.
Selena langsung mengangkat wajahnya dan tiba-tiba....
"Cekrek!"
Zionathan mengambil beberapa foto mereka dan Selena langsung tersenyum saat itu juga. Zionathan kembali mendekap tubuh mungil dengan erat. Ia menyandarkan pipinya dengan nyaman di puncak kepala Selena. Bintang-bintang yang berkelap-kelip seakan menjadi saksi mereka yang saling mencinta. Hati mereka telah menyatu tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan mereka.
⭐⭐⭐⭐⭐
Mereka masih menikmati waktu bersama sebagai sepasang suami-istri yang sedang dimabuk cinta. Zionathan menelusupkan tangannya ke tangan Selena dan menggenggamnya dengan erat. Sepanjang jalan mereka melempar senyum bahagia.
Tiba-tiba dahi Selena mengerut. Di taman ada lengkap permainan anak-anak. Mengingatkannya pada masa kecil dulu. Dengan cepat Selena menarik lengan Zionathan.
"Kau ingat tempat bermain kita?"
"Heuh? tempat bermain?" Zionathan mengerjap dan menatap ke arah Selena.
"Kita sering di ajak ayah ke taman pada waktu hari libur. Kamu masih ingat?" Selena berucap antusias.
__ADS_1
Zionathan memicing dan mengedarkan pandangannya.
"Cih...pasti kamu lupa. Pantas saja kamu melupakan Selena kecil." Bibirnya mengerucut ke depan.
Zionathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum saat melihat Selena berlari memasuki taman bermain yang ada di tengah kota. Selena mengambil duduk di tempat ayunan.
"Bagaimana kau sudah mengingatnya?" tanyanya lagi.
"Hmm, ayah Berto sering mengajak kita ke sini saat ayah dan ibu perjalanan dinas keluar kota. Jika kita tidak ada kegiatan sekolah, kita pasti diajak bermain di sini." Ucap Zionathan mulai mengingat memori kenangan masa kecilnya.
"Akhirnya kamu ingat juga. Sini duduk di sampingku!" kata Selena tersenyum. Zionathan menurut, ia duduk tepat di samping Selena.
"Kau selalu tahu apa yang aku inginkan. Kau selalu bertanggung jawab jika ayah dan ibuku tidak ada. Baik itu soal aku makan, soal tugas di sekolah juga." Selena tersenyum, sambil bergerak mengayunkan tubuhnya.
"Kenangan masa kecil, Selena mengingatkannya dengan baik. Apa kau begitu menyukaiku Selena? Maafkan aku tidak pernah menyadari itu. Saat itu aku hanya menganggapmu seperti adikku sendiri." ucap Zionathan dalam hati. Ia hanya duduk diam tanpa mengayunkan tubuhnya.
Selena memperlambat kecepatan ayunannya. Ia menatap Zionathan lagi. "Kau pernah marah saat teman satu kelas mengejekku."
Zionathan hanya diam tak memberi komentar. Ia hanya terus menatap Selena. Dan berucap dalam hati. "Ternyata benar, di balik semua yang terjadi denganku, ada rencana Tuhan lebih indah yang telah di sediakan Tuhan."
Selena melangkah ke tempat kursi panjang. Zionathan pun ikut duduk di samping Selena. Suhu udara mulai dingin, mereka tidak perduli jika masih mengenakan pakaian kantor. Zionathan langsung merangkul bahu istrinya. Memberikan kehangatan dalam pelukannya.
"Aku saat bersyukur, Kau adalah wanita yang telah disediakan Tuhan untukku. Wanita yang aku cintai sampai di sisa hidupku. Aku akan menjaga cinta ini dengan baik." Kata Zionathan merubah posisi duduknya menghadap ke arah Selena.
Mereka saling menatap dengan penuh cinta, penuh kagum, dan juga sayang. Selena menjatuhkan kepalanya dan bersandar di bahu Zionathan dengan nyaman. Jari-jari tangannya membuka lalu mencengkeram erat tangan Selena. Sementara Zionathan tersenyum merapatkan pelipisnya di puncak kepala Selena. Ia melapisi tangan Selena yang menggenggamnya, mengusapnya dengan pelan dan lembut. Zionathan kemudian melepaskan genggaman tangannya dan membuka rangkulannya. Zionathan menarik bahu Selena dan masuk ke dalam dekapan yang hangat.
Seketika hati Selena menghangat dan tenang. Tapi jika mengingat kejadian itu. Ia masih takut melakukannya. Selena masih sangat trauma. Mereka larut dalam pikirannya. Ia hanya memeluk erat tubuh Zionathan. Begitu juga dengan Zionathan, ia membalasnya dengan pelukan erat sambil memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian. Zionathan melepaskan pelukannya. Menatap sendu ke arah Selena.
"Jangan pernah meragukan cintaku Selena. Kau harus tetap percaya itu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Hmm.."
Selena mengangguk pelan. Zionathan langsung memajukan wajahnya. Mengecup bibir ranum yang manis itu. Kecupannya pelan dan sangat ringan. Lmatannya lembut dan tidak menyakiti. Ia memperlakukan Selena seperti porselen yang gampang pecah. Zionathan menciumnya begitu lembut, menekan bibirnya agar bisa meraih semua bibir Selena.
Ia menarik wajahnya lagi dan mencium bibir Selena semakin dalam. Mata mereka saling terpejam, merasakan kelembutan satu sama lain. Selena kini membalasnya, walau masih terasa kaku dan lambat. Namun Zionathan menyukainya. Akhirnya Selena membalas ciumannya. Mereka terhanyut dan saling memasukkan jari-jarinya di antara rambut Zionathan dan begitu juga sebaliknya. Bibir mereka saling bertautan dengan saling membelai dengan tempo yang sama, lambat tapi menghanyutkan.
Zionathan ingin membuatnya benar-benar merasakan cintanya yang tulus. Membuat Selena agar tetap tenang dan lebih damai. Kecupan dengan napas memburu akhirnya berakhir. Zionathan melepaskan tautan bibirnya. Mata mereka perlahan-lahan terbuka. Ia tersenyum tipis sambil melihat ke arah Selena. Zionathan kembali mendekap tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya. Selena kembali memejamkan matanya. Berharap malam ini jangan cepat berlalu.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^