Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MENJAGA PERNIKAHAN INI.


__ADS_3

💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Satu bulan kemudian.


Di kota ini mempunyai tradisi saat menjelang perayaan Natal. Ada pertunjukan dekorasi dan lampu yang super indah. Bukan cuma lampu-lampu kecil warna-warni, pohon natal, dan kapas yang ditaruh di sana-sini. Di setiap rumah akan di dekorasi penuh dengan hiasan yang cantik-cantik, mulai dari patung Sinterklas setinggi 10 meter, robot rusa kutub, sampai permainan cahaya lampu.


Setiap perayaan natal, Davina pasti menyiapkan menu handalannya. Belum lagi hidangan saat perayaan natal wajib menyiapkan hidangan khas Roadted daging sapi yang diberi bumbu rempah dan ukuran yang sangat besar.


Davina juga menyiapkan kue kering saat natal. Adonan kue kering ini dibuat dengan krim asam atau krim keju. Selena sampai mengagumi kue kering ini berbentuk seperti lipatan. Di dalamnya berisi selai aprikot atau rasberi.


Ya hari ini Selena berada di kediaman Lucius. Ia mendapatkan cuti dari suaminya selama beberapa hari ini untuk mempersiapkan itu semua. Mereka tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu.


"Kamu tau Selena, kue ini paling disukai Zionathan. Jika sudah melihat kue ini, dia tidak akan berhenti makan." ucap Davina membuka pembicaraan ketika mereka sibuk membuatkan kue.


Selena hanya tersenyum menatap wajah teduh dari wanita paruh bayah itu.


Davina menghentikan aktivitas memasukkan kue ke dalam oven. Ia berdiri menghadap Selena dan tersenyum tipis sambil mengambil tangan Selena dan memberikan tepukan lembut di punggung tangannya.


"Terima kasih sudah menjadi menantu Lucius yang kuat. Kau adalah wanita hebat yang sabar menghadapi sikap Zionathan." Kata Davina tersenyum teduh. "Dan Ibu sangat bersyukur akhirnya Zionathan benar-benar membuka hatinya untuk melupakan masa lalunya."


Selena menarik napas dan ikut tersenyum di sana. Ia tidak menjawab atau pun memberi komentar. Wajah Selena seketika merekah. Tatapan berbinar dan bersemangat saat mendapatkan pujian dari ibu mertuanya.


"Selama beberapa bulan ini, ayah mertuamu putus asa melihat Zionathan tak juga menunjukkan perubahan untuk menerima pernikahan ini."


"Heuh?" Selena mengangkat wajahnya menatap ibu mertuanya. Dahinya mengerut seakan meminta jawaban lebih dari itu. "Maksud ibu?"


Davina mengembuskan napasnya. Dari wajahnya ia seperti berusaha bersikap tenang. Ia memandang ke arah tangan Selena yang masih dipegangnya. "Selama ini ayahmu tahu bagaimana sikap Zionathan kepadamu."


Raut wajah bahagia seketika menghilang dari wajah cantik itu. Ia menunduk sejenak, lalu kembali menatap ibu mertuanya dengan alis mengerut. "Apa ayah tahu masalah di London juga?"


"Hmm." Davina menganggukkan kepalanya, menatap Selena dengan wajah penuh wibawa. "Aku tahu kau bingung dengan apa yang terjadi, dan kau bertanya-tanya dengan sikap Zionathan padamu saat itu. Tapi aku bersyukur ternyata Alex sudah mengatakan semuanya. Maaf ibu sayang, Selama ini ayah mertuamu mengirimkan spy untuk mengikuti kalian berdua."


"Hah?" Mata Selena membulat penuh dengan mulut terbuka. Itu artinya ayah Alberto tahu soal kejadian malam itu. Selena menarik napas dalam-dalam lewat mulut yang sedikit terbuka. "Apa ayah juga tahu soal acara reunian itu?"


Mendengar pertanyaan Selena, alis Davina terangkat dan matanya mengedip pelan memandang Selena. "Soal acara reunian? apa Zionathan menghadiri acara reunian?" Tanya Davina dengan wajah serius. Ia bahkan mengunci tatapannya seakan tidak ingin melewatkan satu kata pun. Davina sangat butuh penjelasan. Itu artinya Zionathan sudah benar-benar berubah. Davina menelan salivanya dengan gugup.


"Iya bu. Dia menghadiri acara reunian teman sekolahnya."


"Kamu serius sayang?"


"Iya bu. Apa ada yang salah?"


Davina menggelengkan kepala. Ia tersenyum bahagia "Tidak ada yang salah sayang. Ibu hanya terlalu bahagia. Zionathan akhirnya bisa mengubur masa lalunya. Ia juga mau bertemu dengan teman-temannya." Kata Davina tersenyum. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih lagi.


"Ibu sudah sangat putus asa menghadapi sikap keras kepala Zionathan. Ibu terkadang tidak mengerti dengan jalan pikirannya." Bibir Davina gemetar. Napasnya tertahan. Matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Selena dengan cepat memeluk ibu mertuanya dari belakang, Ia membenamkan wajahnya dipunggung wanita itu.


"Aku akan menjaga pernikahan ini bu." Kata Selena lembut. "Ibu tahu, pernikahan itu bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur. Selalu berubah dan makin indah setiap hari. Doakan saja semoga rumah tangga kami juga akan indah setiap harinya." Kata Selena dengan nada lembut.


"Ibu pasti doakan untuk kebahagiaan kalian sayang."


"Terima kasih ibu, sudah menerima Selena apa adanya. Aku tidak tahu dengan cara apa membalas kebaikan kalian." Kata Selena dengan nada terendahnya.


Davina membalikkan tubuhnya dan menatap ke wajah Selena dan kembali mengambil tangan Selena dan masih membelai tangan itu dengan lembut. "Cukup kamu tersenyum dan selalu bahagia, itu sudah membuat ibu senang sayang."


"Aku akan selalu bahagia ibu, pasti itu." ucap Selena tersenyum.


"Aku rasa kita bisa melanjutkan tugas kita ini." kata Davina ikut tersenyum. Selena hanya menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman ibu Hana.


Mereka kembali sibuk. Sementara Zionathan hanya bersembunyi dibalik dinding dapur dan mendengar semua pembicaraan mereka. Ia tersenyum dan melihat ke arah istrinya lagi.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah selesai makan malam, Selena membersihkan meja dan langsung mencuci piring. Sementara Zionathan membawa botol anggur gelasnya ke arah ruangan keluarga dengan sofa yang berbentuk L. Ia duduk bersandar di sana.


"Temani aku minum," ucap Zionathan saat melihat istrinya datang dari arah dapur.


"Minum?" Selena berucap canggung.


"Hmmm." Zionathan tersenyum melihat ekspresi wajah Selena.


Lagi-lagi Selena tertegun saat melihat senyum itu. Ia menggigit bibirnya bawahnya dan melangkah pelan menuju sofa.


"Duduklah di sampingku!"


GLEK!


Zionathan menyalakan lilin aroma terapi dengan wangi lavender di atas meja. Menimbulkan suasana romantis di sana. Zionathan menyerahkan gelas anggur untuk Selena.


"Aku tidak minum." Selena menolak.


Zionathan tersenyum, "Minumlah sedikit saja tidak apa-apa." Kata Zionathan menuangkan anggur merah itu dari botol dan memberikan langsung ke tangan Selena.


Mau tidak mau akhirnya Selena mengambil gelas itu. "Kau tidak minum?"


"Nanti saja, waktu masih panjang. Aku tidak ingin mabuk dan tertidur lalu melewatkan malam ini begitu saja. Aku ingin sepuasnya melihat wajahmu dan aku ingin tetap sadar saat berada di dekatmu." Kata Zionathan dengan wajah tenang dan berwibawa. Namun tidak dengan jantungnya. Debaran-debaran itu semakin sulit didiamkan. Terpukul seperti genderang yang membuat keributan di dalam rongga dadanya. Mampu melumpuhkan benteng pertahanannya.


Sementara Selena berulang kali menelan salivanya. Saat tatapan mereka bertemu lagi, perasaannya menjadi tidak tenang, ia gelisah.


"Apa kau ingin berhenti bekerja? Jika ia, aku setuju. Mungkin itu lebih baik. Aku ingin kau menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak kita kelak." Kata Zionathan mengunci tatapannya kepada Selena.


Selena terdiam sesaat, ia mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya saat tatapan mereka bertemu lagi. "Maaf, aku tetap memilih bekerja." ucap Selena semakin gugup. Ia melarikan pandangannya ke bawah dan mencoba mengalihkan perhatiannya menatap ke arah lain.


Zionathan tersenyum." Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Kau akan tetap menjadi sekretaris di kantor dan di hatiku juga." kata Zionathan menatap Selena semakin dalam. Ketertarikan yang terlihat jelas di wajahnya, sungguh membuat Selena semakin salah tingkah. Ia meneguk wine tanpa sisa yang ada di gelasnya.


"Jangan minum sekaligus, kau bisa mabuk Selena."


Saat hendak meletakkan gelas yang di pegangnya ke atas meja, Selena menjatuhkan gelas itu dari tangannya.

__ADS_1


PRANGGGGGG!


"Eh!"


Zionathan dan Selena langsung memalingkan pandangannya ke gelas yang jatuh.


Selena bangkit dan ingin membersihkan pecahan gelas itu. "Maaf aku...."


Namun dengan cepat Zionathan menghentikan Selena. "Sudah jangan di bersihkan, nanti kau terluka." Suara Zionathan begitu berat. Tatapan matanya begitu sendu.


GLEK! Selena lagi-lagi menelan salivanya semakin gugup. Ia duduk sambil meremas tangannya erat-erat. Perasaannya begitu campur aduk. Selena tetap menatap waspada.


Zionathan semakin menatap wajah istrinya lekat-lekat. "Selena bisakah aku menciummu?" Suara Zionathan begitu merdu di sana.


Selena semakin sulit bernapas saat kata-kata itu bebas terlontar dari mulut lelaki yang sudah menjadi suaminya. Selena tidak menjawab, ia memilih menunduk. Seluruh tubuhnya bergetar dari dalam.


Zionathan mendekat dan mengangkat dagu Selena agar ia bisa melihat wajah cantik itu. "Lihat aku!" ucapnya pelan.


Selena mengangkat wajahnya. Ia membuang napas pelan dengan d*sahan. Mereka saling menatap. Memonopoli wajah satu sama yang lain. Zionathan perlahan masih memegang dagu Selena memajukan hidungnya menyentuh napas Selena.


Heeeehhh.. lagi-lagi Selena membuang napasnya lewat mulut. Seakan hidung tak berfungsi lagi untuk menarik oksigen yang cukup karena detakan jantung yang memburu.


Zionathan kembali merapatkan wajahnya ke wajah istrinya itu. Hidung mereka saling bersentuhan seakan saling bertukar napas secara bergantian. Mendorong hingga menyentuh ujung bibirnya Selena. Mengecup bibir Selena secara pelan, singkat dan berulang-ulang. Zionathan tidak mempertahankan ciuman lama. Ia hanya mengulangnya dengan begitu intens.


Cup...cup...cup... Wajah Selena sampai terundur ke belakang. Selena hanya memandang sayu. Ia menutup matanya lagi saat ciuman itu dilakukan Zionathan berulang kali.


Zionathan memindahkan tangannya dari dagu dan memegang samping leher Selena. Zionathan menatapnya semakin dalam sambil merebahkan tubuh Selena di sofa berbentuk L itu. Agar bisa melihat setiap lekuk wajah Selena.


Gemuruh di dada Selena semakin menjadi. Hangat sentuhan itu benar-benar membara. Selena semakin gugup. Ia berulang kali menelan salivanya.


Zionathan menatap dahi Selena dan menyapunya singkat. Ia memandang mata coklat itu. Menyentuh wajah Selena dengan jari-jarinya. Ia memajukan wajahnya kembali. Menekan bibir Selena dengan menggunakan bibirnya yang sedikit terbuka. Zionathan mengangkat pelan wajahnya lalu mencium Selena semakin dalam. Zionathan mlumat dengan durasi yang sedikit lama.


Tangan Selena seketika mengepal. Matanya memejam erat. Ia merasa keram. Ia merasakan setruman mengalir lebih kencang ke tubuhnya. Kali ini Zionathan menjelajah setiap bagian lembut yang ada di sana.


"Heeeehhh." Selena mendesah sesak namun nikmat. Rasanya sungguh menghilangkan kesadaran secara total. Seluruh ototnya menegang. Mengencang dan bergetar.


Kecupan dengan napas memburu akhirnya berakhir. Zionathan melepaskan tautan bibirnya. Seakan membebaskan Selena dari siksaan kenikmatan itu. Tubuhnya berada di atas Selena. Zionathan menopang tubuh kekarnya dengan siku. Ia tidak ingin menindih tubuh mungil itu.


"Tangan dan tubuhmu gemetar. Kau bahkan tidak membalas ciumanku. Apa kau masih takut kepadaku?"


Selena terdiam dan terus memejamkan matanya. Napasnya masih terdengar tidak stabil.


"Tenanglah, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap. Kita bisa mencobanya lagi." Ucap Zionathan mencium puncak kepala Selena dengan lembut.


Dan lagi Selena terus merasakan kehangatan itu. "Apakah Zionathan mencintaiku?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Maaf my readers tersayang 😘 Lagi-lagi terlambat update. Cara ibu rempong masih sibuk ngurusin semuanya 😂 Semoga tetap suka ya.


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik 😘

__ADS_1


^_^


__ADS_2