Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KEPANIKAN ZIONATHAN.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


DUA MINGGU TELAH BERLALU.


Selena melakukan tugasnya sebagai mana biasanya. Pak direktur sudah memberikannya tugas layaknya sebagaimana seorang sekretaris. Itu pun tidak langsung melalui Selena. Pak direktur memberikan tugas melalui asistennya. Semenjak kejadian itu, Selena hanya diizinkan masuk ke ruangan pak direktur, saat menyerahkan dokumen dan menyiapkan kopi saja. Sikap pak direktur yang kaku dan dingin itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Selena menarik napas dalam-dalam. Ia tidak mau ambil pusing dan berkecil hati, setidaknya ia bisa menghabiskan waktunya sebelum masa trainingnya habis. Ia tahu, kontrak kerjanya tidak akan diperpanjang lagi.


Sehari-hari, pekerjaan Selena adalah bertanggung jawab atas segala hal yang diperlukan untuk memudahkan pak direktur dalam melakukan pekerjaannya. Membuat daily scheduling, mengurus surat dan dokumen masuk dan keluar, menghadiri dan membuat catatan rapat, menerima tamu, menyiapkan perjalanan bisnis. Di sini selena di minta untuk teliti. Ia juga diminta harus mempunyai insiatif sendiri, tanpa harus menunggu perintah dari pak Alex.


Di luar pekerjaannya, pak Alex juga mempercayakan kepadanya untuk mengelola anggaran operasional divisi dan membuat laporan harian produksi. Selena semakin hari mencintai pekerjaannya.


Hari yang cukup panjang akhirnya berlalu. Pekerjaan yang benar-benar menumpuk hari ini akhirnya selesai juga. Selena tersenyum sambil merenggangkan otot-ototnya. Ia sedikit memijit bagian tengkuk belakangnya. Mengurangi rasa ngantuk, setelah menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan pak Alex untuknya.


"Hoamm...." Selena menutup mulutnya, ketika rasa kantuk itu datang lagi.


"Astaga ngantuk sekali." Selena memijit pelipisnya. Ia menatap jam yang ada di tangannya. Sudah pukul 15.19 wib. Satu jam lagi waktu jam pulang kantor. Selena bingung harus melakukan apa sekarang. Harusnya pak Alex memberikan tugas sampai jam pulang kerja. Selena mengembuskan napas lesu sambil menatap ke arah luar. Cuaca di luar terlihat gelap yang mulai turun bersama gerimis.


Untuk menghilangkan rasa kantuknya, Selena memilih membuatkan teh untuknya. Ia berjalan keluar dari kantor menuju pantry. Ia kembali membawa teh dan meletakkannya di atas meja. Matanya kemudian menatap pintu ruangan pak direktur. Ia tersenyum nakal sambil mengusap dagunya menggunakan jari telunjuknya. Lagi ia membayangkan Lelaki arogan dan misterius itu.


"Sedang apa pak direktur itu di dalam ya? apa sedang memikirkan kekasihnya? Atau sedang berkonsentrasi di depan laptopnya?" Mata Selena memicing menatap ke arah pintu sambil memegang dagu.


Selena tersenyum khayal. "Wajah seriusnya mengingatkan aku pada seseorang."


"Oh my God apa yang aku pikirkan?"


Sepersekian detik, Selena mengembalikan pikirannya. "Astaga....Bagaimana bisa aku memikirkannya? kamu benar-benar sudah gila Selena." Ia mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya.


Selena bangun dari duduknya membawa cangkir teh hangat buatannya sendiri. Ia berdiri di depan dinding kaca yang menyajikan langsung pemandangan kota. Gerimis turun di luar sana. Selena memandang lewat dinding kaca transparan yang membatasinya dengan dunia luar kantornya. Air hujan mendarat mulus tanpa hambatan di halaman kantor yang cukup jauh jaraknya darinya. Ia berada di ketinggian gedung itu. Selena tersenyum menatap awan putih di atas langit.


Ia menyeruput secangkir teh hangat sambil bergumam. "Hemmm..." nikmat saat teh itu masuk ke tenggorokannya. Teh hangat dapat memberikan sensasi tenang dan merilekskan tubuhnya. Ia tersenyum sambil memejamkan matanya.


SEMENTARA DARI RUANGAN KERJA ZIO.


Zionathan terlihat sangat sibuk dengan berkas-berkasnya. Laptop dan tabletnya terbuka stand bye, menyuguhkan data-data yang harus dipelajarinya. Memprediksi potensi-potensi yang bisa diraihnya. Melihat dan mengevaluasi kinerja para pemimpin cabang. Banyak hal yang harus dikerjakan. Terutama perusahaan anak cabang sepertinya sengaja menyerangnya dengan data hari ini.


Matanya memicing dan berkonsentrasi pada dokumen yang dipegangnya. Ia bahkan terlalu tegang untuk memindahkan perhatiannya dari pekerjaan itu. Pekerjaan yang benar-benar menumpuk hari ini. Zionathan bahkan hanya menjeda untuk merenggangkan otot-ototnya lalu mengejar pekerjaan yang bisa diselesaikannya hari ini.


Perhatian Zio teralihkan saat mendengar handphonenya berdering di atas meja.


Dddrrrttt dddrrrttt....


Zionathan menatap sekilas layar pipih itu, tanpa harus melihat siapa yang memanggilnya.


"Hallo," Ucap Zio menyapa. Sebelah tangannya memegang tablet dan terus bermain di sana. Sementara kepalanya dimiringkan untuk menahan handphone di telinganya.


Terdengar isak tangis dari ibunya. Seketika dahi Zio mengerut dan perasannya menjadi tidak enak.


"Ada apa bu, Kenapa ibu menangis?" Alis Zio melengkung.

__ADS_1


"Ayahmu sayang..."


"Kenapa dengan ayah?" Kejar Zionathan.


"Ayahmu.. sekarang di rumah sakit."


"Apa?????" Zionathan terjengkit dari duduknya


"Ayahmu tiba-tiba terkena serangan jantung." Kata Davina terisak.


DEG


Jantung Zio terpukul kencang. Telinganya seakan berdengung dan ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dadanya seketika sesak. Bahkan sulit untuk bernapas.


"Jadi sekarang, kau datang kesini ya nak! Ibu sangat takut sayang. Ibu takut terjadi sesuatu kepada ayahmu." Davina terus menangis di sana.


Tubuh Zionathan gemetar. Ia berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas sesaat. Telinganya seakan berdengung. Kabar ini bagai tamparan keras untuknya. Zionathan Terdiam sesaat. Dadanya sesak seketika. Sulit bahkan untuk menarik napas pun ia tidak mampu.


"Sayang..." Davina menangis lagi.


"Tenanglah bu, ayah pasti sehat. Aku pastikan itu. Jadi ibu tidak boleh takut. Ayah akan baik-baik saja." Zionathan berusaha menenangkan ibunya. Walau ia sendiri pun sangat takut kehilangan orang yang disayanginya itu. "Aku langsung ke sana."


"Baiklah, ibu tunggu sayang." Ucap Davina dengan suara bergetar.


Zionathan langsung mematikan teleponnya dan melangkah panjang keluar dari ruangannya.


Saat lamunan Selena jauh berkelana sambil menatap gerimis yang turun semakin deras. Tiba-tiba pintu ruangan pak direktur di buka dengan kasar.


BRAKKK!


Selena tersentak kaget saat pak direktur berlari keluar dari ruangannya dengan berlari. Alex pun keluar dari ruangannya.


"Ya pak, apa yang terjadi?" tanya Selena ikut panik.


"Tuan Lucius masuk rumah sakit. Kamu bereskan sisa pekerjaan pak direktur. Jika semuanya selesai, kamu bisa pulang." ucap Alex ikut panik.


"Baik pak," Selena mengangguk cepat. Alex langsung mengejar pak direktur. Dia tahu pak direktur akan menggunakan mobil sendiri, setidaknya Alex langsung menyusul ikut ke rumah sakit.


Zionathan terus berlari sekuat tenaga menyusuri koridor kantor. Jasnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya. Bahkan sepatunya terdengar menggema di sepanjang koridor.


Setiba di parkiran Zio langsung masuk ke dalam mobilnya. Zionathan memutar mobilnya dengan cepat sampai pedal gasnya diinjak terburu-buru hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal. Zionathan menancapkan mobilnya meninggalkan kantor Lucius.


"Kenapa ayah tiba-tiba mendapat serangan jantung. Apa karena perkataanku itu?" Lirih Zio dengan mata berkaca-kaca. Dalam hati ia terus berdoa, berharap tidak terjadi sesuatu kepada ayahnya.


Jantung Zio terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul.


Ia terus membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.


Zionathan berusaha untuk tetap tenang.


"Maafkan aku ayah. Aku tidak bermaksud melakukan itu." Ucap Zio dengan napas tertahan di dada. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan.


Kejadian beberapa hari yang lalu, membuat hubungan Zio dan Alberto tidak baik. Zionathan memejamkan matanya sesaat. Ia mengingat bagaimana kemarahan Alberto hingga sampai memecahkan foto Olivia. Zio menarik napasnya dalam-dalam. Ia terus menancap gas mobilnya,


Akhirnya Zionathan tiba di rumah sakit, tempat biasa ayahnya kontrol.


Zionathan memarkir mobilnya dengan asal. Dengan cepat ia mematikan mesin mobil. Ia berlari tergesa-gesa memasuki ke lobi. Ia terus berlari menyusuri koridor rumah sakit. Tadi ibunya menghubunginya. Ayahnya sekarang dipindahkan ke ruangan operasi cath lab, suatu tindakan prosedur diagnostik invasif yang berfungsi untuk mendeteksi penyempitan atau sumbatan pembuluh darah pada jantung.

__ADS_1


Zionathan mengerutkan keningnya, ketika melihat ibunya dan asisten rumah tangga saling berpelukan. Jantung Zio langsung terpukul kencang. Ia berjalan sedikit berlari menghampiri ibunya yang masih menangis.


"Ibu?" Panggil Zio dengan suara gemetar.


Davina langsung memalingkan kepalanya begitu mendengar suara Zionathan.


"Sayang?" Davina kembali berderai air mata, bahunya gemetar dan terus menangis. Ia berjalan cepat ke arah Zionathan. Ia membuka tangannya dan memeluk erat tubuh Zionathan.


Zionathant langsung membalas pelukan ibunya. "Semuanya akan baik-baik saja bu, jangan menangis lagi, hmmm.." Ia mengelus punggung ibunya dengan lembut dan memegang ke dua lengan Davina. Ia melihat mata ibunya memerah karena terus menangis.


"Ibu sangat takut sayang."


"Apa kata dokter?"


"Dokter sedang berusaha melakukan pertolongan di ruang operasi cath lab. Tadi dokter menjelaskan, tindakan ini dilakukan agar bisa melakukan pengobatan yang sesuai dengan ayahmu. Sehingga dokter dapat merekomendasikan tindak lanjut pengobatan yang mana tergantung dari hasil angiografinya nak."


Zionathan membuang napas lega, yang terpenting ayahnya sudah mendapatkan pertolongan pertama dulu.


"Sebaiknya kita duduk dulu bu," Zionathan menuntun ibunya duduk ke kursi panjang yang ada di sana. Ia memeluk ibunya dari samping. Membiarkan ibunya menyandar dilengannya.


"Jangan menangis lagi bu. Ayah akan baik-baik saja." Kata Zio mengusap tangan ibunya dengan lembut.


"Ayahmu tidak pernah sakit sayang. Jadi ibu sangat takut." kata Davina dengan suara parau.


"Hmmm, aku tahu ibu. Ayah orang kuat dan aku yakin dia bisa melawannya."


"Tadi siang saat makan siang bersama, dia masih baik-baik saja. Ia bahkan memiliki harapan ingin melihatmu menikah cepat."


DEG!


Zionathan menutup mata dan menahan napasnya sejenak. Ia hanya diam menatap lurus di depan.


Davina masih nampak gelisah, pikirannya kalut dan rasa khawatir. Matanya terus memandang kosong. Sesekali matanya melihat ke arah pintu. Berharap seseorang keluar dari sana membawakan kabar untuknya. Sementara Zionathan tertunduk dengan siku yang berpangku di atas paha. Rasanya waktu ini berputar begitu lama. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Dan terus mengembuskan napas panjang.


Tak selang beberapa lama. Dua orang perawat keluar dari ruangan operasi cath lab. Para petugas keluar dari sana. Davina dan Zio bangun dari duduknya dan melihat ayahnya di dorong dengan hospital bad.


"Bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Davina dengan mata penuh harap. Ia melihat ke arah suaminya yang tertidur di hospital bad.


"Kita sudah melakukan pertolongan pertama. Keadaan beliau sudah lebih baik. Nanti dokter sendiri yang akan menjelaskan kepada anda nyonya." Kata salah satu perawat.


"Ah, syukurlah.." Ucap Zionathan bernapas lega. Mereka berdua saling menatap bahagia.


"Pasien akan kami pindahkan rawat inap. Biarkan dia beristirahat dulu." Kata perawat kembali mendorong pasien.


"Tuan Zionathan?" Panggil dokter keluar dari ruangan operasi cath lab.


Zionathan berbalik melihat dokter yang sangat dikenalinya. "Biar aku yang bicara dengan dokternya bu, ibu bisa temani ayah." Kata Zio tersenyum hangat kepada ibunya.


Davina mengangguk lemah. Ia membiarkan Zionathan pergi menemui dokter sementara Ia mengikuti sang perawat menuju ruang rawat inap untuk melakukan tindakan selanjutnya.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2